
Azhar mencari cari Nasha ke setiap tempat yg biasa Nasha datangi di kampusnya, dari kantin, kampus dan sebagainya. Namun gadis itu tak juga kelihatan batang hidung nya, ponsel nya tak aktif. Entah mengapa Azhar merasa khawatir pada Nasha, ia pun menghubungi Harry namun ponsel Harry juga tidak aktif.
"Astagfirullah, ada apa ini?" gumam Azhar sambil memegang dada nya yg bergemuruh.
Ia melihat Elin yg sedang berjalan sendirian, Azhar pun segera menghampiri nya.
"Elin..." teriak Azhar saat sudah dekat dengan Elin, seketika Elin menoleh "Kamu liat Nasha engga?" tanya Azhar dan ekspresi wajah Elin tampak sangat dingin pada nya.
"Engga tahu" jawab Elin ketus dan dia segera pergi dari sana.
Azhar mengernyit bingung dengan tingkah Elin, namun ia mencoba mengabaikan hal itu dan sekarang yg harus Azhar lakukan adalah mendatangi Nasha kerumah nya.
.........
"Fikirkan sekali lagi, Kak..." seru Harry, meminta Nasha memikirkan kembali niat nya yg akan menerima pertunangan nya dengan Ramos "Dan Kak Nasha coba ingat ingat, seperti apa sikap Ramos pada Kak Nasha. Apakah sedikit saja lebih baik dari Azhar?"
Nasha masih terdiam, matanya sembab dan hidung nya memerah. Nasha tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Hanya dua hari lagi, ia akan bertunangan dengan Ramos. Nasha masih diliputi kebingungan.
"Kak Nasha..."
"Diam, Har..." bentak Nasha sambil menangis.
Sementara di bawah, orang tua Nasha dan orang tua Ramos sedang membicarakan acara pertunangan yg sangat mendadak ini. Ada Ramos juga di sana.
Nasha keluar dari kamar nya dan mengintip dari tangga, mereka semua tampak sangat bahagia.
"Oh ya, setelah acara pertunangan, kita harus segera mengurus pernikahan" ujar Ramos yg membuat Nasha mengerutkan dahi nya "Aku tidak mau dosen itu mendekati Nasha, aku juga akan memindahkan Nasha ke kampus yg lebih elit"
"Pria seperti itulah yg akan menjadi suami kak Nasha nanti..." ucap Harry setengah berbisik. Nasha meneteskan air mata nya "Dia engga ada bedanya sama Mama, hanya akan menjadikan Kak Nasha boneka nya. Ramos itu benci wanita mandiri dan tegas, karena menurut nya wanita seharusnya menurut saja apapun perintah suaminya. Aku mendengar sendiri saat Ramos mengatakan hal seperti itu pada Tante Jessica, karena itulah Ramos sangat dingin pada Mama nya karena Mama nya yg menceraikan Papa nya. Ramos ingin wanita yang selalu manut, karena itulah dia memilih Kak Nasha... "
Nasha langsung menoleh dan menatap Harry lekat lekat.
"Berhenti memprovokasi Kakak, Har!" ucap Nasha.
"Itu fakta nya, Kak Nasha..." geram Harry.
Nasha kembali mengintip ke bawah, kali ini ia melihat Raya yg tampak menunjukkan sesuatu pada Jessica.
"Jess, undangan ini bagus kan?" tanya Raya.
"Iya, sangat bagus. Tapi apa kita bisa mengundang semua orang hanya dalam waktu kurang dari dua hari?" tanya Jessica.
"Bisa, Ma..." jawab Ramos cepat "Ini pertunangan ku sekaligus ulang tahun Nasha yg ke 20, semuanya harus istimewa dan kita harus mengundang orang banyak"
Nasha sangat tidak suka dengan apa yg di katakan Ramos itu, sekarang ia sudah pada tahap membenci pria itu.
