
Naufal mengernyitkan mata, gadis yang berada di hadapannya seperti tak asing baginya. Ia tampak mencoba memperjelas penglihatan.
"Bukannya cewek itu ...."
Tak lama kemudian terdengar bunyi sirene polisi. Beberapa dari mereka langsung kabur berhamburan. Gadis itu berlari sekuat tenaga. Naufal mengemudikan mobilnya menuju ke arah gadis yang mencuri perhatiannya. Gadis itu menghentikan larinya ketika sebuah mobil ferrari menghampirinya.
"Ayo masuk!" ajak Naufal sambil membuka kaca mobil.
Gadis itu tampak tersentak, tetapi tanpa berpikir panjang ia bergegas masuk ke mobil Naufal.
"Elo .... " gadis itu terkejut sambil menunjuk ke arah Naufal. "Lo bukannya orang yang waktu itu, 'kan? Kenapa lo ngikut gue? Dari mana lo tahu gue ada di sini? Apa lo mulai penasaran sama gue?" Gadis itu menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan.
"Aku hanya kebetulan lewat," jawab Naufal singkat.
"Masa? Sudah kayak di film-film saja. Haha-haha." Tawa gadis itu pecah hingga menusuk gendang telinga siapapun yang mendengar.
Namun, Naufal tak menggubris leluconnya, cowok itu malah balik bertanya, "Kenapa kamu tawuran?"
Gadis tomboi itu mulai menjelaskan pokok permasalahan yang terjadi antara dua kelompok pelajar sekolah. Dia bercerita dengan nada yang penuh semangat dan terus berbicara tanpa jeda hingga Naufal merasa bosan dan mengantuk. Ia tidak pernah menemui gadis dengan cara berbicara seperti ini sebelumnya.
"Penjelasanmu mengingatkan aku sama rumus persegi panjang!" ucap Naufal yang telah bosan mendengar celotehannya.
"Maksud lo?" tanya cewek yang belum diketahui namanya itu sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya ke arah Naufal.
"P x L, alias panjang kali lebar!" jawab Naufal tegas.
"Haha-haha .... "
Gadis itu malah makin tertawa terbahak-bahak. Tingkahnya yang aneh membuat Naufal mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepala. Sama sekali tidak ada sisi feminim dari gadis itu.
"Sudah boleh turun!" pinta Naufal disela-sela tawa gadis itu.
Gadis itu menghentikan tawanya seketika lalu mengalihkan pandangannya ke arah Naufal. "Kenapa lo suruh gue turun?"
"Karena polisi dah pergi, jdi kamu boleh keluar."
"Bukannya lo mau antar gue pulang kayak waktu itu?"
Naufal menggelengkan kepalanya. "Jarak rumahmu dari sini sangat jauh. Hari ini aku sangat lelah dan mau pulang ke rumahku."
"Kalau begitu, kenapa lo malah suruh masuk pas gue dikejar polisi? Seharusnya lo enggak usah peduli sama gue!" ketus gadis itu sambil bersedekap dan menunjukkan wajah cemberut.
"Kamu salah paham. Aku tidak peduli meskipun kamu ditangkap polisi. Aku membantumu, karena aku mengasihani orangtuamu. Mereka capek-capek bekerja untuk menyekolahkanmu, tapi kamu malah tawuran," jawab Naufal menyela ucapan gadis tomboi itu.
"Hmmm ... kelihatannya lo siswa yang sangat patuh dan taat aturan. Baiklah, gue akan keluar. Omong-omong, kita belum kenalan. Nama gue Erlin, panggil gue, Er!"
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Naufal sambil tersenyum lebar. Meskipun penampilan dan tingkahnya mirip laki-laki, tapi tidak bisa menyembunyikan kecantikan alami di wajahnya.
"Naufal," ucap Naufal sambil menyambut uluran tangannya.
Setelah perkenalan singkat antara keduanya, Er membuka pintu mobil untuk keluar dan bergegas pergi. Naufal pun langsung mengemudikan kendaraannya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, ia bergegas masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Hari ini melelahkan baginya. Bukan hanya fisiknya yang lelah, melainkan pikiran dan juga hatinya. Ia memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan diri, tetapi sebuah alunan biola membangunkannya. Suara biola itu begitu menggoda sehingga membuatnya bangun dan melangkahkan kaki menuju balkon kamarnya.
Suara lembut nan indah itu semakin mendekati gendang telinganya. Ia menengok ke samping balkon dan melihat Aldrin sedang memainkan biolanya dengan piawai di balkon kamarnya.
