Don'T Say Goodbye

Don'T Say Goodbye
chapter 57 : Terlalu Menyedihkan!



Amaira mengangguk pelan sambil menunduk. Naufal berusaha mencerna kembali setiap kata yang Amaira keluarkan barusan. Amaira menyukai Aldrin? Artinya gadis ini menyukai sahabatnya sendiri yang juga merupakan saudaranya!


Tidak. Apakah ia salah dengar? Ia ingin bertanya kembali, tetapi Tiba-tiba saja kalimat yang ingin ia ucapkan, seperti tertelan kembali. Tidak dapat mengatakan apa pun. Ia membisu, bibirnya terkunci, pandangannya menjadi kosong.


"Mungkin ini sangat lucu. Tapi ... aku benar-benar menyukainya," ucap Amaira dengan nada yang penuh kehati-hatian.


Naufal masih membisu, ia terlihat bingung saat ini. Mulutnya terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi sulit untuk diutarakan.


Pelan-pelan, ia mencoba mengeluarkan suaranya, "Ini ... ini terlalu menyedihkan!" ucap Naufal dengan pandangan yang tak tentu arah.


Amaira menatap bingung ke arah Naufal. Apa yang dimaksud cowok berkacamata itu? Terlalu menyedihkan? Apakah yang ia maksud adalah dirinya?


"Ini terlalu menyedihkan. Sangat menyedihkan!"


Naufal mengulang kembali ucapannya dengan suara yang sedikit bergetar. Bola matanya ke sana-sini tak tentu arah. Ia pun bingung dengan apa yang ia ucapkan.


Hari ini ia berniat untuk mengungkapkan perasaannya. Ia telah menunda beberapa hari, mempersiapkan segalanya. Membuat gadis yang ia sukai itu senang dan bahagia dari rasa sedih yang menghampirinya. Saat ia ingin menyatakan perasaannya, orang yang ia sukai mengatakan menyukai orang lain. Dan orang itu adalah saudaranya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, ia diminta agar menyampaikan perasaan gadis itu ke saudaranya.


Amaira kembali menunduk. Ia menganggap ucapan Naufal barusan adalah balasan dari apa yang ia katakan. Bukankah memang menyedihkan jika ia tetap menyukai Aldrin, sementara Aldrin terus menjauhinya.


Beberapa detik berlalu dan keduanya saling membisu tanpa ada yang duluan memecahkan keheningan. Menu yang mereka pesan telah datang, tapi selera makan mereka telah hilang.


Naufal mengambil jus yang ia pesan dan mengisapnya dengan sedotan yang telah disediakan. Dengan satu kali hisapan, jus itu langsung tertelan habis olehnya.


"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Amaira berusaha menghilangkan rasa canggung yang menggerogoti dirinya.


Naufal tersadar dari lamunannya, matanya masih tak bisa diam. Dia belum berani menatap gadis di depannya saat ini. Apa yang akan dia katakan pada gadis itu? Dia sendiri sudah lupa apa. Ah, dia baru ingat dia akan menyatakan perasaannya hari ini pada gadis itu. Tapi, semua yang telah ia persiapkan sepertinya sia-sia. Dia telah kehilangan selera untuk bersuara.


"Aku, aku hanya mau katakan ... aku akan membantumu sebisa mungkin."


Naufal menarik napas panjang. Membantunya sebisa mungkin? Benarkah ia akan melakukannya. Diapun tidak tahu, kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya.


"Terima kasih," ucap Amaira dengan pandangan ke bawah.


"Tapi ... setahuku, Aldrin punya pacar!" ucap Naufal dengan suara pelan.


Amaira tersentak mendengar ucapan Naufal. Ia kembali menatap Naufal dengan pandangan layu. "Kalau dia sudah punya pacar, sebaiknya kamu tidak perlu mengatakannya. Aku tidak mau mengganggu hubungannya," ucap Amaira dengan raut wajah menggelap.


Naufal mengangguk canggung. Ia tak dapat berkata apa-apa lagi, seketika semua yang ada di otaknya menjadi buyar.


Inginku bukan hanya jadi temanmu


Atau sekedar sahabatmu


Tak perlu hanya kau lihat ketulusan


yang sebenarnya tak kusangka


kadang ku hilang kesabaran


Mungkinkah akan segera mengerti


Seiring jalannya hari sungguhku tergila padamu


Yang ada bila tak juga kau sadari


Akan kutempuh banyak cara


Agar engkau tau semua mauku


Alunan lagu berjudul 'Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu' milik Yovie and Nuno mengalun indah dari mulut sang penyanyi kafe. Lagu tersebut seolah mengawali perasaan Naufal selama ini.


"Ini memang menyedihkan!" lanjut amaira dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Mata gadis itu sedikit berkaca-kaca. Ia kembali menunduk. Sejujurnya, dirinya tak mau memercayai apa yang Naufal katakan. Namun, ingatannya terbang kembali saat terakhir Aldrin bicara padanya. Cowok itu mengakhiri hubungan mereka dan mengatakan sedang menyukai cewek lain. Apakah secepat itu dia memulai hubungan baru lagi?


Naufal memerhatikan mimik wajah Amaira yang berubah menjadi sendu setelah ia mengatakan Aldrin mempunyai pacar. Ini menandakan jika gadis itu bukan hanya sekedar mengagumi Aldrin, tapi juga mempunyai perasaan yang mendalam padanya.


Ekspresi wajah Amaira saat ini membuat Naufal makin tenggelam dalam rasa patah hatinya. Seolah tak mau berlama-lama, Naufal langsung mengajak Amaira untuk pulang dan mengantar gadis itu kembali ke rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini penuh dengan bintang, Naufal telah kembali ke rumahnya dalam suasana hati yang sangat gundah. Ia memasukkan mobilnya ke dalam garasi lalu keluar dari mobil itu. Di halaman rumah, Aldrin sedang mencuci motor kesayangannya.


Naufal berhenti melangkah saat melihat Aldrin, tiba-tiba ia kembali teringat ucapan Amaira padanya beberapa waktu lalu.


"Bilang sama dia kalau aku suka sama dia. Aku sangat menyukainya!"


Ucapan itu terngiang kembali di telinganya.


Aldrin masih sibuk memandikan motor kesayangannya dengan selang panjang. Pandangannya tertuju pada Naufal yang berdiri tak jauh darinya. Sejenak, Aldrin menghentikan kegiatannya.


"Ah, kamu sudah pulang? Gimana jalannya? Berhasil, enggak?" tanya Aldrin sambil tersenyum lebar.


Aldrin merasa heran dengan ekpresi Naufal sekarang. Ini bukan seperti Naufal yang biasanya. Cowok itu hanya diam. Matanya menyala, pupilnya membesar, ia menggertakkan rahangnya. Malam ini, ia seperti memancarkan aura yang berbeda dari biasanya.