
Azhar mencoba menjelaskan posisi kedua orang tua Nasha saat itu pada Nasha, namun tak sedikitpun ia membenarkan tindakan mereka ataupun mendukung tindakan mereka yg membuang bayi nya. Azhar hanya ingin Nasha sedikit saja mau membuka hati untuk mereka.
"Mereka sebenar nya menyayangi Mu, Sayang. Mereka memang berniat akan mengambil mu lagi saat mereka menikah, tapi mereka malah mendapatkan kabar kalau bayi mereka meninggal"
"Aku rasa itu hanya alasan mereka saja" ujar Nasha kesal bahkan dengan bibir yg manyun, hal itu membuat Azhar terkekeh karena baru saja Azhar berbicara panjang lebar pada Nasha dan tadi Nasha diam saja seolah mengerti apa yg di bicarakan Azhar dan mau mencoba membuka hati tapi rupa nya sang istri masih sakit hati pada orang tua nya.
"Kenapa kamu berbicara begitu, Sayang?" tanya Azhar lembut.
"Mereka menandai ku dengan liontin mereka, lalu kenapa liontin itu masih ada pada ku dan bukan nya tertinggal pada bayi yg mati terbakar itu?" pertanyaan Nasha itu seolah berhasil membuka pemikiran Azhar. Benar yg Nasha katakan, apa yg membuat mereka yakin bahwa anak mereka benar benar meninggal?
" Kita bisa tanyakan itu pada mereka, dari pada berasumsi sendiri, iya kan? " tanya Azhar lagi dan Nasha enggan menjawab nya.
"Sayang, supaya semua nya jelas, jadi kamu tidak punya pertanyaan lagi pada mereka. Ya? Tapi aku tidak memaksa mu, kamu bisa menemukan mereka kapan pun kamu siap, hm?" ujar Azhar lembut dan Nasha pun akhir nya tersenyum dan mengangguk.
Nasha pun mengambil laptop nya untuk kembali mengecek penjualan toko nya yg kemarin, namun tiba tiba Nasha malah duduk di pangkuan sang suami membuat Azhar langsung menaikan sebelah alis nya, menatap istri nya itu dengan senyum miring.
"Oh sayang ku, Kenapa kamu begitu sempurna, hm?" tanya Nasha sembari mengalungkan tangan nya di leher sang suami, bergelanyut manja di dekapan nya.
"Aku hanya berusaha menutupi semua kekurangan ku, Sayang. Tidak ada manusia yg sempurna" jawab Azhar sembari melingkarkan tangan nya di pinggang Nasha, kemudian menarik Nasha supaya lebih dekat pada nya. Azhar menyerukan wajah nya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma nya yg begitu menggoda indera penciuman nya.
"Kamu juga sangat baik, memang nya kamu tidak emosi saat melihat ku cengeng, manja, kadang keras kepala ku" ujar Nasha lagi.
"Kadang jengkel dengan sikap keras kepala mu, tapi untuk apa aku memperlihatkan hal itu? Kalau istri kepala, aku fikir dia hanya butuh kelembutan suami nya. Kalau dia cengeng, mungkin dia hanya ingin di manjakan suami nya. Benar tidak?" tanya Azhar yg membuat Nasha langsung terkekeh.
" Bisa jadi benar bisa juga tidak, siapa tahu memang watak nya yg keras kepala dan juga cengeng" Nasha menjawab sembari menelusupkan jari jari nya di rambut sang suami, meremas nya pelan.
"Hm begitu, tapi seperti nya istri ku hanya butuh di manja"
"Selalu" jawab Nasha dengan cepat yg sekali lagi membuat Azhar terkekeh. Hingga Terdengar suara Ummi nya yg memanggil Azhar.
"Sayang, Ummi memanggil" ucap Azhar karena Nasha enggan turun dari pangkuan nya.
Setelah Azhar pergi dari kamar nya, Nasha kembali tampak murung dan sedih. Tak bisa Nasha bayangkan akan jadi seperti apa diri nya jika tak ada Azhar di sisi nya, jika tak ada Azhar yg menghibur nya dengan mesra, membujuk nya dengan lembut dan mengajari nya dengan penuh kesabaran. Seandainya Nasha tidak kuliah dan memiliki pekerjaan, Nasha masih akan memohon pada Azhar supaya menghentikan kerja sama nya dengan orang tua kandung nya. Nasha masih tidak bisa menerima bahwa mereka membuang nya dan ternyata karena kelahiran nya adalah aib, Nasha semakin tidak terima.
Saat fikiran nya sibuk dengan segala hal yg berkecamuk itu, Azhar tiba tiba membuka pintu yg membuat Nasha terlonjak kaget.
"Ada apa?" tanya Nasha bingung karena ia melihat Azhar tampak cemas.
"Sayang, ayo turun sebentar" ajak Azhar yg membuat Nasha semakin bingung.
"Kenapa? Ada apa memang nya?" tanya Nasha lagi.
"Nanti kamu juga tahu, ayo..." ajak Azhar lagi dan. Nasha pun mau turun.
Azhar menggandeng Nasha menuju ruang tamu dan disana Nasha melihat Pak Niranjan. Seketika Nasha langsung berhenti melangkah bahkan saat Azhar mencoba membawa Nasha mendekati ayah nya, Nasha tak mau dan ia hanya berdiam diri.
"Nasha..." lirih Pak Azhar, tatapan nya begitu sendu menatap sang putri yg kini menatap nya penuh kebencian. Pak Niranjan berjalan mendekati Nasha dan tiba tiba ia langsung berlutut di depan Nasha, membuat Nasha terkejut dan langsung melangkah mundur. Bahkan Azhar dan Ummi Rifa juga Abi Fadlan yg ada disana juga sangat terkejut dengan hal itu.
"Nasha, aku mohon..." lirih Pak Niranjan lagi "Tolong maafkan Mama mu, Nak. Dia sangat terpukul karena kehilangan mu, Sayang. Tolong percaya pada kami, kami mencintai mu lebih dari hidup kami. Kami tahu kami salah, permintaan maaf kami dan juga penyesalan kami memang tidak akan merubah hidup yg sudah kamu jalani dan alami selama ini. Tapi kamimohon, Nasha. Berikan satu kesempatan lagi untuk kami... " Nasha hanya bisa terdiam dengan air mata yg kembali mengalir begitu saja, ia tak tahu harus berkata apa setelah mendengar ucapan panjang lebar ayah nya, ayah nya yg kini bertekuk lutut di depan Nasha.
"Om, jangan begini..." seru Azhar kemudian berusaha membuat mertua nya itu berdiri namun Pak Niranjan menolak nya.
"Aku akan tetap berlutut sampai putri ku mau memaafkan kami" ujar Pak Niranjan kemudian, Nasha masih menutup bibir nya rapat rapat tapi air mata masih mengalir di pipi nya.
"Mama mu di rumah sakit, Sayang. Dia overdosis..." seru Pak Niranjan yg langsung membuat Nasha terkejut.
"Dia mudah sekali stres, karena itulah saat kami mendapatkan kabar kematian mu, aku mengadopsi Hanin, berharap itu bisa menghibur Mama mu karena kehilangan mu. Dan sekarang dia kembali seperti dulu, karena kamu tidak mau memaafkan nya" ucap Pak Niranjan lagi.
Azhar dan kedua orang tuanya juga terkejut mendengar hal itu, Azhar melingkarkan tangan nya di pundak sang istri. Mengelus nya dengan lembut.
"Sayang, temui dia, ya? Bagaimana pun juga dia adalah ibu yg mengandung dan melahirkan mu. Dia menyesali masa lalu nya, bukan kah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?"