
"Kalau lo benar-benar punya bakat, ayo tunjukkan sekarang! Di acara ini ada Addie MS dan juga Erwin gutawa. Mereka punya orkresta simfoni. Kalau mereka tertarik sama lo, lo bisa diajak gabung bersama mereka!"
Aldrin teringat kembali ucapan Bryan. Ya, belum terlambat untuk menentukan masa depan. Saat ini usianya baru tujuh belas tahun. Tahun depan dia akan lulus SMA dan memulai kehidupan dewasanya.
Aldrin menghampiri MC dan juga Zaki di atas panggung. MC menyerahkan sebuah biola padanya. Zaki dan Aldrin Saling berhadapan. Keduanya sama-sama menatap tajam seolah saling melempar peluru.
"Kamu harus mengikuti permainanku. Jika kamu tidak tahu lagu yang kumainkan, kamu hanya cukup diam!
"Mana mungkin aku enggak tahu setiap lagu yang akan kamu mainkan?" tangkas Aldrin sambil menyunggingkan sudut bibirnya ke atas.
"Aku selalu benci dengan sifat percaya dirimu!" cemooh Zaki dengan tatapan sinis.
Zaki duduk memosisikan diri di depan piano. Sementara Aldrin duduk di samping Zaki sambil meletakkan biola di pundaknya. Posisi Zaki membelakangi Aldrin. Keduanya telah bersiap-siap memulai pertunjukan.
Musik dibuka dengan Lagu Vittoria Monty karya Csardas. Lagu ini mempunyai alunan musik yang mendayu di bagian awal dan cepat di bagian akhir. Butuh beberapa teknik yang harus dikuasai jika memainkan instrumen ini dengan biola.
Jari jemari Zaki menari lincah di atas tuts piano, diikuti gerak tubuh dan kepala nan gemulai mengiringi rentak musik, membuat permainan Zaki begitu memanjakan mata penonton. Imajinasi penonton seakan dibawa ke Eropa pada masa era musik klasik.
Lagu memasuki tempo yang sangat cepat. Untuk langkah awal Aldrin memainkan lagu ini dengan sangat apik dan memesona. Ia tetap memainkan biolanya dengan sempurna. Gesekan biolanya menunjukkan kualitas musikalitasnya yang berkelas.
Lagu berpindah ke judul Think of me-Phantom of Opera. Lagu ini mempunyai irama yang tenang dan menyejukkan hati. Kedua musisi di atas panggung itu sukses membawakannya dengan penjiwaan yang begitu dalam. Wajah tampan mereka menjadi nilai plus penonton.
Tiba-tiba Zaki mengubah lagu. Kali ini lagu yang ia bawakan dari King of Pop Mickhael Jackson berjudul Billie Jean. Lagu tersebut memadukan genre pop disco.
Zaki melakukan sebuah atraksi, yaitu memainkan piano hanya dengan dua jari dan satu tangan diangkat ke atas. Para penonton begitu berdecak kagum. Mereka langsung bertepuk tangan dengan meriah
Tak mau kalah dari kakaknya, tiba-tiba Aldrin memindahkan biolanya ke dadanya. Ia memetik biola dengan jari-jarinya seolah sedang memainkan gitar. Dengan senyum yang manis diiringi kedipan satu mata darinya, membuat para wanita seakan hanyut dalam music yang ia mainkan. Para penonton berteriak histeris padanya.
Zaki menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. Ia kembali membuat atraksi dengan menutup matanya sambil terus memainkan jari-jarinya dengan lincah. Sontak suara tepuk tangan begitu bergemuruh di seluruh ruangan. Mereka berdecak kagum dengan atraksi yang ditunjukkan Zaki.
Tak lama dari itu, Aldrin berdiri dari duduknya. Sambil terus memainkan biolanya, ia melakukan gerakan Moonwalk yaitu sebuah tarian ilusi yang dipopulerkan Mickhael Jackson, seolah-olah penari sedang ditarik ketika berusaha berjalan.
Aldrin terus memainkan biola di atas pundaknya sambil melakukan tarian itu. Seisi ruangan menjadi heboh. Suara tepuk tangan diikuti teriakan mengiringi atraksi yang ia suguhkan. Tubuhnya begitu lentur saat menari. Ia menggerakkan kepalanya mengikuti irama lagu sehingga membuatnya terlihat seksi di atas panggung.
