
Hari ini, hari keberangkatan Aldrin dan Naufal ke Singapura. Naufal akan menempuh pendidikan ilmu kedokteran di negara itu. Sementara Aldrin akan mengikuti kompetisi musik bergengsi se-Asia Tenggara untuk memperebutkan penghargaan musik di kategori musisi termuda. Yang mana kategori tersebut hanya diisi dia dan juga Zaki sebagai kandidat pemenang.
Amaira dan Jefri mengantar kepergian mereka di bandara. Sebenarnya, Jefri juga akan menemani Aldrin, hanya saja ia tiba-tiba mendapat perintah dari Tuan Hussain Al-Fath untuk melaksanakan tugas.
"Ingat, kau harus fokus, dan jangan lupa berdoa!" pesan Jefri pada Aldrin.
"Iya, Ayah."
Aldrin menoleh ke arah Amaira. Perempuan itu tampak sedih karena harus ditinggal suaminya selama tiga hari. Untuk sementara dia akan kembali ke rumah orangtuanya selama Aldrin di Singapura.
Aldrin mengusap kepala Amaira. "Jangan sedih! Aku tidak lama."
Amaira mengangguk seraya tersenyum paksa.
"Jangan lupa doakan aku agar menang!" pinta Aldrin.
Amaira kembali mengangguk. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi seperti kehabisan kata-kata, dan akhirnya hanya dapat menggenggam tangan Aldrin. Pesawat akan segera berangkat, Aldrin dan Naufal bersiap masuk ke dalam pesawat.
Sesaat, Aldrin memeluk Amaira dan mendaratkan kecupannya di kening perempuan itu.
"Aku pergi dulu, ya?"
"Jangan lupa hubungi aku kalau kalian telah sampai," pesan Amaira dengan masih menggenggam tangan milik Aldrin seolah tak mau melepasnya.
Aldrin menatap ke arah Jefri, ia lalu berpamitan. "Ayah, aku pergi."
"Semangat! Jangan lupa ingat pesanku," ujar Jefri sambil menepuk punggung anaknya.
"Paman, aku berangkat dulu." Naufal mengambil tangan Jefri untuk disalim.
"Semoga kuliahmu lancar dan cita-citamu segera terwujud, ya?"
"Makasih Paman atas doanya."
Aldrin melepas genggaman tangan Amaira di tangannya. Saat tangan Aldrin hanya tinggal di ujung jari Amaira, perempuan bermata bulat itu berusaha menahannya kembali. Aldrin menatap tangan Amaira yang seolah tak mau melepasnya. Pandanganya beralih pada wajah perempuan yang dicintainya itu, ada sedikit genangan air mata di matanya.
"Hanya tiga hari."
Aldrin kembali memberi pengertian pada perempuan yang telah menjadi istrinya tersebut. Bukankah Amaira terlalu berlebihan jika harus menangis? Tetapi itu yang ia lakukan saat ini. Perempuan itu menitikkan air mata. Aldrin bisa memaklumi apa yang dirasakan Amaira saat ini. Wajar, mereka baru saja menikah.
Aldrin menarik kembali Amaira dalam pelukannya. Mengusap air mata yang telah mengalir di pipi wanitanya.
"Jika kau seperti ini, aku bisa membatalkan semuanya," ucap Aldrin dengan mata tak berdaya.
Amaira buru-buru mengusap air matanya. Dia berusaha keras untuk menghentikan air matanya dan tersenyum. Ia baru menyadari bahwa sikapnya saat ini membuat Aldrin menjadi lemah.
"Amaira, jangan khawatir. Aku bakal jaga suamimu dengan baik." Naufal berusaha menenangkan Amaira.
Perempuan itu mengangguk. Akhirnya, Aldrin dan Naufal meninggalkan Amaira dan juga Jefri. Aldrin kembali membalikkan badannya seraya melambaikan tangan ke arah ayah dan istrinya.
"Aku akan menang. Aku pasti menang!" teriak Aldrin penuh semangat.
Jefri menunjukkan sebuah kepalan tangan untuk menyemangatinya dari jauh. Sementara Amaira hanya dapat tersenyum. Dipandanginya punggung Aldrin hingga benar-benar menghilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam pesawat, Aldrin dan Naufal duduk bersebelahan. Mereka memosisikan duduk senyaman mungkin.
"Kenapa sih kamu enggak bawa Amaira? Bukannya tersedia satu tiket nonton VIP buat keluarga?" tanya Naufal sesaat.
"Tiket itu aku berikan sama ibu," jawab Aldrin sambil mulai memasang earphone di telinganya.
Aldrin menyunggingkan sudut bibirnya, "Mungkin akan. Tapi ... kalau dia menghadiri undangan itu. Lagi pula, aku bakal jadi orangtua suatu saat nanti, dan aku enggak mau anakku juga benci aku seperti aku membenci orangtuaku."
Naufal terenyuh. Ia salut dengan sifat dan cara berpikir Aldrin yang mulai dewasa. Ia benar-benar tidak menyangka sahabatnya itu bisa berubah sebanyak ini. Keduanya pun saling berbincang-bincang selama perjalanan yang memakan waktu satu jam 45 menit itu.
