
"Tentu saja boleh. Bukankah dia juga anakmu!" ucap Ardhilla.
Jefri kembali tersenyum, dan kali ini senyumnya sangat lebar hingga deretan giginya terlihat. "Dia anakmu, bukan anakku!" tegas Jefri.
Senyum yang menggantung di wajah cantik Ardhilla lenyap seketika. "Maksudku, bukankah kamu sudah menganggap Aldrin seperti anak sendiri?" Ardhilla memperjelas ucapannya.
"Itu dulu! Sekarang ... tidak lagi! Aku tertarik mengajaknya tinggal bersamaku dan mengurus bisnisku hanya karena kamu mengatakan dia pintar dan berprestasi," ujar Jefri datar.
Wajah Ardhilla menggelap dan terlihat suram ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Jefri. Apakah ini benar-benar Jefri? Kenapa sifatnya telah berubah 180 derajat.
"Dia selalu merindukanmu," ucap Ardhilla dengan suara bergetar, bermaksud menggugah hati pria ini.
Masih dengan wajah tersenyum Jefri membalasnya, "Seharusnya dia tahu aku bukan ayahnya, 'kan?
Ardhilla terbungkam. Lidah seakan menempel di langit-langit dan ia kehabisan kata-kata.
"Baik, kita tinggalkan itu. Mari kita bicarakan mengenai kontrak kita," lanjut Jefri.
Jefri memberi kode petikan tangan pada sekertaris pribadinya, tak lama kemudian asistennya datang dengan sebuah koper. Jefri memerintahkan sekretarisnya untuk membuka koper tersebut. Koper terbuka, memperlihat beberapa kepingan emas batang murni.
Mata Ardhilla membeliak terang melihat kilauan emas yang terpancar indah.
"Ini hadiah sebagai tanda jadi kontrak, tapi untuk kontrak akan segera ditransfer," ucap Jefri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam kian larut, Ardhilla telah kembali ke rumah setelah makan malam yang disertai menandatangani kontrak ambassador. Ia masuk ke kamarnya dan duduk di meja rias. Ia melepas anting-anting yang melekat di telinganya lalu mulai membersihkan wajah dari makeup malam ini.
Ardhilla kembali membayangkan wajah Jefri saat mereka makan malam tadi. Ia juga teringat kembali kehidupannya beberapa tahun silam bersama Jefri. Bukankah pria itu sangat berubah? Dia berubah dari segi penampilan dan juga finansial. Banyak orang mengatakan uang dapat merubah segalanya. Jika dulu Jefri yang ia kenal terlihat kusam dan tak terawat serta selalu memakai pakaian lusuh. Kini, pria itu berubah menjadi pria tampan dengan jas mahal yang membalut tubuhnya.
Ardhilla menatap wajah polosnya di depan cermin. Ia tersenyum dan bangga akan kecantikannya yang masih terawat di usia tiga puluh tujuh tahun.
"Aku terlalu lama mengurus pria tua itu, hingga aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Seharusnya masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya, 'kan?" Ardhilla tersenyum di depan cermin sambil memicingkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu hari telah berlalu dan berganti hari baru. Zaki berjalan menuju ruang presiden direktur. Mereka masih berada di Bali dan kantor ini merupakan anak perusahaan dari Adam Grup. Ia mengetuk pintu lalu masuk ke ruangan ayahnya. Terlihat Adam sedang duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa dokumen.
"Kenapa ayah memanggilku," tanya Zaki.
Tuan Adam menghentikan aktivitasnya. Tak lama kemudian terdengar kembali suara ketukan pintu. Adam mempersilakan seseorang masuk di balik pintu ruangannya .
"Letakkan di situ!" perintah Adam.
"Untuk apa Ayah membeli jas ukuran anak SMA?" tanya Zaki heran.
"Ini untuk Aldrin. Hari senin dia akan magang di kantor kita dan kamu harus membimbing adikmu selama dia bekerja. Dia akan berada dalam pengawasanmu," jelas Adam pada anak sulungnya.
Zaki terperanjat seketika, matanya membulat. "Ayah akan masukin Aldrin ke perusahaan?"
"Iya. Dia yang minta sendiri. Aku harap ini tidak menjadi masalah untukmu," jawab Adam santai.
"Ayah, aku tidak masalah tapi kenapa harus aku yang membimbingnya!" Zaki menunjukkan sikap keberatan akan perintah ayahnya.
"Karena dia adikmu!"
"Tapi ayah—"
"Sudah, lakukan saja. Besok kita akan pulang ke Jakarta. Aku telah mengundang pacar Aldrin ke rumah untuk makan malam bersama kita di rumah, "
Zaki semakin terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia menelan salivanya sendiri dan mengembuskan napas kasar. Ayahnya akan memasukkan Aldrin ke perusahaan mereka, bahkan akan mengajak pacar Aldrin makan malam bersama! Tidakkah sekarang ayahnya sangat berlebihan pada adik tirinya itu?
"Ayah, aku tidak mengerti denganmu. Ayah mengizinkan anak pembuat masalah itu magang di perusahaan kita dan sekarang Ayah akan mengajak pacarnya datang ke rumah dan makan malam bersama keluarga? Ayah enggak pernah bersikap kayak gitu sama aku dan juga pacarku!" Suara Zaki meninggi, terlihat emosinya sedang berada di ubun-ubun.
"Zaki, apa kamu tahu yang paling aku tidak suka dari dirimu?" tanya Adam menatap dalam wajah Zaki yang menegang karena emosi yang tertahan. "Aku sangat tidak menyukai sifat cemburumu itu. Lagi pula, kapan kamu mengatakan akan mengajak pacarmu berkenalan dengan orangtuamu? Tidak pernah, 'kan? Sekarang, aku mengajak pacarmu datang ke rumah malam minggu dan kita akan makan malam bersama dengan pacarmu dan juga pacar Aldrin," ucap Adam dengan tenang.
Zaki terdiam tapi tetap menunjukkan sikap tidak senang. Ia menggertakkan giginya, menatap ayahnya dengan wajah kesal. Ia semakin tidak terima ketika ayahnya mengajak kekasihnya datang ke rumah setelah ia keberatan karena ayahnya duluan mengajak pacar Aldrin.
"Jika tidak ada lagi yang akan kamu katakan, kamu boleh keluar," pinta Ayahnya.
"Dia hanya anak tiri. Kenapa Ayah selalu memberi perlakuan khusus sama dia," tanya Zaki dengan sorot mata tajam.
Adam menghela napas. "Di mataku kalian semua anak-anakku dan aku bertanggung jawab atas kalian bertiga. Suatu saat kamu akan mengerti. "
.
.
.