Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 118 : Anak Haram



Bryan tersadar dari lamunannya saat sebuah teguran dari pramugari cantik yang meminta agar segera mematikan ponselnya. Ia segera mengubah pengaturan ponselnya menjadi mode pesawat. Bryan menatap ke jendela kaca pesawat. Senyum tipis terukir indah di bibir laki-laki yang usianya setahun lebih tua dari Aldrin


Aldrin, aku senang akhirnya kita bukan hanya sekadar sahabat tapi juga saudara. Aku senang, akhirnya aku telah menjadi seorang kakak. Tapi, sebaiknya kita seperti ini saja. Pura-pura tidak saling mengetahui, tapi diam-diam saling menjaga. Aku rasa itu lebih baik.


'Darah lebih kental dari pada air'. Sebuah peribahasa yang mengandung makna bahwa hubungan keluarga jauh lebih erat di banding hubungan dengan orang lain. Aldrin dan Bryan telah saling mengetahui jika keduanya berasal dari satu ayah. Hanya saja ada hal yang membuat mereka tak mampu untuk saling mengungkapkan dan pada akhirnya memilih merahasiakan. Semua ini adalah bentuk nyata jika kedua saudara itu diam-diam saling melindungi, meskipun mereka terlahir dari rahim yang berbeda.


Aldrin memilih untuk tidak memberitahu Bryan tentang kenyataan mereka bersaudara, karena tak ingin menghancurkan kebahagiaan Bryan dan keluarganya. Begitu pula dengan Bryan, ia sama sekali tak membenci Aldrin saat mengetahui sahabatnya itu anak hasil perselingkuhan ayahnya. Di sisi lain, ia harus menjaga perasaan ibunya yang masih terluka jika mengingat perselingkuhan ayahnya di masa lalu.


... ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang yang terik itu, Aldrin mendatangi taman makam tempat peristirahatan terakhir ayah kandungnya. Ia berjalan sambil memegang buket bunga lalu berhenti tepat di depan sebuah pusara bertuliskan nama mendiang ayahnya. Lelaki tampan itu membaca tanggal dan tahun kematian ayahnya yang tertera di nisan, yang mana tanggal dan tahun kematian ayahnya sama dengan tanggal dan tahun kelahirannya. Artinya, saat ia dilahirkan, saat itu pula ayahnya meninggal.


Aldrin bertatapan langsung dengan pusara ayahnya untuk pertama kali. Ia menarik napas pelan, lalu membuka bibirnya yang sedari tadi terkatup rapat.


"Waktu kecil, aku sering mendengar sebutan anak haram. Aku tidak tahu apa maksud dari sebutan itu. Aku sering dipanggil ayah angkatku dengan sebutan anak manis, anak pintar, anak manja. Tapi ... aku tidak pernah mendengar ayahku memanggil dengan sebutan itu ...." ucapnya dengan intonasi suara yang rendah, "saat aku menginjak usia empat belas tahun, aku baru paham arti sebutan anak haram. Tapi, menurutku kenapa orang-orang menghujat anak yang tidak tahu apa-apa hanya karena kesalahan orangtuanya? Bukankah yang haram itu adalah kelakuan orangtuanya?" lanjutnya dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca. Entah apa yang ia rasakan saat itu, tiba-tiba bibirnya turut bergetar.


Aldrin masih menatap pusara ayahnya seolah sedang berbicara langsung. "Kau tahu ... jalan hidupku selalu diiringi nestapa karena telah terlahir dari hubungan yang salah. Aku lahir dari hubungan yang menghancurkan kebahagiaan orang lain. Karena ulah kau dan ibuku, aku yang harus menanggung derita! Kau sungguh pria tidak bertanggung jawab! Kau pria yang tidak cocok dipanggil ayah!"


Aldrin mulai meluapkan emosinya, ia mengumpat serta menumpahkan segala kekesalannya di depan makam ayahnya. Air matanya diam-diam menetes tanpa disadari.


"Apakah kau pantas kupanggil Ayah?" Aldrin menyunggingkan ujung bibirnya, tertawa kecil di depan makam Steve Arnold. Ia mengusap air matanya yang mulai terjun bebas ke pipinya.


Angin yang berhembus kencang tak dapat menerbangkan amarah yang bersarang di dadanya. Dedaunan gugur yang membelai wajahnya tak sanggup meredam kesedihannya. Emosi telah menguasai seluruh pikirannya. Air matanya kembali menetes begitu saja. Sesak. Sakit. Pilu. berkumpul menjadi satu.


Saat semuanya makin tak terbendung, ia memilih berbalik meninggalkan pusara itu sambil tetap membawa buket bunga yang dibelinya. Baginya, Steve Arnold tidak pantas menerima bunga darinya. Sangat tidak pantas!


Aldrin menyeret langkahnya secepat mungkin, agar segera bisa meninggalkan jasad ayahnya yang terkubur di tempat ini. Namun, tepat sepuluh langkah dari kuburan ayahnya, kakinya tiba-tiba terhenti. Ia mematung tepat di bawah pohon kamboja yang berbunga subur. Perlahan, ia membalikkan tubuh dan menapakkan kakinya kembali menuju pusara ayahnya.


Sepasang netra kecokelatan itu menatap kosong ke depan pusara Steve Arnold yang begitu bersih.


Aldrin melongos, menelan ludahnya berkali-kali sambil berkata, "Terkadang, aku iri melihat anak laki-laki yang digendong ayahnya. Aku iri mendengar teman-temanku yang menceritakan tentang kehangatan keluarganya. Bahkan aku iri pada saudara tiriku yang lebih dekat dengan ibuku. Aku tak bisa mengelak, ada rasa iri yang selalu mengikutiku. Aku selalu berpikir kenapa ibu memilih untuk melahirkanku, kenapa ia tidak lenyapkan saja aku ketika masih dalam bentuk gumpalan."


Mata Aldrin mulai berair kembali. Ia menghela napas, lalu membasahi bibirnya yang kering. "Tapi ... jika aku tak dilahirkan begini, mungkin ... aku tak akan mengenal Ayah angkatku. Aku tak akan bertemu Naufal, sahabat terbaikku. Aku tak akan pernah tahu jika ada ayah tiri yang baik seperti ayahku yang sekarang. Dan ... aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai seorang gadis yang bernama Amaira. Mereka semua adalah wujud nyata malaikat dalam hidupku."


Aldrin menarik napas dalam-dalam, menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat birunya langit dan putihnya awan. Ia melangkah lebih dekat ke makam ayahnya. Kemudian meletakkan sebuah buket bunga yang dibawanya di atas gundukan tanah kuburan.


"Darahmu boleh mengalir di tubuhku, genmu boleh memengaruhi genku. Tapi tidak dengan perilakumu! Aku tidak akan mengikuti jejakmu! Aku akan menjadi pria yang bertanggung jawab," ucapnya seolah sedang berikrar, "suatu saat nanti, aku akan menjadi suami yang setia pada istriku dan ... aku akan menjadi ayah yang baik untuk anakku. Aku akan memberimu contoh bagaimana menjadi pria sejati. Kau akan melihatnya nanti," lanjut Aldrin. Kali ini nada suaranya lebih tenang bak air danau. Tak ada lagi emosi yang terpancar di matanya.


Setelah puas menumpahkan seluruh isi hatinya, ia memutuskan pergi meninggalkan makam ayah kandungnya.


bersambung...