Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 95 : Kisah Kasih Tak Sampai




Jefri duduk tepat di hadapan Ardhilla yang masih diam terpaku. Pria itu tersenyum kembali padanya sambil mengulurkan tangannya.


"Yussef Alfath," ucap Jefri memperkenalkan nama barunya.


Mata Ardhilla masih tak berkedip, ia bahkan tak sadar selama beberapa detik bahwa Jefri sedang mengulurkan tangannya.


"Ardhilla," ucapnya dengan suara berat.


Senyum dan suara itu, tidak mungkin ia lupa. Ia adalah orang yang pernah hidup serumah dengan Jefri meski tanpa ikatan. Ia sangat mengenal suara lembut pria ini. Tidak salah lagi! Ia benar-benar yakin pria di hadapannya adalah Jefri.


Ardhilla masih terdiam. Sekujur tubuhnya gemetar dan tampak keringat dingin menjalar di seluruh tubuhnya.


"Apa kamu masih mengenalku?" ucap pria yang berada di depannya kembali. Ucapan pria itu membuat Ardhilla benar-benar yakin jika orang yang berada dihadapannya saat ini adalah Jefri. Ya, dia benar-benar Jefri.


"Te-tentu saja," ucapnya dengan mata yang masih tak berkedip.


Senyum sumringah tercetak di wajah pria matang itu. Sementara Ardhilla, masih tanpa ekspresi tak sanggup bergerak bahkan bola matanya sekalipun.


"Bagaimana kabarmu?" Jefri mulai mengambil garpu dan pisau untuk memotong steak.


Ardhilla memerhatikan gerak geriknya yang begitu elegan dan benar-benar terlihat seperti orang-orang dari golongan atas. Ia sempat meragukan jika orang yang di hadapannya adalah Jefri. Bahkan mulai terpesona akan perubahannya saat ini dan terus menatap pria itu.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu sendiri? Aku sungguh terkejut sekarang kamu telah menjadi putra dari Hussein Alfath." Ardhilla membuka suaranya sembari mencoba menenangkan detak jantungnya.


Pria itu tersenyum kembali, mengambil sapu tangan untuk mengelap mulutnya. "Aku bertahun-tahun menjaga anaknya yang sakit keras dan tidak sedikit pun anaknya menganggap aku pembantunya. Dia malah menganggapku adalah saudaranya. Ketika dia meninggal, ia meminta ayahnya untuk mengangkatku sebagai anak menggantikan posisinya," kenang Jefri menceritakan selintas apa yang ia alami selama menjadi TKI.


Jefri menatap kedua bola mata Ardhilla yang masih tak bergerak. Bahkan Ardhilla belum menyentuh sedikit pun makanannya. "Terkadang beberapa manusia sangat beruntung. Mereka bisa meraih kesuksesan tanpa kerja keras dan ambisi yang besar. Bukankah begitu?" Ucapan Jefri seolah sedang mengejek Ardhilla.


Ardhilla memberi senyum tipis. Ia meneguk minumannya. Masih tidak percaya dengan perubahan mantan pengamen jalanan ini.


Beberapa tahun yang lalu, Jefri hanyalah seorang pengamen yang sehari-hari menenteng biolanya. Kemudian ia tak sengaja menolong Ardhilla yang akan dibunuh seseorang. Ia membawa pulang wanita ini tanpa tahu jika Ardhilla adalah seorang artis. Tak sampai di situ, ia juga menawarkan tempat tinggal untuknya begitu mengetahui wanita ini hamil. Ia membantunya setulus hati. Mereka tinggal seatap sampai anak itu lahir.


Ternyata semua itu hanyalah khayalan belaka dari pria miskin sepertinya. Wanita itu pun menemukan kekasih impiannya. Ia memilih menikah dengan duda dua anak yang usianya terpaut tujuh belas tahun dengannya. Kemudian meninggalkan Jefry bersama anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Semua itu demi harta dan juga tahta yang tak sanggup Jefri berikan padanya.


Karena cintanya yang besar, Jefri mengikhlaskan wanita itu pergi. Bahkan mengantar Ardhilla menuju rumah barunya. Ia juga hadir menyaksikan pernikahan wanita yang ia cintai bersama pria lain. Ia hadir sambil menggendong Aldrin yang usianya masih sepuluh bulan, melihat dari kejauhan wanita itu mengikat janji suci dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Raut wajah yang tidak pernah muncul saat wanita itu bersamanya.


Selama bertahun-tahun, ia berjuang untuk meyakinkan hatinya bahwa Ardhilla hanya sebatas bisa ia kagumi namun tidak untuk dimiliki.


Ini adalah sepenggal cerita dari kisah kasih tak sampai. Hati yang tak terbalaskan bahkan terkoyak karena luka. Belum sembuh lukanya, ia harus pasrah ketika satu-satunya harta berharga yang ditinggal wanita itu, harus ia ikhlaskan diambil sang pemiliknya. Dia harus mengikhlaskan Aldrin kecil kembali ke pelukan ibunya. Wanita yang sampai saat ini masih dicintainya. Wanita yang menjadi alasan ia masih single dan belum membuka hati pada siapapun.


"Bagaimana kabar anak itu?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Jefri.


"Dia baik-baik saja," ucap Ardhilla pelan.


"Apa dia tumbuh dengan baik? Apa dia bahagia?" tanyanya kembali.


"Tentu saja. Dia menjadi anak yang baik dan berprestasi. Aku menyekolahkan ia di Amerika selama hampir sepuluh tahun, dan sekarang ia melanjutkan sekolahnya di IL Academy Internasional High School, " ucap Ardhilla.


Jefri merasa bahagia mendengarnya, setidaknya bersama Ardhilla, anak itu menjadi lebih baik. Mungkin saja jika dulu tetap bersamanya, Aldrin tidak akan seperti yang dikatakan Ardhilla. Mungkin!


"Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa kau sudah berkeluarga?" tanya Ardhilla. Sebenarnya ini hanya pertanyaan basa-basi karna ia mengetahui Jefri masih menyendiri hingga kini.


Jefri terdiam beberapa saat, "Aku masih sendiri." Ia menatap lekat kedua bola mata Ardhilla, lalu melanjutkan ucapannya, "Tapi, keluargaku ada di sini."


Ardhilla sontak sedikit terkaget. Mengapa Jefri tiba-tiba berkata seperti itu. Ucapnya sederhana tapi mengisyaratkan beribu makna. "Aku berencana menetap di sini, dan jika kamu mengizinkan, aku ingin membawa Aldrin tinggal bersamaku. Setelah dia tamat sekolah, aku ingin dia membantuku mengurus bisnisku dan juga sebuah yayasan yang akan kubangun untuk anak-anak jalanan."


Ardhilla terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia bingung dengan apa yang harus dikatakannya lagi. Namun, ia cukup tertarik dengan tawaran Jefri yang meminta Aldrin mengurus bisnisnya.


.


.


.