
Sore hari, Jefri dan Ardhilla melakukan syuting live di salah satu stasiun televisi untuk acara talkshow yang mana mereka menjadi narasumber acara tersebut. Acara itu selalu menampilkan tayangan inspiratif yang mengundang tokoh-tokoh sukses. Jefri di undang sebagai narasumber karena media menyoroti dirinya yang dulu hanya seorang TKI, tapi bisa menjadi bagian keluarga Hussein Alfath, yaitu salah satu miliarder asal Dubai.
Host mulai melontarkan beberapa pertanyaan ke Jefri terlebih dahulu.
"Saya dengar Anda dulunya hanyalah seorang TKI yang bekerja di Dubai?"
"Ya, itu benar. Saya hanyalah TKI di Dubai yang bekerja sebagai penjaga anak Tuan Hussein Alfath."
"Lalu, kenapa Anda bisa menjadi anak Tuan Hussein Alfath? Bisakah Anda ceritakan sekilas perjalanan hidup Anda saat itu?"
"Itu semua karena sebuah kepercayaan dan keberuntungan. Kepercayaan membuat beliau mengangkatku sebagai anaknya dan keberuntungan membawaku seperti ini. Saya menjaga anaknya yang sakit selama bertahun-tahun dan aku diangkat menjadi anak Tuan Hussein setelah anaknya meninggal."
"Apa yang membuat Anda ingin membuka sebuah yayasan untuk anak-anak jalanan?"
"Karena saya pernah berada diposisi mereka. Saya anak panti asuhan dan menghabiskan sebagian besar hidupku di jalanan. Saya tahu bagaimana berada diposisi mereka. Tidak ada satupun dari kita yang ingin hidup terlontang-lantung. Bukankah seharusnya, mereka berada dibawah perlindungan negara? Sesuai dengan Pasal 34 ayat 1 yang berbunyi Fakir miskin dan terlantar di pelihara oleh negara."
Ardhilla menyimak setiap jawaban yang Jefri lontarkan. Ia begitu takjub karena Jefri begitu tenang dan elegan menjawab setiap pertanyaan pembawa acara dan wawasan Pria itu begitu luas.
"Lalu kenapa Anda memilih artis Ardhilla sebagai Brand Ambassador dan juga bagian dari pengurus yayasan nanti?"
"Karena saya mengenalnya jauh sebelum aku menjadi seperti saat ini, dan jauh sebelum dia menikah dengan pemilik Adam Grup."
Jawaban Jefri membuat Host acara terkejut dan begitu tertarik untuk mengupas lebih dalam. Sementara Ardhilla nampak cemas dan tak mengerti kenapa Jefri menjawab seperti itu. Bukankah ia dan Jefri harus merahasiakan hubungan masa lampau keduanya?
"Ini sangat menarik. Itu artinya kalian telah saling mengenal terlebih dahulu, 'kan? Bukankah sebelum Anda bertolak ke Dubai, Anda hanyalah seorang pengamen sementara Ardhilla sudah menjadi artis pada masa itu?"
Jefri menatap Ardhilla yang mulai gugup, senyum samar terpancar di wajah pria itu.
"Iya. Dulunya aku memang hanya seorang pengamen dan dia adalah artis yang sedang naik daun. Waktu itu aku sangat mengidolakannya dan sempat bertemu dengannya beberapa kali," ucap Jefri dengan tetap menatap Ardhilla.
Ardhilla sedikit lega mendengar jawaban Jefri. Setidaknya Jefri masih menyelamatkan ia dari masa lalu yang tidak diketahui siapapun selain ia dan juga pria itu.
"Oh ... ternyata Anda seorang fansnya. Dan tidak disangka beberapa tahun kemudian seorang fans mengontrak idolanya untuk brand ambassador perusahaannya. Ini sangat menarik sekali pemirsa!" kata Host menyimpulkan jawaban Jefri sambil menepuk tangan.
Pertanyaan berikutnya beralih pada Ardhilla, "Menurut Anda, bagaimana sosok seorang Tuan Yussef Alfath? "
Ardhilla tersenyum, pandangannya beralih ke Jefri. "Dia adalah sosok pria yang bertanggung jawab penuh kasih dan juga penyayang. Itu bisa ditunjukkan dengan dia begitu peduli pada anak-anak jalanan di Jakarta."
Ardhilla dan Jefri kembali saling bertatapan. Mereka seperti sedang bermain peran.
**
Di sisi lain, Aldrin datang ke rumah Amaira.
"Selamat malam, Bibi. Ada Amaira?" sapa Aldrin pada Ibu Amaira yang sedang menjahit di depan televisi.
