
Penyidikan Mahardika terus berlanjut, kini ia memintai keterangan beberapa staf rumah sakit termasuk seorang suster yg ada di sekitar tempat kejadian. Terutama seorang suster yg pertama kali melihat insiden itu dan melaporkan nya pada polisi. Karena menurut pihak polisi seorang wanita lah yg memberikan laporan.
Suster itu bernama Suster Marina.
"Jadi, apa yg kau lihat saat itu, Nona?" tanya Mahardika.
"Aku hanya melihat Nona Nasha saat itu berdiri dengan gunting di tangan nya, sementara Dr. Ramos sudah tergeletak di bawah dan bersimbah darah"
"Lalu apa kau menolong nya?"
"Tidak, saat itu aku begitu shock dan aku pun hanya bisa berlari. Setelah itu aku langsung memanggil polisi"
"Lalu, apakah Nasha melihat mu saat itu?"
"Iya"
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Tidak?"
"Tidak mencoba melarikan diri?"
Suster Marina terdiam mendengar pertanyaan itu, kejadian yg sebenar nya ia melihat Nasha yg mencoba menekan luka Ramos. Saat suster Marina datang, Nasha meminta tolong pada nya dan Nasha dalam keadaan setengah telanjang. Bahkan sudut bibir nya saat itu juga berdarah. Suster itu langsung memanggil polisi, kemudian ia juga menghubungi Ruben karena suster itu takut terjadi sesuatu dengan Ramos.
Ruben yg memang masih ada di sekitar Rumah sakit pun langsung kesana dan ia segera menangani Ramos. Ruben dan beberapa suster yg menangani Ramos juga melihat Nasha dan keadaan Nasha saat itu. Dari sana mereka sudah bisa menebak apa yg terjadi, sebelum menangani Ramos. Ruben memerintahkan Suster Mirna untuk mengganti pakaian Nasha, membersihkan luka di sudut bibir Nasha dan membuat tampilan Nasha senormal mungkin. Tak lupa Ruben menyuruh Suster itu berbohong dan membuat keterangan juga keadaan seolah olah Nasha lah yg salah.
"Dr. Ruben langsung datang dan ia memerintahkan beberapa suster menahan Nasha agar tidak melarikan diri sampai polisi datang" jawab suster Mirna kemudian dengan ekspresi yg tampak sangat datar.
"Dimana para suster yg menahan Nasha?" Mahardika bertanya dengan nada dingin dan tatapan mengintimidasi.
"Ada, sedang bertugas" juga Suster Marina.
"Aku tidak masalah menunggu" ujar Mahardika kemudian.
.........
Sementara pengacara Pak Sriwijaya juga Azhar dan Pak Niranjan masih terus menumpulkan bukti untuk bisa mengeluarkan Nasha dari penjara dan membebaskan nya dari jerat hukum. Azhar juga membangun hubungan yg baik dengan para penyidik dan bersikap kooperatif saat memintai keterangan tentang Nasha dan apapun yg berhubungan dengan insiden itu. Azhar memberikan jawaban yg sejujur jujur nya, dan walaupun ia sedang sangat marah apa lagi saat penyidik itu menyebutkan nama Ramos, Azhar tetap berusaha tenang dan tak terbawa emosi. Karena yg terpenting saat ini adalah membebaskan Nasha dari jerat hukum dan membersihkan nama nya.
..........
Seperti kata Bu Anjana, ia dan Hanin sedang bersiap siap untuk mengunjungi Nasha. Bu Anjana menyiapkan beberapa makanan untuk ia berikan pada Nasha.
"Mama...." panggil Mera sembari cengar cengir.
"Apa? Mama sama Kak Hanin mau pergi, kamu di rumah saja ya" ujar Bu Anjana.
"Papa kemana?" tanya Mera sembari mendekati Mama nya yg masih sibuk memasukan beberapa makanan ke dalam paper bag.
"Papa lagi bantuin Azhar, kenapa?" tanya Bu Anjana.
"Mera ikut Mama ya, bosan di rumah" rengek Mera sembari menarik Narik ujung baju Mama nya. Membuat Mama nya menatap Mera dengan heran.
"Bosan? Sejak kapan seorang Almeera merasa bosan? Bukannya kamu selalu keluyuran kalau sedikit saja merasa bosan?" tanya sang Mama.
"Lagi engga mood keluyuran, boleh ya?" rengek Mera lagi. Bu Anjana dan Hanin saling melempar tatapan aneh nya namun kemudian Bu Anjana mengangguk setuju. Karena Mera adalah gadis yg keras kepala dan jika tak di izinkan, pasti gadis itu akan mengajak Mama nya berdebat dengan seribu alasan.
"Ya sudah, ayo..." seru Bu Anjana.
.........
Nasha memeluk diri nya sendiri dan menghirup aroma Azhar yg tertinggal di jaket yg ia kenakan, itu memang jaket Azhar yg Nasha minta saat Azhar menjenguk nya. Dengan menghirup aroma Azhar seperti ini membuat perasaan Nasha sedikit lebih tenang, ia merasa sedang di peluk oleh Azhar.
