Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 132 : Perceraian



Setelah menunggu di stasiun kereta selama hampir delapan jam, akhirnya Naufal memutuskan untuk pulang.


Selamat tinggal, Er. Terima kasih untuk waktu indah yang kamu berikan padaku selama ini. Semoga kamu menemukan seseorang di luar sana yang tulus mencintaimu.


Naufal berjalan lemah menuju mobilnya. Ini adalah penyesalannya yang paling dalam. Ia tak sempat melihat kepergian Er. Dan juga tak menyadari betapa Er telah mewarnai hidupnya. Bahkan, ia tak bisa membalas cinta yang diberikan Er dengan tulus. Tidak ada yang bisa disalahkan. Er menyukainya, tidaklah salah. Namun, Naufal tak bisa membalas cintanya dan memutuskan untuk menjaga hatinya. Itu adalah haknya.


Jika berbicara masalah hati, tak akan ada yang bisa disalahkan. Sekarang Naufal berusaha membuka hatinya untuk Er, tapi sayangnya gadis itu telah pergi di kehidupannya tanpa pesan apapun. Menyesal? Tentu.


Namun, bukan kebodohannya yang ia sesali. Andaikan waktu mempertemukan ia dan Er lebih dulu sebelum ia bertemu Amaira, mungkin saja ia akan menjatuhkan hatinya pada Er. Sayangnya, beberapa orang sering datang terlambat di kehidupan kita. Begitu pula dengan Er yang datang di kehidupan Naufal setelah cowok itu jatuh hati pada Amaira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Tuan Adam tengah sarapan bersama Zaki dan juga Naufal. Tuan Adam melirik dua kursi kosong yang biasa diisi oleh Ardhilla dan Aldrin. Suasana sarapan menjadi begitu hampa, dan mereka melewatinya dengan hanya saling berdiam diri.


Hari ini sidang cerai Tuan Adam dan Ardhilla berakhir. Hakim telah mengetuk palu sebagai tanda sah jika pernikahan mereka telah berakhir. Tak banyak yang ia tuntut dari Adam, Ardhilla hanya meminta anak perusahaan Adam grup dan juga beberapa aset mereka di Bali sebagai harta gono-gini.


Wanita itu kembali menjadi berita utama di dunia hiburan. Ia diserbu para wartawan yang ingin mewawancarainya.


"Iya, kami telah resmi bercerai. Doakan saja yang terbaik," ucap Ardhilla singkat pada wartawan.


Setelah menghindari pertanyaan para wartawan, Ardhilla menuju mobil pribadinya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Zaki berdiri di sana sambil memegang sebuah buket bunga.


"Zaki, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ardhilla mengerutkan dahi.


"Aku hanya ingin menemui Ibu." Zaki menyerahkan sebuah buket bunga pada Ardhilla.


"Meskipun Ibu telah resmi bercerai dari ayahku, tapi aku tetap menganggapmu ibuku. Jagalah kesehatanmu, hubungi aku kalau Ibu perlu bantuanku untuk perusahaan Ibu."


Setelah mengatakan kalimat itu, Zaki langsung pergi. Ardhilla menatap kepergiaannya tanpa merespon apa-apa. Sekarang, ia telah terbebas dari aktingnya sebagai ibu tiri yang baik selama bertahun-tahun. Mungkin cinta dan kasih sayang yang ia beri pada anak-anak Adam hanyalah palsu, tapi cinta yang Zaki dan Naufal berikan padanya adalah tulus. Mereka menerima dan memperlakukan dirinya dengan baik sebagaimana ibu kandung mereka sendiri.


Di sekolah, Aldrin dan Amaira berjalan melewati taman sekolah. Aldrin telah menceritakan tentang perceraian orang tuanya dan juga pertemuan ia dan ayah angkatnya.


"Itu artinya, kamu sama Naufal sudah enggak serumah lagi?"


Aldrin mengangguk lemah. Raut wajahnya menjadi sendu. Tiba-tiba terdengar suara wanita yang memanggilnya.


"Aldrin!"


Aldrin dan Amaira kompak menoleh ke belakang dan melihat Maria berdiri tidak jauh dari mereka berpijak.


"Hei, lama enggak ketemu," sapa Aldrin sambil tersenyum.


"Aku turut prihatin atas perceraian kedua orangtua kalian," ucap Maria.


"Pacarmu pasti sangat terguncang, karena dia begitu menyayangi ibuku," balas Aldrin.


"Iya, dia sering curhat sama aku. Tapi, dia juga enggak bisa lakuin apa-apa."


Aldrin mengangguk pelan. Ia lalu mengganti topik pembicaraan. "Kamu tahu, enggak. Aku sekarang masuk sanggar musik milik Erwin Gutawa. Dan aku mulai mengadakan live perfoment di beberapa kafe terkenal Jakarta."


