Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 129 : Nasihat Menyentuh



Aldrin mengemas barang-barang yang ada di kamarnya. Dia akan segera keluar dari rumah itu dan pindah ke rumah Jefri. Sementara Naufal berdiri diam di sampingnya. Lelaki itu telah mengetahui jika Aldrin akan tinggal di rumah Jefri.


"Sini kubantu." Naufal ikut mengemas barang-barang Aldrin.


Aldrin menoleh ke arah Naufal seraya tersenyum tipis. "Jangan khawatir! Setiap malam Minggu aku akan menginap di rumah ini dan tidur di kamarmu," ucap Aldrin menenangkan Naufal yang tampak sedih.


"Aku ikut senang. Akhirnya kau dan Paman Jefri bersatu lagi. Apa aku boleh ikut mengantarmu ke rumah paman? Aku juga ingin bertemu dengannya," pinta Naufal sambil meletakkan barang-barang Aldrin ke dalam koper.


Aldrin mengangguk. "Tentu saja boleh. Tapi, sebelumnya aku akan ke kantor ayahmu dulu. Aku ingin pamit dan memberi sesuatu padanya."


Aldrin menatap sebuah kotak yang terbungkus kado dan terlilit pita. Itu adalah hadiah yang dia beli untuk ayahnya dan awalnya akan ia berikan di hari ulang tahun Tuan Adam. Namun, karena kesalahannya sendiri, ia tak dapat memberi hadiah itu di hari ulang tahun ayah sambungnya.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zaki berjalan menuju ruang Presiden Direktur. Ia baru saja tiba dari Itali mengambil liburan bersama Maria. Ini pertama kalinya ia mengajak kekasihnya jalan-jalan keluar negeri.


Pria itu mengetuk pintu dan masuk ke ruangan ayahnya. Di sana, tampak tuan Adam tengah duduk sembari memeriksa beberapa berkas kontrak kerja sama dengan perusahaan lain.


"Ayah, benarkah kalian akan bercerai?" tanya Zaki seakan tak percaya dengan berita yang telah sampai di telinganya.


Adam menatapnya dengan tenang dan berkata, "Ya, mungkin tidak lama lagi surat cerainya akan keluar."


"Oh ... jadi kalian telah lama mengurusnya tanpa sepengetahuan kami? Kenapa Ayah dan ibu tidak berdiskusi masalah itu pada kami? Kenapa tidak mendengarkan pendapat kami?" Zaki terlihat begitu marah.


"Zaki, kalian sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi," jawab Tuan Adam begitu tenang.


"Lalu, karena kami sudah besar, apakah kami tidak perlu dilibatkan ke dalam urusan rumah tangga ayah?"


Adam bergeming seketika, matanya menatap dalam wajah anaknya yang memerah karena emosi.


"Apa maumu?"


"Aku hanya ingin kalian memikirkan ini sekali lagi. Dan ... jangan ada perceraian di antara kalian! Bukankah keluarga kita sebelumnya sangat harmonis?"


"Ibumu yang memaksa ingin berpisah dari kita."


"Baiklah, aku akan membujuk ibu." Zaki membalikkan badannya hendak berjalan keluar ruangan, tetapi Tuan Adam buru-buru berkata, "Kami tidak saling mencintai. Lepaskanlah ibumu ...."


Zaki membalikkan badannya kembali, menoleh kepada ayahnya. "Setelah tujuh belas tahun, kalian bilang tidak saling mencintai?" cetusnya. Ia menganggap itu sebuah alasan yang dibuat-buat.


"Kami tidak saling cinta. Tapi, kami mencintai kalian. Itulah kenapa kami bertahan selama itu."


Zaki menarik napasnya. "Jika selama itu bisa bertahan, kenapa tidak selama-lamanya saja kalian bertahan untuk kami."


"Jangan egois."


"Kalian yang egois!"


"Zaki, ternyata kau belum juga dewasa!"


Zaki menatap tajam wajah ayahnya. Ia memutuskan untuk pergi dari ruangan dengan membanting pintu sebagai tanda protesnya. Melihat kemarahan anak sulungnya, Adam hanya bisa menunduk dan merenung. Ia menatap sebuah foto keluarga mereka terletak di atas meja kerjanya. Ya, sebentar lagi keluarga mereka akan retak.


Zaki berjalan keluar dari ruangan ayahnya dengan wajah yang masih tersimpan emosi. Mungkin, yang paling tidak menerima keputusan ini adalah Zaki. Itu karena ia harus hidup tanpa seorang ibu untuk kedua kalinya. Ya, tidak peduli berapa pun usiamu, sosok ibu tetap penting untukmu, 'kan?


Entah hanya kebetulan, secara tak sengaja Aldrin sedang berjalan menuju ruang Presiden Direktur. Kedua saudara tiri yang tak pernah akur itu kini saling berhadapan.


"Kudengar kau sudah keluar dari rumah, ya?"


