Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 138 : Bulan Madu



Amaira menoleh ke arah Aldrin yang masih dilanda kesal. Kelakuan Aldrin persis seperti anak kecil yang merengek karena tidak dibelikan mainan. Amaira hanya bisa menahan tawanya.


"Kita masih bisa melakukan itu di lain waktu," bujuk Amaira.


Aldrin meliriknya. "Tapi, ini adalah malam pertama kita. Apa harus dilewati begitu saja." Aldrin masih merengut.


"Kan enggak harus malam pertama. Lagian, aku juga masih capek," ujar Amaira pelan.


"Ya sudah. Tidur aja!" seru Aldrin sambil memalingkan wajahnya.


Amaira menatap wajah Aldrin yang menyamping. Ia dapat mengerti kekesalan Aldrin saat ini. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa untuk membujuk pria itu.


"Good night," ucap Amaira.


Gadis itu lalu membalikkan badannya mengambil posisi tidur miring ke kanan membelakangi Aldrin. Ia menutup matanya perlahan, dan mulai bernapas dengan nyaman.


Tiba-tiba Aldrin memeluknya dari belakang dan mendekatkan bibirnya ke telinga Amaira.


"Te amo," bisiknya dalam bahasa Spayol yang mengandung arti aku mencintaimu.


Amaira tersenyum dalam rasa kantuknya dan mereka melewati malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri dengan tertidur lelap sambil berpelukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi yang cerah telah menyambut. Amaira membuka matanya perlahan. Bola matanya langsung menangkap tangan putih yang melingkar di tubuhnya. Itu adalah tangan Aldrin yang memeluknya sepanjang malam. Ya, dia hampir lupa jika sekarang ia telah menjadi seorang istri. Sejenak, Amaira tersenyum tipis lalu mengangkat tangan Aldrin pelan-pelan agar pria itu tidak terbangun. Ia menoleh ke belakang dan melihat wajah tampan Aldrin yang masih terlelap. Meskipun jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Amaira masih tidak tega untuk membangunkannya.


Tangan Aldrin telah terangkat dari tubuhnya. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuhnya sendiri bermaksud untuk bangkit dari tempat tidur. Namun, tangan Aldrin menariknya kembali sehingga membawanya terbaring dalam pelukan lelaki itu. Amaira kembali menyingkirkan tangan Aldrin yang melingkar di tubuhnya. Lagi-lagi, tangan itu semakin erat memeluknya hingga ia kesulitan bergerak.


"Jangan kabur!" bisik Aldrin dengan suara berat.


"Ini sudah pagi, bukannya kita mau ke puncak?" Amaira mencoba mengingatkan Aldrin tentang bulan madu mereka.


"Panggil aku dengan sebutan sayang. Kalau enggak manggil, enggak kulepas!" goda Aldrin dengan kerlingan mata yang nakal.


Amaira melirik Aldrin yang berada di belakangnya. "Sayang, lepasin aku!"


"Ulangi!"


"Sayang, lepasin aku!"


"Ulangi sekali lagi!"


Amaira mengerucutkan bibirnya. Dia merasa Aldrin mengerjainya.


"Sayang ... lepasin aku!"


Kali ini suara Amaira terdengar begitu sangat memelas hingga membuatnya terlihat imut. Aldrin yang merasa puas mengerjai istrinya, akhirnya melepaskan pelukannya. Amaira pun langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini mereka memutuskan untuk berbulan madu ke Puncak, Bogor. Sebenarnya, Aldrin ingin membawa Amaira berbulan madu di Eropa yang mana di sana banyak situs-situs sejarah dunia. Hanya saja Aldrin harus mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi yang semakin dekat sehingga mereka memutuskan berbulan madu di tempat terdekat. Namun, ia berjanji akan membawa istrinya ke Eropa selepas ajang kompetisi itu berakhir.


Alasan mereka memilih Puncak sebagai tempat bulan madu ialah karena begitu banyak tempat wisata di dalamnya. Mereka menyewa vila yang berukuran sedang selama tiga hari ke depan. Nuansa vila itu sangat klasik sehingga membuat keduanya serasa tinggal di alam pedesaan.


Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata yang indah seperti perkebunan teh dan pemandian air panas. Keduanya terlihat sangat menikmati momen bulan madu mereka. Tak lupa pula mereka mengabadikan foto bersama di setiap tempat yang mereka kunjungi.


Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di Puncak setelah menghabiskan tiga hari bersama untuk mengunjungi beberapa tempat indah. Amaira tengah sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam dengan hidangan sederhana ala rumahan. Setelah selesai memasak, ia langsung menuju kamar hendak memanggil Aldrin. Namun, saat membuka pintu, ia mendapati ruangan tersebut kosong. Kemana Aldrin? Tanyanya dalam hati.


Amaira melangkah menelusuri tiap sudut ruangan, namun tak jua menemukan pria itu. Ia lalu menuju pekarangan belakang vila tersebut. Sayup-sayup di kejauhan terdengar bunyi gesekan biola yang membuat Amaira semakin mempercepat langkahnya.


Betapa terkejutnya Amaira saat tiba di pekarangan belakang vila tersebut. Di sekeliling halaman terdapat lampu-lampu indah yang berkelap-kelip.


Amaira menatap Aldrin dari kejauhan sedang memainkan biolanya. Ia segera menghampiri suaminya itu. Di sepanjang ia melangkah, terdapat bunga-bunga indah yang berserakan. Rupanya pria itu telah mendesain tempat ini menjadi begitu sangat romantis.


