
Aldrin terbangun, sepasang matanya langsung menangkap sosok Amaira yang berdiri di hadapannya.
"Aku ketiduran," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala.
"Tugasmu sudah sangat bagus. Kamu tinggal menyalinnya dengan tulisan yang lebih rapi." Mata Amaira tertuju pada kertas yang saja ia baca.
Aldrin melirik kertas kusut itu. "Kamu baca, ya?"
"Hum." Amaira mengangguk.
"Itu hanya cerita fiktif hasil karanganku," ucap Aldrin malu-malu.
Amaira mengangkat tangannya. Ia menggenggam tangan Aldrin. "Al, jangan menyimpan masalah seorang diri. Aku selalu ada untuk kamu."
Aldrin terpaku menatap tangan lembut yang menggenggam tangannya. Entah mengapa genggaman hangat itu begitu nyaman hingga menjalar ke hatinya.
Aldrin berdiri melangkah, menarik Amaira sambil terus menggenggam tangannya. Amaira mengikuti langkah kaki Aldrin, seolah pasrah akan dibawa ke manapun oleh laki-laki berwajah tampan yang saat ini menggenggam jari-jemarinya. Keduanya sama berjalan sambil terus berpegangan tangan.
Aldrin dan Amaira menemui Naufal yang sedang duduk di taman memegang buku.
"Naufal, ayo kita ke atap gedung," ajak Aldrin riang. Sepertinya suasana hatinya telah membaik.
"Eh?"
Naufal masih bingung dengan ajakan Aldrin yang mendadak, tetapi ia langsung mengambil ranselnya, lalu mengikuti Aldrin dan juga Amaira yang lebih dulu beranjak.
Ketiganya telah sampai ke puncak tertinggi gedung sekolah mereka. Mereka berdiri menatap hamparan pemandangan sekolah. Angin bertiup kencang menggoyangkan rambut mereka.
"Enggak lama lagi kita akan naik kelas. Kita buat kertas harapan, yuk! Kita tulis apa saja yang kita mau," ajak Aldrin.
"Ide yang bagus," ucap Naufal.
Naufal lalu mengambil buku dan pena dari ranselnya. Ia merobek bagian tengah buku dan membagi kertas kosong itu pada Amaira, Aldrin dan juga dirinya.
Mereka mulai menulis harapan-harapan yang mereka inginkan. Perlahan, kertas putih itu mulai terisi dengan tulisan-tulisan tangan dari mereka.
"Apa yang kamu tulis?" tanya Naufal pada Aldrin.
"Rahasia!" Aldrin menutup kertas yang berisi tulisannya sambil melototkan matanya pada Naufal.
"Kamu enggak nulis, di kelas 3 nanti kamu masih bisa tertidur dan bermalas-malasan, 'kan?" ejek Naufal sambil cekikikan.
Aldrin mengerucutkan bibirnya. Namun, pandangannya beralih pada Amaira yang sibuk menulis. Naufal turut memandang Amaira yang tengah merangkai kata membuat suatu harapan di atas kertas.
Mungkin kita sering mendengar istilah membuka lembaran baru. Ya, selembar kertas kosong sering dikaitkan dengan masa depan. Yang mana, pada masa itu kita akan siap menghadapi apa pun persoalan dan masalah. Pada saat itu juga, kertas putih kosong akan terisi dengan perjalanan hidup kita. Namun, sebelum menulis sebuah harapan, kita harus terlebih dahulu menerima dan melupakan lembaran-lembaran kertas sebelumnya atau masa lalu kita.
"Aku senang berhadapan dengan kertas kosong, karena dia selalu menerima apa pun yang kuceritakan padanya," ucap Amaira seketika sambil terus menulis.
Aldrin dan Naufal memandang gadis itu secara bersamaan. Kedua pria tampan itu selalu terpesona dengan kelembutan yang terpancar dari gadis pecinta sejarah itu.
Amaira kembali menatap keduanya. "Saat kita menulis tanda titik hitam di kertas putih, orang-orang akan lebih dulu melihat titik hitam di kertas itu, tanpa peduli masih banyak bagian putih dari kertas itu."
