
Maria ragu menerima panggilan itu, tetapi ponselnya terus berdering. Ia menarik napasnya sesaat, sebelum mengangkat telepon Zaki.
"Ha–halo," ucap Maria dengan gugup.
"Lagi di mana?" tanya Zaki dari saluran telepon.
"Aku di kantor manajement."
"Oke, tunggu di situ! Aku jemput, ya? Kita makan siang bareng."
Zaki menutup pembicaraan. Maria menghela napas panjang. Sepertinya Zaki belum mengetahui apa pun tentang skandalnya hari ini yang mencuat di sosial media. Untuk sementara ia merasa lega, tetapi bukan berarti Zaki tidak akan mengetahuinya, bukan?
Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu sambil berkata, "Di luar banyak wartawan. Kayaknya mereka cari kamu, Maria. Temui aja dulu, lakukan klarifikasi."
"Jangan! Biarkan saja! Jangan buka mulut! Biar berita ini makin besar, ini juga akan menguntungkan kau dan sinetron terbarumu," cegat sang manajer pada Maria.
"Menurutku, kita hanya perlu menggiring opini publik jika pria yang ada di video itu adalah lawan main Maria di sinetron terbarunya. Buatlah seakan-akan mereka sedang cinta lokasi," ucap salah satu dari mereka yang ada di ruangan.
"Ya, Itu ide bagus. Di negeri kita, skandal seperti ini akan membuat popularitas artis makin melambung. Wartawan akan terus mengupas beritamu selama sepekan. Para netizen akan terus mencari tahu dan ujung-ujungnya mereka akan penasaran dengan sinetron yang kau bintangi," terang sang manajer yang duduk sambil menyilangkan satu kaki.
Maria tak dapat berkata apa-apa. Pikirannya sedang kosong. Mungkin saja benar jika beredarnya video itu akan menguntungkan karir Maria sendiri. Mengingat artis yang menjual sensasi akan lebih populer. Namun, ia tak memedulikan hal itu. Ada masalah besar yang lebih ia pedulikan untuk sekarang.
Saat ini, ia lebih khawatir jika Zaki mengetahui tentang video tersebut. Ia sangat mengenal karakter Zaki yang pencemburu. Pria itu tak pernah mengizinkannya dekat dengan pria manapun sekali pun itu adalah lawan mainnya di sinetron.
Di halaman gedung manajement artis tempat Maria bernaung, Zaki baru turun dari mobil ferrari. Ia berjalan menuju ke dalam gedung. Wartawan yang sedari tadi menunggu di luar untuk mewawancarai Maria, langsung menyerbu Zaki dengan segudang pertanyaan. Seluruh kamera dan microphone mengarah padanya.
"Apa tanggapan Mas Zaki tentang video yang beredar?" tanya salah satu wartawan.
"Maaf video apa, ya? Saya kurang paham." Zaki mengerutkan dahinya.
Salah satu wartawan menunjukkan video itu pada Zaki. Sontak, kekasih Maria itu terperanjat melihat video berdurasi pendek yang menampilkan adegan berciuman. Dalam video itu, sangat jelas menampakkan wajah Maria. Sayangnya, sosok lelaki yang ada di video itu tidak terlihat sama sekali. Hanya sebuah jaket merah bertulisan XOXO yang menjadi identitas lelaki tersebut.
"Oh, ini hanya adegan film yang gagal tayang. Tidak perlu di besar-besarkan. Aku masuk dulu," ucap Zaki yang langsung pergi dari kerumunan wartawan. Ia punya kemampuan berpikir cepat, itulah kenapa ia selalu bisa mengatasi masalah dengan cepat.
Zaki mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "DM smua akun yang ngeposting video Maria, suruh mereka cepat hapus kalau tidak mau dituntut!
Zaki bertemu Maria di lantai bawah. Ketika Maria hendak memeluknya, Zaki langsung mencegahnya. Maria dapat melihat tatapan Zaki yang begitu dingin hingga membuatnya takut dan raut wajahnya pun menegang seketika. Apa mungkin Zaki telah mengetahuinya?
"Apa yang kau lakukan di bar saat itu?" tanya Zaki dengan sorot mata tajam.
"Aku ... aku hanya minum. Lalu aku mabuk berat dan seorang pria menghampiriku. Setelah itu aku tidak mengingat apa pun," jawabnya gugup dan penuh kehati-hatian.
"Aku, kan, sudah sering bilang padamu, kamu tidak boleh pergi ke kelab malam, apalagi sampai mabuk-mabukan!" Zaki berusaha mengontrol suaranya agar tak terdengar orang-orang.
Maria menunduk. "Maaf ...," ucapnya pelan karena telah mengabaikan nasihat Zaki. Berkali-kali pria itu melarangnya untuk menjauhi dunia malam, tetapi tak diindahkan olehnya. Ya, kehidupan selebritis sangat erat dengan dunia malam.
Zaki menatap Maria yang masih menunduk. Bahkan saat ini wanita itu merasa malu untuk menatap kekasihnya sendiri.