"iya."


"Lalu, untuk apa kau ke sini? Sebentar lagi kau bukan bagian dari keluarga kami." Zaki menunjukkan wajah ketus.


"Tentu saja bertemu ayahmu," jawab Aldrin santai sambil bersedekap.


"Aku lebih senang karena tak akan melihat wajah menyebalkanmu itu!" balas Aldrin sambil mengangkat ujung bibir atasnya.


Kedua lelaki itu sama-sama memalingkan wajah mereka, lalu pergi berlawanan arah.


Aldrin masuk ke ruangan Tuan Adam bersama sekretaris yang mengarahkannya untuk masuk. Berdiri di hadapan ayah tirinya, wajah Aldrin tiba-tiba berubah menjadi sendu. Ia menundukkan kepalanya.


Seolah tahu tujuan kedatangan Aldrin, Tuan Adam berkata, "Kau akan pergi?"


"Iya, Yah," jawab Aldrin masih menunduk tanpa berani memandang wajah ayah tirinya.


"Apa kau tinggal bersama ibumu?"


"Tidak."


"Lalu, kau akan tinggal di mana?"


"Aku tinggal bersama ayahku."


Adam tersentak kaget. "Ayahmu telah kembali?"


Aldrin mengangkat kepalanya perlahan, lalu melebarkan senyumnya. "Iya, dia telah pulang dan mengajakku tinggal bersama."


"Oh ... itu bagus. Seringlah berkunjung di rumah jika kau punya waktu."


"Sudah pasti."


"Jangan malas belajar! Jangan lagi berbuat masalah di sekolah! Jika kau lulus nanti, bekerjalah sesuai dengan apa yang kau inginkan! Sekali pun kau tidak menyukai ibumu, tetap sering kunjungi dia!"


"Iya, Ayah."


Adam terdiam sejenak. Ia tampak menghela napas sembari memalingkan muka. "Aku membenci kekalahan. Tapi kuharap ...." Tiba-tiba suara pria itu tercekat, ia terdiam kembali, sebelum berkata dengan nada suara yang bergetar. "kau harus bisa mengalahkan aku dalam hal kesuksesan. Kau harus bisa lebih sukses dariku!"


Kalimat-kalimat nasihat yang terlontar dari mulut pria itu, membuat hati Aldrin tersentuh. Bukankah tinggal hitungan hari lagi mereka tak memiliki hubungan apapun? Kenapa masih mau memberi nasihat padanya?


Pria tua itu selalu saja begini!


Aldrin menggigit ujung bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dengan sedikit keberanian, ia menatap wajah tuan Adam. "Ayah juga ... jangan lupa untuk beristirahat. Jaga pola makan dan jangan terlalu sibuk bekerja. Semua nasihat dan ilmu yang kau berikan padaku akan kuterapkan di kehidupanku," balasnya dengan nada suara yang lemah.


Tuan Adam membalas tatapannya dengan raut tak berdaya. Sederet kalimat yang Aldrin ucapkan, membuatnya terperanjat sekaligus terharu. Pasalnya, Anak itu tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tak pernah berkata lemah lembut. Apalagi untuk menunjukkan perhatiannya. Tidak setitik pun. Sayangnya, kalimat itu keluar saat mereka tak lagi serumah.


"Cepat pergilah! Aku masih sangat sibuk," pinta Adam seketika sambil kembali memalingkan wajahnya.


Aldrin mengangguk pelan. "Terima kasih telah menerimaku selama ini dan memperlakukanku seperti anak kandungmu sendiri. Di masa yang akan datang, aku akan mengikuti jejakmu sebagai ayah yang baik untuk anak-anakku."


Aldrin maju melangkah mendekat ke arah meja kerja Adam. Ia meletakkan sebuah kado di atas meja tersebut. Setelah itu, ia memutar badannya dengan pelan kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kerja Adam.


Beberapa detik setelah kepergian Aldrin, pria tua itu membuka kacamatanya. Tangannya menghapus genangan air yang mulai mengalir dari sudut-sudut matanya. Pandangannya terarah pada sebuah kado bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun Ayah' yang diletakkan Aldrin.


.


.


.


oh iya, intermezo dikit yuk. dari semua chapter yang kalian baca, chapter mana yang jadi favorit kalian?


kalo aku :


chapter 65-67 yaitu saat naufal tahu perasaan aldrin ke amaira dan ia ngajak aldrin lomba lari buat mastiin siapa yang berhak dekatin amaira, hingga naufal menerima kekalahannya dan aldrin mengizinkan naufal mngungkapkan perasaannya pada amaira.


kenapa aku suka chapter ini? karena chapter ini menunjukkan 'frindship goals'. trus menguras pikiranku banget buat nyari kata-kata yang pas biar adegan yang kalian baca itu begitu nyata dan masuk ke penjiwaan.


kalo versi kalian yang mana?