Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 144 : Bertahanlah, Aldrin!



Suara pekikan orang-orang terdengar sayup-sayup di telinganya. Di sisa kesadarannya, Aldrin masih mampu mendengar suara langkah kaki orang-orang yang mengerumuninya.


***


Tuhan ...


Skenario seperti apa lagi yang harus kumainkan?


Kenapa di setiap adegan sayat sembilu harus aku yang perankan?


Kumohon Tuhan ...


Aku belum mau meninggalkan dunia ini.


Aku belum sanggup meninggalkan orang-orang yang kucintai.


***


Aldrin menatap gamang ke arah ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya. Ia masih mengingat jelas, ibunya sedang meneleponnya sesaat sebelum sebuah mobil menabrak tubuhnya. Tangannya berusaha meraih ponsel tersebut. Namun enggan tergapai karena kesadarannya mulai menipis. Dan kegelapan merenggut semuanya.


Zaki dan Naufal berlari cepat menghampiri Aldrin yang bersimbah darah. Dengan air mata yang mengembang di pelupuknya, Naufal meletakkan Aldrin di pangkuannya.


"Aldrin ... Aldrin. "


Naufal masih berusaha menyadarkannya di tengah isakan tangisnya yang pecah. Kedua tangannya sudah berlumuran darah lantaran memegang kepala Aldrin yang penuh darah. Dilihatnya beberapa bagian tubuh Aldrin yang terluka parah dan mengeluarkan darah merah kental.


"Aldrin, sadarlah! Kau harus bertahan hidup, Amaira menunggumu!" Ucap Naufal sambil menepuk-nepuk pipi Aldrin yang penuh darah.


Suara sirine ambulans mulai terdengar semakin mendekat. Mereka langsung membawa Aldrin ke rumah sakit. Naufal ikut masuk ke dalam mobil ambulans sementara Zaki menyusulnya dengan menaiki mobil pribadinya. Ia melajukan mobilnya dan menyalip sana sini mengikuti arah ambulans.


**


Ardhilla yang tadinya sedang melakukan panggilan telepon dengan Aldrin, mendengar suara benturan keras dan pekikan dari orang-orang sekitar. Telepon itu terputus otomatis dan ia tak dapat menghubungi anaknya meskipun telah mencoba melakukan panggilan berkali-kali. Entah mengapa firasatnya mengatakan sesuatu buruk telah terjadi. Kepanikan melandanya. Ia masih berusaha untuk menyambungkan telepon ke Aldrin.


Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Para perawat bergerak cepat menghampiri ambulans dan mengangkat Aldrin ke atas ranjang emergensi.


Langkah Zaki dan Naufal tertahan di depan IGD. Dari kaca kecil pintu IGD mereka dapat menyaksikan dokter dan para perawat sedang menangani Aldrin yang kritis. Baju Zaki dan Naufal penuh dengan darah Aldrin. Mereka saling menatap tanpa ada yang bersuara. Beberapa perawat lalu lalang di sekitar mereka.


Tak lama kemudian, terdengar suara dering ponsel dari ponsel Zaki maupun ponsel Naufal. Keduanya sama-sama mengambil ponsel masing-masing, kemudian sama-sama saling menatap.


"Ibu meneleponku," ujar Zaki dengan raut wajah bingung.


"Paman Jefri ... juga meneleponku," ucap Naufal tak berdaya.


Suara dering telepon dari ponsel keduanya saling bersahut-sahutan tapi mereka masih saling menatap. Bukan karena tak ingin mengatakan kabar ini, tapi tak tahu harus bagaimana mengucapkannya. Setelah keduanya terdiam beberapa detik, akhirnya mereka memutuskan untuk menerima panggilan itu.


Zaki mengambil napas panjang sebelum menerima telepon mantan ibu tirinya.


"Halo ibu," ucapnya sambil menutup mata.