Zaki mendengus. Ia mengusap rambutnya ke belakang, memijat pelipisnya sambil berkata, "Kita tidak perlu makan siang. Aku akan menyelesaikan masalah videomu itu."
Setelah berkata, Zaki langsung berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Maria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amaira menghampiri Aldrin di tempat parkir. Ia menyerahkan jaket yang Aldrin pakaikan padanya kemarin.
"Ini jaketmu, sudah kucuci. Terima kasih."
Aldrin mengambil jaket itu dari tangan Amaira tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia bingung harus mengatakan apa. Jujur, ia senang karena ini pertama kalinya Amaira berbicara langsung padanya. Sayangnya, dia hanya mampu menatap kepergian gadis itu dengan tatapan sayup.
Aldrin memakai jaket merah itu ke badannya. Ia menyalakan sepuntung rokok lalu menaiki motor sport-nya bersiap-siap pulang. Namun, tiba-tiba dia melihat pantulan bayangan Zaki lewat spion motornya. Aldrin sontak menoleh ke belakang, dan benar saja ia melihat Zaki berdiri di sana.
Zaki mengamati jaket yang dikenakan Aldrin. Di belakang jaket itu tertulis XOXO sama persis seperti jaket yang dipakai orang dalam video skandal kekasihnya. Aldrin bersikap tak acuh melihat kehadiran Zaki. Namun, Zaki langsung menghampirinya dengan tatapan dingin.
"Pasti kamu yang nyebarin videonya Maria!" Zaki menarik kerah jaket Aldrin.
"Kau sudah lihat, ya?" Bukannya takut, Aldrin malah tersenyum miring.
"Kenapa kau menyentuh Maria?!" teriak Zaki dengan mata yang melotot.
"Aku tidak menyentuhnya. Dia datang sendiri kok terus tiba-tiba memelukku. Lalu terjadilah seperti yang dalam video itu," jawab Aldrin dengan santai.
Zaki bergeming. Ia melepaskan tangannya dari kerah jaket Aldrin. Aldrin menghisap batang rokok lalu menaiki motornya. Ia mendekatkan kendaraannya itu ke arah Zaki sambil berkata, "Oh iya, aku tidak marah dicium pacarmu. Terima kasih, ya, sudah berbagi!"
Kalimat yang baru saja Aldrin ucapkan membakar amarahnya. Seperti lava yang menyembur. Darahnya semakin menggelegak.
Aldrin kembali melempar senyuman yang mengejek. Tak hanya itu, ia bahkan meniupkan asap rokoknya di wajah Zaki yang menegang karena menahan luapan emosi. Ia lalu pergi meninggalkan Zaki dengan melajukan motornya.
Zaki menatap kepergian Aldrin. Wajahnya masih menegang. Matanya memancarkan tombak api. Tangannya membentuk tinju hingga kepalan jari-jarinya memutih. Tampaknya kesabaran yang ia miliki telah diambang batas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cuaca hari ini tampak mendung. Ada beberapa rintik air yang turun dari atas langit. Aldrin memacu kendaraannya dengan cepat karena gerimis telah datang. Tiba-tiba, muncul segerombolan geng motor yang mengepungnya. Aldrin menghitung jumlah motor yang menghadangnya. Ada lima motor tapi kelompok itu berjumlah delapan orang.
Aldrin turun dari motornya. Ia berhadapan langsung dengan orang-orang berwajah sangar dan berpenampilan ala preman.
"Ada masalah apa?" tanya Aldrin dengan santai.
Salah satu dari mereka tiba-tiba menyerang Aldrin. Cowok tampan itu jatuh tersungkur. Ia mengusap bibirnya yang berdarah lalu balik memukul mereka. Terjadi perkelahian antara Aldrin dan geng motor itu. Meskipun Aldrin jago berkelahi, tetapi berhadapan dengan delapan orang sekaligus membuatnya kewalahan.
Aldrin terjatuh kembali. Ia langsung diserang kelompok itu beramai-ramai. Mereka memukul, menendang bahkan menginjak-injak tubuhnya. Tanpa ampun. Bahkan, mereka tak memberi kesempatan dirinya untuk melawan.
Tak jauh dari tempat mereka, Zaki menyaksikan adegan itu di dalam mobilnya. Tatapannya sungguh dingin melihat adik tirinya dipukuli hingga berdarah-darah. Tak sedikit pun rasa iba menghampirinya. Yang ada malah luapan api yang berkobar di matanya.
Bumi pun basah oleh rintikan air hujan di sore hari. Zaki lalu mengendarai mobil mewahnya meninggalkan lokasi itu. Hujan semakin deras, mereka mengakhiri serangan dengan memukul kepala Aldrin menggunakan kayu.
Aldrin jatuh ke aspal, ia terkulai lemah tak berdaya. Darah yang bercampur dengan air hujan membuat wajahnya semakin pucat. Ia terbujur di tengah hujan yang deras.