Nasha kembali ke kamar nya, ia mondar mandir di sana dan itu membuat Harry pusing.
"Kakak engga mau tunangan apa lagi sampai menikah sama Ramos" ucap Nasha yakin.
"Kalau gitu kakak harus pergi dari sini" ujar Harry.
"Bagaiamana cara nya? Mama bahkan tidak mengizinkan kakak keluar rumah dan ponsel kakak juga di ambil" jawab Nasha emosional.
"Melompat lewat jendela" jawab Harry.
"Tapi, Har..."
Nasha mengintip ke bawah, Harry sudah sangat sering melompat lewat jendela dan seperti nya itu tidak sulit. Tapi Nasha? Dia merasa takut.
"Kalau kakak jatuh gimana?" bisik Nasha.
Harry segera mengambil seprei, ia mengikat nya di jendela "Kak Nasha pegangan pada seprei ini dan turun dengan hati hati..." perintah Harry.
"Terus kamu gimana, Har? Nanti kamu yg di marahi Mama" ucap Nasha sambil berkaca kaca. Ia takut adik kesayangan nya ini terkena imbas nya gara gara Nasha.
"Jangan khawatir sama Harry, Kak. Harry bukan anak kecil lagi..." jawab Harry meyakinkan "Harry sudah dewasa dan sudah saat nya Harry yg menjaga kak Nasha sekarang" ucap Harry menatap sendu kakak angkat nya itu.
Nasha mengangguk dan ia sudah menguatkan tekad nya "Kak Nasha mau kemana setelah ini? Apa Kak Nasha mau kabur kerumah Elin?"
"Ke rumah Azhar..."
...... ...
Azhar mempercepat laju mobil nya, ia sudah tak sabar untuk tahu keadaan sang kekasih.
Hingga akhir nya ia sampai pada tujuan, Azhar menghentikan mobil nya telat di depan rumah Nasha. Ia segera turun dan ada mobil lain di sana.
Azhar mengabaikan nya, ia segera berjalan menuju pintu masuk dan mengetuk nya.
Tiba tiba pintu terbuka lebar, ada Jessica, Ruben, Ramos, Raya dan suami nya di sana.
"Azhar, ada apa kesini?" tanya Surya sambil melirik istrinya.
"Maaf, Om. Saya mencari Nasha karena dia tidak ada di kampus dan ponsel nya tidak aktif, saya hanya khawatir" jawab Azhar.
"Nasha ada bersama keluarga nya jadi kamu tidak perlu khawatir..." jawab Raya dingin.
"Dan berhenti mencari Nasha karena dua hari lagi kami akan bertunangan!" tegas Ramos yg seketika membuat jantung Azhar seolah berhenti berdetak. Nafas nya tercekat di tenggorokan nya. Ia menatap Surya penuh tanda tanya, tapi pria itu hanya terlihat pasrah.
"Nasha juga akan di pindahkan ke kampus lain. Jadi, silahkan pergi dari sini..." usir Raya.
Dada Azhar terasa begitu sesak mendengar semua itu, tubuhnya terasa panas dingin, perasaan nya hancur "Tapi bisakah saya bertemu dengan Nasha? Sekali saja..." pinta Azhar memohon.
"Tidak!" tegas Raya.
"Dia calon tunangan ku, jika kamu memang pria yg baik, jauhi apa yg sudah menjadi milik orang lain. Aku dengar selain menjadi Dosen, kamu juga seorang Ustadz kan? Jadi apakah begini tingkah seorang Ustadz? Dimana adab mu?"
Azhar hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan nyeleneh Ramos yg membawa profesi nya.
"Baiklah, saya permisi..." ucap Azhar mencoba tetap tenang. Padahal hati nya terasa sakit.
Benarkah ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Nasha?
Apakah kisah cinta nya sudah berakhir sebelum di mulai?
Azhar melangkah pergi dengan hati yg hancur!
▫️▫️▫️
Tbc....