Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 124 : Takkan Terganti




Mereka masih berpelukan. Menyatukan kembali rasa yang sempat hilang. Maria memberanikan diri mengusap punggung Zaki beberapa kali. Ia tengah berpikir, andai tidak ada kejadian ini, mungkin saja ia tak akan pernah menyadari besar arti sebuah kesetiaan.


Mungkin benar, ia mempunyai rasa ketertarikan pada Aldrin. Namun, perasaannya ke Aldrin belum tentu sama dengan perasaannya ke Zaki saat itu. Begitu juga perasaan Aldrin ke dirinya. Bukankah belum tentu Aldrin memiliki rasa ketertarikan padanya? Lalu mengapa ia membuang orang yang sangat mencintainya demi berharap pada cinta semu?


Sementara dari balik pintu, Naufal mengintip keduanya sedari tadi. Ia tersenyum bahagia melihat Zaki dan Maria kembali bersatu.


Maria tersadar akan sesuatu. "Zaki, kakimu ..." Maria melihat kaki Zaki yang mengeluarkan banyak darah.


"Aku akan manggil Suster," kata Maria seraya berdiri hendak keluar dari ruangan itu.


Namun, pintu terbuka dan Naufal masuk secara tiba-tiba. "Aku udah panggil suster barusan. Mereka lagi bersiap buat ngambil alat pembedahan."


Kehadiran Naufal secara tiba-tiba membuat Maria dan Zaki menjadi kikuk.


Naufal tampak memahami ekspresi diam bercampur malu sepasang kekasih itu. "Tenang, aku enggak akan membocorkan ke-lebay-an kalian ke media," ujar Naufal tertawa sambil mengacungkan dua jari tangannya.


Tak lama kemudian, dua suster datang untuk melakukan pembedahan kecil di kaki Zaki yang terluka akibat pecahan gelas tadi. Pembedahan dilakukan agar bisa membersihkan luka lebih dalam dan mencegah terjadinya infeksi.


Maria dan Naufal menunggu di luar kamar rawat Zaki. Keduanya duduk bersebelahan di kursi tunggu yang disediakan Rumah Sakit.


"Aku senang akhirnya kalian balikan," ujar Naufal.


"Cintanya yang begitu besar membuatku menyerah," jawab Maria tersenyum tipis.


"Kak Zaki tuh cowok yang takut darah. Sebisa mungkin dia bakal menghindari tubuhnya terluka saking takutnya lihat darah. Enggak nyangka hari ini dia rela berdarah demi Kak Maria," lanjut Naufal sambil tertawa.


Maria hanya diam. Ia tak dapat berkata apa-apa lagi. Sekarang, ia hanya fokus untuk menata hatinya kembali. Tentu saja menemukan cintanya lagi untuk pria yang telah menemaninya dalam suka maupun duka.


Naufal dan Maria kembali ke ruangan Zaki setelah pembedahan kecil selesai dilakukan. Kaki Zaki telah dibalut dengan plester dan selang infus kembali terpasang di tangannya.


"Kakak, aku mau pulang dulu, ya. Sore ini, aku ama ayah mau berziarah ke kubur ibu," ucap Naufal pada Zaki.


"Astaga! Aku benar-benar lupa, ini hari meninggalnya ibu kita." Zaki mengusap rambutnya ke belakang dengan kedua tangan. Ia tak habis pikir kenapa bisa lupa akan hal itu.


"Enggak apa-apa. Kamu istirahat saja dulu. Pulihkan tubuhmu. Aku pergi, ya." Naufal pamit keluar.


Suasana ruangan itu menjadi hening seketika. Zaki menunduk, tapi matanya diam-diam mencuri pandang ke arah Maria yang tengah membereskan meja di samping tempat tidurnya.


Secara tiba-tiba Zaki menarik tangan Maria hingga tubuhnya jatuh ke atas dada Zaki yang sedang terbaring.


"Zaki, kamu mau ngapain?" Maria berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu.


Namun, Zaki semakin mempererat pelukannya. Wajah gugup Maria yang tengah dipandangi Zaki terasa begitu imut.


DEG!


DEG!


DEG!


Bunyi debaran jantung Maria terdengar seperti genderang. Pasalnya, ini adalah momen kedekatan mereka kembali setelah tak saling kontak satu sama lain.


Zaki mendekatkan wajahnya, kini yang ada di matanya hanyalah bibir Maria yang begitu sensual. Ia berusaha mendekatkan bibirnya untuk mendarat sempurna di bibir merona Maria. Dengan mata saling terpejam, kedua insan itu kini tengah berpagutan hingga napas mereka terasa bertabrakan.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Zaki terkejut. Matanya spontan terbuka dan ia langsung mendorong tubuh Maria menjauh darinya. Sementara di depan pintu, Naufal berdiri dengan ekspresi terperanjat. Matanya melotot seakan hendak keluar. Mulutnya ternganga. Sudah pasti adegan barusan tertangkap oleh matanya!


