
Ardhilla mendekap tubuh putranya lebih erat. Dua buah titik air mata itu terus berjatuhan menghiasi pipi putihnya yang kian memucat. Tulang rusuknya seolah patah saat mengetahui kepergian putera semata wayangnya. Dadanya membusung kian sesak menerima kenyataan itu.
Aldrin benar-benar telah pergi!
Dia telah meninggalkan dunia menuju Nirwana!
Tuhan meletakkan penyesalan di akhir kejadian agar manusia mau memetik pelajaran hidup. Sungguh betapa berartinya detik, menit, jam, dan hari yang kita lewati dengan keluarga tercinta. Betapa berharganya sebuah waktu. Namun, sering disia-siakan begitu saja oleh manusia.
Entah sudah berapa lama ia tak bernapas. Jika di film romantis, Tokoh dalam film akan meninggal di pelukan orang yang ia cintai, tapi berbeda dengan Aldrin. Tak ada seorang pun yang berada di sisinya menjelang detik-detik nyawanya diambil malaikat. Dia meninggal dalam kesendirian dan kesunyian. Berjuang seorang diri dari sakitnya maut yang menghampirinya. Sebagaimana saat ia dilahirkan ke dunia telah menjadi yatim dengan ibu yang tak menginginkan kehadirannya.
****
Jefri berjalan tergesa-gesa menuju koridor tempat kamar Aldrin di rawat. Tak jauh dari tempatnya berjalan, ia melihat sebuah brangkar keluar dari kamar Aldrin. Di atas brangkar itu tergeletak tubuh seseorang yang telah diselimuti kain dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Aldrin ...."
Jefri menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya terbelalak tajam, tetapi mulai berkaca-kaca. Ia langsung berlari ke arah perawat yang membawa jasad Aldrin. Sementara, Naufal ikut keluar dari ruangan itu dengan mata memerah. Ia menoleh ke samping dan melihat Jefri berlari mengejar perawat-perawat tersebut.
Naufal langsung menghadangnya. "Paman ... biarkan Aldrin pergi ... agar dia tidak merasa sakit lagi," ucap Naufal sambil sekuat tenaga menahan air mata. Namun, percuma! Air mata itu telah jatuh duluan tanpa permisi.
Jefri mendorong tubuh Naufal yang menghadangnya. Ia bersikap keras kepala dengan tetap mengejar para perawat. Ia mendorong salah satu perawat pria yang mencoba menghalanginya. Lalu mendekati jasad anak yang telah bersamanya sejak lahir.
Jefri telah mengetahui kematian Aldrin lewat sambungan telepon dari Naufal. Hanya saja, ia ingin benar-benar memastikan kepergiaan Aldrin dengan mata telanjangnya sendiri.
Jefri membuka kain penutup tersebut dengan tangan yang bergetar hebat dan jantung yang berdebar kencang. Kini di hadapannya terpampang jelas wajah Aldrin yang telah terbujur kaku tak bernyawa.
Jefri menutup matanya dalam-dalam sambil tertunduk. Tangisnya pecah seketika.
"Aldrin, ayo bangun! Bilang pada mereka kamu hanya tertidur. Ayo bangun! Buka matamu dan bangun!" ucapnya setengah berteriak sambil terisak.
Ia meraung tanpa memedulikan orang-orang sekitar sambil menggoyang-goyangkan jasad Aldrin. Memaksanya untuk bangun. Namun, sia-sia! Sekeras apa pun ia membangunkan anaknya, tak akan membuat arwah Aldrin kembali.
Perawat pria kembali menarik tubuh Jefri agar menjauh dari jasad Aldrin. Namun lagi-lagi Jefri mendorong perawat tersebut dan kembali menghampiri Aldrin. Ia memeluk tubuh Aldrin yang telah menjadi mayat. Suara tangisannya begitu menggema di sepanjang koridor.
"Maaf Tuan, kami harus segera membawa jasad ini ke ruang operasi untuk pencangkokan organ tubuhnya, sesuai wasiat pasien," ucap perawat wanita yang bertugas mendorong brankar.
Jefri terdiam dalam kebisuan meskipun air matanya masih mengucur deras. Dengan perlahan, ia melangkah mundur menjauhi jasad Aldrin. Kakinya terus mundur hingga tubuhnya terbentur ke tembok. Ia menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Lalu kembali terisak sambil menghadapkan tubuhnya ke dinding tembok. Tangan kanannya memukul-mukul dinding.
