Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 114 : Kepingan Sedih



Aldrin menginjakkan kakinya di atas puing-puing bangunan yang telah dihancurkan oleh alat berat. Tak ada satupun bangunan yang berdiri tegak. Semua telah rata dengan tanah.


Aldrin menarik salah satu petugas yang lewat. "Apa yang terjadi? Kenapa tempat ini menjadi seperti ini?" tanyanya dengan suara yang bergetar hebat.


"Kau tidak tahu? Lahan ini digusur sejak lima hari yang lalu. Ini lahan pemerintah yang telah dilelang dan diambil alih oleh pengusaha asal Dubai," ucap petugas sambil hendak pergi.


Aldrin terperangah seketika, matanya membesar seolah tak percaya dengan kata yang masuk ke telinganya. Bola mata yang begitu hitam berkeliling melihat lokasi yang dulunya kumuh sekarang telah hilang dari pandangan matanya. Ia kembali menarik tangan petugas itu.


"Di mana rumahku? Di mana?!" teriak Aldrin dengan penuh emosi.


Petugas itu menatap Aldrin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Apakah anak ini sedang mabuk? Dari penampilannya ia terlihat seperti orang kaya. Kenapa dia datang ke sini dan bertanya di mana rumahnya?


Petugas itu memandang aneh wajah Aldrin yang begitu panik dengan air mata yang mulai menitik di pelupuk matanya.


"Mana ku tahu di mana rumahmu!" jawabnya ketus.


Orang itu hendak melangkah tapi ditahan kembali oleh Aldrin. "Kenapa kalian tidak memberi tahu jika akan ada penggusuran lahan?"


"Hei, memangnya kau baru keluar dari Goa? Penggusuran lahan sudah diperbincangkan berbulan-bulan lamanya dan mulai di eksekusi lima hari yang lalu. Awalnya banyak yang tidak terima dan memilih bertahan, tapi saat mereka mengetahui uang ganti rugi yang diberikan kepada mereka besar dan ditambah lagi mereka mendapatkan rumah susun secara gratis, akhirnya mereka dengan rela meninggalkan tempat ini." Petugas itu menjelaskan panjang lebar agar Aldrin paham.


Namun, sepanjang apapun petugas itu menjelaskan tak akan membuatnya paham, tak akan membuatnya puas dengan segudang pertanyaan yang bersarang di otaknya saat ini. Juga tak dapat membuat ia menerima semua ini. Ia menahan pria berseragam itu untuk kesekian kalinya. Tampaknya, petugas itu kehilangan kesabaran menghadapinya.


"Ada apa lagi? Kau benar-benar mengganggu pekerjaanku!" ucapnya sambil menolak tubuh Aldrin yang berusaha menghadangnya.


Aldrin jatuh tersungkur di atas tanah reruntuhan. Tangannya terkena guratan atap seng bekas. Ia menatap telapak tangannya yang mengeluarkan darah akibat goresan seng berkarat. Namun, ia tak begitu mempedulikan itu semua. Pemuda itu segera bangkit berdiri.


Aldrin menatap kosong puing-puing di sekitarnya dengan rasa tak percaya. Ia melangkah, menjajakkan kaki mencari rumahnya. Tempat di mana masa kecilnya ia habiskan di sana. Tempat satu-satunya peninggalan Ayah angkatnya! Di mana rumah itu sekarang? Di mana bekas puingan rumahnya? Ia tak bisa mengenali identitas rumahnya karena semua telah rata. Gubuk tua itu telah hilang disapu oleh alat berat.


**


Senja telah siap menjemput malam. Di bawah langit sore yang mulai menghias menjadi kemerah-merahan, Aldrin masih berada di hamparan lahan yang habis di porak-porandakan alat besar. Ia berjalan menelusuri setiap puingan. Kelelahan terpancar lewat gerak jalannya yang semakin tak terkendali.


