True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 110



Sesampainya di rumah, Nasha langsung masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan Azhar. Nasha tidak tahu haruskah ia senang karena sudah menemukan orang tua kandung nya atau harus kah ia marah dan melampiaskan kemarahan nya pada mereka yg sudah membuang nya.


Azhar menyusul Nasha yg kini sudah menangis sesegukan di atas ranjang nya dengan memeluk guling, bahkan punggung nya sampai bergetar. Nasha juga merasa sangat kecewa pada suami nya karena sudah melakukan tes DNA tanpa izin Nasha.


"Nasha..." lirih Azhar lembut, mengusap kepala sang istri "Maafin aku ya..." ia berkata dengan begitu lembut, saking lembut nya membuat tangis Nasha semakin jadi.


"Seharusnya kamu bilang dulu sama aku..." seru Nasha di tengah isak tangis nya.


"Iya aku salah, maafin aku ya..." Azhar masih setia mengelus kepala sang istri.


"Seharusnya kamu engga izinin mereka..." gerutu Nasha lagi masih dengan sesegukan nya.


"Aku kan cuma kasihan sama mereka, Sayang. Mereka itu mencari mu selama ini..."


"Mereka bohong..." tukas Nasha sembari beranjak duduk "Mereka orang kaya, apa butuh waktu selama itu untuk menemukan ku?"


"Maka nya kita temui dulu mereka, dengarkan penjelasan mereka sekarang" bujuk Azhar.


"Engga mau, aku benci mereka..." tukas Nasha tajam yg membuat Azhar hanya bisa menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku tahu kamu butuh waktu..." ucap Azhar kemudian mengalah, mencoba mengerti posisi dan perasaan istri nya, bahkan jika Azhar yg ada di posisi Nasha mungkin ia akan merasakan hal yg sama, kecewa dan marah.


"Aku harus ke pesantren, aku ada jadwal mengajar hari ini. Tante Asam juga menanyakan mu, kapan kamu bisa sekolah kembali kata nya..." tutur Azhar kemudian berusaha mencairkan suasana "Kamu masih mau sekolah di pesantren?" tanya Azhar dan Nasha mengangguk pelan. Karena semenjak masuk pesantren, Nasha memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalaman terutama tentang agama, ilmu yg tidak pernah di ajarkan oleh siapapun kepada nya sejak kecil.


"Mau sekarang atau besok saja?" tanya Azhar lagi, karena seperti nya saat ini sang istri sedang dalam mood yg sangat kacau.


"Besok saja, Azhar. Aku lelah...." lirih Nasha sembari mengusap air matanya.


Azhar berdiri dan hendak pergi ke pesantren, namun tiba tiba ia teringat saat terkahir kali Nasha di tinggalkan sendirian di rumah, hal yg sangat buruk terjadi.


"Sayang, ganti baju gih, masuk sekolah nya sekarang saja ya..." seru Azhar "Aku tidak mau kamu sendirian di rumah" lirih Azhar kemudian.


Nasha yg mengerti maksud Azhar pun mengangguk, mengingat apa yg terjadi sebelum nya juga membuat Nasha takut dan bergidik ngeri.


Dengan cepat Nasha mengambil seragam sekolah nya dan kitab kitab nya, kemudian ia mengganti pakaian nya dan pergi ke pesantren bersama Azhar.


.........


Ramos yg kini lebih baik menerima surat penangkapan dari kepolisian atas laporan Pak Niranjan. Mama Ramos juga kini mendampingi putra nya itu dan meminta Ramos mengakui kesalahan nya.


Ia menggenggam surat laporan itu dengan penuh amarah, sementara Ruben yg ada di samping nya hanya bisa terdiam karena kasus Nasha ini sudah selesai dalam persidangan dan semua bukti dan saksi yg membebaskan Nasha bisa menjadi pemberat dalam kasus Ramos.


"Mama mohon, Ram..." pinta Jessica memelas "Dengan mengaku, hukuman mu bisa lebih ringan dan juga tidak membuang waktu dengan pengadilan yg berlarut larut. Ya, Sayang..."


"Mama engga usah ikut campur deh..." ujar Ramos kesal.


"Ram..." bentak Jessica marah "Mama engga pernah ngajarin kamu jadi orang jahat begini, kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Jangan membantak nya, Jess..." seru Ruben tidak terima "Dia seperti ini juga karena kamu, coba saja kamu lebih perhatian sama Ramos"


"Sudah cukup..." seru Ramos "Kalian berdua sama saja...


