
Sore itu, angin berhembus kencang dan kesunyian begitu terasa. Namun, anak-anak muda yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang itu, berdiri tegap di depan markas besar geng motor dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Mereka menatap tegas ke arah lawan tanpa rasa takut sedikit pun tergurat di wajah mereka.
Aldrin dan Bryan saling menoleh sambil tersenyum. Aldrin mengedipkan satu matanya ke arah Bryan seolah sedang melakukan komunikasi tanpa suara.
Sementara dari arah lawan, wajah mereka tak kalah menakutkan. Mereka menunjukkan ekspresi yang sama dengan anggota yang Bryan bawa. Mantan Er yang bertindak sebagai ketua geng berjalan maju ke depan sambil melipat kedua tangannya di dada dan menyunggingkan senyum remeh ke arah Aldrin dan kawan-kawan.
Sore itu, suasana terasa panas meskipun matahari hampir tenggelam. Baik kubu Aldrin maupun kubu lawan seakan telah siap bertempur. Tanpa banyak bicara, Aldrin mengepalkan tangan dan mengangkat ke atas langit.
"Seraaaaang!"
Mereka langsung maju berhamburan menyerang kelompok geng motor yang sebenarnya tak punya persiapan apa-apa. Kedua kubu pun saling serang menunjukkan kekuatan mereka masing-masing.
Bagi Bryan dan kawan-kawannya ini bukan hal baru lagi. Meskipun mereka memiliki tampang innocent dan lahir dari kalangan kelas atas, tapi perkelahian antar geng sering mereka lakukan. Tak ada yang bisa menyaingi kekuatan Bryan saat itu. Itulah mengapa Bryan begitu ditakuti di sekolah hingga mendapat dua julukan sekaligus yaitu, 'Preman sekolah' dan 'Dewa kematian'.
Sementara untuk Aldrin, pertempuran kecil ini membangkitkan kenangannya saat bersekolah di LA. Selain mengambil club musik, ia juga mengambil club bela diri di sana. Bahkan dia pernah membentuk gangster di sekolahnya yang diketuai dirinya sendiri. Oleh sebab itu, saat menjadi murid baru, ia tidak merasa takut sedikit pun pada Bryan ketika cowok itu mencoba mengintimidasinya pertama kali.
Kedua anggota geng motor langsung menghampiri Aldrin dan melayangkan pukulan yang berhasil dihindari cowok tampan itu. Aldrin membalas serangan, mendaratkan pukulan ke wajah lawan yang berada di hadapannya.
Tendangan keras mendarat ke perut Aldrin yang membuatnya terjatuh. Ia memegang perutnya, lalu mengepalkan tangan untuk membakar semangatnya sendiri. Cowok tampan itu kembali bangkit dan langsung menghajar siapapun lawan yang mendekatinya untuk membalas apa yang mereka lakukan ke Naufal. Matanya memicing saat salah satu dari mereka hendak menyerang. Ia terus berhati-hati dan waspada untuk menangkis serangan mereka.
Di dalam markas, Er buru-buru menghampiri Naufal yang terkulai lemah di lantai.
"Naufal, lo masih bisa bertahan, enggak?" tanya Er penuh kekhawatiran sambil mengangkat lengan Naufal, bermaksud membantu cowok itu berdiri.
Naufal membuka matanya perlahan lalu tersenyum tipis sambil menatap Er. "Aku enggak apa-apa."
Naufal membelai lembut wajah Er yang panik. Belaian lembut tangannya membuat wajah gadis tomboi itu memerah. Ia sedikit bernapas lega karena Naufal masih bisa tersenyum. Gadis itu berusaha membantu Naufal untuk bangun. Ia meletakkan lengan Naufal di belakang kepalanya dan menuntunnya berjalan keluar markas sambil melihat perkelahian yang masih berlangsung.
Satu per satu anggota geng motor itu jatuh ke tanah karena pukulan dari Aldrin, Bryan dan juga kawan-kawan.
Tampak beberapa anggota geng motor terkapar dengan wajah yang penuh luka dan memar akibat mendapat bogem. Melihat anggotanya yang kalah telak, mantan Er bergegas melarikan diri, tetapi dengan gerakan cepat Aldrin menarik jaket pria itu dan mendekatkan tubuh si pria ke badannya.
