
Keesokan harinya, Azhar membawa Nasha untuk menemui kedua orang tua angkat Nasha. Berharap mereka mau membuka hati apa lagi sekarang mereka sudah menjadi suami istri.
"Bi Tante, Mama ada?" tanya Nasha penuh harap saat Bi Tante membukakan pintu untuk nya.
"Non Nasha, Nyonya dirumah sakit" ujar Bi Tanti takut takut.
"Mama sakit? Sakit apa? Sejak kapan?" tanya Nasha dengan nada yg sangat panik, Azhar merengkuh pundak Nasha dan mengelus nya dengan lembut.
"Tenang dulu, Sayang" ucap Azhar lembut.
"Em sejak kemarin malam, Non. Non Nasha kerumah sakit saja, kata Den Harry Nyonya sudah baikan kok. Mungkin hari ini atau besok sudah bisa pulang" jawab Bi Tanti yg membuat Nasha bisa sedikit bernafas lega.
"Ya sudah, kami kerumah sakit dulu ya, Bi. Terima kasih" ucap Azhar kemudian.
"Sama sama, Tuan"
Azhar dan Nasha langsung meluncur ke rumah sakit, Nasha terus memikirkan ibu angkat nya itu dan merasa bersalah karena menikah tanpa restu dari nya. Namun yg bisa Nasha lakukan sekarang hanyalah mendoakan sang Mama angkat agar mau membuka hati untuk nya.
"Sayang, Tante Raya pasti baik baik saja kok" ucap Azhar lembut sambil mengelus pucuk kepala Nasha dengan tangan kiri nya sementara tangan nya yg lain masih di setir. Nasha menyunggingkan senyum, ia menggenggam tangan Azhar dan mengecup nya.
"Setiap kali kamu menyentuh ku seperti ini, entah kenapa aku merasa tenang" ucap Nasha sambil tersenyum.
"Karena yg menyentuh mu berusaha tenang, aku berusaha menyalurkan ketenangan ku pada mu" jawab Azhar sambil terkekeh.
Sesampainya dirumah sakit, Nasha dan Azhar segera mencari kamar pasien atas nama Raya. Dan tentu saja mudah bagi Nasha untuk menemukan nya karena banyak yg mengenal keluarga Nasha di sana.
Nasha dan Azhar segera berlari menuju kamar Raya, dan saat berdiri di depan pintu kamar rawat itu. Nasha terdiam, ia menggenggam tangan Azhar dengan sangat erat.
"Aku takut" lirih Nasha dan Azhar langsung merangkul nya, memberi tahu bahwa Azhar selalu berada di sisi nya sehingga Nasha tak perlu merasa takut akan apapun.
"Aku di sini" ucap nya dan mereka pun membuka pintu kamar rawat itu.
Di kamar itu ada Harry, Ramos, dan Jessica yg sedang menjenguk Raya.
"Ma..." seru Nasha dan seketika Raya menoleh ke arah nya.
Raya yg sudah tahu bahwa putri nya itu sudah menikah menjadi semakin marah, ia bahkan enggan menatap Nasha.
"Kak..." seru Harry sambil berlari menghampiri Nasha dan Azhar "Apa yg kalian lakukan di sini?" bisik Harry.
"Tante, kedatangan ku dan Nasha ke sini..."
"Untuk apa?" tanya Raya dingin. Sementara Jessica hanya bisa memasang wajah sedih nya melihat Nasha yg kini meneteskan air mata. Dan Ramos, pria itu tampak menahan amarah melihat Azhar yg merangkul Nasha dengan begitu posesif. Ia juga sangat marah saat mengetahui calon tunangan nya kawin lari dengan pria lain.
"Kami minta maaf karena sudah sangat menyakiti kalian" ucap Azhar dengan suara rendah "Aku mohon, Tante...."
"Sebaiknya kalian pergi dari sini!" tegas Raya.
"Azhar..." pekik Nasha khawatir "Apa apaan kamu ini, Ram!" bentak Nasha marah.
"Sayang, aku engga apa apa" ucap Azhar berusaha menekan emosi nya.
