Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 104 : Hubungan di Ujung Tanduk



Hari pertama masuk magang, Aldrin langsung mengikuti pertemuan yang dihadiri para jajaran direktur dan pemegang saham. Meskipun tak paham dengan apa yang mereka bicarakan, lelaki itu tetap mencoba untuk duduk diam mendengar setiap perbincangan yang keluar.


Zaki berdiri di depan melakukan presentasi dengan lancar dan cermat. Aldrin membayangkan jika Zaki saat ini adalah dirinya beberapa tahun yang akan datang. Bukankah itu terlihat keren?


Semua yang berada di ruangan itu tampak keren dan berwibawa karena tertolong dengan jas mahal yang mereka pakai. Begitupun dengan dirinya, mereka yang berada di dalam ruangan tak akan tahu jika dia adalah anak sekolah yang pemalas dan selalu tidur saat jam pelajaran.


Setelah pertemuan bubar. Zaki menugaskan Aldrin untuk mengetik keputusan hasil rapat tadi. Sepertinya Zaki adalah orang yang sangat profesional saat bekerja karena ia benar-benar membimbing adik tirinya itu sesuai permintaan Ayahnya.


Setelah menjelaskan apa yang harus Aldrin lakukan, Zaki masuk ke ruangannya. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menatap layar ponsel dan melihat Maria melakukan panggilan, lalu menerima panggilan telepon dari kekasihnya itu.


"Hallo," sapa Zaki mengawali pembicaraan.


"Apa kita bisa makan siang hari ini?" ajak Maria.


"Aku sedang sibuk. Besok saja!" tolak Zaki.


"Aku mau sekarang!" desak Maria.


"Kamu enggak dengar barusan aku bilang apa?" Zaki memperjelas penolakannya.


Maria terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan ucapannya. "Ada yang ingin aku katakan sama kamu!"


"Katakan saja di sini! Aku benar-benar sibuk!"


"Tapi kurasa kita harus bertemu!"


"Maria kenapa kamu jadi mendesakku kayak gini! Aku benar-benar sibuk!" Nada ucapan Zaki mulai meninggi.


"Baik, akan kukatakan di sini dan aku anggap ini semua jelas ..." Maria menghela napasnya sesaat. "Zaki ... aku mau kita putus."


Ucapan Maria di seberang sana mengejutkan Zaki, Matanya membulat seketika. "Kamu bicara apa?"


"Aku ingin kita putus. Itu yang ingin aku bicarakan siang ini," ucap Maria pelan.


"Kamu serius?" tanya Zaki kembali dengan raut cemas.


"Iya." jawab Maria pelan.


"Kenapa?"


"Aku enggak tahu, sebenarnya sudah sebulan ini aku merasa hambar dengan hubungan kita."


"Hanya karena itu?"


"Mungkin. Aku anggap ini semua jelas. Sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jaga dirimu." Ucapan itu menjadi penutup akhir panggilan telepon Maria.


"Maria ...."


Zaki menatap layar ponselnya dan menyadari jika Maria sudah mengakhiri panggilan teleponnya. Ia kembali membuat panggilan telepon ke gadis itu. Wajahnya saat ini terlihat gusar dan seperti tidak terima akan keputusan Maria. Ini adalah pertama kalinya kekasihnya itu meminta putus selama mereka pacaran.


"Maria katakan sama aku, apa kamu benar-benar serius? Atau kamu cuma bercanda?" ucapnya cepat setelah telepon tersambung.


"Iya aku serius. Maafkan aku jika ini akan menyakitimu. Sepertinya perasaan aku sama kamu sudah hilang," ucap Maria dengan suara lemah.


Zaki terlonjak kaget seakan tak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar. "Ayo kita makan siang! Atau ... bagaimana kalau kita bertemu sekarang? Kita bicarakan ini baik, yah?" bujuk Zaki dengan wajah yang menegang.


