Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 81 : VIRAL



Tiga hari berlalu, akhir-akhir ini sosial media dihebohkan oleh sebuah video viral yang mempertontonkan anak muda bermain biola di jalanan tepatnya di kawasan kota tua, Jakarta. Video berdurasi 10 menit itu diberi judul 'Pengamen Tampan Kota Tua' dan telah dibagikan lebih dari ratusan juta kali di facebook dan twitter. Sementara di Instagram, akun-akun gosip juga ikut mem-posting dan telah mendapat komentar positif dari para netizen Indonesia.


Yang membuat netizen heboh adalah karena sosok pemuda yang memainkan biola itu berwajah tampan rupawan bak aktor Hollywood dan setelah diselidiki merupakan anak dari salah satu artis ternama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Aldrin dan Amaira tiba di kelas. Kehadiran mereka langsung disambut oleh kawan-kawannya.


"Inilah artis kita!" seru Ihsan sambil merangkul Aldrin.


Aldrin mengerutkan dahinya saat melihat teman-temannya heboh menyambut kedatangannya.


"Kamu sudah lihat facebook belum hari ini? " tanya Ihsan


"Aku cuma punya akun instagram itu pun jarang kupakai," jawab Aldrin.


"Tahu enggak, di facebook videomu saat main biola viral, banyak banget yang bagikan!" ucap ihsan kembali.


"Video yang mana, sih?" Aldrin mengerutkan dahinya.


Ihsan mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi facebook dan menunjukkan sebuah video yang dibagikan teman facebook-nya di beranda.


"Video kamu lagi main biola, aku baru tahu kalau kamu jago main biola."


Aldrin dan Amaira menonton video yang menampilkan permain biola di jalanan Kota Tua. Ya, ia mengingat kejadian itu saat berkencan dengan Amaira di hari Minggu. Teman-teman yang lain turut memberi ucapan selamat pada lelaki itu karena sekarang ia viral. Mereka turut senang Aldrin menjadi terkenal karena video itu. Aldrin dan Amaira saling bertatapan lalu keduanya tersenyum bersama.


Naufal yang baru masuk kelas langsung menghampiri Aldrin. "Hei, Guru-guru panggil kamu ke ruang guru sekarang!"


Aldrin bergegas lari menuju ruang kelas.


Amaira mendekati Naufal. "Video Aldrin lagi main biola viral di sosmed!" ucap Amaira penuh suka cita.


"Ya, aku sudah tahu. Dia pasti sangat senang. Kita harus mendukungnya!" ucap Naufal sambil mengepalkan tangannya ke atas memberi semangat. Amaira mengangguk cepat sambil tersenyum.


Di ruang guru, Aldrin menghadap wali kelasnya. Rupanya guru-guru telah mengetahui video viralnya. Mereka selama ini tidak tahu jika siswa yang kerap berbuat onar itu jago bermain biola.


"Kenapa kamu selama ini tidak bilang kalau kamu pintar bermain biola? Di sekolah kita, 'kan, banyak kegiatan, jika kami tahu kamu seorang violinis kita bisa memanggil menjadi pengisi acara hiburan di setiap even sekolah."


Wali kelas tampak bahagia, setidaknya hari ini guru-guru tidak mengeluh tentangnya, malah mereka merasa bangga dengan adanya video itu.


"Apa penting aku mengatakan itu? Guru-guru selalu menganggap aku siswa nakal, pemalas, tak taat aturan!" ucap Aldrin sambil memalingkan wajahnya.


"Hei,hei, lihat gayamu sudah sombong begitu! Walau bagaimanapun kamu adalah murid kami, tanggung jawab kami. Kamu di sini untuk kami didik dan harus ikuti peraturan yang ada," balas Wali Kelas.


Aldrin terdiam. Wali kelas melanjutkan bicara. "Ada beberapa wartawan yang meminta izin ke kepala sekolah untuk mewawancaraimu. Datanglah ke ruang Kepsek sekarang!"


"Baik, Pak!" Aldrin langsung berdiri hendak menuju ruang kepsek, tapi kemudian wali kelas berbicara kembali, "Aldrin, entah memainkan biola itu sekadar hobi atau cita-citamu, Bapak harap kamu bisa sukses dengan jalanmu sendiri!"


Aldrin tertegun mendengar ucapan dari wali kelas yang sering memarahinya itu. Seketika, ia merasa terharu mendengar gurunya mengharapkan kesuksesannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldrin menuju perpustakaan setelah selesai wawancara dengan wartawan media. Ia bertemu Maria di taman sekolah dan menyempatkan untuk menyapanya.


"Aku dengar videomu yang lagi main biola viral selama beberapa hari ini, bahkan sudah masuk di televisi. Selamat ya!"


Maria adalah wanita pertama yang mendukungnya sebagai violinis. Dia merasa ikut senang saat mengetahui akhir-akhir ini Aldrin menjadi sorotan media karena musikalitasnya.


