Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 61 : Gadis Tomboy



Amaira menghidupkan ponselnya dan menekan tombol menu, lalu mencari nama Naufal di daftar kontaknya. Ia langsung menekan tombol panggilan ke nomor tersebut. Kontak tersambung tetapi tak juga dijawab oleh Naufal.


"Kenapa?" tanya Aldrin cepat saat melihat wajah kesal Amaira.


"Tidak dijawab," jawab Amaira pelan.


Aldrin menghela napas kasar sambil berkacak pinggang. Keduanya saling bertatapan, tetapi tak saling bersuara. Amaira memutuskan duduk kembali ke tempat sebelumnya sambil terus berusaha menelepon Naufal.


Naufal yang masih mengendarai mobilnya tiba-tiba menepikan kendaraannya. Sontak, cewek misterius itu terkejut dan mendelikkan matanya.


"Kenapa mobilnya berhenti?" tanya si gadis


"Aku haus. Mau minum dulu. Lagian kita sudah jalan terlalu jauh. Tidak mungkin masih ada yang kejar kamu, 'kan?" tandas Naufal sambil membuka penutup botol air mineral.


Naufal meneguk minuman mineralnya yang tak sempat diminumnya akibat gadis itu tiba-tiba masuk ke mobilnya dan memaksanya untuk melajukan mobil. Gadis yang tak diketahui namanya itu menatap wajah Naufal yang sedang minum dengan tatapan menilik.


"Astaga ... gue baru perhatikan wajah lo. Lo kok keren banget! Lo model, ya? Tunggu! Lo pakai seragam sekolah yang tidak biasanya," ucap gadis itu sambil memerhatikan seragam Naufal.


Gadis itu lalu menutup mulutnya yang ternganga begitu melihat lambang almamater seragam Naufal, "Lo ... lo siswa IL Academy Internasional High school? Itu sekolah swasta termahal di Jakarta, 'kan? Setahu gue banyak anak konglomerat bersekolah di situ beberapa anak artis juga sekolah di sana. Anak Ardhilla juga sekolah di tempat itu," ungkapnya terkejut dengan suara yang begitu nyaring.


Naufal hanya tersenyum tipis sambil meneguk kembali minumannya. Sejujurnya, ia sedikit kesal dengan cara bicara gadis itu. Wajar, sebab ia sangat menyukai wanita berkepribadian lembut seperti Amaira.


Gadis itu berujar kembali, "Gue dengar di sana ada murid pintar yang selalu menangkan olimpiade Fisika di Singapura. Kepala sekolah sering menyebut namanya sebagai teladan agar kita semangat belajar, tapi gue lupa namanya. Apa lo kenal?"


Naufal kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Gadis itu tak tahu jika siswa teladan yang ia maksud sebenarnya ada di depannya saat ini.


"Lo pasti masuk di sekolah itu hanya karena banyak uang, tapi otak lo pasti tidak jauh beda dengan otak gue," sangka gadis itu sambil menepuk lengan Naufal begitu kuat hingga membuatnya meringis.


Mata gadis itu berputar, dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu. "Astaga ... coba lihat! Ternyata gue masuk di dalam mobil mahal. Ini, kan mobil yang sering dipakai Hotman Paris. Bukannya mobil ini bisa terbuka bagian atapnya? Coba lo buka, gue penasaran!" pinta gadis itu kembali sambil mengetuk atap mobil. Ia masih tak berhenti mengeluarkan suara dan cara bicaranya sangat cepat.


Naufal terkekeh melihat tingkah gadis aneh itu. "Aku lebih senang mengendarai mobil ini dengan tertutup," tolak Naufal.


"Lo rendah hati banget! Hhmmm ... bau aroma parfum lo kayak merek mahal. Enggak salah lagi lo pasti anak orang kaya. Apa lo pernah dengar bunyi token listrik di rumah lo?" ucap gadis itu sambil mendekatkan wajahnya ke Naufal berusaha menghirup aroma parfum di tubuh cowok itu.


Naufal merasa sedikit terganggu dan menjauhkan tubuhnya dari gadis cerewet itu. Dalam hati Naufal berkata, jika dirinya adalah Aldrin mungkin gadis ini telah lama dilempar ke jalan karena Aldrin sangat membenci cewek yang berisik.