Amaira langsung keluar dari lantai atas saat mendengar suara Aldrin.
"Al ... kenapa kau di sini? Bukannya kau ke Singapura?" Amaira terkejut.
"Tidak jadi." Aldrin tersenyum dan melanjutkan ucapannya, " Ayo ... kita jalan-jalan! Kita habiskan akhir liburan bersama."
Amaira tersenyum senang. Ia mengangguk cepat. "Kalau begitu tunggu aku! aku akan bersiap-siap." Gadis itu berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara Aldrin memerhatikan Ibu Amaira yang tengah sibuk memasukkan benang ke dalam jarum kecil.
"Mataku sudah kabur. Begini saja sudah tidak bisa lihat." Ibu Amaira bergumam sendiri. Dia lalu pergi untuk mengambil kacamata di kamarnya.
Ibu Amaira kembali sambil membawa kacamatanya. Ia terkejut saat melihat Aldrin sedang menjahit celana Ayah Amaira yang robek.
"Waktu kecil aku sangat aktif sehingga pakaianku banyak yang robek. Ayahku sering mengeluh karena harus menjahit pakaianku setiap hari. Jadi, aku belajar menjahit sendiri," tutur Aldrin.
Ibu Amaira tersenyum mendengar cerita Aldrin. "Tunggulah di sini! Aku akan mengambil pudding untukmu," sahut Ibu Amaira yang langsung berjalan menuju dapur.
Aldrin duduk di depan televisi. Ia melihat ke layar televisi yang menayangkan sebuah talkshow dan menampilkan ibunya sedang berbicara.
"Dia adalah sosok pria yang bertanggung jawab penuh kasih dan juga penyayang. Itu bisa ditunjukkan dengan dia begitu peduli pada anak-anak jalanan di Jakarta," ucap Ardhilla menjawab pertanyaan Host. Wajahnya disorot full oleh kamera sehingga hanya menampilkan dirinya di layar televisi.
Aldrin menatap wajah ibunya di telivisi. Dia langsung mengambil remot dan segera mengganti channel siaran. "Kenapa aku harus melihat wajahnya di rumah Amaira!"
Tak lama kemudian, Ibu Amaira datang membawa sepiring pudding coklat dan juga segelas sirup untuk Aldrin.
"Makanlah dulu!" kata Ibu Amaira sambil menyodorkan piring itu ke Aldrin.
"Terima kasih, Bibi," sahut Aldrin.
Aldrin langsung melahap pudding cokelat buatan Ibu Amaira. Dia terlihat sangat menikmati dessert yang diberikan padanya. Ibu Amaira tersenyum melihat Aldrin yang begitu lahap memakan pudding buatannya. Namun, sesaat ia berhenti menyendokkan pudding itu ke mulutnya.
"Kenapa?" tanya Ibu itu saat melihat ekpresi sedih di wajah Aldrin.
"Bibi, pudding buatanmu sangat lezat. Aku hanya berpikir, apakah semua masakan seorang ibu akan terasa lezat di lidah anaknya? "
Ibu Amaira tersenyum mendengar pertanyaan polos Aldrin. "Tentu. Setiap anak akan menganggap Ibu mereka adalah koki terbaik. Kau pasti juga menganggap masakan Ibumu masakan terenak di dunia."
Aldrin menyunggingkan senyum. "Ibuku tidak pernah memasak. Itu akan menghancurkan kuku tangannya."
"Ah ... aku lupa ibumu seorang Artis. Tentu tidak punya waktu untuk memasak."
Ibu Amaira bergeming menatap Aldrin yang menyondokkan suapan terakhir pudding yang ada di piringnya. Ibu itu kembali ke dapur, mengambil sebuah pirex kaca yang berisi lebih banyak pudding.
"Ayo makan lagi puddingnya. Habiskan semaumu!" sahut ibu itu sambil kembali memotong pudding untuk Aldrin.
"Terima kasih banyak, Bibi. Jika aku menikah dengan Amaira nanti, aku akan menghabiskan setiap makanan yang bibi masak," ucap Aldrin tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi.
Ibu Amaira hanya bisa tersenyum simpul mendengar ucapan Aldrin. Pandangannya beralih ke layar televisi.
"Kenapa siarannya telah terganti? Bukannya tadi aku sedang menonton kisah seorang TKI di Dubai yang menjadi Millyarder," tutur Ibu Amaira heran.
"TKI Dubai?" Aldrin terkejut sesaat.
Ibu Amaira mengangguk sambil mengambil remot dan kembali menekan tombol ke siaran sebelumnya .
.
.
.
bersambung...
jangan lupa like dan komennnya