
Bryan memandang Aldrin yang tengah menonton rekam jejak sutradara Steve Arnold. Entah kenapa, mata Aldrin menjadi sendu.
"Lo rindu sama ayah lo, ya?" tanya Bryan yang memerhatikan mimik Aldrin.
"Iya. Kamu tahu sendiri, kan, walaupun aku tinggal di keluarga Tuan Adam, tapi aku bukan anaknya," jawab Aldrin dengan pandangan lurus ke depan.
"Ke mana Ayah lo?"
"Aku tidak tahu, dia tinggalkan aku saat usiaku tujuh tahun."
"Lo masih beruntung, Bray. Setidaknya lo pernah rasakan kasih sayang ayah. Beda sama gue, bokap meninggal saat usia gue satu tahunan dan gue cuma bisaa bisa dengar sosok dia dari nyokap gue," erang Bryan dengan wajah yang berubah menjadi sendu.
Mungkin benar yang dikatakan Bryan, Aldrin lebih beruntung darinya. Sayangnya, yang diceritakan Aldrin adalah ayah angkatnya bukan ayah kandungnya. Kenyataan sebenarnya ialah ayah kandungnya meninggal tepat saat ia dilahirkan. Apakah itu tidak lebih menyedihkan? Bukankah Bryan masih lebih beruntung darinya, sempat merasakan kehadiran ayahnya selama setahun lebih serta diakui sebagai anak tunggal keluarga Arnold. Sementara Aldrin lahir dari hubungan yang salah, serta kehadirannya saat itu merupakan ancaman bagi kedua orangtuanya.
Tak jauh dari meja mereka, Ardhilla terus menatap Aldrin yang terlihat antusias menonton. Saking serius menonton ditambah suara dari audio yang begitu kuat, membuat Aldrin tak menyadari ponselnya berdering sedari tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah sejam Amaira berdiri di lobby hotel menunggu Aldrin. Kadang-kadang matanya menengok ke dalam hotel, berharap Aldrin akan segera menuju padanya. Perasaan yang ia rasakan saat ini tidak menentu. Ini adalah kencan pertamanya dengan Aldrin. Tadinya ia tidak tahu Aldrin akan membawanya ke tempat ini. Ia hanya menggunakan setelan sederhana khas remaja masa kini karena berpikir kekasihnya hanya membawanya jalan-jalan.
Udara dingin malam mulai menyelimuti tubuhnya. Dengan perlahan, Amaira berjalan meninggalkan hotel menuju gerbang. Saat telah di depan gerbang hotel, ia tampak bingung apakah harus pergi atau tetap menunggu. Ia mengecek kembali ponselnya, seolah berharap ada panggilan masuk atau sebuah pesan dari Aldrin.
Tak lama kemudian, sebuah mobil ferrari berwarna merah maroon meluncur ke arahnya. Amaira mundur beberapa langkah ketika mobil itu menghampirinya. Kaca mobil terbuka, tanpa sadar Amaira menyaksikan sosok yang keluar dari mobil mewah itu.
"Naufal!"
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku ... aku hanya ...." Amaira tampak berpikir untuk memberi alasan.
"Ah ... kamu senang menjadi paparazi, ya? Setahuku di hotel ini ada acara yang mengundang banyak artis," tebak Naufal sambil tertawa kecil.
Amaira terdiam sesaat sambil menengok sekali lagi ke arah hotel. Lalu ia berkata dengan pelan, "Apa aku boleh minta tolong padamu?"
"Ya, katakan saja!"
"Aku mau pulang. Kalau tidak keberatan, apa kamu bisa antar aku pulang?"
Naufal tersenyum lebar. "Tentu saja bisa. Ayo, naiklah!"
Naufal membuka pintu mobil, mempersilahkan pujaan hatinya menaiki mobil itu. Amaira duduk di bangku depan mobil lalu memasang sabuk pengamannya. Wajah Naufal tampak sumringah.
"Bintang tamu kita selanjutnya adalah Zaki Ardhani, seorang pianis berbakat dan juga pengusaha muda," seru MC dengan semangat.
Suara tepukan tangan terdengar setelah MC memanggil nama Zaki. Pria itu naik ke atas panggung dengan percaya diri, tapi sesaat kemudian MC berkata kembali, "Ada seseorang memberitahukan padaku, jika Adikmu adalah seorang violinis. Dan dia juga datang malam ini. Bagaimana kalau kita mengundang dia untuk berkolaborasi bersamamu di atas panggung?"
Zaki terkejut mendengar ucapan MC. Entah siapa yang memiliki keinginan tersebut, tapi ini adalah hal paling konyol yang harus ia hadapi. Berada sepanggung bersama adik tirinya yang ia benci dan akan melakukan kolaborasi bersama? Sangat tidak masuk akal!
Di tengah kekesalan dan rasa penasaran Zaki tentang siapa yang mengatakan jika Aldrin adalah Violinis, MC malah kembali bersuara, "Kita panggilkan Aldrin Ardhani!"
Bahkan bukan hanya Zaki yang terkejut, Ardhilla yang berada di dalam acara tersebut juga ikut terlonjak. Ia memang bangga pada kemampuan Aldrin memainkan biola, tetapi ia sangat tidak setuju jika harus menunjukkan bakat anaknya di acara ini.
Dari tempat duduknya, Aldrin tampak tenang dan tak bergerak sedikit pun.
"Hei, mereka panggil nama lo. Tapi, apa benar lo bisa main biola?"
"Namaku bukan Aldrin Ardhani. Iya, dari kecil aku sudah bisa memainkan biola," ucap Aldrin seolah tak mempedulikan teriakan MC.
"Wuih, keren dong! Kalau lo benar-benar punya bakat, ayo tunjukkan sekarang! Di acara ini ada Addie MS dan juga Erwin gutawa. Mereka punya orkresta simfoni. Kalau mereka tertarik sama lo, lo bisa diajak gabung bersama mereka!" seru Bryan menepuk pundak Aldrin.
Aldrin tertegun mendengar saran Bryan. Ya, sampai sekarang ia belum tahu arah tujuan hidupnya. Ia tak pernah punya cita-cita seperti kebanyakan orang. Namun, bermusik adalah hobinya dan telah menyatu dalam kehidupannya.
Saat ini ia mulai berpikir, mungkin jika ia benar-benar serius menekuni bakatnya dan bisa bergabung dalam kelompok musik ternama Indonesia, suatu saat ayahnya akan datang melihatnya karena bangga.
MC memanggil namanya sekali lagi, akan tetapi nama yang disebutkan tak kunjung datang ke atas panggung. Hal itu membuat Zaki tersenyum. Ia mendekati MC lalu berbisik, "Sepertinya tidak perlu adakan kolaborasi, selain kami tidak punya persiapan, adikku itu juga orang yang demam panggung. Dia belum terbiasa tampil di depan khalayak, menunggunya cuma bisa menghabiskan waktu! "
Sepertinya MC setuju dengan ucapan Zaki, saat hendak kembali bersuara, secara tiba-tiba Aldrin berdiri dari kursinya menuju ke atas panggung.
.
.
.
.
jejak kaki :
Orkestra adalah kelompok musisi yang memainkan alat musik bersama. Mereka biasanya memainkan musik klasik. Orkestra yang besar kadang-kadang disebut sebagai "orkestra simfoni". Orkestra simfoni memiliki sekitar 100 pemain, sementara orkestra yang kecil hanya memiliki 30 atau 40 pemain. (Wikipedia)