Para tamu yang hadir begitu menikmati suguhan musik yang dua lelaki itu mainkan. Mereka berdecak kagum melihat kedua kakak beradik ini. Tak ada yang tahu jika mereka sedang bertarung dengan musik yang mereka mainkan. Atraksi yang Zaki dan Aldrin tunjukkan sebenarnya untuk bertarung siapa yang terbaik di antara mereka.
MC naik ke atas panggung menghampiri mereka. "Wow ... Benar-benar spektakuler! Pertunjukkan ini sungguh luar biasa!" teriak MC dengan kekaguman yang luar biasa.
"Tuan Zaki, apakah ada yang ingin Anda sampaikan?" MC melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya ingin memberi semangat kepada pemuda-pemudi Indonesia agar jangan pernah takut mengeksplorasi bakat yang ada dalam diri kita," ucap Zaki dengan spontan.
"Bagaimana dengan Anda, Aldrin. Anda terlihat masih remaja. Dengan usia semuda ini Anda telah menunjukkan bakat yang luar biasa. Oh iya, untuk sekedar kalian ketahui, anak ini adalah putera dari artis senior kita, Ardhilla. Apakah ada yang ingin anda sampaikan?" tanya MC pada Aldrin.
Aldrin terdiam sesaat, lalu ia berkata, "Jika masih diizinkan, aku ingin memainkan biola sekali lagi. Lagu yang akan kumainkan akan kupersembahkan untuk Ayahku."
Ardhilla terkejut mendengar ucapan anak itu, bagaimana bisa ia mengatakan akan memainkan biola untuk ayahnya. Sementara Zaki menunjukkan ekspresi yang tidak senang. Seolah muak akan apa yang ditunjukkan oleh Aldrin. Baginya, Aldrin selalu mencari perhatian ke orang-orang.
"Tentu saja boleh!" MC mempersilakan Aldrin untuk membawakan lagu.
Aldrin mulai memainkan kembali biola di pundaknya. Kali ini dia membawakan lagu My memory dari Yiruma yang begitu melagenda karena instrumen ini dipakai dalam drama korea terkenal Winter Sonata. Irama musik yang sendu dan menyayat hati membuat siapapun yang mendengar seakan larut akan kesedihan yang di sampaikan oleh sang violinis. Aldrin membawakan lagu itu dengan mata terpejam. Ia berdiri tegak tanpa ada gerakan atau atraksi seperti sebelumnya. Ia begitu menikmati setiap gesekan dawai yang ia mainkan.
Memainkan biola adalah bakatnya sedari kecil. Ia sekolah di Amerika dan mengambil club musik di sana. Ayah kandungnya adalah sutradara, ibunya Artis layar lebar. Ayah angkatnya seorang musisi jalanan. Bakat yang ia tampilkan hari ini karena ajaran dari ayah angkatnya, Jefry. Namun, darah seninya sudah mengalir dari kedua orangtuanya. Berbeda dengan Zaki terlatih sebagai pianis dari seorang komposer musik ternama eropa.
Zaki kembali duduk di tempatnya. Maria yang sedari tadi ikut menonton, memberi pujian padanya dan juga Aldrin.
"Sumpah! Kalian keren banget!"
"Aku tidak tahu, siapa panitia yang memiliki ide konyol ini. Tapi aku sangat benci malam ini," ujar Zaki sambil membuka kancing atas kamejanya, ia tampak kesal.
Meskipun Zaki diundang sebagai pianish dan memainkan piano dengan sangat baik, tetapi ia merasa tercoreng karena harus beradu dengan Aldrin di atas panggung.
"Aku yang punya ide itu. Aku minta pengisi acara supaya Aldrin bisa duet bareng kamu," ucap Maria secara tiba-tiba.
Zaki tercengang. Matanya membulat tajam. Ia mengerutkan kedua alisnya sambil berkata, "Maria, apa yang kamu lakukan? Saat aku berpikir ini ulah panitia, aku hanya sekedar kesal. Tapi, saat aku mengetahui ini adalah idemu, aku bukan cuma kesal, tapi juga kecewa!"
Zaki langsung pergi meninggalkan kekasihnya. Maria mengernyit melihat respon Zaki. Menurutnya, sikap Zaki terlalu berlebihan. Yaz Maria memang tidak mengetahui pertikaian antara Zaki dan Aldrin selama ini.
untuk menulis chapter ini, Author sampe rela habisin Quota, demi nonton duel piano dan biola di youtube. ada 1 kolaborasi yang author suka yaitu kolaborasi antara henry suju (violinist) dan shin jihoo (pianish asal korea) . Dan apa yang author deskripsikan di novel ini sesuai dengan apa yang author nonton dan ditambah dengan imajinasi Author sendiri.