Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 52 : Jefry Telah Meninggal ?



Keesokan harinya di atap gedung sekolah, Aldrin dan Naufal tengah beristirahat di sana.


"Menurutmu, mana yang lebih menyedihkan, di tinggal saat lagi sayang-sayangnya atau sudah sangat dekat, tapi hanya dianggap teman?" tanya Naufal duduk berjongkok di samping Aldrin.


Bukannya menjawab pertanyaan Naufal, Aldrin hanya sibuk memainkan game di ponselnya seolah tak mendengar apa yang dikatakan cowok berkacamata itu.


Menyadari Aldrin yang tak acuh padanya, Naufal pun menepuk pundak Aldrin hingga cowok itu bergidik. "Woi, kamu dengar enggak apa yang aku tanya barusan?"


Aldrin mengalihkan pandangannya untuk menatap Naufal. Sudut bibirnya naik ke atas. "Menurutku dua-duanya bentuk kesialan yang hakiki."


Ucapan yang keluar dari mulutnya disertai tawa yang pecah hingga membuat Naufal kesal.


"Curhat denganmu tidak berguna sama sekali!" dengus Naufal seraya beranjak pergi meninggalkan Aldrin.


Aldrin masih terus tertawa terbahak-bahak, tapi begitu Naufal pergi wajahnya berubah seketika.


"Tawa palsu, cih!" Aldrin mencibir dirinya sendiri.


Aldrin menuju ruang kelas. Terdengar suara speaker sekolah yang memanggil namanya agar segera ke ruang guru. Tampaknya itu suara wali kelasnya lagi. Ia pun berjalan menuju ke ruang guru. Ketika telah tiba di sana, ia langsung duduk berhadapan kembali dengan wali kelas.



"Lihat tugas Fisikamu!" Wali kelas menyodorkan buku tugas Aldrin. Siswa yang telah dikenal guru-guru karena tukang tidur itu hanya diam sambil memajukan bibirnya.


"Kau tidak mengerjakan tugas. Kau hanya menulis kembali soal-soal ini!" ucap wali kelas melototkan matanya dengan intonasi suara yang nyaring.


"Itu karena aku tidak tahu jawabannya. Jadi, aku menulis kembali soalnya!" jawab Aldrin santai. Namun, sedetik kemudian Ia kembali melanjutkan ucapannya, "seharusnya pelajaran ini ganti nama menjadi Fisiksa, karena hanya menyiksa otak saja!"


"Makanya kamu harus mengerti rumus-rumusnya supaya bisa kerjakan soal dengan benar!" ujar wali kelas sambil menepuk meja.


"Untuk apa pelajari rumusnya? Bukannya di kehidupan sehari-hari kita tidak butuh itu? Orang miskin tidak punya sesuatu untuk dihitung, sementara orang kaya menghitung uang mereka dengan bantuan mesin. Kita tidak butuh rumus itu!" balas Aldrin tak mau kalah.


Wali Kelas menghela napas kasar. Seolah sudah kehabisan kata-kata untuk muridnya sendiri. Ia menatap serius ke arah Aldrin yang masih di hadapannya. "Kau selalu punya alasan untuk membenarkan tindakanmu! "


"Aku memang benar!" jawabnya tak mau kalah sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sebelumnya tugas-tugasmu berhasil dikerjakan dengan baik. Tapi akhir-akhir ini semua guru-guru mata pelajaran mengadu padaku, mereka bilang kau mengerjakan tugas dengan asal-asal. Katakan padaku, siapa yang selama ini mengerjakan seluruh tugasmu!" bentak wali kelas seraya kembali memukul meja.


"Naufal," jawab Aldrin singkat.


Wali kelas mendengus. Ia memperbaiki posisi kaca matanya sembari berkata, "Sudah kuduga! Tapi aku tidak menyangka kau sejujur itu mengatakannya!"


"Mau bagaimana lagi? Aku bukan politikus yang pandai berbohong." Kali ini Aldrin melebarkan senyumnya hingga matanya menyipit dan seluruh gigi depannya terlihat.


"Oh, Tuhan! Aku sudah mengabdi menjadi guru selama tiga puluh tahun dan baru dapati karakter siswa sepertimu!" Wali kelas tampak kewalahan menghadapi sifat ngeyel Aldrin.


