True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 107



Surya dan istrinya kembali mengunjungi Nasha karena kini mereka benar benar merasa bersalah atas apa yg telah mereka lakukan pada Nasha. Namun sepertinya Nasha benar benar sudah enggan menemui mereka, ia pun hanya berdiam diri di kamar nya. Dan Azhar pun membiarkan nya saja, bahkan menemani nya.


"Sayang..." panggil Azhar yg melihat Nasha memojok di kamar nya.


"Entah kenapa aku benci banget sama Papa Mama..." tukas Nasha kesal "Mau apa lagi mereka? Belum puas selalu menekan ku dan menghina suami ku?"


"Jangan bicara begitu..." ucap Azhar lembut, ia menghampiri Nasha, duduk di samping sang istri "Ummi bilang, mereka datang untuk meminta maaf..."


"Sudah terlambat" tukas Nasha "aku bisa menerima seperti apapun perlakuan mereka pada ku, tapi mereka sangat tidak menghormati pernikahan ku dan aku tidak bisa menerima itu"


"Aku mengerti..." seru Azhar, ia membelai kepala istri nya dengan lembut dan Nasha langsung menyenderkan kepala nya di pundak sang suami.


"Boleh aku balas melaporkan Ramos?" tanya Nasha tiba tiba, tatapan nya lurus ke depan "Aku sangat ingin membalas perbuatan nya" Azhar yg mendengar hal itu tidak terkejut dan ia tak munafik, Azhar pun tak bisa menerima perlakuan Ramos dan juga sangat ingin membalas nya.


"Iya, Sayang. Aku juga sudah menyiapkan laporannya, mereka harus membayar semuanya" tegas Azhar yg masih membelai kepala sang istri.


.........


Sementara di bawah, Raya masih mengobrol dengan Ummi Rifa dan juga Abi Fadlan. Meskipun apa yg sudah mereka lakukan, namun mertua Nasha itu masih menyambut mereka dengan ramah dan bahkan dengan lapang dada memaafkan segalanya.


"Nasha sangat beruntung karena memiliki mertua seperti kalian..." ujar Bu Raya "Apa lagi jika benar dia memang anak Pak Niranjan dan Bu Anjana..."


"Maksud nya?" tanya Ummi Rifa tidak mengerti.


"Bukankah Bu Anjana itu merasa bahwa Nasha adalah anak nya yg hilang? Saat itu dia dan suaminya menemui ku untuk mengetahui asal usul Nasha dan liontin yg di kenakan nya, dia bilang liontin itu milik putri nya" jelas Bu Raya yg membuat Ummi Rifa dan Abi Fadlan saling melempar tatapan bingung.


Keduanya langsung teringat dengan kebaikan Bu Anjana dan suami nya, bahkan yg membayar pengacara Nasha juga mereka. Mereka juga sering menjenguk Nasha saat di penjara padahal Nasha bukan siapa siapa mereka dan mereka juga orang orang yg sibuk. Belum lagi kunjungan mereka tadi pagi yg membawa makanan untuk Nasha. Itu memang terbilang tak biasa jika hanya dengan alasan rekan bisnis Azhar.


"Memang nya kapan Bu Anjana menanyakan itu?" tanya Ummi Rifa.


"Sebelum ada nya kasus Nasha, sehari sebelumnya" jawab Ummi Rifa.


"Oh begitu..." gumam Ummi Rifa.


"Saya permisi kalau begitu, Bu..." ucap Raya kemudian, karena sudah tiga puluh menit ia berada di sana namun sepertinya Nasha masih enggan menemui mereka.


"Iya, tolong fahami kondisi Nasha saat ini. Aku yakin, Nasha sebenarnya mencintai kalian..." ucap Ummi Rifa dan mereka hanya mengangguk mengerti.


Setelah beberapa hari kemudian, Nasha kembali melakukan aktifitas seperti biasa dan mulai mengatur ulang jadwal kuliah nya.


Sesampainya di kampus, Elin langsung menyambut nya dengan senang hati bahkan memeluk nya dengan sangat erat. Membuat Nasha memberontak karena ia tak bisa bernafas.


"Kamu mau aku mati kehabisan nafas, huh?" tanya Nasha kesal setelah Elin melepaskan pelukan nya.


"Hehe, habis nya kangen. Akhirnya masuk kuliah juga..." ujar Elin cengengesan. Sementara Azhar yg sejak tadi berdiri di belakang istrinya hanya bisa geleng geleng kepala, namun tak bisa ia pungkiri ia juga senang karena Nasha dan Elin sekarang sudah baikan.


"Terima kasih ya, sudah engga marah lagi..." ucap Nasha kemudian yg membuat Elin tersenyum malu mengingat kebodohan nya yg membenci Nasha.


"Aku yg minta maaf karena marah engga jelas..." ucap Elin


"Aku sama sekali tidak menyangka, Lin..." sambung Azhar "Biasanya seseorang akan meninggalkan teman nya di saat masa sulit, tapi kamu sebaliknya, kamu malah kembali pada teman mu meskipun ia sedang dalam masa sulit. Itu namanya sahabat sejati..." tukas Azhar, Nasha dan Elin mengangguk serempak sembari saling merangkul.


"Ya sudah, kalian masuk kelas gih..." seru Azhar, Nasha dan Elin kembali mengangguk serempak "Nanti aku jemput ya, Sayang. Hari ini aku tidak ada kelas jadi aku harus bekerja..."


"Iya, jemput nya tepat waktu ya..." pinta Nasha manja dan Azhar pun mengangguk.


Saat Nasha dan Elin berjalan menuju kelas, teman teman kampus mereka memperhatikan Nasha dan membicarakan kasus Nasha yg masih hangat. Nasha hanya bisa mendengarkan dalam diam dan coba ia abaikan hal itu.


"Hai, Sha..." salah satu dari mereka menyapa sembari tersenyum, Nasha pun juga membalas nya dengan senyuman nya.


"Sha, beruntung banget sih kamu punya Pak Azhar..." seru teman yg lain saat Nasha memasuki kelas nya.


"Iya, Pak Azhar selalu mendampingi Nasha..."


"Kalian mesra banget..." ujar yg lain sembari memperlihatkan koran yg memuat berita kebebasan Nasha dan juga foto foto Azhar saat mencium wajah Nasha.


"Bikin iri, bahagia banget Pak Azhar saat Nasha bebas..."


"Itu namanya cinta sejati..." ujar Elin riang "Yg selalu ada dalam setiap keadaan. Yg luka istri yg sakit suami, yg sakit istri yg nangis suami, itu baru cinta sejati..." seru Elin yg membuat Nasha terkekeh namun ia membenarkan hal itu.


"Aku memang beruntung, karena memiliki Azhar sebagai cinta sejati ku..."