Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 50 : Berubah Total



Amaira terhenyak mendengar ucapan yang baru saja meloncat dari mulut Aldrin. Namun, gadis itu berusaha tenang. Sementara Aldrin tampak dingin, pandangannya lurus sejajar menghadap jendela ruangan itu. Ia duduk dengan tangan yang bersedekapm


"Kenapa?" tanya Amaira pelan.


"Enggak pa-pa sih, aku cuma tiba-tiba suka sama cewek lain," ucap Aldrin dengan tatapan yang masih lurus.


"Apa cewek itu yang ciuman sama kamu di kamar Bryan?" tanya Amaira dengan nada suara bergelombang. Ia berusaha menelan ludahnya sendiri.


Aldrin menoleh ke arah Amaira. Ia mengangkat salah satu alisnya saat mendengar pertanyaan Amaira. "Oh ... kamu lihat?" tanyanya santai.


"Iya, tapi aku masih terima penjelasan kamu," ucap Amaira dengan cepat.


Aldrin tertawa tanpa suara, ia menatap dalam wajah gadis itu. Sudut bibirnya terangkat membuat seringai sinis. "Apa yang harus kujelaskan? Di western hal itu sudah biasa dilakukan, kecuali kalau aku lakukan Depp Kiss seperti yang kulakukan sama kamu malam itu!"


Amaira terdiam. Ia menggigit ujung bibirnya. Kedua tangannya tampak meremas rok seragam yang dipakainya.


Aldrin melanjutkan kembali ucapannya, "Aku cuma mau minta putus sama kamu. Aku putusin Angel sebelum pacaran sama kamu dan sekarang aku harus mengakhiri hubunganku sama kamu sebelum aku menjalin hubungan baru. "


Amaira menahan napasnya, berusaha tetap tenang meskipun sebenarnya hatinya menahan sakit melihat ekspresi wajah Aldrin yang berbeda.


"Sebaiknya ... tenangkan pikiranmu. Aku masuk kelas dulu," ucap Amaira dengan lirih. Ia langsung pergi, berjalan menunduk meninggalkan Aldrin yang duduk terpaku di sudut ruangan.


"Selamat tinggal ...."


Suara Aldrin tiba-tiba menghentikan langkah kaki Amaira. Ia menengok kembali ke arah Aldrin yang masih memasang wajah dingin. Seketika, ekspresi gadis itu berubah menjadi sedih.


Dia mengucapkan kata 'Selamat Tinggal' dalam keadaan sadar, seharusnya ini sangat serius, bukan?


Amaira memutuskan kembali ke ruang kelas meninggalkan Aldrin yang masih berdiam diri di perpustakaan. Pelajaran pertama akan segera dimulai. Gadis itu berjalan menuju tempat duduknya. Namun, Ia terkejut ketika melihat Ihsan duduk di tempat duduk Aldrin.


"Hai, Amaira!" sapa ketua kelas dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi depannya.


"Kok kamu duduk di situ? Bukannya pelajaran akan segera mulai?" tanya Amaira kebingungan.


"Aldrin yang minta. Kami tukaran tempat duduk," jawab Ihsan sambil memangku dagu.


"Serius?" Naufal tiba-tiba berbalik ke belakang menyambung pembicaraan mereka.


"Iya. Tadi waktu dia datang, dia memintaku duduk di tempat duduknya," sahut Ihsan berusaha meyakinkan.


Amaira langsung menengok ke bangku yang di duduki Ihsan sebelumnya. Ya, benar! Ada tas Aldrin di atas meja itu. Menandakan jika apa yang dikatakan Ihsan benar adanya.


"Itu artinya dia benar-benar berubah. Datang ke sekolah lebih awal, mengerjakan tugas dan PR sendiri lalu sekarang mau duduk di depan. Duduk di depan artinya dia tidak bisa tidur lagi saat pelajaran berlangsung," tutur Naufal yang terlihat begitu gembira karena berharap Aldrin benar-benar akan berubah.


"Bisa jadi, sih. Lagian aku senang bisa tukaran tempat duduk. Di sini aku bebas ngupil dan tambah semangat belajar karena ada cewek cantik di sampingku," ucap si ketua kelas sambil melirik Amaira.