"Zaki, apa kau bersama Aldrin? Ibu tadi meneleponnya, ta-tapi tiba-tiba terdengar suara benturan keras dan jeritan orang-orang. Setelah itu teleponnya terputus," ucap Ardhilla dengan nada panik dan tegang.


Mendengar suara panik Ardhilla membuat Zaki makin menutup matanya dalam-dalam. Ia ingin bersuara tapi lidahnya seolah terjepit, lehernya terasa tercekik dan mulutnya seakan terkunci rapat.


"Halo, Zaki. Apa kau masih mendengar Ibu?"


Suara Ardhilla kembali terdengar. Wanita itu merasa ada yang janggal dan kemungkinan sesuatu telah terjadi pada Aldrin. Namun, ia berusaha untuk tak ingin menduga-duga. Dengan suara yang masih panik, ia masih terus memanggil Zaki.


Zaki masih termangu. Ia dapat mendengar suara cemas ibunya dari balik telepon. Ia lalu mengambil napas panjang sejenak, kemudian mulai membuka mulutnya, "Ibu ...."


Zaki akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam. Dengan suara pelan tak berdaya ia kembali berucap, "Aldrin ... Mengalami kecelakaan, Bu."


Mata Ardhilla membulat seketika. "Kecelakaan?"


Ardhilla mengulang ucapan Zaki seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Ta-tapi ... itu ti-tidak parah kan?" Sambung Ardhilla dengan suara terbata-bata.


"Aku kurang tahu, Bu. Dokter masih menanganinya. Tapi, sepertinya dia mengalami koma ...." jawab Zaki pelan.


Mata Ardhilla yang membulat, makin membulat saat mendengar jawaban Zaki. Tanpa terasa air mata mulai menetes di pelupuk matanya dan ia menjatuhkan ponselnya dari tangannya. Ardhilla berjalan terhuyung dengan tatapan kosong. Seakan mengalami guncangan hebat, ia terduduk lemas di lantai. Kemudian tangisnya pecah. Air matanya meluruh dan penyesalan membayangi pikirannya. Ia tak lagi mempedulikan banyak mata yang menatap ke arahnya.


"Halo, Naufal apa kau bersama Aldrin? Bagaimana acaranya? Aku tidak dapat menghubunginya dari tadi." Suara Jefri terdengar dari sambungan telepon.


"Paman, Aldrin ... Aldrin ...." Suara Naufal tampak gugup dan terbata-bata.


"Ada apa dengan Aldrin?" desak Jefri yang mulai curiga mendengar suara gugup Naufal.


"Aldrin ... kecelakaan. Kondisinya kritis. Sebaiknya Paman segera ke Singapura," ucap Naufal sambil menahan napas.


Mata Naufal tertuju pada dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Ia mematikan sambungan teleponnya dan langsung bergegas menuju ke arah dokter.


Sementara Jefri yang baru saja menerima kabar kecelakaan Aldrin, masih bergeming di tempat. Seolah masih belum percaya apa yang menimpa anaknya.


Suasana makin mencekam saat dokter menghampiri mereka. Dokter menghembuskan napas panjang, menunduk dalam seakan sulit untuk memberitahu kondisi pasien.


"Bagaimana keadaan saudara kami, Dok?" tanya Naufal penasaran.


"Maaf, dengan berat hati kami harus menyampaikan ini. Kondisi pasien sangat kritis. Pasien mengalami trauma otak parah sehingga ia mengalami brain haemorrhage yang menyebabkan dirinya koma. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang ICU untuk perawatan lanjutan." papar dokter.


"Apakah ia separah itu ... Maksudku, apakah masih ada harapan saudara kami untuk sembuh?" tanya Zaki dengan wajah khawatir.


Dokter terdiam sesaat, "Maaf, kami tidak bisa memastikan. Namun, beberapa pasien yang mengalami hal serupa jarang ada yang selamat."