"Ma-maaf ... aku lu-lupa me-mengambil tasku," ucap Naufal dengan gugup.


Ruangan kembali menjadi hening. Namun, sepasang kekasih itu masih mematung. Wajah mereka merah padam. Tentu saja karena malu!


"Ini semua gara-gara kamu, tahu!" gerutu Maria menahan malu.


"Kok aku yang disalahkan! Kamu yang enggak ngunci pintu!" balas Zaki tak mau di salahkan.


Keduanya kembali terdiam. Lalu saling melirik secara bersamaan. Seketika tawa mereka pecah.


Sore yang sejuk dengan langit yang tertutupi bongkahan awan. Tuan Adam dan Naufal pergi ke tempat pemakaman umum. Mereka berjalan sambil membawa buket bunga menuju ke sebuah pusara tempat mendiang istri pertama Tuan Adam dikuburkan. Begitu sampai depan pusara, ayah dan anak itu meletakkan buket bunga yang mereka bawa di depan nisan.


Wajah pria tua itu menjadi sendu, menatap pusara yang bertuliskan nama istri pertamanya. Setiap tahun Tuan Adam rutin membawa kedua anaknya untuk berziarah ke makam istri tercintanya.


"Apa kabarmu, Sayang?" Adam menyapa sambil duduk di samping pusara istrinya yang terawat.


"Maaf, kali ini aku tidak membawa anak kita yang pertama. Dia sedang terbaring di Rumah Sakit ...." ucapnya sambil mengelus lembut nisan istrinya.


"Maafkan juga karena aku hanya dapat mendatangimu setahun sekali," lanjut Adam.


"Lihatlah ... ini anak kita yang kedua. Dia sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi dia akan lulus dan melanjutkan kuliahnya di jurusan kedokteran. Dia ingin menjadi seorang dokter, sama sepertimu." Adam menatap Naufal yang tertunduk.


"Lihatlah ... matanya, hidungnya, dan bibirnya sama sepertimu. Sifatmu yang begitu dan ramah menurun padanya," lanjut Adam kembali menceritakan Naufal pada mendiang istrinya. Naufal hanya bisa diam mendengar ayahnya yang terus bercerita di samping pusara ibunya.


Istri Tuan Adam dulunya adalah seorang dokter. Namun, ia meninggal saat melahirkan anak kedua mereka, Naufal. Untuk pertama kali, Tuan Adam mengalami kehancuran yang luar biasa karena ditinggal oleh orang yang paling ia cintai. Namun, ia harus bangkit untuk menata masa depan anak-anaknya.


Sepasang burung terbang rendah hinggap di dahan pohon dengan riuh bercengkrama. Angin sore membelai rambut ayah dan anak lelakinya. Tuan Adam berdiri dengan bantuan Naufal. Ia kembali menatap pusara istrinya seolah enggan berpisah. Kepalanya masih dipenuhi banyak kenangan antara ia dan mendiang istrinya.


"Apa Ayah sangat mencintai Ibu?" tanya Naufal.


"Sangat! Jika ayah bisa memilih, ayah tidak akan menggantikan posisinya dengan wanita manapun." Adam menghela napasnya.


Naufal menoleh pada ayahnya. "Maksud Ayah, ibu yang sekarang tidak bisa menggantikan posisi ibu kami di hati Ayah?"


Adam mengangguk, menandakan mengiyakan apa yang ditanyakan anaknya. Tangannya mengusap sudut-sudut matanya.


"Lalu, kenapa Ayah menikahi ibu kalau Ayah tidak mencintainya?"


Adam terdiam sejenak. "Waktu itu kalian masih sangat kecil dan membutuhkan seorang ibu. Zaki sangat menyayangi ibumu yang sekarang. Atas desakan kakakmu, Ayah menikahinya."


"Jadi demi aku dan kakak Ayah rela membangun rumah tangga tanpa cinta selama belasan tahun?" tanya Naufal kembali.


Adam tersenyum samar. Ia mengangguk pelan. Lalu kembali menatap pusara istrinya. "Karena membahagiakan kamu dan kakakmu adalah bentuk pembuktian cintaku pada ibu kalian. Kalian berdua adalah peninggalannya yang paling berharga."


Kini giliran Naufal yang kembali menoleh ke arah makam ibunya. "Ibu, jangan khawatir. Aku dan kakakku tumbuh baik. Ayah selalu menjadi ayah yang baik untuk kami berdua. Ayah selalu mencintai ibu."


 


"Salah satu hal terbesar yang dapat dilakukan seorang ayah bagi anak-anaknya adalah untuk mencintai ibu mereka." -Howard W. Hunter


.


.


.


.


bersambung...