Maria membulatkan matanya, bibirnya tersenyum seketika. "Yang bener?"


Aldrin mengangguk cepat sambil tersenyum. "Sekarang, aku milih fokus nerusin bakatku."


"Aku seneng banget dengernya, tahu!" Maria memancarkan wajah bahagia.


Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk dari ponsel Aldrin. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya.


"Tunggu sini, ya! Aku pergi ke atap dulu. Naufal manggil, nih," kata Aldrin pada Amaira.


Amaira mengangguk.


Aldrin langsung berlari menuju atap gedung sekolah. Sementara Amaira langsung membalikkan badannya hendak beranjak pergi.


"Tunggu."


Suara Maria menghentikan langkahnya. Ia membalikkan kembali tubuhnya dan melihat Maria yang tersenyum padanya. Kedua wanita cantik itu memutuskan untuk duduk bersama.


"Kamu tahu, enggak, aku kagum banget ma Aldrin sejak pertama kali aku ketemu dia. Dan aku juga sempat suka ma dia," ucap Maria seketika dengan pandangan lurus ke depan.


Amaira menoleh ke arah Maria. Gadis itu terkejut mendengar pengakuan Maria. Namun, ia memutuskan bergeming.


"Aku sempat ingin memilikinya ... tetapi, aku sadar dia hanya anggap aku sebagai teman baiknya." ucapnya kembali. Ia menoleh ke arah Amaira, memegang punggung tangan gadis itu sambil berkata, "Aldrin sayang banget sama kamu. Kalian pasangan yang sangat serasi."


Amaira tersenyum tipis. Dari awal, ia sering cemburu jika Aldrin mendekati Maria. Untuk gadis secantik dan terkenal seperti Maria, sudah pasti Amaira sangat khawatir jika Aldrin akan berpaling padanya dan menyukai Maria. Namun kini, ia benar-benar tidak meragukan cinta cowok itu padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Ayah Amaira pulang ke rumah tepat pukul delapan malam. Tampaknya, ia baru saja pulang dari kantornya. Saat turun dari mobil, ia terkejut melihat Aldrin berdiri di hadapannya. Pemuda tampan itu menggunakan jas hitam dengan dasi pita. Penampilannya sangat rapi dan elegan.


"Halo, Paman."


Ayah Amaira hanya diam sambil menatapnya dingin dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Paman, aku baru saja pulang kerja. Akhir-akhir ini aku bergabung dengan sanggar musik Erwin Gutawa. Aku telah dikontrak di kafe terkenal untuk mengadakan perfoments di sana," ucap Aldrin penuh percaya diri.


Lagi-lagi, ayah Amaira hanya menatapnya dengan dingin. "Kudengar orangtuamu bercerai," singgung ayah Amaira.


Aldrin yang tadinya begitu percaya diri menjadi gugup seketika tatkala ayah Amaira menyinggung perceraian kedua orangtuanya. Cowok tampan itu hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.


"Kamu harus banyak belajar dari kegagalan orangtuamu sebelum memutuskan menikah di usia muda."


Setelah mengeluarkan kalimat itu, ayah Amaira masuk ke rumah meninggalkan Aldrin yang hanya tertegun.


Di tempat berbeda, Ardhilla dan Jefri tengah makan malam di sebuah restaurant mewah. Seperti biasa, Ardhilla selalu terlihat cantik dan anggun dengan gaun apa saja yang gunakan. Awalnya mereka hanya berbicara seputaran bisnis. Namun, Ardhilla mengubah pembicaraan menjadi lebih serius.


"Apa kamu sudah dengar hari ini aku resmi bercerai?"


Jefri terdiam sejenak, ia meneguk minumannya sambil menjawab, "Ya, bagaimana aku tidak tahu, kau sedang menjadi topik pembicaraan di mana-mana."


Ardhilla memberikan senyum menawan di bibir tipisnya. "Ini semua kulakukan demi kamu. Agar kita bisa bersatu."


Jefri yang tengah memotong makanan terhenti seketika saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut manis Ardhilla. Ia langsung meletakkan pisau dan garpu di atas piring.


Tanpa ragu, Ardhilla menyentuh tangan hangat Jefri. "Kita akan seperti dulu lagi. Aku, kamu dan juga Aldrin akan bersama."


Jefri menatap mata Ardhilla. "Ardhilla, Aku tidak bisa bersamamu."


Ardhilla mengernyitkan matanya. "Apa maksudmu? Bukannya kamu masih cinta sama aku?"


"Sepertinya kamu salah paham. Aku memang mencintaimu dan ingin menikahimu. Tapi ... itu keinginanku di masa lalu. Sekarang, tidak lagi. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih."


Mendengar lontaran kalimat dari Jefri, membuat wajah Ardhilla menggelap seketika.


.


.


.