Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 26 : Kecurigaan Zaki



Sang Surya telah menampakkan diri di kaki langit. Dengan masih bermalas-malasan, Maria terbangun. Bola matanya langsung tertuju pada jam dinding yang sejajar dengan pandangannya.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia tersentak kaget dan merasakan sekujur tubuhnya pegal. Tangannya merambat mencari-cari ponsel. Mata Maria berkilat panik. Ada sebuah panggilan tak terjawab lebih dari sepuluh kali dari Zaki. Ia menahan napas serta gugup yang langsung menyerangnya seketika.


"Kenapa aku sampai tidak tahu kalau Zaki menelepon semalam?" gumam Maria sambil menyibakkan rambutnya ke belakang telinga.


Gadis itu mencoba mengingat kembali apa yang ia lakukan semalam. Sesaat ia tersadar, tadi malam ia menghabiskan waktu di diskotik dan meminum beberapa gelas alkohol. Namun, setelah itu ia tidak dapat mengingat apapun. Keadaan ini membuat kepalanya terasa pusing.


Maria memutar lehernya secara perlahan untuk merilekskan otot-otot yang kaku. Ia turun dari ranjang dengan masih berpakaian yang sama dipakainya ke diskotik semalam.


Bel apartemennya berbunyi. Maria berjalan gontai membuka pintu apartemen. Ia terhenyak melihat Zaki mendatangi apartemennya di pagi hari. Pria itu langsung menerobos masuk. Maria tampak malu karena penampilannya yang acak-acakan.


"Kenapa enggak angkat teleponku semalam?" tanya Zaki kesal.


"Maaf, hp-ku mode senyap," jawab Maria sambil menunduk.


"Aku sampai batalin janji makan malam sama klien aku, demi kamu. Tapi kamu malah enggak tahu di mana!" ketus Zaki.


"Maaf, semalam aku perg sama temanku," jawab Maria memberi alasan.


"Teman cowok, ya?" duga Zaki seraya memicingkan sebelah mata.


"Bukan! Aku ... aku pergi bareng manajerku," jawabnya cepat, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya manajerku," tegasnya lagi. Sebenarnya, semalam dia pergi sebdiri ke diskotik. Jujur, dia sedikit menyesal karena telah salah paham pada kekasihnya. Ia pikir, Zaki akan makan malam dengan seorang perempuan spesial. Ternyata hanya seorang klien. Padahal, alasannya bermabuk-mabukan karena cemburu yang menderanya.


"Oke, aku percaya sama kamu," ucap Zaki dengan tatapan yang mengandung sejumlah pertanyaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah, Aldrin memutuskan menghabiskan hari Minggu dengan berenang di kolam rumah mereka. Naufal tengah duduk sambil membaca sebuah artikel tentang cara mendekati cewek di kursi santai depan kolam renang. Dalam Artikel itu menyebutkan salah satu trik mendekati cewek ialah dengan memberikan hal-hal yang mereka sukai seperti, cokelat atau bunga.


Selesai berenang, Aldrin naik ke atas menghampiri Naufal. Ia duduk bersandar di kursi sambil mengelap tubuhnya yang basah.


"Menurutmu semua cewek itu suka cokelat, enggak?" tanya Naufal secara tiba-tiba.


"Iya kali, tapi menurutku ada sebagian cewek yang enggak suka cokelat karena takut gendut," jawab Aldrin sesaat sebelum meneguk air mineral. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang aneh dari pertanyaan Naufal. "Tunggu, tunggu! Kenapa kamu tiba-tiba tanya kayak gini?"


Naufal tersentak. Matanya membulat dan bibirnya mengecil seketika. Ia bergegas mengalihkan pandangan seraya menahan napas. Tiba-tiba menjadi kikuk.


Aldrin menunjuk ke arahnya sambil tersenyum menggoda, "Jangan-jangan ...."


Naufal menggeleng cepat. Namun, ia tampak bingung memberi penyangkalan. Untungnya, Zaki menghampiri mereka sehingga ia tertolong.


"Ke mana kamu semalam?" tanya Zaki ketus.


"Kakak, kamu tanya sama aku atau Aldrin?" Naufal balik bertanya karena posisi ia dan Aldrin sejajar di hadapan Zaki.


"Aku tanya sama kamu." Pandangan Zaki tertuju pada Aldrin.


"Aku mau ke mana saja bukan urusanmu!" ketus Aldrin melengos.


"Apa kamu semalam ...." Zaki tak melanjutkan ucapannya. Sebenarnya, ia ingin mengetahui apakah Aldrin bersama dengan Maria semalam. Sebab, ia mendengar suara Aldrin saat menelepon Maria. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Pikirnya, Aldrin tidak mungkin bersama Maria, dan pacarnya tidak pernah dekat dengan adik tirinya.


Aldrin tersenyum sinis memandangi punggung Zaki.


Nanti juga kamu bakal tahu kok dalam beberapa hari ke depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldrin kembali ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Saat mengambil ponsel, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Ya, dia telah berjanji untuk menghubungi gadis itu. Dengan segera, ia menekan tombol panggilan yang tersambung pada gadis misterius yang akhir-akhir ini menjadi teman mengobrolnyam


"Halo."


"Maaf baru hubungi kamu lagi." Aldrin mengawali pembicaraan sambil memosisikan duduk di jendela kamarnya.


"Enggak papa-papa," balas gadis itu.


"Apa kamu menunggu teleponku semalam?" tanya Aldrin.


Gadis misterius itu hanya terdiam.


"Sekali lagi, aku minta maaf." Aldrin masih merasa bersalah karena tidak menepati janjinya.


"Iya. Lupakan!"


Hari sudah semakin gelap, bulan telah menampakkan cahayanya. Di dua tempat yang berbeda, dua anak remaja itu masih saling mengobrol melalui telepon. Tidak terasa mereka telah menghabiskan delapan jam lamanya.


"Kamu suka cewek kayak gimana?" tanya gadis itu.


"Yang punya dada dan bokong besar," jawab Aldrin sambil tertawa besar.


"Dasar mesum!" ketus gadis itu disambut tawa geli dari keduanya.


"Kamu sendiri, gimana?"


"Aku suka cowok yang baik, pintar dan perhatian. Juga cowok yang bisa menyenangkan hati orang-orang sekitar. Cowok yang jika kita berada di dekatnya, membuat hati kita merasa tenang dan nyaman," terang gadis bersuara lembut itu.


Aldrin tersenyum tipis. Ia memandang langit malam yang pekat. "Menurutku kamu cocok deh sama adikku."


"Kamu punya adik?" tanya gadis itu terkejut.


"Iya. Sebenarnya sih seumuran, cuma aku tujuh bulan lebih tua dari dia," jawab Aldrin.


"Oh, ya?" Gadis itu tampak antusias.


"Aku dan dia punya sifat yang bertolak belakang. Aku adalah api dan dia adalah air. Dia baik banget sama aku. Kita enggak pernah punya hobi yang sama. Dia sangat suka belajar. Aku tidak. Aku suka makanan pedas. Dia tidak. Dia ceria dan supel. Aku tidak. Tapi kami telah berjanji untuk selalu bersama." Aldrin menceritakan tentang perbedaan antara dirinya dan Naufal sambil tersenyum simpul. Ia menatap fotonya bersama Naufal yang terpajang di atas meja belajarnya.



Di sisi lain, Naufal sedang memegang sebuah box yang berisi berbagai macam cokelat. Box itu ia masukkan ke dalam tasnya.


"Baiklah ... besok aku akan mencoba berikan ini. Semoga kamu suka," gumam Naufal sambil mengembuskan napas kasar.