
Berdasarkan kesaksian dan bukti yg di serahkan pak Sriwijaya, juga argumen nya yg cukup kuat untuk membela Nasha. Hakim membebaskan Nasha dari semua tuduhan dan dakwaan kepada nya dan hal itu membuat Nasha langsung berlari ke arah Azhar dan Azhar pun langsung memeluk nya dengan sangat erat.
Keluarga meraka juga langsung mengucap puji syukur dan saling berpelukan, menangis penuh haru atas semua anugerah ini.
Sementara Nasha dan Azhar sama sama menangis haru, kedua nya saling berpelukan dengan erat.
"Alhamdulillah, ya Allah.." lirih Azhar, ia langsung mencium seluruh wajah istri nya itu tanpa ada yg terlewat sedikitpun. Nasha juga menangis tersedu sedu di pelukan sang suami.
Sepasang kekasih itu menjadi pusat perhatian semua orang, apa lagi mereka melihat Azhar yg terlihat tampak sangat terharu dengan kebebasan istri nya.
"Akhirnya semua nya terungkap, Sayang" lirih Azhar dan Nasha mengangguk sembari semakin mengeratkan pelukan nya pada suaminya.
Media juga meliput kebebasan Nasha itu karena sidang yg di jalani nya memang sidang yg di laksanakan secara terbuka untuk umum.
Azhar merangkul Nasha dan membawa nya menemui Ruben yg saat ini hanya terdiam dengan tatapan penuh kebencian pada Nasha dan Azhar.
"Aku tahu kau mencoba membeli hukum..." desis Azhar dengan tegas "Dan seharusnya kau tidak pernah mencoba membeli hukum karena hukum tidak akan bisa di beli, tidak perduli berapa pun uang yg kau miliki... " lanjut nya yg membuat Ruben menggeram marah namun ia tak bisa apa apa.
Pak Niranjan juga menghampiri Ruben dan ia menatap marah pada orang yg sudah mendzolimi putri kandung nya itu.
"Tunggu saja pembalasan ku...." desis Pak Niranjan kemudian membawa putri dan menantu nya itu menjauh dari Ruben.
.........
Berita kebebasan Nasha tersebar begitu cepat, namun semua itu tidak mengejutkan siapapun terutama teman teman Nasha di kampus. Karena memang sudah menduga pasti ini lah kejadian yg sebenarnya mengingat bagaimana sikap dan karakter Nasha selama ini, jadi sangat tidak mungkin ia melakukan kejahatan seperti itu apa lagi sampai mengancam nyawa orang lain.
Dan yg menarik perhatian orang orang adalah bagaimana Azhar memeluk dan mencium Nasha, bagaimana ekspresi haru Azhar saat istrinya di nyatakan bebas dari semua dakwaan.
Sementara Ramos yg saat ini masih di rawat di rumah sakit merasa begitu marah, apa lagi sekarang ia tercancam hukum atas penculikan dan percobaan pelecehan yg di lakukan nya pada Nasha.
..........
Azhar membawa Nasha pulang dengan suka cita, bahkan di sepanjang perjalanan mereka terus saling menggenggam tangan dengan begitu erat. Nasha menyenderkan kepala nya di punggung sang suami dan suaminya merangkul bahu nya dengan posesif.
Sesampainya di rumah, Nasha kembali menangis haru.
"Aku pulang..." lirih nya dengan suara tercekat.
"Ya, Sayang... Kamu pulang, dan kamu engga akan pernah lagi meninggalkan rumah ini" jawab Azhar. Sembari merangkul istri nya memasuki rumah, dimana disana sudah ada mertua nya yg menunggu nya. Juga Bu Anjana, Mera, Hanin dan juga Harry.
"Welcome home, Kak..." seru Harry bahagia dan ia juga memeluk kakak nya itu.
Mera yg sudah tahu bahwa Nasha adalah kakaknya hanya bisa terdiam dengan senyum tipis di bibir nya. Ia pun juga memeluk Nasha sebentar...
"Kenapa cuma sebentar?" tanya Pak Niranjan yg baru saja datang.
"Pasti dia belum mandi..." jawab Mera asal yg membuat Nasha memberengut, sementara yg lainnya malah tertawa. Sementara Bu Anjana hanya bisa memperhatikan Nasha dalam diam, ia juga sangat merindukan putrinya dan ingin sekali memeluk nya dengan sangat erat. Dan tidak akan pernah melepaskan nya lagi namun ia harus kembali menunggu dan bersabar.
