
"Selamat bergabung, Azhar. Aku yakin mahasiswi mu akan senang menyambut pengganti ku" Yunus menepuk bahu Azhar dengan sedikit keras, sementara Azhar... Ia sama sekali tidak menyangka bisa langsung di terima di Global University itu. Azhar sudah tak sabar ingin memberi tahu kabar itu pada kedua orang tuanya dan tentu saja pada Nasha.
"Semoga saja" jawab Azhar sambil tersenyum senang.
Setelah berbincang dengan Yunus, Azhar pun mengirim pesan kepada Nasha. Entah kenapa tiba tiba ia merasa seperti remaja yg kasmaran dan ingin selalu berkomonikasi dengan Nasha.
Me
"Urusan ku sudah selesai di sini, haruskah aku menunggu mu dan kita pulang bersama?"
Tak lama kemudian ponsel Azhar mendapatkan notifikasi.
^^^Nasha^^^
^^^"Pertanyaan macam apa itu?"^^^
^^^"Tungguin, kita pulang bareng"^^^
Me
"Okey..."
.........
Setelah menunggu Nasha cukup lama, akhirnya gadis itu muncul juga. Nasha tampak girang melihat Azhar benar benar menunggu nya, ia bahkan setengah berlari menghampiri pria yang bagi nya adalah calon suaminya itu.
"Hai..." sapa Nasha sambil tersenyum manis, membuat Azhar terkekeh dengan kelakuan gadis nya itu.
"Engga usah lari, Nasha. Aku engga akan pergi ninggalin kamu kok"
"Ah masak?" Azhar hanya menjawab nya dengan mengangguk "Di kampus ini banyak cewek cewek cantik dan seksi lho, awas ja nanti kalau..."
"Masuk..." seru Azhar lembut setelah ia membukakan pintu mobil nya. Nasha tersenyum sumringah, namun Raya tiba tiba datang membuat senyum sumringah Nasha langsung lenyap seketika.
"Mama..." lirih Nasha, ia melirik Azhar dan Nasha terlihat tegang. Beda hal nya dengan Azhar yg tampak tenang dan santai, ia bahkan menyunggingkan senyum pada Raya dan menyapa nya dengan ramah.
"Assalamualaikum, Tante..." sapa nya namun Raya menunujukan wajah dingin nya bahkan enggan menjawab salam Azhar.
"Masuk ke mobil Mama, Sha!" titah nya. Nasha terlihat enggan, ia melirik Azhar.
"Ma, ini Azhar..." seru Nasha kemudian memberanikan diri "Pacar Nasha" Azhar mengulum senyum geli mendengar kata 'pacar' dari Nasha, namun ia membiarkan saja hal itu. Ada saat nya seseorang harus mengikuti pola fikir orang lain untuk membuat mereka mengerti, seperti Azhar yg membiarkan Nasha menyebut nya sebagai pacar. Karena di zaman sekarang, apa lagi dengan gaya hidup Raya dan Nasha, tentu pacar memiliki arti yg lebih kuat dan memiliki.
"Apa kabar, Tante?" tanya Azhar lagi.
"Aku ingin bicara berdua dengan mu!" seru Raya pada Azhar, Nasha menggeleng sambil melirik Azhar. Ia takut mama angkat nya itu menyakiti Azhar, namun Azhar menyunggingkan senyum, memberi isyarat bahwa itu tak apa.
"Masuk ke mobil Mama, Sha!" tegas nya lagi.
"Tapi, Ma..."
"Engga apa apa, Nasha..." ucap Azhar lembut, ia bahkan mengelus pucuk kepala Nasha yg lagi lagi itu membuat Nasha sedikit tenang dan ia pun masuk ke dalam mobil Mama nya.
"Berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Nasha?" tanya Raya tanpa basa basi sedikitpun. Tatapan nya bahkan terkesan mengintimidasi namun Azhar menanggapi nya dengan tenang.
"Semenjak Nasha berlibur ke desa teman nya" jawab Azhar.
"Saya mau kamu meninggalkan Nasha, dia sudah punya calon suami dan itu jauh lebih baik dari mu" ucap Raya memandang remeh Azhar "Lagi pula, apa yg bisa kamu berikan pada putri ku?" Raya bertanya sambil melirik mobil Azhar yg memang sudah tua "Sejak kecil dia terbiasa dengan kehidupan yg mewah dan serba berkecupukan, apapun yg dia inginkan selalu bisa dengan mudah saya berikan"
"Kehidupan yg mewah tidak menjamin seseorang bahagia, Tante. Dan bagaimana jika yg Nasha inginkan bukanlah materi dan kemewahan itu? Bagaimana jika yg dia inginkan adalah di hargai? Di mengerti dan di berikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya?" Raya mengepalkan tangan nya mendengar apa yg Azhar katakan dengan begitu berani itu.
