True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 112



Nasha mencoba merenungi semua perkataan suami nya, hati kecil nya membenarkan apa yg di katakan Azhar namun rasa sakit hati nya juga sulit ia kendalikan.


"Melamun, Neng?" seru Elin sembari menyenggol Nasha dengan pundak nya, saat ini Nasha sedang duduk di lorong kampus, menyendiri dan memikirkan apa saja yg ia alami dalam hidup nya selama ini.


"Lin, sekarang aku tahu siapa orang tua ku..." ujar Nasha lirih yg membuat Elin langsung menganga lebar.


"Masak? Siapa? Dimana mereka sekarang?" tanya Elin penasaran.


"Tante Anjana dan Om Niranjan" jawab Nasha setengah berbisik dan Elin pun semakin terkejut dan mulut nya menganga lebih lebar.


"Jangan bercanda kau, Sha..." seru Elin kemudian.


"Mereka sudah melakukan tes DNA, Azhar memberikan rambut ku pada mereka saat aku di penjara. dan memang mereka orang tua ku" jawab Nasha lagi dan tiba tiba Elin malah memeluk tubuh Nasha dengan gemas, kabar itu membuat Elin merasa bahagia untuk sahabat nya itu.


"Wah, Nasha... Jadi kamu saudara nya Hanin? Anak konglomerat, ugh... Beruntung nya aku punya sahabat kamu" ucap Elin masih memeluk Nasha bahkan menggoyang goyangkan tubuh mereka.


"Ish, kok kamu bahagia sih, Lin?" tanya Nasha cemberut.


"Bahagia banget malah, Nasha sayang... Akhirnya kamu bisa bertemu dengan keluarga kandung mu. Ya Allah, di luar ekspektasi banget tau engga sih? Aku fikir kamu di buang karena keluarga mu orang engga punya, terus susah makan, maka nya kamu di buang" tutur Elin mengungkapkan apa yg ada dalam fikiran ny selama ini.


Semenjak bersahabat dengan Nasha dan mengetahui cerita hidup nya, Elin memang selalu berfikir mungkin keluarga Nasha membuang nya karena masalah ekonomi.


"Justru itu yg membuat aku kesal dan marah, Lin. Mereka orang kaya, kenapa harus buang aku? Di saat usia ku baru 3 hari, Lin. Kamu tahu engga bagaimana perasaan ku mengetahui itu semua?" tukas Nasha antara marah dan sedih.


Elin yg mendengar penuturan sahabat nya itu hanya bisa mencoba memahami perasaan dan posisi Nasha.


"Memang nya kamu sudah tanya kenapa mereka melakukan itu?" tanya Elin lagi.


"Belum, aku engga mau ketemu mereka, Lin..." ujar Nasha dengan wajah masam.


"Sudah tanya Azhar? Dia mungkin tahu..." tanya Elin lagi.


"Dia engga mau cerita, kata nya biar mereka yg cerita langsung sama aku..." jawab Nasha kemudian "Aku benar benar engga habis fikir, kenapa mereka tega membuang aku? Apa salah aku? Dan mereka juga mengadopsi anak, Hanin itu ternyata anak angkat...." tutur Nasha lagi.


"Coba kamu bayangin, Lin. Anak sendiri di buang, anak orang di adopsi..."


"Sha..." seru Elin saat ia melihat kedua orang tua kandung Nasha saat ini sedang berdiri tidak jauh dari mereka, bahkan Bu Anjana terlihat meneteskan air mata, mungkin ia mendengar apa yg di katakan Nasha.


"Mereka itu punya hati apa engga, gitu..." ucap Nasha lagi yg belum menyadari kehadiran orang orang yg sedang di bicarakan nya saat ini.


"Sha..." Elin mendesis, memberi isyarat agar Nasha diam tapi sepertinya sahabat nya itu tidak mengerti.


"Mereka tahu engga apa yg aku alami sejak kecil? Sakit sekali rasa nya setiap kali aku mengingat masa kecil ku, aku selalu berdoa supaya Tuhan memberikan ku keluarga, aku fikir dengan memiliki keluarga akan membuat aku merasa bahagia dan aku benar benar bahagia saat ada yg mau mengadopsi ku. Tapi nyata nya apa?"


Air mata Nasha menetes begitu saja saat mengingat bagaimana hidup nya berlangsung selama ini. Nasha mengusap air mata itu dengan punggung tangan nya. Elin pun tak bisa menyembunyikan kesedihan nya saat mendengar kisah pilu sang sahabat, hingga terdengar suara lembut seseorang di belakang nya.


"Kami minta maaf, Sayang..." Nasha langsung terdiam membeku mendengar suara lembut nan bergetar itu. Perlahan ia menoleh dan mendapati kedua orang tua kandung nya ada di belakang nya.