Naufal menatap iba ke arah Jefri. Ia mengusap kedua matanya yang basah karena guyuran air matanya sendiri. Ketika memalingkan tubuhnya, wajahnya menjadi kaku seketika. Ia seolah berhenti napas saat melihat Amaira berdiri dengan wajah terkejut dan air mata yang mengalir bak aliran sungai.
Mata Naufal tertuju ke lantai. Foto-foto pernikahan Aldrin dan Amaira jatuh berserakan.
Sungguh! Detik itu juga ia ingin menghampiri perempuan itu dan menghapus air matanya. Sungguh! Detik itu juga ia ingin memeluk dan merebahkan kepala wanita itu ke dadanya seperti yang pernah ia lakukan. Sayangnya, tak dapat ia lakukan. Kakinya seakan tertancap kuat di tempatnya berpijak. Tubuhnya seakan kaku dan mati rasa. Selangkah pun tak dapat ia gerakkan. Pada akhirnya ia hanya dapat menyaksikan wanita itu menangis di hadapannya.
Sementara itu, di ruangan lain tepatnya tempat ibu Bryan dirawat. Seorang dokter mengabarkan jika operasi transplantasi hati akan segera dilaksanakan. Dokter tersebut memberitahukan jika pasien yang bersedia mendonorkan hatinya telah meninggal dunia. Keluarga besar Bryan tampak bahagia mendengarnya, tak terkecuali Bryan yang juga amat senang mengetahui jika sebentar lagi ibunya akan mendapatkan hati yang baru dan nyawa ibunya dapat terselamatkan.
"Mengenai masalah itu, bukan wewenang kami, lagi pula saat ini keluarga pendonor sedang berduka," jawab dokter.
Bryan menyaksikan ibunya yang terbaring lemah didorong keluar ruangan menuju ruang operasi yang begitu dingin. Dalam hatinya terus berucap syukur pada Tuhan karena sekian lama menunggu, akhirnya ada yang bersedia mendonorkan hati untuk ibunya.
Bryan berjalan mengikuti perawat yang membawa ibunya. Namun, langkahnya terhenti sesaat ketika berada di persimpangan koridor. Ia menoleh ke sebelah kiri koridor, yang mana itu adalah arah menuju ruang rawat Aldrin. Entah kenapa, ia memilih singgah ke ruang rawat Aldrin sekadar menengoknya dan berbagi kebahagiaan.
Saat kakinya tepat berada di pintu kamar Aldrin, suara serak pria memanggilnya. Bryan menoleh ke sumber suara tersebut dan matanya menangkap sosok Naufal yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan suram. Bryan terheran melihat mata Naufal yang merah dan membengkak.
Naufal berjalan menghampiri Bryan. "Bryan, Aldrin ...." Suara Naufal terdengar berat. Ia bahkan tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Bryan merasakan ada yang salah dengan ekspresi Naufal. Matanya menilik tajam dan jantungnya berdebar was-was.
"Ada apa dengan Aldrin?"
"Aldrin tidak ada dalam ruangan itu," ucap Naufal sambil menunduk.
"Apa dia pindah ruangan?" Bryan masih bersikap biasa meskipun ada firasat yang mengganjal di hatinya saat melihat mimik wajah Naufal.
"Dia di ruang operasi," ujar Naufal masih tertunduk dalam agar air matanya yang menetes tak terlihat.
Bryan menghela napas kasar. "Oh, iya, gue lupa hari ini jadwal operasinya!"
"Bukan operasi itu ...." Naufal menggeleng-gelengkan kepala.
Bryan memicingkan matanya seolah meminta penjelasan lebih karena Naufal terus menjelaskan terpotong-potong.
"Bryan ...." Naufal memberanikan diri menatap mata Bryan sambil melanjutkan kembali ucapannya, "saudaramu telah mendonorkan hatinya untuk ibumu."
Bryan terperangah. Matanya mengerjap kaget. Ia menarik pakaian Naufal dengan kedua tangannya hingga tubuh Naufal tertarik ke arahnya, "Apa maksud lo? Siapa yang mendonorkan hati untuk nyokap gue?!" teriak Bryan dengan rasa penasaran yang tidak bisa ditoleransi.
Kedua mata lelaki itu saling bertemu dengan jarak sepersekian sentimeter. Tangan kanan Naufal menyelusup kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Ia menyodorkan ponselnya ke Bryan sambil berkata, "Dengarlah rekaman ini! Dibuat spesial untukmu."
.
.
.
.
.