"Jaga bicara mu, saya ibu nya. Saya tahu yg terbaik untuk putri ku"
"Saya tahu, Tante. Tapi seorang ibu yang baik adalah yg mau mendengarkan isi hati anak anak nya. Saya mohon, berikan kesempatan pada Nasha untuk memilih jalan hidupnya, sekali saja. Saya dan Nasha saling mencintai" tutur Azhar dengan suara rendah namun tatapan nya sungguh berharap pada Raya.
Tanpa menjawab sedikitpun, Raya langsung bergegas pergi dari hadapan Azhar. Membuat Azhar hanya bisa menghela nafas berat sambil terus menggumamkan istighfar.
"Berikan petunjuk Mu, Ya Rabb..."
.........
Nasha hanya bisa terdiam sambil memberengut sepanjang perjalanan pulang, Mama nya ini terus mengoceh tiada henti membandingkan Azhar dan Ramos.
"Ma..." akhir nya Nasha memberanikan diri bersuara "Pernikahan ku itu yg menjalani aku, kalau menurut Mama Ramos itu baik, gimana kalau menurut aku engga? Aku yg akan menderita, Ma..." ucap Nasha antara kesal dan sedih.
"Sha, cinta itu cuma perasaan yang bisa tumbuh dengan terbiasa. Kalau nanti kamu sudah terbiasa dengan Ramos, ya kamu pasti akan cinta sama dia" ujar Raya dan ia juga tampak kesal.
"Tapi, Ma..."
"Tolong, Nasha!" tegas Raya "Berhenti membantah dan ikuti saja apa yg Mama minta, ini juga demi kebaikan kamu sendiri. Dan jauhi pria yg tadi itu, dia engga pantas buat kamu"
"Apa nya yg engga pantas sih, Ma? Karena Ramos lebih kaya?" tanya Nasha memandang Raya, sementara Raya hanya melirik Nasha sekilas dan ia tak menjawab nya "Kalau cuma kekayaan, itu kan bisa di cari dan itu juga bisa hilang. Dan roda kehidupan itu berputar, bagaimana kalau nanti Azhar sukses dan jauh lebih kaya dari pada Ramos?"
Raya menggeram marah dengan kelakuan Nasha yg semakin hari semakin melunjak itu.
"Belok kiri, Pak..." seru Raya pada sopir nya.
"Kita mau kemana?" tanya Nasha karena itu bukan jalan pulang. Sekali lagi Raya tak menjawab nya dan Nasha pun juga kini diam saja.
Hingga mobil berhenti di depan sebuah cafe, dan Nasha tentu sudah bisa menebak apa yg akan mereka lakukan di cafe ini.
Nasha di kejutkan dengan seseorang yg membuat pintu mobil dari luar, kemudian muncul sosok pria yg selalu di agungkan kekayaannya oleh Raya.
"Hai, Sha..." sapa Ramos dan ia menyunggingkan senyum terbaik nya, namun Nasha bersikap dingin dia ia langsung melongos keluar dari mobil.
"Nikmati waktu kalian ya...." seru Raya dari dalam mobil.
"Mau ke butik, Sha. Biar nanti Ramos yg antar kamu pulang" seru Raya enteng dan tanpa menunggu jawaban Nasha, Raya sudah memerintahkan sopir nya untuk pergi.
Nasha hanya bisa menghela nafas berat, kini ia menatap Ramos dengan kesal "Aku mau pulang" seru Nasha.
"Aku sedah pesan makanan, Sha..." seru Ramos memohon. Nasha berfikir sejenak, kemudian ia mengangguk. Nasha berfikir mungkin seharusnya dia katakan saja pada Ramos bahwa Nasha sudah memiliki kekasih dan menolak Ramos.
Ramos membawa Nasha ke ruang VIP, sudah ada menu makan siang di sana. Ramos menarik kursi untuk Nasha, tapi Nasha malah duduk di kursi yg lain. Ramos hanya terkekeh dan ia pun di kursi nya.
"Gimana kuliah mu, Sha? Lancar?" tanya Ramos basa basi.
"Engga" jawab Nasha datar "Aku engga suka kelas Kedokteran, aku juga engga mau jadi Dokter" tutur nya ketus berharap Ramos ilfeel pada nya.
