
Keesokan harinya, Aldrin keluar dari kamar lengkap dengan atribut sekolah. Bersamaan dengan itu, Naufal juga keluar dari kamarnya. Mereka berhadapan dan saling tersenyum.
"Siap?" tanya Aldrin sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Tentu!" jawab Naufal sambil mengangkat satu tangannya ke atas.
Mereka mengadu jari untuk menentukan siapa yang menang.
"Gunting, kertas, batu."
"Gunting, kertas, batu."
"Gunting, kertas, batu."
"Yuhui aku menang!" teriak Naufal.
"Sial!" umpat Aldrin.
Aldrin langsung berjongkok, ketika Naufal hendak naik ke punggungnya. Aldrin menggendongnya menuju meja makan. Zaki yang keluar dari kamarnya tak bisa menahan diri untuk mencibir mereka berdua.
"Benar-benar kayak anak kecil!"
Di sekolah, Amaira berjalan melewati beberapa ruang kelas. Dari jauh, ia melihat Aldrin berjalan menuju ke arahnya. Ia berpikir, mungkinkah Aldrin datang menghampirinya? Rasa gugup menerpanya seketika. Kedua tangan Amaira tampak meremas roknya sendiri. Ia dapat melihat Aldrin semakin dekat berjalan ke arahnya. Jantung gadis iu berdetak kencang, gadis itu melebarkan senyumnya ke arah Aldrin.
Namun, apa yang terjadi? Aldrin berlalu begitu saja. Ia berjalan melewati Amaira. Tanpa senyum, tanpa menyapanya. Seolah-olah tak ada Amaira di situ. Hanya berlalu dan seperti orang yang tak saling kenal. Lebih mirisnya, cowok itu menghampiri salah satu siswi, lalu melayangkan kalimat-kalimat gombalan.
Apakah mematahkan hati para gadis adalah hobimu?
Wajah Amaira berubah menjadi sendu. Namun, sebisa mungkin berusaha tetap tegar, dan berjalan meninggalkan Aldrin yang masih mengobrol bersama cewek lain.
Amaira masuk ke kelas. Angel bercerita kalau semalam Aldrin dugem bersamanya di salah satu kelab. Angel mengatakan itu sambil melirik Amaira. Sepertinya ia sengaja memprovokasi gadis pemalu itu. Amaira yang mendengar ucapan Angel, berusaha menyibukkan diri mempersiapkan pelajaran.
Pelajaran pertama dimulai, Amaira menoleh bangku Aldrin yang kini telah diduduki Ihsan. Sementara Aldrin malah duduk di depan menggantikan posisi Ihsan. Jam pertama cowok itu terlihat fokus. Tidak tidur atau pun makan seperti biasanya. Pelajaran kedua pun seperti itu. Aldrin terlihat santai dan rileks mendengarkan penjelasan guru.
Bel istirahat berbunyi, Aldrin memutuskan untuk pergi ke atap gedung. Ia duduk di pinggir atap mengambil sebatang rokok di saku celananya dan menyalakannya. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Ia menengok ke belakang dan melihat Amaira berdiri tidak jauh darinya.
"Aku baru tahu kalau kamu perokok. Kalau guru lihat kamu akan dihukum karena merokok di lingkungan sekolah." Amaira berkata pelan sambil memosisikan diri duduk di samping Aldrin.
Aldrin membisu. Seolah tak mendengar apa pun dari mulut gadis itu. Cowok berambut blonde itu hanya sibuk mengepulkan asap rokok.
Amaira memandangi wajah Aldrin yang dingin. "Jangan kayak gini, Al. Bukannya sebelumnya kita baik-baik saja?" ucap Amaira lirih. Baru dua hari putus, Aldrin terasa asing baginya.
Aldrin tetap diam. Ia benar-benar tak acuh, bahkan menoleh pun enggan ia lakukan.
Amaira melanjutkan ucapannya. "Jika kamu ada masalah cerita sama aku, dan kalau kamu benar-benar ingin mengakhirinya ... setidaknya kita masih bisa berteman baik, 'kan?"
"Bisa diam, enggak! Berisik banget!" ketus Aldrin menunjukkan wajah kesalnya secara terang-terangan. Ia berdiri dan menginjak puntung rokoknya lalu memutuskan beranjak pergi.
Seperti tertimpa sebuah batu di atas dada, begitulah yang Amaira rasakan saat ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa, hingga rasa sakit itu datang lagi. Yang dia lakukan hanyalah menggigit bibir bawahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Pertahanannya yang telah dibendung cukup lama akhirnya pecah juga. Ia menangis terisak sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Aldrin berhenti melangkah ketika mendengar suara tangis Amaira. Cowok itu terdiam sejenak sembari mengambil napas panjang. Ia mendengus kasar. Kemudian pergi meninggalkan Amaira seorang diri tanpa menoleh maupun menitipkan sepenggal kata.