Gadis itu mempunyai tubuh yang lebih pendek dari Amaira. Kulitnya putih, matanya indah, rambut panjang walau terlihat tak terurus karena dikuncir asal-asalan. Jika Amaira gadis yang sangat feminim, sebaliknya gadis itu terlihat tomboy. Itu bisa terlihat dari gaya duduknya, dan juga penampilannya. Jika wajah Amaira terlihat lembut sebaliknya wajah gadis ini terlihat garang.


"Oh, iya, omong-omong kenapa kamu dikejar-kejar?" tanya Naufal sesaat.


Gadis itu pun memberitahukan sebuah alamat dan Naufal langsung mengemudikan kendaraannya menuju ke alamat tersebut. Sepanjang jalan gadis itu terus bercerita tentang kesehariannya. Jujur, dari sekian banyak kalimat yang dikatakan gadis itu, tak satu pun yang Naufal simak. Ia lebih fokus mengemudi dan berharap segera sampai ke rumah gadis cerewet itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perpustakaan, Aldrin dan Amaira telah terkurung selama hampir satu jam. Setelah putus asa menelepon Naufal tapi tak kunjung diangkat, Amaira memilih berdiam diri di tempat duduk yang ia duduki tadi. Sementara, Aldrin berdiri tak jauh darinya sambil menyandarkan tubuhnya di rak buku.


Sesekali keduanya saling mencuri pandang, tetapi mereka masih gengsi untuk saling bicara. Sejak putus, mereka tak lagi berkomunikasi apalagi untuk bicara berdua.


Saat ini, keduanya kembali saling melirik. Ketika tatapan mereka bertemu, secara refleks Aldrin memulai obrolan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Aldrin ragu-ragu sambil menahan napas sejenak.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," jawab Amaira dengan suara pelan. Ia memalingkan wajahnya dan kembali membuka buku, bersikap tak acuh pada cowok itu.


"Oh ... itu bagus!" balas Aldrin sambil mengangguk pelan. Sangat terlihat jika saat ini ia gugup. Ia telah menekan perasaannya selama seminggu lebih. Menjadi manusia paling tega dengan sengaja mencampakkannya, dan sekarang gadis itu terlihat bersikap biasa padanya. Tidak lagi mengejarnya dan juga tidak lagi peduli padanya. Harusnya ia bahagia melihat gadis itu telah move-on, bukan? Sayangnya, saat ini hatinya seperti berkecamuk. Ada perasaan yang sulit didefinisikan dalam dirinya di situasi sekarang.



Aldrin memejamkan matanya mencoba sedikit lebih tenang. Tiba-tiba terdengar suara lembut Amaira. "Bagaimana hubunganmu sama pacar barumu?"


Aldrin membuka matanya, menoleh ke arah Amaira yang baru saja bertanya. Namun, mata gadis itu tetap fokus pada bukunya.


"Baik, tapi aku sedikit bosan. Aku berniat putus sama dia, terus cari yang baru lagi," jawab Aldrin sambil menatap Amaira. Ia memang tipe cowok yang tak bisa setia dan suka bergonta-ganti pasangan, tetapi itu sebelum menjumpai Amaira. Saat ini, ia hanya memerankan peran tokoh antagonis demi mendapat cap buruk dari gadis itu. Tentu saja alasannya agar gadis itu menjauhinya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Naufal telah sampai ke alamat yang diberikan gadis misterius itu. Ia memarkirkan mobil mewahnya di depan jalan kecil. Jujur, ia tak pernah ke lokasi ini sebelumnya. Ini seperti lokasi padat penduduk di tengah kota.


"Apa di sini rumahmu?"


"Iya, rumah gue masuk ke dalam lorong itu. Makasih, ya dah antarin pulang," ucap gadis tomboi itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naufal. Dengan gerakan cepat, gadis itu mencium pipinya hingga membuat Naufal terperangah.


Mata Naufal terbuka lebar seketika. Ini pertama kalinya ia dicium seorang gadis.


"Gue enggak tahu cara balas kebaikan lo. Jadi, anggap saja ciuman itu sebagai ucapan terima kasih dari gue," ucap gadis itu dengan santai sembari membuka pintu mobil dan langsung pergi berlari masuk ke dalam lorong kecil meninggalkan Naufal yang masih dilanda keterkejutan.