True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 57



Persiapan pernikahan sudah selesai, dari mahar, cincin dan sebagainya.


"Kamu cantik sekali..." Nasha menoleh dan mendapati Asma yg berjalan ke arah nya. Nasha hanya bisa tersenyum tipis "Ada yg ingin bertemu dengan mu..."


"Mama Papa?" tanya Nasha antusias, mendengar itu Asma langsung terlihat sedih. Betapa Nasha sangat menginginkan keluarga nya ada di pernikahan nya.


"Adik mu, Kak..." seru Harry yg baru saja muncul dari balik pintu "Apa Harry engga di harapkan?" tanya Harry sambil mencebikan bibir nya.


"Sangat di harapkan, Har..." ujar Nasha dengan mata yg berkaca kaca "Tapi bagaimana kamu tahu?"


"Azhar memberi tahu Harry tadi pagi..." jawab Harry "Kak sangat cantik" puji nya yg membuat Nasha merona.


"Ada baiknya kamu mulai panggil dia 'Kakak'. Azhar lebih tua dan dia calon kakak ipar mu" ujar Nasha dan Harry mengangguk tak ikhlas yg membuat Nasha merasa gemas.


"Aku senang akhirnya kak Nasha akan punya kehidupan yang lebih baik" ujar Harry dan ia memeluk kakak nya.


"Apa Mama Papa tahu?" tanya Nasha. Harry terdiam sejenak, namun kemudian menggeleng sambil memaksakan bibir nya tersenyum.


"Semua nya sudah siap..." seru Maryam dengan suara nyaring nya. Harry langsung menoleh dan mendapati seorang wanita yg berpenampilan cantik dan anggun "Kamu pasti adik Nasha ya?" tanya Maryam dan Harry hanya mengangguk.


"Baiklah, sebaiknya kamu ke depan karena acaranya akan di mulai" ujar Maryam sambil tersenyum lebar.


"Aku masih ingin bicara dengan Kak Nasha sebentar jika boleh..." ujar Harry.


"Okey, kalian adik kakak tapi bukan mahram sebenarnya. Jadi tetap hati hati ya" goda Asma yg membuat Maryam menghela nafas.


"Pintu nya biarkan terbuka..." seru Asma lagi saat ia melangkah keluar bersama Maryam. Harry hanya bisa menatap heran pada dua wanita anggun itu.


"Mereka anggota keluarga Kiai kan?" tanya Harry dan Nasha mengangguk


"Dari dua sisi, keduanya keturunan darah biru"


"Tapi kok tingkah nya gitu ya, engga sesuai sama ekspektasi" ujar Harry "Kalau menurut Harry, keluarga kiai itu kalem, lembut, anggun, bicara dengan suara rendah..."


"Belum tahu aja kamu, Tante Asma kadang meneriaki suami nya" jawab Nasha sambil tertawa mengingat betapa absurd nya menantu sang kiai itu "Tapi mereka adalah orang orang yg mulia, yg mampu menempatkan diri dalam segala tempat, situasi dan tergantung dengan siapa mereka berhadapan. Mereka orang orang yg baik dan sangat tulus"


"Ya, Harry tahu... Tadi Azhar mengenalkan Harry dengan keluarga yg lain" ujar Harry "Oh ya, ini hadiah pernikahan dari Harry. Wish you all the best, Kak Nasha..." Harry menyerahkan sebuah kotak yg di bungkus kertas warna pink lengkap dengan pita nya "Bukan nanti aja..." ujar Harry saat Nasha hendak membuka kado itu.


"Sudah selesai? Saat nya ijab..." seru Asma sambil berjalan masuk.


"Sudah..." jawab Harry sambil memandangi Asma.


"Kenapa liatin begitu? Tundukan pandangan mu, Wahai anak muda! Sekalipun pada nenek nenek seperti ku ini untuk menghindari hal hal tak terpuji. Karena godaan setan itu halus dan tak terduga" seru Asma yg membuat Harry menjadi salah tingkah. Sementara Nasha hanya bisa menahan senyum geli nya.


Asma membawa Nasha keluar, dan Harry mengikuti nya dari belakang.


"Nenek nenek? Tapi kok masih cantik dan segar ya? Apa dulu menikah muda seperti Kak Nasha sekarang?" batin Harry bertanya tanya.


Sementara di ruangan yg sudah di siapkan untuk akad sudah ramai, Nasha sendiri terkejut karena ada banyak orang di sana. Nasha berfikir hanya akan ada beberapa orang saja. Namun ternyata ada cukup banyak orang yang bahkan tak pernah Nasha temui.


Oh, dan Nasha melotot terkejut melihat seorang Amar Degazi disana.


"Amar Degazi juga di undang?" tanya Nasha setengah berbisik pada Asma yg menuntun nya menuju pelaminan.


"Menantu ku engga perlu undangan kali, Sha.." jawab Asma santai yg membuat Nasha melongo. Selama ini Nasha banyak mendengar tentang pebisnis muda yg sukses itu, mendengar juga tentang pernikahan nya namun Nasha tak terlalu berminat. Satu-satunya yg menarik perhatian nya tentang Amar Degazi adalah muda, billionaires.


