Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 143 : Penyesalan Seorang Ibu



Di kediaman Tuan Adam, Sekertaris memperlihatkan sebuah video streaming penampilan Zaki dan Aldrin pada di Singapura pada Tuan Adam. Di dalam streaming video tersebut, Adam melihat Zaki berbesar hati memberikan piala itu ke Aldrin. Setelah selesai menonton, ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil membuka kacamatanya. Adam tersenyum bangga sambil bergumam, "Kau telah menjadi juara dalam mengalahkan egomu."


Sementara itu, Ardhilla tengah berada di bandara bersiap untuk berangkat Finlandia bersama kekasihnya. Matanya menatap wajah yang memenuhi layar televisi yang terdapat di salah satu kedai bandara. Rupanya sosok yang sedang disorot kamera secara close up itu adalah puteranya. Saat ini, di layar televisi menampilkan Aldrin sedang berbicara di tengah panggung sambil memegang piala kemenangan.


"Dalam hidupku, aku mencintai dua hal. Biola dan juga Amaira, istriku." ucap Aldrin dengan senyum samar yang tercetak di wajahnya.


Ia lalu menunduk sambil kembali berkata, "Meskipun begitu, aku juga menyayangi orang-orang yang selalu bersamaku, keluargaku, sahabatku dan para fans."


Mata Aldin kembali menatap lurus ke depan. "Hal yang ingin kusampaikan pada kalian yang kusayangi ...."


Aldrin mengambil napasnya sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia kembali melanjutkan kalimat yang sempat terpotong. "Terima kasih ... terima kasih karena telah hadir di hidupku, terima kasih selalu menjadi penyemangatku, terima kasih telah berikan sejuta cinta untukku. Dan ... terima kasih tetap bersamaku sampai detik ini."


Aldrin menjeda ucapannya untuk mengambil napas panjang. Ia tampak berusaha menelan salivanya. "Untuk ibuku yang tidak bisa hadir dan menontonku langsung saat ini, aku bisa memaklumi kesibukanmu. Semoga penampilanku malam ini bisa membuatmu bangga," ucapnya diiringi tepuk tangan haru para penonton.


Ardhilla menatap bergeming di layar televisi. Seketika terbesit rasa penyesalan di lubuk hatinya karena tidak memenuhi undangan tersebut. Ya, dia lebih memilih untuk pergi berliburan dari pada menyaksikan langsung pertunjukan biola Aldrin di Singapura.


Wanita itu masih termangu di tempatnya berdiri. Kembali merasapi satu per satu kalimat yang di ucapkan Aldrin barusan, dan juga kembali mengingat ucapan Jefri yang menyarankan agar segera memperbaiki hubungan dengan anak kandungnya sendiri.


"Sayang ...."


Suara berat seorang pria membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke samping dan melihat kekasihnya tersenyum.


"Ayo kita berangkat. Jet pribadiku telah siap," ucap kekasih Aldhilla sambil menggenggam tangan wanita itu.


Ardhilla tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berpijak. Ia masih berdiri mematung sehingga membuat kekasihnya kembali menoleh. Keduanya saling memandang penuh arti.


"Maaf, aku tidak bisa pergi. Aku harus menemui puteraku. Dia menang penghargaan dan aku ingin mengucapkan selamat padanya," ucap Ardhilla dengan mata yang mulai berair.


"Kau bisa mengucapkan selamat lewat telepon," balas kekasih Ardhilla.


Ardhilla menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku harus mengucapkan selamat secara langsung. Aku ingin merayakan pesta untuknya. Maafkan aku." Ardhilla melepas tangan kekasihnya dan langsung bergegas pergi meninggalkan kekasihnya.


***


Setelah acara bubar, Aldrin dihampiri manejer Zaki. Manejer itu tampak canggung dan gugup berhadapan dengan Aldrin. "Aku ... aku minta maaf."