.........


Di pesantren, Nasha masuk ke kelas seperti biasa. Namun kali ini pandangan teman teman kelas nya yg masih bocah bocah itu terlihat berbeda.


Nasha yakin mereka juga pasti sudah tahu musibah yg menimpa Nasha.


Nasha duduk di tempat biasa nya, di samping Wina. Wina juga menatap Nasha lekat lekat.


"Kenapa?" tanya Nasha sinis.


"Istri nya Ustadz Azhar, hehe..." jawab Wina cengengesan yg membuat Nasha tertawa kecil, karena ia fikir teman teman nya menatap Nasha karena kasus pelecehan yg di alami nya, eh ternyata karena fakta ia adalah istri Ustadz Azhar.


"Bagaiamana kabar nya, Kak Nasha?" tanya teman kelas yg lain.


"Baik" jawab Nasha dengan senyum samar nya.


Saat Ustadzah nya datang, mereka langsung terdiam dan duduk rapi, Ustadzah Nasha yg melihat Nasha di kelas nya juga langsung melempar senyum seolah menyambut kedatangan Nasha.


Nasha mengikuti kelas seperti biasa sampai selesai, dan setelah kelas selesai. Nasha menunggu Azhar di depan kelasnya.


"Sha..." Nasha langsung mendongak mendengar suara lembut itu, ia mendapati Maryam yg saat ini sedang menggendong putra nya.


"Ning Maryam..." ujar Nasha sembari duduk.


"Aku senang melihat mu kembali, Nasha..." ucap Maryam dan Nasha hanya tersenyum ramah "Bagaiamana keadaan mu?" tanya Maryam lagi.


"Aku baik-baik saja, Alhamdulillah..." seru Nasha dan seketika ia teringat dengan Abi Khalil yg pernah menceritakan kisah Maryam yg juga hampir di lecehkan, bahkan kondisi Maryam jauh lebih saat itu. Seketika mata Nasha berkaca kaca, namun bibirnya memaksa senyum.


"Ada apa?" tanya Maryam lembut.


"Tidak apa apa, aku hanya... Hanya berfikir kau wanita yg sangat kuat" ucap Nasha dan Maryam yg mengerti kemana arah pembicaraan Nasha juga hanya bisa menyunggingkan senyum samar.


"Kamu jauh lebih kuat, Sha. Kamu mampu membela diri, kamu wanita yg tangguh, Azhar sangat beruntung mendapatkan istri seperti mu" tutur Maryam sembari menimang putra nya.


Nasha memperhatikan hal itu, bagaimana Maryam menimang sang putra dengan penuh cinta. Mengingatkan Nasha akan masa kecil nya.


"Hidup itu sangat tidak adil..." gumam Nasha kemudian.


"Kenapa berbicara begitu, Sha?"


"Kau tahu, Ning Maryam? Orang tua ku membuang ku saat aku bayi, padahal aku tidak meminta di lahirkan. Orang tua angkat ku orang yg sangat otoriter, padahal aku tidak pernah meminta di adopsi. Dan karena mereka, aku hampir saja..." Nasha tak sanggup melanjutkan kata kata nya, sementara Maryam dengan setia mendengarkan keluhan Nasha dengan seksama "Rasanya semua semua orang mencekoki ku dengan perasaan marah dan benci, padahal aku tidak punya salah apapun pada mereka"


"Hamba yg di uji bukan berarti di benci, Nasha.." tukas Maryam kemudian "Hamba yg di uji karena Allah tahu bahwa hamba Nya itu mampu melewati ujian nya, dan semua orang bisa berbuat salah. Entah karena mereka tidak sadar atau terpaksa, tapi apapun alasannya, kamu harus bisa belajar memaafkan. Bukan demi mereka, tapi demi dirimu sendiri, demi ketenangan mu. Memaafkan itu sulit sebenernya apa lagi pada seseorang yg sudah melukai kita dengan begitu dalam, tapi kita akan hidup lebih kesulitan jika kita hidup dalam kebencian. Itu akan membuat hati kita selalu sesak, hidup tidak tenang, dan mudah marah" tutur Maryam namun Nasha seperti nya tidak menyetujui ucapan Maryam, rasa benci yg ia miliki pada orang orang sekitar nya membuat Nasha merasa ia tidak akan pernah mau memaafkan mereka.