"Wartawan bilang mereka tahu namaku dan tempatku bersekolah dari dirimu. Terima kasih atas dukunganmu, Maria. Kamu sudah terlalu banyak mendukungku selama ini," ucap Aldrin sambil memegang kedua pundak Maria dan menatap lembut wajah Maria.


Seketika, Maria kembali aneh pada dirinya sendiri. Jantungnya kembali bereaksi tak seperti biasa. Hanya ditatap seperti itu, ia langsung merasa gugup.


Aldrin merasa aneh dengan perubahan tiba-tiba pada diri Maria. Namun, ia tak terlalu peduli dan memutuskan untuk menuju ke perpustakaan.


Di perpustakaan, Amaira dan Naufal telah menunggunya. Mereka telah menyiapkan beberapa minuman soda dan aneka cemilan di atas meja.


"Ayo kita sambut violinis kita!" seru Naufal sambil menepuk tangan.


Aldrin yang masih bingung segera menuju ke arah mereka. "Untuk apa ini semua? "


"Tentu saja untuk merayakan kesuksesanmu!" ucap Naufal kembali.


"Kalian terlalu berlebihan, ini belum apa-apa." Aldrin mengambil sekaleng minuman soda, membukanya lalu meneguk minuman tersebut.


"Kesuksesan besar dimulai dari kesuksesan kecil," ucap Amaira sambil memegang tangan Aldrin.


Aldrin tersenyum. "Kalian tahu enggak, tadi ada yang menemuiku. Katanya malam ini aku diundang makan malam sama pengusaha timur tengah. Katanya sih, dia terkesan melihat videoku dan Kebetulan dia pecinta musik biola. Bahkan asistennya memberiku kartu namanya," Aldrin menunjukkan sebuah kartu nama.


"Yussef Alfath." Naufal membaca nama yang tertulis di kartu itu. "Wow! Secepat itu kau go internasional." Naufal berdecak kagum.


"Ini sangat bagus. Kamu harus datang, dan berikan penampilan terbaik di depannya!" Amaira ikut merasakan kebahagiaan.


Siang hari, di kantor manajemen artis, Ardhilla dipanggil oleh manajernya ke ruangan.


"Ardhilla, kamu harus menonton ini dan jelaskan padaku apa maksud dari semua ini!"


Manajernya menghidupkan televisi. Saat ini di layar terlihat Aldrin tengah di wawancara sejumlah wartawan.


"Sejak kapan kamu bisa main biola?"


"Sejak kecil. Tapi aku tidak tahu tepatnya. Ayahku bilang sejak umur tiga tahun."


"Apa yang membuat kamu suka biola?"


"Karena Ayahku adalah pengamen jalanan dan dia memainkan biola dari tempat ke tempat untuk menghasilkan uang."


"Ayahmu seorang pengamen? Bukankah kata ibumu, Ayahmu adalah pria berwarganegara Jerman?"


"Itu tidak benar! Mungkin ibuku malu mengakui kalau pernah menikah dengan pengamen terus meninggalkan pengamen itu demi menikah dengan suaminya yang sekarang!"


Pernyataan Aldrin pada sejumlah wartawan sontak membuat Ardhilla sangat marah. Darahnya berdesir saat ini. Bagaimana bisa Aldrin mengatakan jika ia pernah menikah dengan seorang pengamen Sebab, kenyataannya ia dan Jefri tak pernah menikah dan mereka tak terikat apa pun.


Tidak!


Ini sangat memalukan untuknya. Bahkan lebih memalukan dari skandal perselingkuhannya dengan Steve beberapa tahun silam.


Ardhilla langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruangan. Ia tak peduli teriakan manajernya yang meminta penjelasan tentang apa yang dikatakan anaknya. Ia langsung memerintahkan supirnya menuju rumah.


Setibanya di rumah, Ardhilla terburu-buru keluar dari mobilnya. Bertepatan dengan itu, Zaki juga baru tiba dari kantor dan langsung menyapa ibunya tapi diabaikan. Wajah artis itu sangat berbeda hari ini. Matanya begitu tajam. Seluruh wajahnya diselimuti amarah besar yang siap meledak.


Ardhilla masuk ke dalam rumah diikuti Zaki dari belakang. Ia berteriak memanggil-manggil Aldrin. Para asisten rumah tangga berkumpul mendengar suara teriakan Nyonya mereka yang selalu tampil anggun.


Ardhilla melihat Aldrin sedang bersantai di kolam renang bersama Naufal. Wanita itu bergegas menuju ke kolam renang. Ia menghampiri anaknya, lalu memaksa Aldrin berbalik dengan kasar.


Tepat saat Aldrin menoleh ke ibunya, sebuah tamparan dari Ardhilla mendarat di pipi Aldrin disaksikan Naufal, Zaki dan juga Asisten rumah tangga mereka.


.


.