Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 25 : Pembalasan Aldrin pada Zaki



Senja pun menyingsing. Aldrin mengambil ponselnya, memosisikan diri duduk di jendela kamarnya. Ia mulai melakukan panggilan telepon. Terlihat dari layarnya sebuah nomor dengan nama kontak bertuliskan 'Si Jelek'.


"Halo." Gadis itu menjawab teleponnya.


"Aku benar-benar enggak nyangka kalau teleponku bakal kamu angkat, kata Aldrin mengawali pembicaraannya.


"Kalau begitu aku akan mematikan teleponnya," ucap gadis itu.


"Eh, jangan!" Aldrin buru-buru mencegatnya.


Gadis itu tertawa kecil. Sebenarnya ia pun menunggu telepon dari Aldrin. Namun, cowok itu tak kunjung meneleponnya. Dan sekarang, dia merasa senang saat ponselnya berdering dan melihat nomor Aldrin melakukan panggilan.


"Omong-omong, kamu lagi ngapain?" tanya Aldrin sambil senyum-senyum sendiri.


"Aku baru selesai mandi," jawab gadis itu sambil mengeringkan rambutnya di depan cermin.


"Pasti kamu sangat cantik melebihi senja sore hari ini," puji Aldrin disertai rayuan murahan.


"Dasar tukang gombal! Pasti kamu ngerayu cewek, ya?"


"Tidak juga."


Aldrin mengambil sekaleng minuman, membuka penutup kaleng lalu meneguknya. Ia dapat mendengar suara hair dryer dari dalam telepon. Suara itu cukup berisik, tapi Aldrin menikmatinya sembari dengan sabar menunggu gadis itu mengeringkan rambutnya.


"Kau ... orang seperti apa dirimu?" tanya gadis itu sambil menjemur handuk mandinya.


"Aku? Aku adalah yang kau pikirkan. Aku akan menjadi baik jika kau berpikir aku baik. Aku akan menjadi jahat jika kau berpikir aku jahat," jawab Aldrin sambil meneguk kembali minumannya.


"Begitukah?"


"Tentu!"


"Kamu sendiri, kayak gimana?"


"Aku gadis yang sederhana. Tidak ada yang spesial dariku," jawab gadis itu sambil menatap bayangan dirinya di depan cermin


"Tapi menurutku kamu sangat spesial, soalnya nomormu masuk di Hp-ku secara tiba-tiba," ucap Aldrin.


Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Seorang kepala pelayan masuk dan memberitahu Aldrin agar segera menemui tuan Adam di ruang kerjanya. Aldrin mengangguk dan memberi kode agar pelayan itu segera pergi dari kamarnya.


"Ada apa?" tanya gadis itu.


"Oh ... tidak. Aku hanya dipanggil tuan kos. Dia pasti akan mengomeli aku lagi," jawab Aldrin bermuka masam.


"Oh, ya? Memangnya kamu belum bayar sewa kos, ya?" tanya gadis itu sambil cekikikan.


"Iya kali. Aku akan meneleponmu lagi nanti," Ketika Aldrin hendak mengakhiri panggilan telepon, suara gadis itu tiba-tiba terdengar kembali.


"Tunggu!"


Aldrin tertegun. Ia dapat mendengar suara helaan napas gadis itu.


"Kenapa?


"Hmm ... menurutku, kamu orang yang baik."


Aldrin terdiam sesaat. Senyum tipis terurai dari bibirnya. "Terima kasih, aku akan meneleponmu lagi, tunggu saja!"



Aldrin mengakhiri panggilan teleponnya. Ia berjalan masuk ke ruang kerja Ayahnya. Di sana, Ardhilla dan tuan Adam tengah duduk di sofa sambil menikmati teh hangat.


Aldrin duduk di depan kedua orangtuanya sambil menyilangkan kaki.


"Ada apa?"


"Baik-baik saja," jawab Aldrin sambil memangku dagu.


"Dua hari yang lalu kau membawa perempuan menginap di rumah ini, 'kan?" selidik Tuan Adam dengan wajah serius.


"Waw, rupanya anak manja itu sudah mengadu, ya?" Aldrin mengangkat ujung bibirnya ke atas.


"Berkelahi di hari pertama masuk sekolah, pergi ke bar tiap malam, tertidur di kelas tiap hari dan mulai berani membawa perempuan ke rumah ini. Apalagi yang akan kau lakukan setelah ini?" ucap Tuan Adam dengan geram.


"Ya, ampun. Anda meletakkan CCTV di setiap tempat aku berjalan, ya?" ketus Aldrin dengan mata membulat tajam.


"Aldrin, kau harus lebih sopan sama Ayahmu," Ardhilla akhirnya membuka suara setelah cukup lama terdiam.


Aldrin memalingkan wajahnya sambil mendelikkan mata dan mendengus kesal. Ia memajukan bibir seraya menghentak-hentakkan kakinya.


"Kalau kau tidak bisa berubah, aku tidak akan memberimu uang bulanan lagi!" ancam Tuan Adam dengan wajah amarah yang tercetak jelas.


Aldrin spontan menoleh ke arah Tuan Adam. "Astaga, pelit banget, sih! Ngasih aku uang jajan juga gak bakal bikin miskin!" bentaknya dengan nada tinggi.