"Ya engga apa apa kalau gitu, pekerjaan itu berdasarkan passion. Kalau itu bukan passion kamu, ya kamu akan susah menjalani nya"
"Iya, tapi Mama yg mau aku di bidang kedokteran"
"Dan itu yg aku suka dari kamu, Sha..." tutur Ramos dan ia menatap Nasha dengan begitu intens.
"Maksud mu?" tanya Nasha
"Kamu itu gadis yg baik, dan penurut"
"Jadi karena itulah kamu mau menikahi ku?"
"Iya, di zaman sekarang sangat jarang ada gadis seperti mu yg patuh pada orang tua. Aku yakin kamu juga akan patuh pada suami mu nanti..." Nasha merasakan ada sesuatu yg aneh di balik jawaban Ramos itu.
"Jadi kamu mau menikahi ku karena kamu mau istri yg patuh sama kamu, begitu?" tanya Nasha dengan nada sedikit tinggi.
"Aku mencintai mu karena kamu tipe gadis yg patuh, dan setiap pria pasti ingin istri yg patuh kan?"
Nasha terdiam sambil menatap Ramos dengan tatapan menyelidik, Nasha bisa merasakan ada kesamaan antara Ramos dan Raya. Nasha yakin akan hal itu, dan itu semakin meyakinkan Nasha untuk menolak Ramos. Menikah dengan Ramos sama saja keluar dari kandang macam masuk kandang singa.
"Maaf, Ram... Tapi aku sudah punya pacar, kami saling mencintai bahkan kami sudah memutuskan untuk menikah" jawab Nasha yg membuat Ramos sangat terkejut.
"Itu engga mungkin, Mama kamu bilang kamu engga punya pacar" seru Ramos dan ia tampak sangat kecewa.
"Karena Mama engga tahu, selama ini aku engga berani kasih tahu Mama"
"Tapi, Nasha..."
"Maaf, Ram. Aku permisi..." Nasha segera menarik tas nya dan ia berjalan cepat keluar dari ruangan itu.
Nasha merogoh ponsel nya dan ia langsung menghubungi Azhar.
"Assalamualaikum, Nasha. Ada apa?"
"Waalaikum salam, Azhar. Kamu bisa jemput aku engga?"
"Dimana?"
"Aku share lokasi ku ya, tapi tolong cepatan kesini nya..."
"Okey..."
.........
Azhar segera memacu mobil nya untuk menjemput Nasha, sekitar lima belas menit kemudian ia pun sampai dan mendapati Nasha yg menunggu nya didepan sebuah cafe. Nasha dengan cepat masuk ke mobil Azhar.
"Mama mu mana?" tanya Azhar sambil melirik Nasha sekilas.
"Mama ke butik..." jawab Nasha lesu.
"Terus kamu ngapain di sini?" tanya Azhar lagi.
"Ramos ngajakin makan siang..."
"Huh?" pekik Azhar antara terkejut dan cemburu. Namun ia tak berani berfikir yg macam macam.
"Azhar, kamu tahu engga apa yg kerasa di hati aku saat aku masuk ke cafe tadi bersama Ramos?" tanya Nasha sambil menatap Azhar dengan seksama.
"Apa?" tanya Azhar masih fokus pada jalan di depan nya.
"Aku merasa sedang selingkuh..." ucap Nasha yg langsung membuat Azhar tertawa geli, dan hal itu malah membuat Nasha langsung cemberut.
"Kamu engga cemburu ya?" tuduh Nasha kesal.
"Ya cemburu, Nasha. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Engga apa apa, kamu lucu aja" jawab Azhar dan ia berusaha keras tak menoleh pada Nasha yg saat ini masih memandangi nya dengan begitu intens "Dan berhenti memandangi ku seperti itu, kamu belum punya hak untuk menikmati ketampanan ku" ujar Azhar sambil tersenyum geli. Nasha semakin cemberut, ia langsung membuang pandangan nya keluar.
"Kalau aku bilang aku mencintai mu di tuduh menggoda, aku cuma mandang kamu, malah engga punya hak kata nya. Nyebelin...." gerutu Nasha yg membuat Azhar kembali terkekeh geli.
"Iya, Maaf... Mending sekarang kita ke kajian ya, biar kamu faham apa maksud ku yg sebenarnya" ujar Azhar kemudian, Nasha tak menjawab, ia masih cemberut dan memajukan bibir nya.
"Ya sudah kalau engga mau, aku antar kamu pulang ya..."
"Mau mau..." jawab Nasha dengan cepat yg lagi dan lagi membuat Azhar terkekeh geli.
▫️▫️▫️
Tbc....