Aku benar-benar tak bisa mengerti dirimu.
Dan sudah berada di batas asaku ....
Jika aku tahu mencintai seseorang bisa sesakit ini,
aku memilih untuk tidak akan jatuh cinta lagi ....
Bel pulang telah berbunyi diiringi sorakan siswa-siswi. Amaira berjalan menunduk menuju pintu gerbang. Tiba-tiba mobil ferrari berwarna maron menghampirinya. Gadis itu menghentikan langkahnya menengok ke kaca mobil yang terbuka dan memperlihatkan tuannya di dalam.
"Ayo masuk! Aku antar pulang. Kebetulan aku mau pergi ke toko dan itu searah rumahmu," ajak Naufal dari dalam mobil.
Tanpa berpikir panjang, Amaira masuk ke mobil. Naufal tersenyum dan langsung menyetir.
"Kamu bisa bawa aku ke pantai, enggak?" pinta Amaira secara tiba-tiba.
"Hah?"
Naufal terkejut mendengar permintaan Amaira yang mendadak. Tanpa berpikir panjang, ia mengangguk dan membelokkan mobilnya ke arah pantai.
Mereka telah sampai di sebuah Pantai yang sepi. Amaira langsung duduk di pasir putih sambil menatap ombak yang bergulung-gulung. Naufal pun turut duduk di samping.
"Kamu suka ke pantai?" tanya Naufal.
Amaira mengangguk lemah. "Suara ombak serta angin pantai membuatku tenang hingga melupakan masalahku sejenak."
"Kamu lagi ada masalah? Cerita sama aku! Mungkin aku bisa membantumu," tawar Naufal sambil terus memandang wajah Amaira yang sendu dengan rambut panjang yang berkibar karena belaian angin.
Amaira terdiam sejenak. Dengan pandangan lurus ke depan, ia berkata, "Naufal, menurutmu ... apa kekuranganku?"
"Tidak ada. Kamu sudah sangat sempurna sebagai cewek yang cerdas dan cantik. Buktinya banyak cewek di sekolah yang iri sama kamu," ucap Naufal dengan tatapan yang masih belum lepas.
"Apakah semua laki-laki senang membuat hati cewek tersakiti?" tanya Amaira kembali.
"Kenapa kamu tanya kayak gitu?"
"Tidak, aku cuma iseng aja," ucap Amaira sambil menunduk.
"Kalau boleh tahu, kamu menyukai cowok seperti apa?" Naufal memberanikan diri bertanya setelah mereka cukup lama terdiam.
"Dulu aku menyukai cowok yang baik, pintar dan pengertian. Tapi, sekarang aku sadar, itu tidak berlaku lagi. Karena ketika kita jatuh cinta pada seseorang, kita tidak akan peduli dengan semua itu. Tidak peduli seberapa buruk orang itu, hati kita tetap padanya," ucap Amaira secara perlahan sambil menatap deruh ombak yang berkejaran.
Ya, perempuan senang membuat kriteria lelaki idaman mereka, tetapi pada akhirnya mereka juga yang akan jatuh cinta tanpa alasan dan melupakan segala kriteria yang mereka buat. Seperti Amaira, sebelumnya mungkin Naufal menjadi satu-satunya cowok yang pas dengan kriterianya. Namun, siapa yang tahu ia akan jatuh cinta pada Aldrin, cowok berandalan yang sangat jauh dengan kriterianya.
"Sayangnya, dia datang di kehidupanku seperti mimpi. Begitu indah, tapi hanya sebentar!" ungkap Amaira seketika sambil memandangi hamparan pantai di depan matanya.
"Jika dia datang seperti mimpi, maka aku akan datang sebagai bayanganmu. Ke manapun kau melangkah, aku akan mengikutimu dan tak akan meninggalkanmu." balas Naufal dengan senyum tulus yang terurai di wajahnya.
Naufal turut memandangi luasnya pantai, rambutnya ikut tertiup angin. Ia melanjutkan ucapannya, "Aku harap angin yang kencang ini bisa membawa segala kesedihanmu, dan ombak yang datang akan membawa kebahagiaan pada dirimu."
Amaira tersenyum tipis tetapi matanya tak bisa menyembunyikan kesedihan. Dengan perlahan, ia menoleh ke arah Naufal.
"Naufal, kamu sahabat terbaik bagiku!"
Naufal tersenyum tipis mendengarnya. Dianggap sebagai sahabat yang baik? Ia tak tahu apakah harus senang atau tidak.
.