Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 120 : Romantisme Malam



Siaran terganti ke channel sebelumnya, tetapi isi siaran menampilkan iklan makanan mie instan. Tak lama kemudian Amaira turun dari tangga dengan celana jeans denim panjang dan blouse berwarna merah jambu.


"Ayo kita pergi!"


Amaira langsung menyalami tangan ibunya sekaligus berpamitan. Aldrin mengikuti hal serupa. Keduanya pergi dan Ibu Amaira kembali menonton televisi yang telah menampilkan kembali tayangan tadi.


"Dia Ardhilla, Ibu dari pacar Amaira, 'kan?" gumamnya sendiri.


Di luar rumah, Aldrin mulai menyalakan motornya. "Sudah siap? Kita berangkat!" ujar Aldrin setelah Amaira duduk di belakangnya.


Aldrin mulai menjalankan motornya dengan pelan. Ketika motor telah memasuki jalan raya utama, ia menambah kecepatan laju motor. Membelah jalan dan memberi kode agar Amaira lebih erat memeluknya.


Amaira memasukkan tangannya di kedua kantong jaket kulit milik Aldrin. Ia meletakkan dagunya di bahu kiri Aldrin. Dari jarak tubuh yang begitu dekat, tercium bau parfum Amaira yang begitu harum dan menusuk penciuman Aldrin.


Mereka menikmati keindahan malam kota Jakarta. Sesekali, Amaira merentangkan kedua tangannya merasakan angin malam yang berlawanan arah. Aldrin menatap wajah bahagia Amaira lewat spion motornya.


"Kamu bahagia enggak selama pacaran sama aku?" tanya Aldrin setengah berteriak karena suaranya teredam dengan bunyi motornya sendiri.


"Iya," jawab Amaira dengan suara pelan.


"Apa? Aku enggak dengar!" teriak Aldrin yang sebenarnya hanya pura-pura belaka.


"Iya." Amaira mengencangkan volume suaranya.


"Coba ulang, aku enggak bisa dengar suaramu!" Aldrin kembali berteriak sambil menahan tawa. Sebenarnya, ia sedang mengerjai Amaira.


Gadis polos itu mendekatkan bibirnya tepat di telinga Aldrin yang tertutup helm besar. "Iya, aku bahagia sama kamu!" Kali ini Amaira berteriak kencang bahkan ia mengeluarkan seluruh suaranya.


Dari balik helm besarnya, Aldrin mengembangkan senyumnya, merasakan kebahagiaan yang serupa. Tangan kirinya menarik tangan Amaira yang bersembunyi di saku jaketnya, memberi sebuah perintah agar Amaira memeluk tubuhnya lebih erat.


"Peluk erat aku. Biar aku enggak terbang dibawa angin," ucap Aldrin diiringi tawa pecah.


Tangan Amaira melingkari pinggang Aldrin dengan erat. Cowok itu membelokkan motor sport-nya ke sebuah tempat yang tak terlalu ramai, tapi dari tempat itu bisa melihat keindahan malam kota Jakarta. Mereka pun memutuskan untuk berhenti di tempat itu.


Aldrin duduk di sebuah kursi taman yang tersedia di tempat itu, sementara Amaira memilih duduk menyamping di motor sport Aldrin.


Angin yang berembus pelan menemani sepasang kekasih yang sedang menikmati keindahan malam. Aldrin menatap Amaira yang sedang menikmati keindahan langit dipenuhi gemerlap bintang.


Amaira menoleh ke arah Aldrin yang menatapnya dengan tatapan sendu. Gadis itu melemparkan senyuman hangat ke Aldrin.


"Sebelumnya, aku enggak pernah berusaha membuat cewek bahagia," ungkap Aldrin sambil memberikan senyum tipis.


"Sebelumnya, aku enggak pernah membayangkan akan menerima segudang cinta dari cowok kayak kamu," balas Amaira sambil kembali menatap langit yang dipenuhi kilauan cahaya.


Mereka kompak menatap bintang di langit atas sana, berharap Tuhan tidak mengambil kebahagiaan dan romantisme ini.


"Amaira ...." Aldrin kembali memanggil namanya pelan dan lembut. Amaira kembali menatap Aldrin. Ia heran, wajah lelaki itu berubah menjadi sendu.


"Kalau aku cerita beberapa fakta tentang kehidupanku yang belum kamu tahu, kamu masih mau sama aku, enggak?" tanya Aldrin tiba-tiba.


Amaira tidak menjawab, tetapi wajahnya tak berkedip menatap Aldrin yang duduk tak jauh darinya.


Aldrin menelan saliva pahitnya, mencoba menarik napas dalam dan menengadahkan kepalanya ke atas langit.


"Aku anak hasil perselingkuhan," ungkap Aldrin, "dan lebih lucunya lagi, ternyata ayahku adalah ayahnya Bryan, seorang sutradara terkenal yang telah tiada. Itu artinya aku dan Bryan bersaudara." Aldrin terkekeh. Ia membuang wajahnya sejenak. Sedetik kemudian dia menatap Amaira yang masih setia mendengarnya. "Ternyata dunia ini penuh kejutan, bukan?"


Aldrin menarik napas lalu melanjutkan ucapannya, "Ibuku menyembunyikan ini dari siapapun termasuk aku. Terus, aku membuka internet, ternyata ada banyak media yang membahas tentang asal-asulku dan siapa ayah kandungku. Saat aku mengetahui Bryan saudaraku ... aku merasa senang, tapi di lain sisi aku bertanya-tanya, apakah Bryan juga ikut senang mendengar ini? Atau justru enggak senang?"


Amaira bergeming. Namun, matanya terus menatap Aldrin. Gadis itu dapat melihat jelas kesedihan yang Aldrin tutupi. Bahkan ada sebuah air mata yang berusia lelaki itu bendung. Nada suaranya berubah menjadi sedikit bergetar.


Aldrin berusaha mengelakkan pandangannya agar tak menatap wajah kekasihnya. Lebih tepatnya, agar Amaira tak melihat ada air mata yang akan segera mengalir.


Amaira berdiri dan berpindah duduk di samping Aldrin. Gadis itu melingkarkan tangannya di tubuh kekasihnya, memberi pelukan hangat dan mengelus pundaknya dengan lembut. Ia melihat wajah tampan itu menunjukkan kesedihan dan keputusasaan.


Aldrin memegang tangan Amaira yang masih melingkar di tubuhnya. Ia menoleh ke samping untuk dapat melihat wajah Amaira. Mereka berdua saling bertatapan dengan pandangan dalam.


"Amaira, masih ada beberapa hal yang ingin kuungkapkan sama kamu," terang Aldrin.


.