Sementara di sisi lain, seorang polisi mendapatkan telpon dari seseorang yg memerintahkan nya melakukan sesuatu. Polisi itu tampak kesal dengan perintah itu namun ia tak berdaya.
"Baik" ucap polisi itu kemudian.
"Apa? Memindahkan Nasha ke penjara wanita?" pekik kepala sipir itu terkejut dan polisi itu pun mengangguk.
"Ini perintah..." tegas polisi itu dan sang kepala sipir pun hanya bisa patuh.
Nasha yg di pindahkan ke penjara wanita dan bahkan di berikan pakaian tahanan pun sangat terkejut dan ia semakin ketakutan.
Namun ia tak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa patuh.
Nasha akhirnya di masukan ke dalam tahanan wanita dan disana ada beberapa orang. Para tahanan langsung menatap Nasha seolah mereka menatap ikan segar.
Nasha berjalan masuk dengan menunduk dalam, ia berjalan pelan namun tiba tiba salah seorang wanita paruh baya disana menghadang kaki nya yg membuat Nasha tersandung dan langsung jatuh terkapar di lantai. Hal itu mengundang tawa semua orang di sana.
Nasha hanya bisa menahan air mata nya dan menggigit bibir nya, ia berusaha berdiri dan dengan cepat duduk di pojokan. Menjauh dari orang orang yg menatap nya dengan begitu aneh.
"Ya Allah, apa lagi ini..." gumam Nasha sedih.
"Tahanan 71..." seru salah seorang wanita dengan suara nyaring nya "Hey, 71..." ia berteriak dan melempar Nasha dengan kulit kacang. Nasha langsung mendongak dan menatap nya.
"Tuli, huh?" teriak wanita itu lagi.
"Nama ku Nasha, bukan 71" jawab Nasha dengan suara bergetar dan semua orang di sana tertawa terbahak bahak.
"Di sini, identitas mu adalah nomor tahanan mu itu. Karena kamu adalah seorang tahanan, nara pidana" seru nya dan Nasha merasa mendengar hal itu. Baru saja Nasha hendak menjawab, tiba tiba seorang sipir datang dan memanggil Nasha.
"Ada yg ingin bertemu dengan mu" ucap sipir itu.
"Suami ku?" tanya Nasha antusias namun sipir itu tak menjawab dan hanya menggiring Nasha ke tempat pertemuan.
Nasha sangat terkejut melihat Bu Anjana di sana apa lagi Hanin dan Mera, Nasha berfikir kenapa tiga wanita asing ini ada di sini? sedangkan Bu Anjana sangat terkejut karena melihat Nasha memakai baju tahanan.
"Tante..." sapa Nasha sembari duduk di kursi nya.
"Nasha, sejak kapan kamu di pindahkan ke sel tahanan wanita?" tanya Bu Anjana.
"Tadi" jawab Nasha lirih.
"Azhar dan pengacara mu tahu?" tanya Bu Anjana lagi dan Nasha menggeleng.
"Aku engga tahu, Tante. Tadi Tiba tiba saja aku di pindahkan ke tahanan wanita" jawab Nasha dengan suara tercekat cekat.
"Di film film, biasanya tahanan senior itu jahat dan tahanan junior akan di bully habis habisan" celetuk Mera kemudian dan mendengar itu Nasha hanya bisa menunduk, karena ia juga mengalami hal yg sama.
"Ada apa, Nasha?" tanya Bu Anjana yg menangkap ekspresi sedih Nasha "Apa tahanan yg lain membully mu? Hm? Bilang saja, Nak. Jangan takut" seru Bu Anjana meyakinkan Nasha.
"Mereka tadi memang membully ku, Tante. Membuat ku tersandung dan jatuh saat berjalan. Tapi tidak ada apa apa, aku tidak apa apa" ujar Nasha.
"Lalu apa lagi yg mereka lakukan?" tanya Bu Anjana lagi.
"Tidak ada" jawab Nasha.
"Yakin?" Mera kembali berceletuk yg membuat Nasha mendengus.
"Tadi mereka melempar ku dengan kulit kacang dan memanggil ku dengan nomor tahanan, kata itu identitas ku karena sekarang aku tahanan dan dari narapidana" jawab Nasha kembali dengan suara tercekat.
Mera dan Hanin sedih mendengar hal itu, sementara Bu Anjana bukan hanya sedih namun juga marah.
"Kamu jangan takut, aku akan menempatkan mu di sel terpisah, Nasha. Jangan sedih ya" ujar Bu Anjana.
"Memang nya bisa?" tanya Nasha kemudian dan Bu Anjana tersenyum kemudian mengusap kepala Nasha. Membuat Nasha merasa nyaman seperti saat Azhar mengusap kepalanya.
"Bisa, lihat saja nanti" ujar Bu Anjana sembari tersenyum "Aku bawakan beberapa makanan untuk mu" ucap nya kemudian.
"Seharusnya tidak perlu repot repot..." seru Nasha namun ia tak bisa menyembunyikan rasa senang nya karena mendapatkan perhatian dari Bu Anjana.