"Hey, Sayang... Kamu cantik banget deh, aku fikir tadi kamu pengantin nya" terdengar suara Amar yg memuji dan menggoda Maryam. Satu hal lagi yg baru Nasha tahu, bukankah Amar terkenal dengan sikap es batu nya?


Asma membantu Nasha duduk di samping Azhar, sekilas Azhar melirik Nasha dan menyunggingkan senyum. Sementara Abi Khalil sudah sangat siap menikahkan keduanya dengan di saksikan oleh Bilal, Mukhlis, bahkan para Ustadz dan Ustadzah pesantren itu.


Nasha tidak berfikir ini adalah pernikahan dadakan, karena ini sudah mendekati sempurna.


"Baiklah, sudah siap?" tanya Abi Khalil pada Azhar.


"Siap, Bi..." jawab Azhar "Insya Allah" ujar nya kemudian.


"Loh, kok masih Inysa Allah? Inysa Allah itu 99% iya, artinya Masih ada 1% tidak" goda Abi Khalil yg membuat Azhar tingkah sementara yg lainnya hanya tertawa geli "Jadi siap apa tidak, Azhar? Ini pernikahan lho, kasian Nasha nya nanti kalau kamu tidak siap" tanya Abi Khalil.


"Siap, Abi Khalil..." jawab Azhar pasti.


"Baiklah, sebelum ijab ada baik nya kita membaca bismillah, beristigfar dan ber sholawat. Akad itu adalah pintu untuk memasuki kehidupan yg baru. Jadi sertakan Allah dalam setiap langkah yg kita ambil dalam hidup ini. Supaya jika kita salah, Allah memberikan petunjuk dan bimbingan. Dan jika kita benar, semoga Allah meridhoi nya."


Setelah itu selesai membaca sholawat dan istighfar, Abi Khalil mengulurkan tangan nya dan segera di sambut oleh Azhar.


"Sepertinya AC nya terlalu dingin, tangan Azhar sampai dingin dan berkeringat begini..." goda Abi Khalil lagi yg kembali mengundang tawa. Sementara Nasha hanya bisa menunduk malu malu dan ia juga ikut tertawa, padahal Nasha sendiri sudah merasa panas dingin sejak tadi


"Azhar, tangan mu juga gemetaran. Jangan jangan kamu belum makan, jangan pingsan di tengah akad ya." dan godaan itu masih berlanjut, selain itu mengundang tawa hal itu juga membuat Azhar dan Nasha merasa sedikit rileks dan sedikit mengalihkan perasaan sedih mereka atas cinta yg tak di restui.


"Sebelum mengucapkan ijab kabul, Abi ingin mengingatkan, Nak. Menjadi Imam tidaklah mudah. Tugas utama mu sangat banyak, mengayomi istri dan anak anak mu, mencintai mereka sepenuh hati, menjaga mereka segenap jiwa. Dan lindungilah mereka dari api neraka, yg artinya itu adalah kamu harus membimbing mereka selalu berada dalam jalan yg benar. Begitu juga dengan mu, Nasha... Menjadi Makmum bukan hanya asal mengikuti imam. Kesabaran dan keikhlasan pasti akan selalu di uji dari berbagai hal dan arah. Tapi apapun yg terjadi, kalian harus melewati nya bersama dan selalu sertakan Allah di dalam nya. Allah tidak memberikan kesulitan melainkan akan di ikuti dengan kemudahan. Allah tidak akan menguji Hamba nya melebihi batas kemampuan nya"


"Inysa Allah..." jawab Azhar dan Nasha sambil mengangguk.


"Baiklah, kita mulai..."


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Azhar Ubaidillah Bin Ahmad Fadlan dengan Nasha Laura dengan mas kawin uang sebesar sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai..."


"Saya terima nikah dan kawin nya Nasha Laura dengan mas kawin tersebut, tunai"


"Bagaiamana saksi? Sah?"


"SAH...."


Para saksi menjawab serempak setelah ijab itu selesai di ucapkan. Tanpa sadar air mata menetes, kini ia sah menjadi istri Azhar. Begitu pun Azhar yg tampak senang dan terharu.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


Para tamu mendoakan kedua nya dengan serampak.


LKemudian Abi Khalil memimpin doa doa, dan setelah itu keduanya mulai bertukar cincin pernikahan.


Harry tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya melihat sang kakak kini telah resmi menikahi pria yg di cintai nya.


Setelah itu, Nasha mencium tangan Azhar. Bahkan sentuhan ringan itu berhasil membuat kedua nya berbunga bunga, gemetaran, panas dingin. Apa lagi saat Azhar mengecup kening Nasha, tiba tiba Nasha meneteskan air matanya.


Ia merasakan perasaan yang begitu hangat dan menenangkan, perasaan yg tak pernah ia rasakan sebelum nya. Kebahagiaan yg tak bisa ia ukur dengan kata kata, cukup air mata hari yg memberi tahu isi hati nya.


"Aku mencintaimu, Zaujati" Lirih Azhar setelah mengecup kening istri nya.


"Aku mencintaimu, Zauji..." balas Nasha malu malu.


▫️▫️▫️


Tbc ...