
Nasha tidur terlentang tepat di tengah ranjang, ia melipat tangan nya di atas perut nya dan pandangan nya menatap langit langit kamar nya, Nasha kembali memikirkan pertemuan nya dengan Maria dan juga anak nya.
Nasha masih tidak percaya rasa nya jika Maria itu pernah mencoba bunuh diri sebanyak dua kali, wanita berparas bule itu tampak baik baik saja dan terlihat sangat bahagia. Lalu apa yg membuat nya ingin bunuh diri?
Karena anak yg juga aib itu?
"Tapi katanya sekarang dia sangat mencintai anak nya..." gumam Nasha.
"Jika dia dewasa nanti, apa dia juga akan marah dan kecewa?" tanya Nasha pada dirinya sendiri karena nasib Khair itu sama seperti nasib nya "Rasa nya tidak mungkin, Maria tidak membuang anak nya, tapi orang tua ku membuang ku" ia kembali berbicara dengan diri nya sendiri.
"Sayang..." panggil Azhar yg membuat Nasha terlonjak kaget, Azhar masuk ke kamar nya dengan membawa piring kecik yg berisi kue yg di berikan Bu Anjana kepada Nasha.
"Enak lho, mau?" tanya Azhar dan Nasha pun duduk bersender di kepala ranjang kemudian menggeleng pelan.
"Kamu dari mana saja?" tanya Nasha setengah merengek.
"Kerja, Sayang" jawab Azhar dan ia pun duduk di samping Nasha, menyuapkan kua itu pada istri nya dan si istri malah menganga lebar "Kata nya engga mau, bagaimana sih" gerutu Azhar yg membuat Nasha cengengesan.
"Sayang, aku boleh tanya?" tanya Nasha setelah ia menelan kue nya.
"Mau tanya apa memang nya?"
"Anak Maria itu bukan anak suami nya yg sekarang?" tanya Nasha ragu ragu.
"Kenapa kamu tanya begitu?" Azhar malah balik bertanya karena ia tidak ingin membicarakan hal itu, karena bagaimana pun juga status Khair itu sebenarnya adalah aib bagi Maria.
"Tadi Maria sendiri yg bilang, apa benar Khair itu anak haram seperti ku?" tanya Nasha lagi yg membuat Azhar langsung menarik nafas panjang.
"Sayang, tidak baik membicarakan aib orang lain, ya? Dan juga, cobalah jangan memikirkan status mu itu, Nasha. Nanti kamu malah semakin tertekan dan malah semakin membenci orang tua mu. Coba lah berdamai dengan keadaan, ya..." pinta Azhar lembut.
Nasha hanya diam dan menundukkan kepalanya, Nasha juga menginginkan hal yg sama, berdamai dengan keadaan, menerima kenyataan. Tapi rasanya begitu sulit.
"Hey..." Azhar mengapit dagu Nasha, membuat nya mendongak dan menatap mata nya "Aku tahu ini sulit untuk mu, aku mengerti perasaan mu" ujar Azhar.
"Kamu itu kenapa cuma manja nya sama aku, hm? Kalau aku meninggal nanti, kamu mau manja sama siapa?" tanya Azhar.
"Ish, jangan bicara meninggal ah, nanti aku nangis lho..." ujar Nasha yg kembali membuat Azhar terkekeh.
.........
Bu Anjana tampak semakin lebih baik, apa lagi setelah mendapatkan kabar dari Mera kalau Nasha menanyakan keadaan nya.
"Mama..." panggil Hanin pada Mama nya itu.
"Kenapa, Nin?" tanya Bu Anjana.
"Mama dari tadi kelihatan lagi bahagia, Nasha telpon ya?" tanya Hanin.
"Engga, Nin. Mama juga engga berani telpon dia, tapi kata Mera tadi dia menanyakan keadaan Mama. Senang deh Mama..." jawab Bu Anjana yg membuat Hanin tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu, Ma. Kenapa Mama engga coba bicara sama Pak Azhar, supaya mengajak Nasha menginap di sini" saran Hanin.
"Memang nya Nasha akan mau? Kata Mera, dia masih ketus"
"Maka nya bicara sama Pak Azhar, Mama. Nasha itu kalau sudah di minta sama Pak Azhar pasti akan mau melakukan apapun, jangan kan cuma menginap di sini, di suruh nyemplung ke lautan juga pasti mau" tukas Hanin yg membuat Bu Anjana tertawa karena mengira Hanin hanya bercanda. Nyata nya Hanin serius dan ia mengenal Nasha dengan baik.
"Mama, aku itu serius. Nasha itu sangat mencintai Pak Azhar dan selalu menurut pada Pak Azhar" tukas Hanin lagi yg membuat Bu Anjana memikirkan tawaran menarik itu.
"Okey, terima kasih ya Nin atas saran nya" ucap Bu Anjana.
"Kenapa harus berterima kasih? Itu kan cuma saran kecil, Ma. Justru aku yg harus berterimakasih karena Mama sudah mengadopsi aku, memberikan keluarga yg sempurna buat aku" ucap Hanin penuh haru dan hal itu kembali mengingatkan Bu Anjana pada Nasha.
"Nasha jauh lebih berhak untuk kebahagiaan ini, Ma" lanjut nya.
"Kalian sama sama berhak, Nak" ucap Bu Anjana "Semoga kalian bertiga bisa menjadi saudara yg saling menyayangi dan mendukung. Mama tidak akan memperlakukan kalian berbeda, kalian sama sama anak Mama"