
"Sudah boleh mulai!" MC berkata sekali lagi karena Zaki tak kunjung bergerak. Zaki lalu berjalan menuju panggungnya dan ia memosisikan diri duduk di depan piano.
Sebuah lagu mulai mengalun indah dari jari-jemari Zaki. Aldrin dan Maria mulai berdansa. Tangan kanan Maria terasa hangat dalam genggaman Aldrin, sementara tangan kirinya ia letakkan di pundak Aldrin. Aldrin memeluk pinggul seksi milik Maria. Meskipun Maria menggunakan sepatu dengan Hak yang tinggi, ia masih perlu mendongak untuk menatap mata indah dan senyum menawan milik lelaki yang berada di hadapannya.
Dua pasang mata itu saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Saat kedua bola mata Maria bertemu dengan iris Aldrin, ada rasa berbeda yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa yang sulit untuk diungkapkan.
Ia pernah terkesima melihat wajah tampan Aldrin saat mereka tak sengaja bermalam di dalam kamar hotel, dan anehnya perasaan itu kembali ada saat ini. Namun, yang membuatnya heran, ia bukan hanya terpesona. Ada perasaan menggigil menjalar ke seluruh tubuhnya disertai debaran jantung yang tak terkendali.
Ada apa ini? Apakah ia begitu takjub melihat senyum menawan dari lelaki yang usianya dua tahun lebih muda darinya?
Perasaan berkecamuk muncul di hati Maria. Ia sendiri merasa heran kenapa jantungnya bisa berdebar-debar hanya karena berpandangan dengan seseorang yang lebih cocok menjadi adiknya itu.
Sepintas, Aldrin menoleh ke arah Zaki yang masih memainkan piano. Dua lelaki itu kembali saling menatap dingin. Aldrin melempar senyum mengejek ke arah Zaki, ia memang sangat suka memprovokasi kakak tirinya.
"Kok aku jadi khawatir sama kamu setelah acara ini," ucap Aldrin di sela-sela dansanya seraya melirik ke arah Zaki.
"Maksud kamu?" Maria mengernyit bingung.
"Pacarmu jadi enggak konsen, tuh!" ucap Aldrin yang tanpa sadar jika Amaira sedari tadi menatapnya berdansa dengan Maria.
Tatapan Maria masih saja tertancap pada Aldrin. Ia semakin pasrah ketika lelaki itu menariknya dalam pelukan. Mereka terlihat seperti benar-benar sepasang kekasih. Kini, beberapa pasangan lainnya ikut berdansa bersama mereka.
Tidak jauh dari mereka, Amaira masih terus melihat Aldrin berdansa dengan gadis bergaun merah maroon itu. Dadanya terasa sesak melihat kekasihnya berdansa dengan wanita lain, apalagi Maria saat ini memakai gaun yang cukup seksi dan mengekspos belahan dadanya. Ia dapat membaca mimik wajah Maria yang tak henti menatap Aldrin.
Naufal menyadari mata Amaira yang tak lepas dari Aldrin. Kedua tangan gadis itu meremas kecil gaunnya. Naufal bisa merasakan jika saat ini Amaira sedang dilanda kecemburuan.
"Amaira, ayo kita berdansa!" Ajakan itu tiba-tiba keluar dari mulut Naufal. Ia mengulurkan tangannya hingga membuat Amaira tersentak.
"Aku ... aku enggak tahu berdansa," tolak Amaira secara halus.
"Tidak masalah. Nanti aku ajar. Kalau Aldrin bisa berdansa dengan kak Maria, seharusnya enggak jadi masalah dong kalau kita berdua juga berdansa. Iya, enggak?" Naufal kembali mengajaknya sekali lagi.
Untuk kedua kalinya, mata Amaira melirik ke arah Aldrin yang larut dalam tarian dansanya bersama Maria, seolah lupa akan kehadirannya. Dengan ragu-ragu, gadis itu menyambut tangan Naufal. Mereka pun maju turut bergabung.
Amaira dan Naufal mulai berdansa. Naufal membimbing kedua tangan Amaira melingkari lehernya, sementara kedua tangan Naufal memegang pinggul Amaira. Keduanya terlihat begitu kaku dan canggung. Namun, cowok berkacamata itu berusaha menepis rasa canggungnya dan mulai menikmati tariannya. Matanya menatap wajah lembut gadis pemalu yang telah ia sukai sejak kehadirannya di sekolah.
Amaira, biarkan malam ini aku berperan sebagai kekasihmu.
Lantai dansa menjadi kian memanas saat Zaki mengganti lagu dengan tempo yang cepat. Aldrin tidak lagi konsen dengan tariannya, matanya tak bisa lepas dari Amaira dan Naufal yang tampak serasi. Sesekali, Naufal dan Amaira terlihat seperti sedang berbincang-bincang kecil disela-sela tarian mereka. Bahkan, gadis itu tampak tertawa kecil saat mendengar Naufal bercerita. Dan semua itu tertangkap oleh mata Aldrin.
Pertunjukan dansa telah selesai, Aldrin terburu-buru melepaskan diri dari Maria menuju Naufal yang juga telah berpisah dari Amaira. Sementara, Zaki langsung menuju Maria dan menarik kekasihnya itu menyepi.
"Kenapa kamu kayak menikmati dansamu sama anak itu? Apa kamu enggak tahu, aku enggak suka banget sama dia!"
"Zaki, kamu terlalu berlebihan, deh. Aku cum bersikap profesional sebagai teman dansanya. Lagian kalian kakak beradik, terus kenapa saling membenci?"
"Aku kasih tahu, ya, Adikku cuma satu yaitu, Naufal!" Zaki langsung pergi begitu saja.
Aldrin mendatangi Naufal yang berdiri sendiri. "Kenapa kamu ngajak Amaira berdansa? Kamu lupa, ya, kalau Amaira itu pacarku?" tanya Aldrin dengan sorot mata tajam. Ia bisa merasakan emosi sedang menguasainya saat ini.
"Kenapa? Kamu juga berdansa dengan kak Maria pacar kak Zaki, 'kan?" balas Naufal santai.
"Kamu tahu sendiri, kan, aku berdansa sama dia karena aku—" Belum sempat Aldrin meneruskan ucapannya, Naufal langsung memotong, "Kamu punya mulut untuk menolak! Kalau aku jadi kamu, aku enggak akan biarkan pacarku seperti orang bodoh melihat aku bareng cewek lain!"
Kata-kata Naufal yang begitu menohok mampu membungkam Aldrin. Lelaki itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tersadar, saat berdansa dengan Maria dirinya hanya fokus pada reaksi Zaki, tapi lupa jika kekasihnya juga ada di sana.
Malam itu menjadi malam yang tidak menyenangkan bagi Zaki, Amaira dan juga Aldrin. Zaki menahan amarah karena harus mengiringi lagu saat kekasihnya berdansa dengan adik tirinya. Amaira harus merelakan kekasihnya berdansa dengan gadis lain, dan Aldrin tidak terima saat melihat Amaira berdansa dengan saudaranya yang juga menyukai kekasihnya itu.
Acara pesta telah bubar, malam itu Maria kembali ke apartemennya. Ia duduk di meja riasnya membuka anting-anting yang terpasang di telinganya. Tiba-tiba ia kembali teringat saat dirinya dan Aldrin berdansa. Wajahnya, senyumnya, genggaman tangannya, pelukannya semua terbayang kembali. Seketika, ia tersadar dari lamunannya.
Kenapa wajahnya tak bisa lepas dari pikiranku? Aku cuma sekedar mengaguminya, kan?
.
.
.
.
.