Angin bertiup mesrah begitu dingin menerpa kulit tubuhnya. Seakan tak peduli dengan langit yang telah berganti malam, Aldrin tetap berlutut di atas tanah yang penuh dengan bangunan hancur. Tangannya tak lelah mengais puingan yang berserakah di tanah luas, berharap dapat menemukan tanda pengenal rumahnya yang telah hancur.


Aku harus menemukan rumahku. Aku harus menemukan kenangan aku dan ayahku. Baju bayiku dan baju ayahku masih tersimpan di lemari tua itu. Tolong, setidaknya biarlah aku menemukan satu helai saja untuk sebagai peninggalan ayahku ....


Satu per satu petugas telah meninggalkan lahan itu untuk beristirahat. Kini, hanya dia seorang yang berdiri di atas tanah itu. Malam yang hadir memberi kegelapan yang menambah sunyi. Hembusan angin menambah kesenduan yang bukan hanya menerba kulit tapi juga hati yang kembali tersayat.


Aldrin belum lelah berjuang. Namun, tubuhnya telah menolak kondisi hawa dingin yang semakin menjadi. Seketika ia memeluk dirinya sendiri di tengah kepiluan hatinya. Dia butuh kehangatan! Dia harus pulang!


***


Jam hias yang terletak di ruang tamu kediaman Tuan Adam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tuan Adam dan Ardhilla masih menjamu tamu mereka yang merupakan para konglomerat Ibukota. Tamu-tamu kehormatan itu mulai pamit untuk pulang setelah puas mengobrol bersama Tuan rumah. Tuan Adam dan Ardhilla mengantar mereka sampai ke depan teras rumah mereka sebagai bentuk penghormatan.


Bersamaan dengan itu, Sebuah motor besar masuk ke dalam rumah itu. Aldrin turun dari motor kesayangannya dan berjalan menuju rumah dengan gerakan tubuh yang sempoyongan. Semua tamu Tuan Adam terfokus pada Aldrin yang baru tiba.


"Bukankah itu anakmu yang semalam datang ke acara bersamamu?" tanya salah satu tamunya pada Tuan Adam.


Tuan Adam tak menjawab. Ia malah mengamati Aldrin yang berjalan oleng dengan wajah memerah dan mata berair. Namun, yang membuat wajah pria tua berkacamata itu menjadi geram adalah saat melihat tangan Aldrin memegang sebuah botol minuman keras. Ya, anak itu sedang mabuk!


Ardhilla tak kalah terkejut saat menyadari Aldrin yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka sedang mabuk berat. Wanita itu buru-buru menghampirinya. Bermaksud mengambil botol minuman keras yang ia pegang agar tak terlihat oleh tamu. Namun, saat ia mendekat ke Aldrin, anak itu malah muntah berkali-kali di depan mata Tuan Adam dan para tamunya. Tamu-tamu nampak terkejut.


Sebenarnya bukan hal biasa bagi mereka jika anak metropolitan kerab mabuk-mabukkan. Hanya saja mereka mengenal Tuan Adam adalah sosok Ayah yang menjunjung tinggi norma-norma. Hal itu bisa dilihat oleh kedua anaknya yang betul-betul tak pernah menyentuh dunia malam.


Ardhilla langsung memanggil pelayan rumahnya agar segera membawa Aldrin masuk ke dalam kamar. Wanita itu nampak panik dan diam-diam melirik ke arah suaminya yang bergeming namun wajahnya terpampang raut amarah dan kekecewaan yang mendalam. Ini pertama kalinya di depan mata lelaki tua itu sendiri, ia melihat Aldrin mabuk berat, dan parahnya saat ia sedang menerima tamu. Bukankah sudah selayaknya ia benar-benar marah kali ini?


'Matilah aku! Kenapa anak itu terlahir bodoh begitu!' gumam Ardhilla sambil menahan napasnya.


Seketika Ardhilla menjadi khawatir jika suaminya akan berubah pikiran lagi. Apalagi ia tahu akhir-akhir ini Aldrin telah melakukan hal-hal yang membuat suaminya bangga. Namun, kejadian tadi tentu saja menghancurkan segalanya.


.


.


.


bersambung...


jangan lupa like dan komennya 😊