Maria tak menjawab, ia malah menutup teleponnya.


"Mariaa! Maria! Zaki berteriak karena tak sadar jika panggilan itu telah terputus. Ia kembali menelepon kekasihnya. Sepertinya ia tak menerima permintaan putus Maria. Sayangnya, panggilan itu tak kunjung terhubung.


"Aaaarrggghh!"


Zaki terlihat kesal. Ia menggumpal kertas yang ada di atas meja lalu melempar gumpalan kertas ke arah pintu. Bersamaan dengan itu, Aldrin masuk ke ruangannya. Aldrin terkejut mendapatkan lemparan kertas yang menggumpal seperti bola kasti. Untungnya ia dengan sigap menangkap apa yang dilempar Zaki.


"Hei, apa sehari-hari kamu seperti ini kamu menyambut tamu masuk ke ruanganmu?" tanya Aldrin santai.


Zaki yang masih kesal, menjadi lebih kesal saat melihat Aldrin masuk tiba-tiba.


"Kenapa kamu masuk tanpa izin dariku? Kenapa kamu tidak bertanya dulu ke sekretarisku?" ketusnya dengan suara meledak-ledak.


"Aku cuma mau menyerahkan ini. Lagian, sekretarismu tidak ada di tempat." Aldrin meletakkan lembaran kertas yang berisi hasil ketikannya di atas meja Zaki.


Zaki memalingkan wajahnya sambil memangku dagu. Pikirannya mengembara. Ia masih teringat dengan ucapan Maria barusan. Sejenak, ia tersadar jika Aldrin masih berdiri diam di hadapannya.


"Kenapa kamu masih diam di situ? Cepat keluar!" ucapnya kembali dengan suara meninggi.


Aldrin menyengir bodoh. Ia malah maju satu langkah lebih mendekat ke meja Zaki.


"Boleh aku merokok?" ucapnya setengah berbisik.


Zaki menatap kesal. "Terserah!"


Zaki yang masih termenung, kembali terkejut melihat Aldrin mulai mengisap batang rokok dengan santai.


"Kenapa kamu merokok di ruanganku?!"


"Bukannya aku sudah minta izin, terus kamu bilang terserah!"


"Iya, tapi bukan di ruanganku!"


"Terus di mana? Perusahaan sebesar ini tidak menyediakan ruang khusus untuk merokok. Lagian, tempat ini aman untukku karena enggak akan ada karyawan ayahmu yang lihat aku merokok. Iya, 'kan?" ucap Aldrin dengan santai sambil mengepulkan asap rokok.


Zaki menatap kesal ke arahnya sambil menggertakkan gigi menahan amarah. Namun, saat ini ia tak tertarik untuk menghadapi Aldrin. Ia memilih keluar dari ruangannya sendiri. Sementara Aldrin tetap menikmati rokoknya sampai memendek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang berlalu cepat, berganti malam yang begitu gelap tanpa bintang dan bulan. Hanya lampu jalan yang menyelamatkan malam dari kegelapan. Maria berjalan masuk ke lift menuju apartemennya. Saat membuka pintu apartemen, ia tersentak melihat Zaki ada di dalam sana dengan masih memakai jas kantor. Ya, Zaki memang memegang kunci duplikat karena apartement ini pemberiannya.


Pria itu menatap sendu ke arah Maria yang mendingin.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Maria perlahan.


"Aku sudah mencari kamu ke lokasi syuting dan kantor manajermu tapi kamu enggak ada di sana," jawabnya.


Maria hanya diam menunduk. Hari ini, gadis itu memang sengaja menghindari Zaki, tapi ia tak menyangka pria itu akan datang ke apartemennya selarut ini.


"Apa kamu serius ingin mengakhiri hubungan kita?" tanya Zaki memelas.


Maria mengangguk dengan pandangan ke bawah. Ia tak berani menatap wajah pria itu. Zaki menghampirinya, memegang kedua bahunya.