Sampai detik ini, yg mengetahui identitas Nasha hanyalah keluarga Pak Niranjan dan Azhar. Mereka baru akan memberi tahu hal itu pada Nasha dan yg lain nya saat keadaan kembali tenang.
"Nasha...." Elin berteriak sembari berlari masuk ke dalam rumah. Nasha hanya tertawa kecil apa lagi saat Elin menabrak tubuhnya hingga keduanya terjatuh ke lantai, semua orang yg melihat itu hanya geleng gelang kepala sementara Nasha hanya bisa tertawa cekikikan
"Akhir nya kamu bebas juga, Nasha..." seru Elin.
"Bangun, Lin... Kamu makin berat" gerutu Nasha sembari mendorong Elin menjauh dari tubuhnya.
"Ya aku memang semakin gendut, semenjak kamu di penjara aku yg bantuin Ummi Rifa jualan di toko, terus..."
"Terus kamu sering makanin roti nya?" tuduh Nasha yg membuat Elin cengengesan.
"Di kasih..." jawab Elin lirih.
"Dasar engga tahu malu..." seru Nasha yg membuat Elin cemberut.
Bu Anjana yg melihat kebahagiaan di mata Nasha merasa ikut bahagia, dan ia sungguh tidak sabar untuk memberi tahu Nasha bahwa ia adalah ibunya dan ia sangat merindukan putri tercinta nya itu.
Begitu juga dengan Azhar, melihat kebahagiaan Nasha yg seperti ini setelah hari hari panjang dan melelahkan yg mereka lewati membuat Azhar merasa ini adalah anugerah yg tak ternilai.
Masih Azhar ingat dengan jelas bagaimana Nasha menangis ketakutan di malam ia di tangkap, dan masih ia ingat dengan jelas pula bagaimana Nasha menangis setiap kali Azhar mengunjungi nya.
Di tengah kebahagiaan Nasha itu, senyum Nasha harus pudar saat ia melihat kedua orang tua angkat nya yg juga mendatangi rumahnya.
Pak Surya dan istrinya menyapa keluarga Azhar dan Nasha, mereka menyambut nya dengan ramah karena bagaimana pun juga Nasha masih anak angkat mereka.
"Aku lelah..." Nasha langsung merengek manja pada Azhar. Ia sangat tidak menginginkan kehadiran orang tua angkat nya saat itu.
"Kita ke kamar, Sayang..." ujar Azhar dan ia langsung membawa Nasha ke kamarnya tak peduli dengan kedua orang tua angkat Nasha yg pasti masih ingin bersama Nasha, karena tak bisa Azhar pungkiri ia juga merasa kesal pada mereka.
Sementara Pak Surya dan istrinya tak bisa berkata apa apa, karena mereka sudah menyadari kesalahan mereka yang pasti tidak bisa di terima begitu saja oleh Azhar dan Nasha.
Walaupun begitu, Ummi Rifa dan Abi Fadlan tetap menyambut mereka dan mempersilahkan mereka duduk.
Sementara yg lainnya pun pamit pulang.
...... ...
Di kamar, Nasha memperhatikan setiap sudut kamar nya itu. Kamar yg menjadi saksi pernikahan nya dan Azhar.
"Aku merindukan kamar kita..." lirih Nasha dan Azhar pun memeluk nya dari belakang, ia mengaitkan dagu nya di pundak sang istri.
"Dan aku merindukanmu, sangat merindukan mu. Aku tidak bisa tidur tanpa mu, Nasha..." lirih nya. Nasha berbalik badan, Nasha menangkup kedua pipi suami nya itu dan menatap mata nya penuh rindu.
"Aku juga merindukan mu, tanpa mu membuat ku merasa mungkin kematian jauh lebih baik..."
"Sssht..." Azhar meletakkan jari nya di depan sang istri "Jangan pernah membicarakan kematian, Sayang. Aku tidak sanggup membayangkan kehilangan mu sejauh itu, tidak akan sanggup" lirih Azhar dan ia kembali memeluk Nasha. Nasha pun menyenderkan kepalanya di dada sang suami, menghirup aroma suaminya yg sangat ia di rindukan.
"Aku ingin kita selalu bersama, seperti ini, sekarang. Aku tidak sanggup jika harus berjauhan dengan mu walaupun hanya sesaat..."