Sementara itu, Zaki telah sampai duluan di Singapura. Ia kembali mengadakan pertemuan dengan manajer yang mengurus segala hal selama ia menjadi sebagai pianis.
"Aku dengar Aldrin itu anak haram dan ayahnya tidak jelas. Kita bisa gunakan isu itu untuk membuat juri memihak kita," saran manajer pada Zaki.
Zaki menajamkan arah pandangannya ke sang manajer. "Kuperingatkan ma kamu, jangan gunakan cara-cara kotor untuk membuatku menang. Aku akan menang dengan usaha dan kemampuanku sendiri. Jika sampai isu itu menguak, aku tidak akan membiarkannya!"
Zaki langsung meninggalkan ruangan itu. Memutuskan pergi dengan masih membawa hawa amarahnya. Sebenarnya ia juga tidak terlalu mementingkan kemenangannya di kompetisi ini. Hanya saja manajernya terus memompanya agar bisa memenangkan penghargaan bergengsi. Semangatnya berkobar saat mengetahui lawan yang ia hadapi adalah Aldrin. Namun, ia tak ingin memakai cara-cara kotor untuk memenangkan dirinya.
Ia telah mendapat pengakuan sebagai pianis terbaik di Asia Tenggara dari para musisi dan tidak perlu khawatir jika ia akan kalah dalam kompetisi ini. Karena sebenarnya menjadi Pianis bukan prioritas utamanya. Dia lebih memprioritaskan karirnya sebagai calon presiden direktur perusahaan ayahnya.
Sayangnya, manajernya tidak berpikir seperti itu. Manajernya ingin ia memenangkan penghargaan ini. Tentunya kemenangan Zaki akan mengangkat namanya juga dan membawa keuntungan bagi dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aldrin dan Naufal sampai di Singapura. Mereka langsung menuju ke rumah Naufal yang telah disediakan Tuan Adam selama anaknya menempuh pendidikan di sana. Aldrin memasuki kamarnya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Amaira memberi tahu jika ia telah sampai di negara yang mendapat julukan sebagai kota Singa.
Waktu berputar begitu cepat, mengantarkan mereka pada keesokan harinya. Ya, hari ini adalah hari diselenggarakan kompetisi tersebut. Aldrin telah memakai tuxedo hitam rapi lengkap dengan dasi kupu-kupu. Ia terlihat begitu tampan dan bercahaya. Ia keluar dari kamarnya dan langsung menemui Naufal yang juga telah bersiap untuk menemaninya ke acara tersebut. Mereka berdua masuk ke mobil menuju ke tempat acara bergengsi itu berlangsung.
"Kamu dan kak Zaki akan saling beradu di atas panggung. Jadi, aku cuma bisa mendoakan kesuksesan kalian berdua. Apa pun yang terjadi, entah kalah atau menang, kalian sudah masuk kategori di ajang ini, dan kalian adalah yang terbaik di antara semua yang ada."
Naufal mengucapkan kalimat itu karena ia tak mungkin mendukung salah satu di antara mereka. Zaki adalah kakaknya dan Aldrin adalah sahabat terbaiknya. Ia hanya dapat mendoakan kesuksesan mereka.
Mereka telah sampai di depan gedung teater tempat di selenggarakan acara. Aldrin dan Naufal turun dari mobil. Tidak jauh dari tempat mereka, tampak terlihat kerumunan orang banyak.
"Ada apa itu?" tanya Aldrin sambil memicingkan mata.
Naufal menoleh ke arah yang Aldrin maksud. Tiba-tiba terdengar suara panik seorang ibu dari dalam kerumunan.
"Tolong anakku, tolong!" Suara jeritan tangis ibu itu sampai ke telinga Aldrin dan Naufal.
Naufal dan Aldrin masuk di antara kerumunan. Mereka melihat seorang gadis tak sadarkan diri di pangkuan ibunya yang menangis.
"Kenapa dia?" tanya Naufal sambil duduk berjongkok. Sepertinya ibu itu berasal dari Indonesia.
"Anakku pingsan, dan dia seperti tidak bernapas. Tolong dia, mereka telah memanggil ambulans tapi belum juga datang," ucap ibu itu dengan panik.
Naufal langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan leher gadis itu. "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, kayaknya dia mengalami serangan jantung!"
"Kamu bawa saja dia ke rumah sakit. Aku akan segera masuk ke dalam gedung. Acaranya tinggal satu jam," tutur Aldrin sambil menatap jam di tangannya.
Naufal langsung menggendong gadis itu masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh ibu sang gadis. Orang-orang yang tadinya berkumpul mulai bubar. Keadaan jalan menjadi sunyi seketika. Aldrin menatap kepergian mobil Naufal yang melaju. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju gedung acara sambil menenteng tas yang berisi sebuah biola.
Baru dua langkah, tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya. Dua orang pria berbadan besar dengan wajah sangar memaksanya masuk ke mobil. Aldrin tak sempat melakukan perlawanan. Dengan gerakan yang begitu cepat, Mobil itu langsung melaju kencang membawa pergi Aldrin entah ke mana.
.
.
.
.
.