"Aldrin, kenapa kamu sulit sekali diatur? Lihat kakakmu, Zaki, sudah sebesar itu dia masih menuruti kami orangtuanya. Contohlah kesuksesannya!" tegur Ardhilla ketika Aldrin berbicara kasar.


"Zaki lagi! Zaki lagi! dari dulu sampai sekarang kau selalu membandingkan aku dengannya! Setiap kali kau menemuiku kau hanya akan bilang aku harus seperti Zaki," Aldrin menekan intonasi suaranya. Menirukan nada suara ibunya yang menjengkelkan baginya.


Adam dan Ardhilla terdiam. Segala teguran dan nasihat telah mereka lontarkan, tetapi tak bisa mengubah sikap anak itu. Sejak pulang dari Amerika, ia sangat sulit diatur. Benar-benar bertindak semaunya.


"Aku tidak pernah meminta kalian mengambilku. Aku tidak datang ke sini untuk menuruti segala keinginan kalian. Lalu, sekarang kalian ingin menekan kebebasanku dan menarik uang bulananku. Apa itu adil untukku?" cecarnya kembali dengan emosi yang meluap-luap.


Adam dan Ardhilla kembali terdiam. Ardhilla hendak membalas perkataan Aldrin, tapi Adam memberi kode agar diam. Sesaat, mata Tuan Adam dan Aldrin saling bertukar.


"Jika ayahmu tiba-tiba pulang, dan ia melihat kelakuanmu tidak lagi seperti dulu, dia pasti akan sedih!" ucap Tuan Adam dengan tetap menatap dalam mata anak sambungnya.


Aldrin langsung memalingkan wajahnya. Mendengar Tuan Adam menyebut ayahnya, membuat napasnya menjadi berat. Tak ingin berdebat lebih, Aldrin memutuskan keluar dari ruang kerja ayah sambungnya.


Deru pintu yang tertutup terdengar begitu nyaring. Adam menarik napas dalam-dalam. Ardhilla mengambil secangkir teh hangat dan memberikannya pada Tuan Adam.


"Maafkan aku, aku tidak bisa mendidiknya dengan baik," ucap Ardhilla menunduk lirik.


Tuan Adam menggenggam tangan Ardhilla sambil berkata, "Tidak apa-apa, aku yang sudah gagal sebagai Ayah. Aku yang memberinya kebebasan. Kupikir, dengan membebaskannya, dia akan menerimaku dan mau memanggilku ayah suatu saat nanti. Tapi yang ada, sifatnya makin tidak terkendali".


Ardhilla terdiam. Dalam hatinya berkata bahwa anak itu sangat bodoh. Ia sengaja memintanya menjadi seperti Zaki agar suatu saat nanti Adam bisa menariknya ke perusahaan dan mendapatkan bagian dari harta warisan. Sayangnya, Aldrin tidak mengerti maksud tujuannya.


Usai keluar dari ruang kerja tuan Adam, Aldrin mengendarai motor sport-nya menuju kelap malam favoritnya. Suasana hatinya mendadak buruk setelah berbicara dengan kedua orangtuanya. Sesampainya di sana, ia langsung memesan minuman keras. Saat duduk, ia melihat Maria sedang terkapar mabuk di meja bartender.


"Hei, kenapa kamu di sini?" tanya Aldrin, "Kamu mabuk? Apa kamu dicampakkan sama anak manja itu? " tanya Aldrin kembali.


Maria menatap nanar ke arah Aldrin. Terlalu banyak minum membuatnya benar-benar mabuk. Penglihatannya tampak buram. Bahkan, ia tak bisa mencerna pertanyaan yang baru saja Aldrin lontarkan. Dalam penglihatannya Aldrin adalah Zaki.


"Zaki, bawa aku pulang. Aku mau pulang!" pinta Maria dalam keadaan mabuk sambil memeluk Aldrin.


Tak lama kemudian terdengar suara panggilan telepon dari ponsel milik Maria. Aldrin menatap layar ponsel tersebut, dan melihat nama Zaki di sana. Tiba-tiba tatapan matanya berubah. Sambil tetap memeluk Maria, ia menerima panggilan telepon yang masuk.


"Astaga, kau terlalu banyak minum! Akhirnya jadi mabuk begini, 'kan. Bagaimana kalau kita ke hotel saja," ujar Aldrin mendekatkan bibirnya ke ponsel Maria.


Zaki tersentak mendengar suara lelaki di sambungan panggilan teleponnya. Tentu saja ia mengenal dengan baik suara lelaki tersebut.


Zaki itu menggerakkan rahangnya. "Halo, Maria, kamu di mana?" tanyanya, "Apa kamu enggak dengar? jawab aku, Maria!" teriak Zaki panik.


Mendengar suara panik Zaki, membuat Aldrin tersenyum licik. Ia menyerang Maria dengan sebuah ciuman yang membuat gadis itu terhenyak. Di sisi lain, Zaki tak berhenti berteriak.


Tidak jauh dari meja bartender, seseorang mengambil video Aldrin dan Maria yang tengah berciuman. Aldrin membuka matanya, lalu memberi jempol pada orang tersebut.