Aldrin berbisik ke telinga pria itu. "Aku pikir kalian jago banget berkelahi. Ternyata kalian cuma sekelompok sampah masyarakat yang hanya mengandalkan motor untuk menyerang orang-orang!"
BHUK!
Aldrin melayangkan pukulan ke wajah pria itu hingga membuatnya jatuh ke tanah. Seolah tak puas, Aldrin menarik lengan pria itu untuk memaksanya bangun, kemudian menjambak rambutnya sambil berkata, "Ini pukulan balasan untuk apa yang kamu lakukan sama saudaraku!"
BHUK!
Aldrin kembali memukulnya, kali ini hidung pria itu berdarah. Ia terlempar dan langsung ditangkap oleh Bryan yang telah siap menerkamnya.
Bryan mendekatkan wajahnya ke wajah pria yang telah tak berdaya. Bryan tersenyum remeh sambil berbisik ke telinga pria itu. "Lo tuh lemah banget!"
BHUK!
Bryan dan Aldrin saling menatap, mereka tersenyum penuh kemenangan. Keduanya mendekat sambil melakukan tos tinju dengan kepalan tangan yang saling bertemu. Mereka saling berpelukan untuk kemenangan yang berhasil diraih.
Naufal dan Er yang dari tadi menyaksikan mereka, juga ikut tersenyum melihat aksi Aldrin dan kawan-kawan yang berhasil melumpuhkan geng motor. Seketika, tubuh lemas Naufal menjadi kuat dan bersemangat kembali.
Namun ...
Tiba-tiba ketua geng motor itu membuka matanya. Mata menakutkan itu kembali muncul. Tangannya perlahan menelusuri saku celana dan mengambil sebuah belati di dalam sakunya. Ia bangkit berdiri sambil memegang sebuah pisau belati.
Naufal menilik ke arah pria itu, matanya terbuka lebar saat melihat ketua geng motor itu bangkit dengan belati di tangannya. Pria itu berjalan perlahan ke arah Aldrin yang membelakanginya.
Mata Naufal makin terbelalak tatkala melihat pria itu berusaha secepat kilat menghampiri Aldrin.
Dengan sekuat tenaga Naufal berteriak, "Aldriiiiiiiiiiinnnn ... Awas di belakangmuuuu!"
Aldrin menoleh dengan santai ke belakang. Ketua geng motor itu berlari untuk bergerak cepat hendak menghunuskan pisau belati ke arahnya.
Aldrin tak punya kesempatan untuk menghindar. Namun, secara mengejutkan Bryan mendorong tubuhnya hingga membuatnya terjatuh.
Belati itu tertikam di perut Bryan lewat hentakan tangan mantan kekasih Er. Ia menusukkan pisau itu berkali-kali ke perut Bryan.
Aldrin terlonjak. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.
"Bryyaaaaaaaaannnnnn!" teriak Aldrin dengan suara yang menggelegar dan mata yang melotot tajam.
Bryan rubuh terantuk tepat di hadapan Aldrin. Pisau itu tertanam dalam di perut Bryan. Aldrin segera menghampirinya dan langsung menyandarkan kepala Bryan ke dadanya. Darah berhamburan dari perut cowok yang berusia satu tahun lebih tua darinya. Mata Bryan menatapnya dengan pandangan yang nanar menahan kesakitan. Darahnya mulai mengalir ke tanah.
Bibir Aldrin gemetar mendapati Bryan terbujur bersimbah darah. Perlahan jemari Aldrin bergerak menelusuri darah itu dan menyapu wajah Bryan.
Naufal, Er serta yang lainnya ikut berlari ke arah Bryan. Aldrin melepaskan dirinya dari Bryan. Kemudian menatap tajam si pria itu dengan tatapan mematikan seperti seekor singa yang kelaparan.
Aldrin berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya. kemudian berteriak, "Aku akan membunuhmuuuuu!"
Aldrin berlari menghampiri pria itu lalu memukulnya secara membabi buta. Ia terus menghajarnya tanpa Ampun hingga wajah ketua geng motor itu penuh memar dan darah. Pria itu terjatuh kembali ke tanah. Seakan tak puas, ia masih menyeret pria itu untuk bangun, tetapi suara Naufal yang begitu panik menghentikan tindakannya.
"Aldrin, kita harus segera membawa Bryan ke rumah sakit! Jika tidak, Bryan akan kehabisan darah dan nyawanya bisa terancam!"
.
.
.