Naufal dan Zaki membelalakkan mata mereka. Seolah masih tak puas dengan penjelasan dokter, Naufal kembali berkata setengah memohon , "Dok, tolong saudara kami. Aku mohon berikan dia ...."


Belum sempat Naufal melanjutkan ucapannya, seorang suster keluar dari ruangan tersebut sambil berkata, "Dokter, kami menemukan kartu donor organ milik pasien bernama Aldrin. Kartu ini keluar dari dompet pasien."


Suster itu menyerahkan sebuah kartu yang berlumuran darah. Dokter mengambil kartu tersebut sambil berkata, "Ini luar biasa, dia masih sangat muda tapi sudah memiliki hati yang luar biasa. Jarang ada pendonor organ secara sukarela dari kalangan anak muda."


Naufal dan Zaki kembali terperangah dari rasa keterkejutan mereka. Keduanya saling memandang. Namun, tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Perlahan, Naufal berjalan lunglai meninggalkan ruang IGD.


***


Kartu donor organ? Sejak kapan dia membuat kartu itu? Ini benar-benar di luar nalarku, Aldrin ....


***


Dengan mulut yang masih ternganga, Naufal duduk di kursi tunggu yang berada di halaman Rumah Sakit. Ia menatap sekeliling, terlihat beberapa pasien yang lalu lalang di hadapannya bersama para pendamping. Ada yang memakai kursi roda, ada yang berjalan memakai tongkat sambil meraba-raba.


Memiliki kartu donor organ, artinya calon pendonor secara sukarela mendonorkan seluruh organ tubuhnya ketika ia meninggal. Organ tubuh seperti jantung, ginjal, paru-paru, hati bahkan kornea mata, hingga kulit akan dimanfaatkan untuk menyelamatkan dan mengubah hidup manusia.


Saat ini, Naufal tak dapat berpikir jauh. Ia masih tak percaya Aldrin memutuskan hal yang bahkan ia sendiri tak pernah terpikir untuk melakukan itu. Aldrin yang selalu acuh pada orang sekitar dan tak punya rasa empati pada orang-orang, tapi di balik itu semua ia telah mempersiapkan seluruh aset tubuhnya untuk dimiliki orang yang membutuhkan.


Sudah hampir setengah jam, Naufal masih duduk mematung di tempat itu. Pandangannya kosong seolah tak mempedulikan orang-orang sekitar. Seketika ia tersadar dari lamunannya. Ia melupakan satu hal. Amaira!


Ya, wanita itu belum mengetahui apa yang menimpa Aldrin. Di tengah kekalutan yang kembali menerpa pria itu, selembar kertas terbang ke arahnya. Kertas itu jatuh tepat ke pangkuannya.


Naufal mengambil kertas HVS tersebut. Betapa terkejut ia melihat skesta wajah seseorang di kertas putih itu. Tampak wajahnya yang sedang duduk mematung di kursi yang ia duduki saat ini tergambar di kertas itu. Tak lama kemudian seorang gadis menghampirinya.


"Kakak, tolong kembalikan! Itu hasil lukisanku," ucap gadis itu dengan membentangkan telapak tangannya.


Naufal mendongakkan kepalanya lurus ke depan. Di hadapannya saat ini, tengah berdiri seorang gadis belia memakai pakaian seragam pasien Rumah Sakit tersebut. Gadis itu bermata cokelat. Rambutnya panjang, kulitnya putih bersih dan berwajah lembut seperti Amaira.


.


.


.


.


bersambung....


jejak kaki :


Pendarahan di otak, atau brain haemorrhage, merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan otak. Pendarahan ini bisa terjadi karena pecahnya pembuluh darah yang bisa terjadi karena berbagai penyebab, seperti misalnya cedera kepala, tekanan darah yang terlalu tinggi dan tidak terkontrol, aneurisma, kelainan bentuk pembuluh darah, tumor, kanker, dan kelainan darahnya itu sendiri seperti hemofilia dan anemia sel sabit. (sumber allodokter)


like, vote dan komeng