Di bawah temaram lampu yang sinarnya remang, Amaira dapat melihat Aldrin sedang memainkan biolanya. Gadis itu terkesima melihat pria yang telah menjadi suaminya itu sedang memainkan sebuah alunan lagu romantis berjudul Someone You Loves dari penyanyi solo Lewis Capaldi.


Nada-nada yang dimainkannya begitu rapi. Permainan gesekan dawai sangat indah dan bergejolak seperti ombak di lautan luas. Gesekan nada biola itu terkadang terdengar melengking seolah berusaha menyeruak ke dalam hati hingga membius sang pendengar.


Aldrin menyadari kehadiran Amaira. Di tengah-tengah kelincahan tangannya yang memetik senar, ia menyempatkan melirik Amaira dan mengedipkan salah satu matanya ke arah gadis itu. Memberi sebuah senyuman hangat penuh cinta.


Aldrin menyudahi permainan biolanya dan menghampiri Amaira yang masih terpaku di tempat ia berpijak.


"Kamu suka, enggak?" tanya Aldrin tersenyum lembut.


Amaira mengangguk. Ia membentuk sebuah lengkungan indah di bibir manisnya. Mata yang seperti bola kristal itu menatap wajah Aldrin yang penuh kelembutan.


"Beri aku ciumanmu!" Perintah itu datang seketika dari mulut manis lelaki itu. Suasana hening menerpa seketika. Keduanya saling bertukar pandang seolah menegaskan ada cinta di mata mereka. Dengan perlahan, lengan Amaira mengalung di leher Aldrin dan kakinya berjinjit agar dapat membawanya lebih dekat ke wajah lelaki berstatus suaminya itu.


Keduanya saling memejamkan mata tatkala bibir mereka saling menempel sempurna. Dunia seakan berhenti berputar ketika Amaira menekan bibirnya lebih dalam. Namun, ciuman itu terlalu singkat. Gadis itu langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Aldrin.


Aldrin membuka matanya kembali menatap wajah cantik wanita yang telah menjadi miliknya. Mata Aldrin menyiratkan sebuah protes.


"Sayang, itu bukan ciuman!"


"Lalu menurutmu, ciuman itu seperti apa?" tanya Amaira dengan kedua lengan yang masih mengalung di leher Aldrin.


Entah mengapa Aldrin seolah merasa tertantang mendengar pertanyaan Amaira. Sejenak ia mencubit lembut hidung gadis itu dan berkata, "Aku akan mengajarimu cara berciuman yang benar."


Aldrin menarik pinggang Amaira dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir ranum milik gadis itu. Ia menekan bibirnya lebih dalam dan memeluknya lebih erat. Bibir lelaki itu menggigit bibir Amaira yang terkatup sehingga membuat Amaira membuka sedikit mulutnya. Kesempatan itu tidak Aldrin sia-siakan dengan langsung menelusupkan lidahnya ke rongga mulut Amaira.


Seketika, kaki Amaira menjadi lemas ketika ciuman panas Aldrin menjadi begitu tak terkendali. Ia begitu kewalahan mengimbangi ciuman Aldrin yang dominan. Keduanya sama-sama melayang.


Aldrin melepaskan tautan mereka untuk mengambil oksigen sejenak. Amaira membuka matanya dan mendapati pria itu tersenyum penuh kemenangan. Jari Aldrin mengusap lembut bibir Amaira yang basah akibat ulahnya.


"Udah ngerti cara berciuman yang benar?" tanya Aldrin dengan tatapan nakal.


Amaira mengangguk malu.


"Mau diajari lebih dari itu, enggak?"


Tidak butuh persetujuan Amaira, Aldrin segera menggendongnya menuju kamar mereka. Ia merebahkan tubuh perempuan itu di atas ranjang. Lelaki berprofesi sebagai pemain biola itu mengecup kening Amaira dengan lembut. Matanya kembali menatap dalam mata istrinya yang indah.


Tiba-tiba jantung Amaira berdegub kencang seolah tahu apa yang akan terjadi malam ini. Ya, sudah empat hari mereka menjadi pasangan suami istri. Namun, mereka belum melakukan hubungan selayaknya suami istri. Tentu saja malam ini adalah waktu yang telah ditunggu-tunggu Aldrin.


"Al, kita belum makan. Makan dulu, yuk!" ajak Amaira seolah ingin mengulur waktu.


"Aku cuma pengen makan kamu," ucap Aldrin dengan hembusan napas yang menggoda.


Aldrin langsung menekan kembali bibirnya ke bibir gadis itu. Mereka kembali berciuman, menciptakan suasana panas yang membakar gairah di tubuh mereka masing-masing.


"Udah siap, belom?" tanya Aldrin sambil menyunggingkan salah satu ujung bibirnya begitu melihat wajah Amaira penuh kegugupan.


Amaira menahan napasnya. Tubuhnya gemetar. Dan ia mengeluarkan keringat dingin .


"A–aku ... takut." Terdengar suara napas tertahan dan denyut jantung yang semakin berderu tak karuan.


Aldrin membelai rambut Amaira dengan penuh kelembutan seraya berkata, "Jangan takut, jangan tahan suaramu. Aku pingin kenal kamu lebih jauh, tahu titik sensitif tubuhmu, dan aku akan buat kamu suka."


Amaira menutup mata seolah siap dengan apa yang terjadi. Sedangkan Aldrin mulai melakukan pemanasan-pemanasan kecil di tubuh perempuan itu. Mereka pun melewati satu malam yang indah dengan penuh gairah hingga keduanya tertidur pulas penuh kebahagiaan.


.


.


.


.


.


bersambung...