Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 62 : Kembali Bersama?



Langit mulai menghitam, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit. Keduanya masih terkurung di ruangan yang penuh buku. Perpustakaan mulai menggelap. Aldrin melangkah cepat mencari saklar lampu. Tangannya meraih saklar dan jarinya bergerak cepat untuk menekan tombolnya ke atas agar dapat menghidupkan lampu ruangan. Sialnya, lampu ruangan itu tidak berfungsi dan ruangan makin menggelap memakan sisa-sisa cahaya yang masuk.


"Sial!" umpat Aldrin kesal sambil meninju tembok.


"Kenapa?" tanya Amaira dengan wajah cemas.


"Lampunya mati!" jawabnya singkat.


"Terus gimana, dong? Aku takut kegelapan!" gadis itu menjadi panik.


"Nyalakan senter di hp-mu!" pinta Aldrin.


"Hpku sudah mati!" jawab Amaira dengan penuh sesal.


Aldrin menggertakkan rahang sambil mengusap rambutnya ke belakang. Apakah mereka benar-benar akan bermalam di sini? Aldrin melirik Amaira yang mematung di sudut ruangan. Raut cemas dan ketakutan terlukis di wajah gadis itu.


Aldrin melangkah mendekati Amaira. Ia meraih tangan gadis itu dan mencengkram hangat tangan putih miliknya. Amaira tersentak kaget dan langsung menatap wajah Aldrin. Mata indah cowok itu menyipit karena senyum yang sempurna lahir dari bibirnya. Tak ada ucapan sepatah kata pun yang ia keluarkan, hanya seulas senyum hangat yang Amaira rindukan selama ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Naufal telah sampai di rumah. Ia langsung melangkah ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang penat seharian dengan air shower. Sekitar lima belas menit kemudian, Ia keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kering.



Setelah mengeringkan rambut dan mengenakan pakaian, Naufal mengambil ponsel di dalam tas sekolahnya. Ia membuka pin sandi ponselnya. Matanya terbelalak saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab. Lebih terkejut lagi saat mengetahui panggilan itu berasal dari Amaira. Ia bergegas menghubungi Amaira kembali tapi nomornya tidak aktif.


'Kenapa aku sampai tidak mendengar telepon dari Amaira?' gumam Naufal dengan kesal sambil membanting ponselnya di atas ranjang.


Di perpustakaan, Aldrin dan Amaira duduk di lantai sambil bersandar di rak buku. Posisi mereka berdampingan dengan kedua kaki diluruskan ke depan.


Tangan mereka masih saling bertautan. Ketika Amaira menunjukkan rasa ketakutan, Aldrin akan semakin menggenggam erat tangannya.


Ruangan semakin gelap, mereka hanya diam tak bersuara. Sesekali keduanya saling bertatapan dalam kegelapan yang mulai pekat.


"Apa kamu masih bisa lihat aku?" tanya Aldrin meruntuhkan keheningan di antara mereka.


"Selama aku tidak menundukkan pandanganku, aku tetap bisa melihatmu," jawab Amaira pelan. Ucapannya itu sebenarnya hanya sekadar mengingatkan kembali perkataan Aldrin saat mereka masih berkenalan lewat sambungan telepon. Aldrin pernah mengatakan padanya agar tidak menunduk, dan harus memandang ke depan jika ingin melihatnya.


Aldrin tersenyum getir dengan sudut bibir yang terangkat. Ia mengencangkan genggaman tangannya.


"Kamu enggak takut kegelapan?" tanya Amaira perlahan.


"Tidak. 'Kan ada kamu yang jadi cahayaku!" ucap Aldrin dengan pandangan dalam.


Amaira terdiam sejenak. Dia tahu Aldrin sangat pandai merayu setiap gadis. Ia menganggap ucapan Aldrin hanyalah rayuan semata karena setiap kali ia berjalan menuju ke perpustakaan, sering melihat bahkan mendengar rayuan Aldrin ke beberapa cewek di sekolah mereka.


Amaira mulai merasa kurang nyaman. Ia menepuk-nepuk kulit pahanya sambil menggaruk betisnya.


"Kenapa?" tanya Aldrin yang memperhatikannya.


"Banyak nyamuk," ucap Amaira kesal sambil terus menggaruk betis mulusnya.


Aldrin tertawa kecil. "Kamu manis, sih! Makanya mereka gemas sama kamu!"


Amaira memalingkan wajahnya karena kesal. Dengan cekatan, Aldrin melepas Almamater lalu meletakkannya di atas betis Amaira yang terekspos. Kini betis itu tertutup oleh almamater milik Aldrin.


Amaira yang tadinya menolak bertatapan dengan Aldrin langsung menoleh ke arahnya. Pandangannya langsung disambut oleh senyum hangat cowok itu. Amaira tertunduk malu. Ia tak mau menatap mata cowok itu lebih lama karena takut akan terlena dan jatuh lagi ke dalam rasa patah hati.


