
Nasha mempersiapkan beberapa pakaian Azhar yg akan di bawa ke Singapore nanti, dan Nasha menemukan pakaian Azhar yg ia pakai saat di desa dulu, di hari pertama Nasha bertemu dengan Azhar.
Nasha mengambil nya, mencium aroma suami nya yg masih tertinggal di baju itu kemudian Nasha mengenakan nya.
"Sayang..." panggil Azhar yg baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kenapa pakai baju ku?" tanya Azhar bingung.
"Aku merindukanmu" lirih Nasha yg langsung berlari ke pelukan Azhar dan memeluk tubuh suami nya yg masih setengah basah itu. Azhar terkekeh dengan tingkah istri nya itu.
"Aku kan masih di sini, masak iya sudah rindu?" goda Azhar.
"Aku merindukan Papa bayi setiap saat, asal kau tahu saja" lirih Nasha dan malah semakin mengeratkan pelukan nya pada suami nya, Nasha menghirup aroma Azhar dalam dalam.
"Papa, bawa saja aku bersama mu..."
"Sshhtt, Nasha..." tegur Azhar dengan cepat. Ia menangkup pipi Nasha dan memaksa Nasha menatap nya.
"Jangan pernah berbicara seperti itu, Sayang" lirih Azhar menatap dalam mata istri nya yg begitu sayu itu.
"Ingat ya, kamu sudah janji..." Azhar memperingatkan "Begini saja, ayo kita lakukan sesuatu, sebuah perjanjian" ajak Azhar dengan senyum sumringah.
Nasha tidak tahu bagaimana suami nya itu bisa tersenyum dalam kondisi seperti ini "Sekarang ambilkan aku pakaian ya" pinta Azhar dan Nasha pun melakukan hal itu.
Sementara Azhar mengambil buku nya dan juga pena, Azhar menuliskan bahwa buku itu adalah perjanjian Nasha dan Azhar.
"Dengan ini, sebagai suami mu, aku ingin kamu berjanji bahwa kamu akan selalu menjadi wanita kuat, sabar, ikhlas, dan terus melangkah maju, meraih masa depan yang cerah.
Aku ingin kamu berjanji, untuk menjadi ibu yg terbaik untuk anak kita. Menjadi semangat nya dan tempat nya bersandar"
Azhar memakai baju yg di ambilkan Nasha kemudian ia memberikan buku itu pada Nasha. Nasha pun mengambil nya dan membaca nya, Nasha tersenyum saat membaca apa yg di inginkan suami nya itu. Tak hanya itu, di bawah tulisan itu sudah ada tanda tangan Azhar.
"Tanda tangani, Sayang. Dan kamu harus memenuhi janji itu" pinta Azhar.
Nasha hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah, ia mengambil pena dan menandatangani tepat di samping tanda tangan Azhar.
Azhar mendekatkan wajah nya ke wajah Nasha dan kemudian mengecup kening istri nya itu lama.
"Aku mencintaimu, sangat mencintai mu. Dan kamu tahu? Kamu adalah cinta sejati ku" kata Azhar lirih yg membuat Nasha semakin terharu.
"Kalau kamu cinta sejati ku, Lalai kenapa semua ini terjadi?" tanya Nasha dengan suara tercekat "Aku ingin kita hidup bersama dan mati bersama, aku tidak bisa tanpa mu" kata Nasha dan ia tak sanggup lagi membendung air mata nya yg kini mengalir bebas di pipi nya. Azhar pun dengan lembut menghapus air mata Nasha dengan ciuman nya kemudian berkata.
"Karena cinta sejati bukan hanya tentang selalu bersama, Sayang. Cinta sejati memiliki makna yang lebih besar dan lebih dalam dari itu, suatu hari nanti kamu pasti akan mengerti" ucap Azhar lembut, selalu lembut seperti biasa.
...... ...
Sementara itu, Ummi Rifa menangis sesegukan setelah melaksanakan sholat. Air mata bahkan sudah membuat mukena nya basah kuyup, seluruh tubuh nya bergetar karena tangis nya yg tak kunjung mereda itu. Suara nya bahkan sudah hampir hilang karena ia terus menangis setiap kali memikirkan putra nya, putra satu satu nya.
"Ummi..." seru Abi Fadlan yg baru saja masuk ke kamar nya dan melihat istri nya menangis meringkuk di atas sejadah nya.
Abi Fadlan langsung menghampiri istri nya dan menarik nya ke dalam pelukan nya, Abi Fadlan mendekap nya dengan erat.
"Ummi, tenang ya. Nanti Azhar dengar Ummi menangis, nanti dia semakin sedih" bujuk Abi Fadlan yg malah membuat tangis Ummi Rifa semakin pecah.
"Aku tidak mau kehilangan Azhar, Bi. Tidak mau..." lirih Ummi Rifa dengan suara yg teredam karena tangisan nya.
"Kita berdoa saja, apapun itu, itu sudah takdir Allah, Ummi..." kata Abi Fadlan dan ikutan menangis karena semakin lama tangis istri nya semakin jadi.
"Tapi ini tidak adil, Bi. Kenapa Azhar? Kenapa tidak aku saja yang menanggung penyakit mengerikan ini..." Ummi Rifa berkata dengan terbata bata. Tidak ada cobaan yg lebih besar bagi nya di bandingkan dengan cobaan lewat putra nya seperti ini.
"Selama ini dia baik baik saja, selalu sehat. Kenapa Allah harus memberi nya penyakit seperti ini?"
"Sshhtt, Ummi... Jangan begini, percaya lah pada kehendak Allah, Allah itu sayang sama kita. Bersabarlah, Ummi. Dan ikhlas lah" Abi Fadlan berusaha menenangkan istri nya itu, walaupun ia sendiri tentu juga tak bisa tenang.
Setiap saat ia juga memikirkan putra nya, dan seandainya bisa, ia ingin menukar nyawa nya dengan nyawa putra nya. Ingin menukar kesehatan nya untuk putra nya, namun nyata nya tak ada yg bisa melawan kehendak sang penulis takdir.
Yg bisa mereka lakukan hanya bersabar dan belajar ikhlas, berdoa agar di lapangkan dada nya dalam menerima semua ujian yg begitu berat ini.
"Ya Allah, lapangkan lah hati kami. Sesungguhnya kami milik Mu, kami hidup dengan belas kasih Mu. Jika ini cobaan, maka berikanlah kami kesabaran dan keikhlasan. Jika ini teguran atas dosa dosa kami, maka sesungguhnya Engkau maha pengampun, maka ampunilah dosa hamba Mu yg lemah dan dzolim ini"