Amaira hanya diam menunduk, wajahnya menjadi sendu. Apakah yang dikatakan Naufal itu benar? Dia pindah tempat duduk karena tidak akan tidur lagi saat pelajaran berlangsung? Entahlah!


Waktu kian maju, pelajaran telah silih berganti. Namun, Aldrin seharian ini tidak masuk kelas. Dia memang sering bolos di kelas, tetapi dia hanya akan memilih bolos di jam pelajaran tertentu. Sejak tadi pagi ia belum juga masuk kelas hingga pelajaran akhir dimulai.


^^^Amaira^^^


^^^Aku tidak mau kita akhiri hubungan ini. Ayo kita bicara sekali lagi! Aku akan menunggumu di perpustakaan saat pulang nanti.^^^


Bel panjang berbunyi, tanda segala aktivitas sekolah telah berakhir. Semua siswa tampak senang karena akan kembali ke rumah masing-masing.


Amaira berjalan terburu-buru menuju ke perpustakaan. Sebelum membuka pintu, ia menarik napas panjang. Begitu pintu terbuka, matanya berkeliling menatap ruangan yang dipenuhi buku-buku. Tak ada orang dalam ruangan tersebut.


Amaira memutuskan duduk di tempat yang Aldrin duduki pagi tadi. Ia melihat kembali ponselnya, mengecek apakah pesan yang ia kirimkan ke Aldrin telah terkirim. Ya, pesan itu telah terkirim, tapi tak ada balasan apapun dari Aldrin.


Sudah sejam ia menunggu di sini, menunggu Aldrin yang tak kunjung datang. Ia masih dalam posisi sabar. Namun, tak lama kemudian terdengar suara pintu berderit. Amaira langsung berdiri dan menoleh ke arah pintu. Ternyata yang datang hanya petugas sekolah.


"Kenapa kamu masih di sini? Orang-orang sudah pulang semua. Aku akan segera mengunci perpustakaan ini!" tegur petugas sekolah.


Amaira mengambil tasnya lalu bergegas keluar dari perpustakaan itu. Dia berjalan perlahan menuju pintu gerbang sekolah. Suasana sekolah sangat sepi, tak ada lagi siswa-siswi. Ia menengadahkan kepalanya, menatap awan putih yang bersembunyi di birunya langit.


Seharusnya kamu sudah membaca pesanku, 'kan? Apa mungkin kamu enggak pegang ponsel seharian? gumam Amaira. Ia berusaha untuk tetap berpikir positif.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari, Amaira duduk di lantai kamarnya sambil memeluk lututnya. Ia terus memegang ponselnya, sesekali meletakkan ponsel itu di telinganya berusaha untuk melakukan panggilan ke nomor Aldrin. Telepon itu tersambung, tetapi tak kunjung diterima. Sebanyak apa pun ia berusaha melakukan panggilan, tetap tak terjawab. Amaira hampir putus asa. Ia kembali menulis pesan singkat.


^^^Amaira^^^


^^^Tolong jawab teleponku, Al!^^^


Amaira masih tak menyerah, ia kembali menelepon Aldrin.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan." Terdengar suara dari operator.


Pertahanan gadis itu mulai runtuh. Matanya mulai berair. Ia menggigit ujung kukunya, berusaha untuk menahan tangis. Namun, percuma! air mata itu telah jatuh membasahi pipinya yang mulus.


Aldrin,


jika waktu itu kamu tidak lagi menghubungiku karena suatu alasan, hari ini pasti kamu juga punya alasan kuat, 'kan?


Kamu memintaku jangan lari. Nyatanya kamu sendiri yang lari menjauhiku .


Kamu bilang padaku kalau kamu telah jatuh kepelukanku. Nyatanya, aku lah yang telah jatuh sejatuh-jatuhnya padamu.


Kamu mengatakan bahwa kamu takut jika seseorang mengucapkan selamat tinggal padamu. Nyatanya, kamu sendiri mengucapkan selamat tinggal padaku.


Amaira menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya. Ia mulai terisak setelah bersusah payah menahan bulir air yang meronta-ronta ingin keluar dari pelupuk matanya.


Aldrin, jangan buatku menyerah ....