
Bryan langsung dilarikan ke rumah sakit. Perawat membawanya ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aldrin, Naufal dan teman-teman Bryan masih berkumpul. Mereka tampak khawatir dengan keadaan sahabat mereka.
Tak lama kemudian Ibu dan nenek Bryan datang ke rumah sakit dengan wajah yang penuh kepanikan.
"Apa yang terjadi dengan cucuku?" Nenek Bryan sangat panik dan menangis.
"Dia ditikam ketua geng motor, Nek! Tapi kita cepat membawanya ke sini, semoga tidak terjadi apa-apa padanya, " ujar salah satu dari teman Bryan.
Nenek dan Ibu Bryan menangis dan berdoa untuk keselamatan Bryan.
"Aku sudah kehilangan Steve anakku dan aku tidak mau kehilangan Bryan. Dia satu-satunya peninggalan Steve untukku," ucap sang nenek di balik isak tangisnya.
Beliau adalah ibu dari sutradara Steve Arnold dan neneknya Bryan yang artinya neneknya Aldrin juga, karena Bryan dan Aldrin saudara sekandung yang tak saling mengetahui.
"Ibu jangan bicara seperti itu. Bryan anak yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja," ujar Ibu Bryan pada mertuanya itu.
"Anak itu mirip ayahnya masih muda, sangat berani dan keras kepala!" kenang sang nenek sambil mengusap air mata.
Er yang masih di situ memutuskan untuk pergi. Ia melangkah pelan, tapi Naufal mengikutinya dari belakang.
"Kau mau ke mana?" tanya Naufal menarik tangannya.
"Gue enggak pantas di sini. Gue yang udah menyebabkan kekacauan ini. Gue bikin lo dipukuli dan teman lo ditikam." Er tertunduk sedih. Wajah cerianya tak terlihat seperti biasa.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Yakinlah, semua yang terjadi sudah kehendak yang di atas. Ada hikmah di setiap kejadian. Mantan kami udah di tahan polisi dan sekarang kamu sudah bebas dari dia." Naufal berusaha meyakinkan Er agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Terima kasih. Lo baik banget, gue ... gue baru dapat teman sebaik lo." Er terharu sampai tak dapat berkata-kata dan pada akhirnya hanya menitikkan air matanya.
Naufal tersenyum hangat padanya. Er menatap wajah Naufal yang sedikit lebam karena pukulan tadi.
"Lo sendiri gimana?" tanya Er sambil menyentuh sudut bibir Naufal.
Naufal mencegat tangannya. "Tidak apa-apa."
Tangan Naufal masih menyentuh tangannya. Jantung Er tiba-tiba berdebar-debar tak karuan. Ia menjadi salah tingkah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang gawat darurat, keadaan Bryan masih sangat kritis. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan datang menghampiri keluarga bryan.
"Luka tusuknya cukup dalam. Dia kehilangan banyak darah dan butuh transfusi darah," jelas dokter tersebut.
"Lakukan apa pun yang dapat menyelamatkan cucuku, dok!" Nenek Bryan setengah memohon.
"Masalahnya laboraturium kami kekurangan darah AB," lanjut dokter kembali.
"Kalian bisa mengambil darahku," lanjut Aldrin berharap ia bisa menolong Bryan.
Dokter memerintahkan perawat untuk mengecek darah Aldrin apakah cocok atau tidak. Perawat lalu meminta Aldrin mengikutinya untuk melakukan pengetesan darah. Sementara nenek dan ibu Bryan saling menatap.
"Apa kamu lihat mata anak itu?" tanya nenek Bryan dengan perlahan, lalu ia melanjutkan kembali ucapannya, "Tatapan matanya sangat mirip dengan Steve. Aku bisa merasakan kehadiran Steve dari dalam diri anak itu!" ucapnya kembali.
"Ibu terlalu berlebihan. Sekarang yang kita pikirkan adalah keselamatan Bryan," ujar menantunya.
Nenek Bryan tetap memandangi kepergian Aldrin yang telah menjauh.
Usai proses transfusi darah selesai, Aldrin kembali melihat kondisi Bryan dari luar ruangan karena dokter belum mengizinkan siapapun masuk. Untungnya darah Aldrin dan Bryan sama. Sehingga kondisi Bryan cepat tertolong.
Nenek dan Ibu Bryan menghampirinya sehingga membubarkan perhatian Aldrin.
"Terima kasih banyak telah menolong cucuku," ucap sang nenek sambil memegang tangan Aldrin.
"Sama-sama, Nek! Bryan teman baikku, sudah sepantasnya aku menolongnya!" balas Aldrin tersenyum ramah.
"Orangtuamu telah berhasil mendidik kamu menjadi anak yang baik dan bisa menolong sesama. Kalau boleh tahu, kamu anaknya siapa?" tanya nenek itu penasaran.
"Aku anak tiri Tuan Adam Ardhani dan ibuku ... seorang artis," ungkap Aldrin.
"Siapa nama ibumu? Mungkin aku mengenalnya," Ibu Bryan yang diam sedari tadi tiba-tiba melempar pertanyaan.
"Ardhilla, artis bintang Film!"
Ibunya Bryan tersentak seketika. Bagaimana tidak, ia mengenal baik nama tersebut. Ya, artis itu dulunya sering bermain film yang disutradarai mendiang suaminya. Artis itu juga pernah digosipkan menjalin hubungan spesial dengan suaminya. Meskipun Ardhilla selalu mengelak di depan media, tapi istri mendiang Steve ini tahu bahwa itu bukan sekedar gosip belaka tapi merupakan fakta karena suaminya telah mengakui itu semua di depannya sebelum meninggal. Mendiang Steve bahkan pernah mengakui 'kumpul kebo' bersama dengan Artis itu. Ia bahkan mengetahui jika wartawan pernah menyangkut pautkan anak Ardhilla sebagai darah daging Steve karena keberadaan ayahnya yang tidak jelas dan sangat dirahasiakan Ardhilla.
"Sekilas, wajahmu mengingatkanku pada mendiang putraku," ucap sang nenek yang membuat Ibunya Bryan semakin tersentak.
"Siapa ayahmu? Di mana dia? Apa kau kau tahu nama ayahmu?" Seketika Ibunya Bryan menyerbunya dengan pertanyaan beruntun yang membuatnya terkejut.
.
.
.
bersambung
jangan lupa tekan like, love, vote, komen.