"Kamu benar benar kurang ajar, Nasha. Berani nya kamu membatalkan pertunangan kita dan mempemalukan keluarga ku" bentak Ramos marah yg membuat Nasha langsung melangkah mundur.
Azhar dengan cepat menarik Nasha ke belakang tubuhnya, melindungi nya.
"Pelankan suara mu di depan istri ku!" tegas Azhar dan ia menatap tajam Ramos, membuat Ramos sedikit terkejut apa lagi saat melihat kilatan amarah di mata Azhar.
"Ini bukan urusan mu" Jawab Ramos yg tak mau kalah.
"Apapun yg berurusan dengan Nasha menjadi urusan ku" tegas Azhar lagi.
"Kalau begitu bawa saja gadis yatim piatu itu pergi dari sini!" ucap Raya tajam yg seketika membuat Nasha langsung menangis, hati nya kembali terasa sakit saat Raya mengingatkan nya bahwa ia hanyalah gadis yatim piatu.
"Dia manusia yg tidak tahu diri, tidak heran kenapa orang tua kandung nya membuang nya..."
"CUKUP, TANTE!!!" bentak Azhar yg langsung membuat Raya terdiam, sementara Harry dan Nasha sangat terkejut mendengar seorang Azhar membentak seseorang. Apa lagi Azhar tampak sangat marah "Aku kesini ingin berbicara baik baik, berharap Tante masih memiliki sedikit saja rasa sayang pada Nasha. Aku bisa menerima semua hinaan kalian pada ku, tapi jangan pernah berani mengucapkan hinaan satu patah kata pun pada istri ku!" ucap Azhar kemudian dengan sangat tegas sambil menatap Ramos dan Raya dengan begitu tajam, seolah Azhar sangat marah pada kedua orang itu.
"Sekalipun Nasha anak angkat mu, tapi dia ini manusia. Nasha juga punya hati dan perasaan, dan hati nya itu dengan sangat tulus mencintai keluarga angkat nya. Tapi kalian hanya menjadikan nya boneka!" ucap Azhar lagi penuh emosional namun ia berusaha menekan emosi nya yg sempat memuncak.
Sementara Nasha hanya bisa menangis terisak sambil tertunduk dalam.
"Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini..." Azhar kembali merangkul Nasha dengan posesif, ia menghapus air mata Nasha dengan lembut.
Setelah Azhar dan Nasha pergi, Harry menatap jengah Mama nya. Pancaran kedua matanya tampak sangat marah, tangan nya mengepal dan bibir nya tertutup rapat dengan gigi yg menggertak. Menahan emosi yg membara di jiwa nya.
"Apakah Mama benar benar seorang ibu?" hanya satu kalimat itu yg mampu keluar dari bibir nya, kemudian Harry berlari keluar mengejar Nasha dan Azhar. Sementara Raya, ia mengabaikan hal itu dan menganggap apa yg ia lakukan sangat tidak salah.
...... ...
"Sudah menangis nya, Sayang" ucap Azhar dengan sangat lembut sambil terus menguap kepala dan punggung Nasha. Saat ini kedua nya sudah berada dalam mobil dan Nasha terus menangis.
Namun bukan nya berhenti menangis, tangis Nasha malah semakin pecah. Ia sesegukan dan punggung nya bergetar hebat. Membuat Azhar dada Azhar terasa sesak dan sakit, Azhar menyesal telah membawa Nasha menemui Raya. Seharusnya ia mendengarkan Harry agar tidak menemukan Raya terlebih dahulu.
Azhar juga menyesal karena telah membentak orang tua, Azhar tak bisa mengendalikan diri saat istri tercinta nya di hina dan di sakiti.
"Maaf..." ucap Azhar lirih kemudian menarik Nasha kedalam pelukan nya. Nasha masih menangis bahkan air matanya sampai memabasahi baju Azhar "Tidak apa apa, lepaskan tangis mu jika itu bisa melepaskan rasa sesak di dada mu. Aku di sini, Sayang" ucap Azhar kemudian mendaratkan kecupan ringan di pucuk kepala Nasha sambil mengusap punggung Nasha dengan lembut.
▫️▫️▫️
Tbc...