Aldrin menghentikan permainannya, menoleh Naufal yang berdiri di balkon kamarnya sambil tersenyum. Senyum cowok cerdas itu masih seperti dulu, tak berubah sama sekali. Benar-benar senyum tulus yang terlahir dari hati.
Aldrin mengangkat sudut bibirnya ke atas, "Dan aku tidak pernah bosan memainkan lagu ini untukmu."
"Bisa memainkan biola sudah pasti menjadi poin plus-mu merebut hati Amaira, karena cewek akan tergila-gila dengan cowok yang jago main alat musik," tebak Naufal sambil menengadahkan kepalanya ke atas menatap senja di sore hari.
"Kamu salah. Aku belum pernah memainkan biolaku di depannya," sanggah Aldrin.
Naufal memicingkan mata seolah tak percaya dengan ucapan Aldrin.
"Begitukah?"
"Iya."
Ucapan Aldrin yang singkat dengan raut wajah penuh keyakinan membuat Naufal yakin jika cowok berambut emas itu benar-benar berkata jujur. Namun, wajah Naufal tiba-tiba menjadi serius, ia menatap tajam ke arah Aldrin sambil berkata, "Aku tidak benar-benar melepasnya untukmu. Jika kamu menyakitinya atau membuatnya sedih, aku akan siap merebutnya darimu!"
Kalimat yang baru saja Naufal ucapkan bukan hanya sekedar ancaman belaka. Ia sedang ingin menunjukkan sisi kejantanannya dan berharap Aldrin tidak akan mencampakkan Amaira begitu saja seperti gadis-gadis yang ia pacari sebelumnya. Juga, menekankan bahwa Amaira bisa saja menjadi miliknya jika Aldrin menyia-nyiakan cinta tulus gadis itu.
Aldrin tertawa remeh ke arahnya, tetapi detik selanjutnya, tatapannya berubah menjadi lebih serius. "Sayangnya, aku tidak akan memberimu celah untuk merebutnya dariku!"
Keduanya saling melempar tatapan tajam selama beberapa detik. Namun, sepertinya kedua cowok itu tidak bisa menahan tawa dari bibir mereka hingga suara tawa itu pecah dan mengaung di kamar mereka masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari telah terbit, dan hari baru telah terbuka lagi. Amaira sedang menyisir rambut panjangnya yang lurus dengan sedikit bergelombang di depan cermin, bersiap untuk ke sekolah dengan seragam yang telah melekat di tubuhnya. Tiba-tiba terdengar suara nada dering dari ponselnya. Ia mengambil ponsel yang terletak di meja belajarnya lalu dengan segera menerima panggilan telepon.
"Buka jendelamu!" Terdengar suara lelaki dari balik saluran telepon.
Amaira segera membuka jendelanya dan melihat Aldrin berdiri di pintu pagar rumahnya sambil melambaikan tangan ke arahnya. Sontak, senyum gadis itu langsung mengembang dari bibirnya yang ranum.
"Kamu ke sekolah sepagi ini?" tanya Amaira dari balik telepon sambil menatap Aldrin dari lantai dua kamarnya.
"Ayo cepat ke sini! Kita akan ke sekolah bersama," pinta Aldrin padanya.
Amaira mengangguk tipis. Ia menutup panggilan telepon lalu mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar menuruni anak tangga ke lantai bawah.
"Ibu, Ayah, aku pergi duluan. Ada temanku yang menjemput di depan," ucap Amaira terburu-buru sambil menyalimi tangan kedua orangtuanya.
"Kamu tidak sarapan dulu, Sayang?" tanya ibu Amaira.
"Tidak!" teriak Amaira sambil berlari keluar rumah.
Aldrin tersenyum menyambut kehadiran gadis pujaannya. Ia turun dari motornya, lalu berhadapan dengan Amaira untuk memasangkan helm di kepala gadis itu dengan hati-hati.
Setelah memasangkan helm, Aldrin naik ke motor diikuti Amaira yang duduk di boncengan belakang. Mereka bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Apa kamu tahu syarat untuk naik motor ini?"
"Apa itu?"
"Kamu harus memeluk tuannya, karena tuannya mengendarai motor ini lebih laju dari Valentino Rosii!"
Amaira menahan senyum, tangannya melingkar ke pinggang Aldrin dengan malu-malu. Wajahnya yang tersipu tampak memerah bak kepiting rebus.