"Katakan alasanmu? Apa karena aku terlalu sibuk bekerja? Okey, aku akan meluangkan waktuku lebih banyak untuk kamu," bujuk Zaki dengan tatapan bermohon.


Maria menggelengkan kepala sambil tetap menunduk.


"Atau kamu mau kita liburan bersama di Eropa? Aku akan mengambil cuti kantor dan segera memesan paket liburan," ucap Zaki kembali dengan tetap menatap Maria yang menolak tatapannya.


Maria masih menggelengkan kepalanya.


Tak menyerah, Zaki kembali berkata, "Baiklah, apa kamu mau kita bertunangan? Aku akan membelikan cincin tunangan untuk kamu, ayo kita pergi memilih cincin sekarang!" bujuknya kembali. Kali ini ia memegang wajah Maria, memaksa gadis itu menatap wajahnya yang hampir frustrasi.


Maria menatap tegas ke arah Zaki. "Aku hanya ingin kita mengakhiri hubungan ini."


Zaki terhenyak. Raut sedih kembali terlukis di wajah tampannya. Matanya menatap gamang, sepasang alisnya yang tegas tampak tersambung. Ia memeluk Maria dengan erat seolah tak mau melepaskannya.


"Aku enggak mau,aku enggak mau," ucap Zaki berkali-kali dengan mata yang mulai memerah.


Maria berusaha melepaskan diri dari pelukannya. "Zaki, aku mohon saat ini biarlah aku menyendiri dulu. Kita masih bisa berteman kok," ucap Maria setelah melepas pelukan Zaki.


Zaki memegang kedua tangannya. "Katakan sama aku, apa kesalahanku? Aku akan memperbaikinya."


Maria menggelengkan kepalanya. Tanpa terasa airmatanya menetes karena ia tak tega melihat Zaki saat ini. Pria arogan itu memelas padanya dan sedang memperjuangkan hubungan mereka berdua. Sayangnya, hatinya saat ini telah pergi.


Tak ada yang tahu, jika ia sudah berusaha sejak lama untuk menumbuhkan cintanya kembali pada pria yang telah menemaninya selama dua tahun lebih. Namun, tetap tak berhasil. Ia tetap tak bisa memiliki perasaan itu seperti sedia kala. Jika terus dipaksakan, bukankah itu akan menyiksa dirinya dan juga Zaki?


"Zaki, sebaiknya kamu pulang ke rumahmu. Aku lelah dan butuh istirahat," ucap Maria sambil pergi meninggalkannya menuju kamar tidur.


Zaki menarik dan mendesak tubuh Maria ke tembok. Pria itu menjatuhkan bibirnya ke bibir Maria, memaksanya untuk berciuman. Namun, Maria berusaha menghindarinya dan menolak menerima cumbuan pria itu.


Zaki menghentikan ciumannya. Ia menyadari Maria tak menginginkan ciumannya. Ia menatap dalam kedua bola mata Maria.


"Katakan sama aku, apa kamu menyukai pria lain?"


Maria mengabaikan pertanyaan Zaki. Gadis itu justru mendorong tubuh Zaki menjauh darinya. Ia memutuskan berjalan masuk ke kamarnya.


Zaki menatap kosong ke arah dinding. Tangannya membentuk kepalan tinju dan ia memukul dinding itu berkali-kali. Seketika ia menjadi gila.


Zaki menyusul Maria yang tengah berjalan menuju kamar. Ia menarik paksa Maria dan mendorongnya dengan kasar hingga tubuh gadis itu jatuh ke atas ranjang.


Lelaki itu membuka jasnya dengan segera hingga menyisakan kameja putih. Ia membuka dasinya dan melemparkan benda itu ke lantai. Maria menatap wajah Zaki yang berubah seperti singa yang siap menelan mangsa.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Maria setengah ketakutan saat melihat Zaki mulai membuka kancing kamejanya.


.


.


.


.