"Ya, Benar. Istilahnya, satu titik kesalahan dapat melupakan sejuta kebaikan. Terkadang manusia hanya fokus pada satu kesalahan yang dibuat oleh seseorang, tapi mereka melupakan banyak kebaikan yang telah dilakukan orang itu," sambung Naufal.
Mereka telah selesai menulis harapan di atas kertas. Kemudian bersama-sama melipat kertas itu membentuk sebuah pesawat kertas. Ketiganya berdiri berjajar, siap untuk menerbangkan harapan mereka.
Satu
Dua
Tiga
Aldrin memberi aba-aba untuk menerbangkan kertas putih secara bersamaan. Kertas harapan itu pun terbang dibawa angin disaksikan oleh mereka yang tersenyum lebar.
'Aku mencintaimu, Aldrin. Aku berharap kamu selalu menjaga kepercayaan dariku, ibarat selembar kertas. Jangan sampai ia kusut karena tak akan pernah kembali sedia kala,'
Amaira memandang hamparan langit yang berwarna biru cerah.
'Amaira, kamu adalah kertas undian yang tidak pernah kumenangkan. Kertas kosong ini mengingatkan aku bahwa berpindah hati tak semudah melipat kertas. Karena di kertas kosong itu, pernah tertulis namamu. Hanya namamu.'
Naufal menatap lurus pemandangan yang tertangkap matanya sambil tersenyum.
'Aku berharap aku bisa terus menjaga kalian berdua. Aku ingin kalian terus di sisiku selamanya untuk menjadi tempatku berbagi luka dan kebahagiaan. Hanya itu harapan yang kutuangkan ke dalam kertas.'
Aldrin menatap langit, menipiskan bibirnya dan bernapas lega. Ia merangkul Naufal dan Amaira secara bersamaan.
Malam hari telah menyambut dengan kegelapan yang berhias bintang. Adhilla melangkah masuk ke sebuah restaurant mewah. Restaurant itu didekor dengan sangat romantis, tapi sangat sepi dari pengunjung karena telah di-booking spesial malam ini.
Ardhilla terperangah melihat dekorasi yang begitu mewah. Seorang pelayan menunjukkan sebuah tempat duduk yang harus ia duduki. Ardhilla kembali terkejut saat melihat meja makan yang di tunjuk pelayan. Begitu terkesan romantis dengan lilin-lilin yang berada di tengahnya. Ia mulai duduk di tempat itu dengan hati yang berdebar-debar.
Tiba-tiba lampu mati dan tak ada cahaya sedikit pun. Ardhilla tampak panik dan memanggil pelayan. Di tengah suara paniknya yang menggema, terdengar sebuah alunan biola yang mengalun indah dan romantis. Suasana menjadi begitu sangat hening, hanya terdengar sebuah petikan dawai dan Ardhilla mulai menikmatinya. Sebuah lampu sorot menyorot sudut ruangan. Samar-samar terlihat orang yang memainkan biola.
Ardhilla tampak tak terlalu peduli dengan pemain biola tersebut. Ia memilih menyalakan ponselnya. Namun, lampu sorot itu menerang hingga wujud si pemain biola tertangkap jelas di mata Ardhilla.
Ardhilla terperanjat seketika. Matanya membesar dan dadanya tertahan. Seorang pria yang ada di hadapannya sekarang, seperti tidak asing baginya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali memastikan penglihatannya tidak salah. Pria itu menghentikan permainan biolanya, dan seperti membuat kode. Lampu ruangan menyala. Pria itu meletakkan biolanya dan menghampiri Ardhilla yang masih mematung dengan ekspresi terkejut.
Semakin mendekat, Ardhilla semakin yakin jika ia mengenal pria ini. Meskipun wajah pria ini banyak berubah, tetapi ia masih bisa mengenal sosok yang ada di hadapannya sekarang lewat senyumnya. Ya, senyum yang sangat khas. Senyum itu milik lelaki yang pernah menolongnya tujuh belas tahun silam.
Ya, dia adalah Jefri!
Tidak salah lagi,
Dia Jefri!
.
.
.
.
Bersambung...
mau nanya nih, di antara semua tokoh yang ada di novel ini, siapa tokoh favorit kalian dan apa alasannya? komen yaa... bebas berpendapat. hihi