Aldrin mengernyitkan matanya, ia merasa aneh kenapa manejer Zaki mendadak mengatakan maaf padanya.


Masih dengan ekspresi gugup dan canggung, manejer itu kembali berkata, "Tentang pemukulan itu ... akulah dalangnya."


Aldrin terperanjat dengan mata yang terbuka lebar. Namun, manejer itu kembali melanjutkan ucapannya, "Ta-tapi ... ini tidak ada hubungannya dengan Zaki. Itu ideku sendiri. Aku pikir jika kau tidak datang, atau terlambat datang ke acara ini, sudah pasti pemenangnya adalah Zaki. Sesuai dugaanku, Zaki yang jadi pemenang. Lucunya dia malah menyerahkan penghargaan itu untukmu."


"Aku merasa lega mendengar penjelasanmu. Karena kau telah mengakui kesalahanmu, itu tidak jadi masalah untukku. Di penghargaan berikutnya, aku yakin Zaki akan menang," ucap Aldrin tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu sang manejer.


Aldrin lalu menemui Naufal dan juga Zaki. Naufal mengucapkan selamat pada Zaki dan juga Aldrin sambil merangkul keduanya secara bersamaan. Ia lalu mengajak Zaki dan Aldrin makan bersama. Zaki menolak dengan alasan ia masih harus menyelesaikan beberapa hal. Sementara Aldrin juga menolak dengan alasan capek dan ingin segera istirahat. Namun, Naufal langsung menarik paksa keduanya untuk ikut bersamanya.


Mereka akhirnya memutuskan untuk ke restaurant yang tak jauh dari tempat di selenggarakan acara tadi. Mereka memilih VIP room agar lebih leluasa. Zaki dan Aldrin duduk berhadapan. Keduanya masih terlihat begitu canggung dan menolak untuk saling bertemu muka.


Naufal menyadari suasana aneh yang menerpa Zaki dan Aldrin. Tiba-tiba terbesit sebuah ide di otaknya.


"Aku mau keluar ke toilet dulu. Kalian tunggu di sini ya!" ucapnya sambil bergegas keluar.


Kini hanya tinggal mereka di ruangan itu. Keduanya kini makin canggung seperti sepasang kekasih yang baru kencan. Sepuluh menit berlalu, dan keduanya masih saling diam. Semetara Naufal belum juga kembali.


"Kenapa ke toilet Naufal lama sekali?" keluh Aldrin sambil menatap ke arah pintu.


"Anak itu selalu lambat dalam hal apapun!" Cetus Zaki.


Tatapan Aldrin mengarah pada Zaki. "Jangan sok tahu, otaknya lebih cepat berpikir dibanding kau!" bela Aldrin.


"Aku kakaknya tentu saja aku yang paling tahu!" saat ini Zaki mulai menunjukkan sikap tak mau kalah.


"Dia memang adikmu tapi kalian tidak begitu dekat. Aku sahabatnya jadi aku tahu semua!" Balas Aldrin sambil mengangkat bibir atasnya.


"Heh, aku dan dia dibesarkan bersama dan kami begitu saling menyayangi sebelum kau ada!" timpal Zaki kembali dengan suara meninggi.


Naufal akhirnya kembali masuk ke ruangan itu. "Kupikir meninggalkan kalian berdua sendiri di sini bisa membuat kalian menjadi akur. Ternyata sama saja, kalian seperti minyak dan air yang disatukan!" gerutu Naufal sambil kembali duduk.


"Akur?"


Zaki dan Aldrin kompak mengucapkan kata itu saling saling memandang. Lalu keduanya kompak tertawa. Naufal menjadi bingung. Ia malah tidak mengerti dengan ekspresi mereka.


"Kau pikir kami masih saling perang dingin seperti dulu?" tanya Zaki sambil menahan tawa.


"Sepertinya dia tidak melihat kemesraan kita di belakang panggung," timpal Aldrin.