Aldrin, apakah kali ini kau akan datang lagi sebagai mimpi? Yang apabila aku terbangun, mimpi itu telah pergi dan kau kembali dingin padaku, akankah seperti itu lagi?


Seketika, Amaira teringat sesuatu. Matanya berkeliling di seluruh ruangan. Ia langsung menunjuk sambil berseru, "Kita bisa keluar lewat jendela!"


Gadis itu baru ingat, saat Naufal memberinya boneka teddy bear, ada satu jendela perpustakaan yang bisa terbuka.


"Cukup tinggi kalau mau ke bawah, kamu bisa lompat enggak?" tanya Aldrin sambil membuka jendela dan melongok. Aldrin kembali menoleh ke arah Amaira lalu berkata, "Aku akan duluan turun ke bawah, habis itu kamu turun dan naik ke punggungku!"


Amaira mengangguk penuh semangat. Aldrin memanjat jendela itu dan melompat ke bawah. Ia langsung memasang badannya di bawah jendela dengan posisi membungkuk agar Amaira bisa turun melewati punggungnya. Ia memberi perintah segera turun.


Amaira mulai memanjat jendela, satu kakinya sudah berada di atas punggung Aldrin sedang kaki satunya masih di jendela. Saat ingin menurunkan sebelah kakinya, ia kehilangan keseimbangan yang membuatnya jatuh tergelincir.


"Aauuu!" pekik Amaira kesakitan.


Aldrin langsung berdiri dan menolongnya. Gadis itu menutup mata dalam-dalam sambil mengancingkan bibirnya karena menahan sakit di pergelangan kakinya.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Aldrin panik.


Amaira menggelengkan kepalanya meskipun wajahnya menahan sakit. Ia berusaha berdiri tapi tidak bisa. Sepertinya pergelangan kakinya terkilir. Aldrin berjongkok di hadapan Amaira yang kembali terduduk kesakitan. Ia membuka sepatu Amaira dengan pelan, lalu menyentuh pergelangan kaki gadis itu. Gadis itu kembali berteriak meringis kesakitan.


"Kayaknya kakimu terkilir. Ayo naik ke punggungku. Biar kugendong sampai di tempat parkir."


Aldrin mengambil tas Amaira lalu menyilangkan tas itu ke badannya. Ia berjongkok dan menyuruh gadis itu naik ke punggungnya. Amaira mengikuti perintahnya dan mulai naik ke atas punggung.




Aldrin berjalan menuju tempat parkir sambil menggendong Amaira. Posisi perpustakaan yang berada paling belakang di lokasi sekolah, membuat mereka harus berjalan jauh menuju ke tempat parkir. Tangan Amaira melingkar di leher Aldrin. Beberapa helai rambut gadis itu jatuh ke samping wajah Aldrin, membuatnya dapat menghirup aroma harum rambutnya.


"Berapa berat badanmu?"


"Kenapa? Aku berat, ya?"


"Tidak, kamu bahkan sangat ringan. Punggungku enggak ngerasain apa-apa!"


Amaira tertawa kecil mendengar ucapan Aldrin.


"Kamu sering menggendong orang, ya?" tanya Amaira lagi.


"Iya ... tapi selama ini cuma satu orang, coba tebak siapa?"


"Pacarmu? Atau mungkin ... mantanmu?"


Aldrin menggelengkan kepalanya. "Dia adalah Naufal!"


"Hah? Naufal?" Amaira terkejut seketika dan sepersekian detik kemudian langsung tertawa.


"Iya, saat masih kecil dulu kami sering main lomba lari. Hukumannya, siapa yang kalah dia akan menggendong yang menang. Karena dia enggak mungkin gendong aku yang lebih besar darinya, aku selalu pura-pura kalah," kenang Aldrin sambil menyampingkan wajahnya agar dapat bertatapan dengan Amaira.


"Jadi kalian sudah lama berteman?"


"Hampir sepuluh tahun."


"Lama banget!" ucap Amaira takjub, "Kamu bisa enggak gendong aku sambil berlari?" tantangnya.


"Mau coba?" Aldrin kembali menantang.


"Kalau kamu bisa!" ejek Amaira sambil tertawa kecil.


"Siapa takut! Pegang yang kuat, ya!" pinta Aldrin.


Amaira mempererat lingkaran tangannya di leher Aldrin. Aldrin mulai berlari sambil menggendong Amaira di belakang punggungnya. Mereka melintasi lapangan sekolah yang sepi dan hanya diiringi oleh sinar bulan yang muncul dengan indah di langit yang gelap.


Amaira semakin mempererat pelukan karena Aldrin mempercepat larinya. Mereka sama-sama tertawa sepanjang jalan hingga sebuah sinar mobil menghentikan langkah Aldrin. Ia menurunkan Tubuh Amaira secepatnya saat melihat mobil yang dikenalinya menghampiri mereka. Amaira yang berada di belakang Aldrin menoleh dan melihat Naufal baru saja keluar dari mobil itu.