"Bapak pasti akan terus mengenangku jika aku lulus dari sekolah ini," balas Aldrin dengan tetap melebarkan senyumnya.


"Kau tau cara paling cepat mendekatkan diri ke Tuhan?" tanya Wali kelas mengarahkan jarinya ke wajah Aldrin.


"Hanya butuh satu orang lagi siswa seperti kau, maka aku akan menghadap Tuhan karena kena serangan jantung," ucap Wali Kelas dengan emosi yang meluap-luap.


"Kalau begitu mulai sekarang Bapak harus rutin minum obat jantung," balas Aldrin kembali.


"Cepatlah keluar dari sini! Jika tidak aku benar-benar akan kena serangan jantung!" erang wali kelas berteriak kesal.


Aldrin keluar dari ruang guru sambil bersungut-sungut. Namun, tiba-tiba dia tertegun saat tatapannya tertuju pada Amaira yang berdiri di depan ruang kelas. Dengan cepat, Aldrin memalingkan wajahnya dan berlalu meninggalkan gadis yang telah lama menunggunya.


Ardhilla berjalan menuju ruang kerja suaminya, Tuan Adam. Semua karyawan yang melihatnya begitu terpesona dengan kecantikan dan keanggunannya. Ia bahkan masih pantas disejajarkan dengan artis-artis muda.


Ia telah sampai di depan ruangan presiden direktur, kemudian bertanya pada sekretaris suaminya, "Apakah Presdir ada di dalam?"


"Iya Nyonya, tapi pak Adam sedang menerima tamu penting," jawab sekertaris pribadi Tuan Adam.


"Tamu penting?" Ardhilla memicingkan matanya.


"Iya Nyonya. Dia Detektif swasta profesional."


Ardhilla terdiam sesaat. Ia berpikir keras bertanya-tanya dalam hati untuk apa suaminya memanggil detektif dan jasa apa yang akan ia gunakan pada orang itu.


Ardhilla tersadar dari lamunannya, lalu berkata pada sekretaris, "Boleh tolong ambilkan minuman untukku? Tenggorokanku terasa kering."


"Baik, Nyonya." Sekrertaris itu langsung pergi dari tempat duduknya.


Kesempatan itu tak disia-siakan Ardhilla, wanita itu bergegas menuju pintu ruang presiden direktur. Ketika hendak menguping pembicaraan, tiba-tiba Zaki mengagetkannya dari arah belakang.


"Ibu lagi ngapain di sini?" tanya Zaki heran.


"Ah ... tentu saja aku datang mengunjungi Ayahmu dan juga kamu," Ardhilla tersenyum sambil merapikan dasi Zaki.


Di dalam ruangan presiden direktur, terjadi pembicaraan serius antara Tuan Adam dan detektif yang disewanya.


"Saya telah mendapat informasi mengenai orang yang Anda suruh selidiki, dan saya telah mendapatkan jawabannya. Tapi, mungkin ini tidak akan memuaskan Anda, Pak. "


"Katakan saja. Aku butuh informasi keberadaan orang itu."


"Saya telah menyelidiki orang ini selama tiga bulan terakhir. Benar, dia pernah menjadi supir truk di salah satu perusahaan Dubai. Dia juga pernah bekerja sebagai supir pribadi Mohammed Thariq, salah satu konglomerat di Dubai. Ia bekerja di sana selama tiga tahun. "


"Lalu?"


"Setelah itu dia terdaftar sebagai salah satu TKI yang hilang. Saya telah mengecek namanya di BNP2TKI dan KEDUBES Indonesia di Dubai untuk memastikannya, bahkan saya mengeceknya di kantor kepolisian Dubai. Benar, sudah enam tahun lamanya dia dinyatakan menghilang. "


"Apa maksudmu? Jefry menghilang?" tanya Tuan Adam terkejut. Ia tak bisa memercayai apa yang barusan ia dengar.


"Di lihat dari tahun terakhir dia di sana, hanya ada dua kemungkinan hilangnya orang ini. Pertama, mungkin dia telah mengganti identitasnya. Kedua, mungkin dia telah meninggal," ucap detektif itu dengan penuh keyakinan lalu kembali berkata, "karena dia hanyalah seorang TKI biasa, sangat tidak mungkin dia mengganti identitasnya. Jadi, kemungkinan terbesar dia telah meninggal."