"Kita bahkan sudah saling follow Instagram dan mengapload foto bersama." Zaki menunjukkan fotonya bersama Aldrin yang mereka abadikan di belakang panggung dan telah ia upload ke instagramnya.


"Foto kita yang kuunggah bahkan langsung dikomentari Maria," lanjut Aldrin sambil menunjukkan komentar Maria ke Zaki.


Naufal masih berdiri dengan ekspresi bodoh. Ia seolah kehabisa kata-kata dan merasa ditipu Zaki dan juga Aldrin. Bagaimana tidak? Dia telah berpikir keras bagaimana cara menyatukan dua orang yang sama-sama keras kepala dan tak mau dikalah. Namun, ternyata mereka telah berbaikan tanpa sepengetahuannya.


"Kalian tidak adil. Kenapa upload foto tidak ada aku? Seharusnya aku ada di tengah kalian!" Keluh Naufal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ayo sini kita foto bertiga sekali lagi!"


Mereka lalu berfoto bersama dengan berbagai pose. Foto tersebut langsung diabadikan di sosial media mereka masing-masing. Naufal masih tak menyangka, Zaki dan Aldrin akhirnya bisa berbaikan. Sayangnya, akurnya Zaki dan Aldrin setelah mereka tidak serumah lagi dan setelah orangtua mereka berpisah.


Makanan yang mereka pesan telah datang. Mereka menyantap berbagai hidangan dengan lahap. Setelah selesai makan, mereka keluar dari restaurant itu. Zaki memerintahkan Naufal dan Aldrin menunggu di depan restaurant karena ia memarkirkan mobilnya di seberang jalan.


"Sini kunci mobilmu, biar aku saja yang ambil mobilmu. Kalian berdua tunggu saja di sini!" pinta Aldrin.


Zaki menyerahkan kunci mobilnya. Kemudian Aldrin berjalan ke arah jalan raya sambil memeluk piala kebanggaannya. Ia menunggu lampu merah agar bisa menyeberang. Sambil menunggu, dia berpikir. Siapakah yang akan duluan ia hubungi? Apakah ayahnya atau Amaira?


"Ayah ... Amaira ... Ayah ... Amaira ...." Ucapnya sambil menghitung jari-jari.


Lampu merah berhenti dan ia mulai menyeberang jalan. Saat sedang melangkah, ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel tersebut dari saku toxedo yang dipakainya. Terlihat sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak ia kenali. Ia mengernyitkan mata sesaat. Lalu memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu.


"Halo, Aldrin."


Terdengar suara wanita yang bergetar dari arah sambungan telepon. Ia sangat mengenal suara tersebut, yaitu suara ibunya. Aldrin terdiam sesaat. Ketika ia hendak bicara, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan datang dengan kecepatan tinggi. Mobil tersebut langsung menabrak tubuh Aldrin yang tak sempat menghindar. Menciptakan bunyi yang sangat keras.


Seketika terdengar suara ban berdecit akibat mobil yang menginjak rem secara mendadak.


Tubuh Aldrin terpental jauh kembali menabrak mobil yang tengah berhenti menunggu lampu merah. Akhirnya tubuh itu menghantam kerasnya aspal dengan kepala yang lebih dulu jatuh.


Darah segar mengalir deras dari kepalanya dan setiap luka yang ada di sekujur tubuhnya. Pialanya ikut terjatuh dan hancur menjadi kepingan-kepingan tak beraturan. Seketika, terdengar suara pekikan orang-orang yang melihat kejadian tersebut.


Zaki dan Naufal tak bisa menahan keterkejutan menyaksikan adegan kecelakaan dasyat yang dialami Aldrin di depan mata telanjang mereka. Dengan segera, mereka bergegas lari sambil berteriak memanggil namanya.


"Aldriiiiiiiiiiinnnn!"


.


.


.


.


.


.


bersambung....


like , Komeng dan bully πŸ™„