"Kami minta maaf atas apa yg kami lakukan pada mu" ujar Bu Anjana lagi dan ia melangkah lebih dekat pada Nasha.


"Maaf karena kami sangat tidak adil pada mu, maaf karena kami, kamu menjalani hidup yg penuh penderitaan" tukas Bu anjana dengan berderai air mata.


"Kami mohon, Anakku..." ucap Bu Anjana lagi dengan suara tercekat dan air mata semakin deras saat ia memanggil Nasha dengan sebutan anakku, air mata juga tak bisa ia bendung saat menatap kedua orang tua kandung nya.


Ingin sekali Nasha berlari dan berhambur kedalam pelukan mereka, namun Nasha juga masih sakit hati atas apa yg mereka lakukan.


"Berikan kami kesempatan sekali saja, Nak. Kami akan menebus semua kesalahan kami" ujar Pak Niranjan lembut. Sementara Nasha masih menutup bibir nya rapat rapat, tak tahu harus berkata apa.


"Nasha, kami mohon..." Bu Anjana bahkan memohon dengan air mata yg semakin deras, membuat Nasha merasa tidak tega pada mereka. Air mata nya sendiri juga mengalir semakin deras.


"Kami mohon, Sayang... Kami tidak mau kehilangan kamu lagi" bujuk bu Anjana.


"Tapi kalian membuang ku..." ucap Nasha kemudian terbata bata, bahkan nafas nya seperti tercekat di tenggorokan nya.


"Iya, kami tahu, kami salah. Maafkan kami..."


"Kenapa kalian melakukan itu? memang nya apa salah ku?" seru Nasha berusaha tegar menghadapi kenyataan ini.


"Kamu tidak salah, kami yg salah, kami menyesal" ucap Pak Niranjan bahkan mata nya juga sudah berkaca kaca. Sementara Bu Anjana hanya bisa menangis karena Nasha tetap tak mau menerima dan memaafkan mereka.


"Memang nya apa yg bisa aku dapatkan dari penyesalan kalian? 20 tahun, selama 20 tahun kalian hidup bahagia dengan membuang seorang bayi tak berdosa. Kalian hidup bergelimang harta, lalu bagaimana bisa kalian membuang ku? kenapa?" tanya Nasha setengah berteriak, tak perduli jika ada yg mendengar teriakan nya saat ini, ia hanya ingin mengeluarkan sesak yg ada di hati nya.


"Kami terpaksa..." lirih Bu Anjana kemudian.


"Kenapa? Memang nya terpaksa kenapa? Memang nya aku ai......tunggu..." Nasha langsung menatap kedua manusia itu dengan nanar, Nasha memikirkan sebuah kemungkinan kenapa mereka melakukan semua ini. Sebuah kemungkinan yg memang memalukan dan sebuah aib.


"Apa kelahiran ku adalah.... Sebuah aib?" tanya Nasha dengan tatapan yg menusuk, dan pertanyaan itu sungguh menohok tepat di hati kedua orang tua kandung nya, mereka tak mampu menjawab dan hanya bisa menunduk malu dan menyesal.


"Jadi benar?" tanya Nasha lagi yg tak mendapatkan jawaban dari mereka.


"Kami menyesal, Sayang..." ujar Bu Anjana kemudian.


"Kalian yg melakukan kesalahan, lalu kenapa harus aku yg di hukum?" tanya Nasha kembali setengah berteriak, kini amarah nya semakin memuncak pada kedua orang tua nya dan rasa kecewa nya semakin besar.


"Maafkan kami, Nak. Saat itu... Sata itu kami ketakutan, kami takut pada keluarga kami, kami juga malu pada orang orang. Kami tidak ingin mencoreng nama baik keluarga kami jika sampai ada yg tahu bahwa kami... Kami punya anak di luar pernikahan" tukas Bu Anjana yg membuat Nasha tercengang.


"Nama baik?" desis Nasha kemudian dan ia menatap nyalang kedua orang tua kandung nya itu "Kalian menjaga nama baik, yg hanya sebuah anggapan? Apakah kalian fikir dengan membuang bayi yg baru lahir bisa tetap menjaga nama baik kalian? Kalian menumbalkan bayi kalian hanya demi nama baik itu? Untuk apa nama baik kalau kelakuan kalian sangat buruk? Memang nya kalian tidak malu membicarakan nama baik sementara kalian dengan tega nya membuang bayi kalian?"


Pertanyaan Nasha itu berhasil membuat kedua orang tua nya bungkam dengan air mata yg sama sama mengalir deras, mereka hanya bisa menatap Nasha dengan begitu sendu dan memelas. Mereka juga tak bisa mengelak bahwa apa yg di katakan Nasha itu benar ada nya.


"Kalau begitu, anggap saja aku mati. Biar nama baik kalian tetap terjaga..."