True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 115



Azhar menggandeng tangan Nasha yg terasa dingin, sesekali Azhar menyunggingkan senyum dan menguatkan tekad istri nya itu untuk menemui ibu kandung nya.


Pak Niranjan sendiri tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya saat sang anak benar benar mau menemui ibu nya.


Pak Niranjan membawa Nasha dan Azhar ke sebuah kamar rawat dan disana mereka melihat Bu Anjana yg masih terbaring pucat di bangsal. Ada Mera dan Hanin juga di sisi Bu Anjana.


"Nasha.." seru Hanin saat melihat Nasha melangkah mendekati ibu nya.


Mendengar Hanin menyebutkan nama Nasha, Mera pun mendongak dan ia melihat kakak kandung nya itu.


"Apa sesulit itu memaafkan Mama, huh? Gara gara kamu Mama ku hampir mati" seru Mera emosi namun Hanin dengan cepat merangkul adik angkat nya itu.


"Dek, jangan begini..." bisik Hanin.


Namun Nasha tak memperdulikan teriakan Mera, satu satunya alasan ia datang adalah Azhar, karena Azhar yg meminta nya datang, Azhar yg meminta nya memberikan kesempatan sekali lagi pada kedua orang tua kandung nya.


"Biarin saja, Kak..." ucap Mera lagi dan kali ini ia sambil menangis "Mama itu sayang sama dia, kami juga sayang sebenarnya meskipun kami tidak tahu kamu itu seperti apa dulu..." ucap Mera lagi di tengah isak tangis iya "Mama selalu bilang kalau aku itu punya kakak kandung, cantik, tapi meninggal. Mama selalu sedih setiap kali ingat anak sulung nya"


"Mera, cukup, Dek..." ucap Hanin lagi sementara Nasha hanya menatap Mera dengan tatapan dingin nya.


"Sekarang aku sudah di sini, kalian mau apa?" tanya Nasha menatap Pak Niranjan. Mendapat pertanyaan seperti itu tentu membuat hati Pak Niranjan sakit, namun ia tetap berusia menyunggingkan senyum.


"Kami membutuhkan mu di antara kami, Nak. Karena kamu bagian dari kami" ucap Pak Niranjan.


"Sayang..." Azhar menggenggam tangan istri nya itu dengan lembut "Mereka tidak mau apa pun, mereka cuma mau kamu ada di antara mereka. Karena mereka mencintai mu dan merindukanmu" ujar Azhar.


"Mengerti apa dia soal itu?" sela Mera yg masih kesal pada kakak kandung nya itu "Keras kepala sekali" gerutu nya yg memancing emosi Nasha.


"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu engga pernah tahu rasa nya menjadi anak yg di buang" seru Nasha akhirnya dengan air mata yg kembali menetes "Sejak kecil aku bertanya tanya siapa orang tua aku, dimana keluarga ku, kenapa mereka membuang ku, kamu tahu engga rasa nya hidup tanpa identitas yg jelas seperti itu??" air mata Nasha semakin deras mengalir.


"Nasha, tenanglah, kita di rumah sakit" bisik Azhar sembari menarik Nasha kedalam dekapan nya.


Perlahan Mera mendekati Nasha, ia menarik Nasha dari pelukan Azhar dan kemudian ia pun memeluk nya. Nasha pun hanya diam saja dan membiarkan Mera memeluk nya.


"Maaf, aku tidak bermaksud..." lirih nya "Aku cuma khawatir sama Mama, apapun yg berhubungan tentang anak pertama nya itu akan membuat nya begini, dia hidup dalam penyesalan" ujar nya dan Nasha tetap bungkam, Nasha bahkan mendorong Mera supaya menjauh dari nya.


"Dia pantas mendapatkan nya, karena sudah melahirkan anak haram dan aku yg di hukum" desis Nasha.


"Nasha..." seru Azhar tegas, Azhar tidak menyangka Nasha seperti nya masih benar benar marah pada kenyataan yg harus ia hadapi. Kenyataan bahwa ia adalah anak haram sungguh membuat Nasha terpukul.


Bu Anjana sendiri mulai sadarkan diri, dan ia sempat mendengar apa yg di katakan Nasha. Hal itu membuat nya kembali bersedih.


"Alezhea..." lirih Bu Anjana dan seketika Nasha menatap wanita yg sedang terbaring lemah itu, meskipun bagi Nasha nama Alezhea bukanlah nama nya, namun entah mengapa Nasha merasa bahwa Bu Anjana memanggil nya dan Nasha memenuhi panggilan itu.


"Sayang..." Bu Anjana mengulurkan tangan pada Nasha, dan Nasha menyambut uluran tangan itu meskipun dengan perasaan ragu.


Bu Anjana sudah merasa bahagia dan terharu walaupun hanya sekedar berpegangan tangan seperti ini dengan Nasha.


"Tolong maafkan kami, Sayang. Kami benar benar menyesal, dan kami sungguh sungguh ingin menebus kesalahan kami. Kami hanya butuh satu kali saja kesempatan dari mu, Nak" lirih Bu Anjana dengan suara lemah nya, tatapan nya menatap mata Nasha yg saat ini juga berderai air mata.


"Kami hidup dalam penyesalan selama ini, kami sudah menerima hukuman atas dosa dosa kami. Tolong jangan lagi, Sayang..." pinta nya memelas yg tentu saja membuat hati Nasha bergetar. Nasha bisa melihat dan merasakan penyesalan nya.


Nasha menguatkan diri untuk duduk di samping sang ibu, menguatkan diri untuk membuka hati dan pintu maaf untuk nya. Nasha ingin berbicara namun suara nya seperti tercekat di tenggorokan nya. Akhir nya ia hanya mampu meletakkan kepala nya di dada sang ibu dan melepaskan tangisan nya di sana.


Pak Niranjan juga tak bisa menahan air mata haru nya, ia berlutut di samping Nasha dan mengecup pelipis putri nya itu.


"Terima kasih, Sayang" lirih Pak Niranjan penuh haru.


Hanin memeluk Mera yg juga tampak terharu dengan keluarga nya itu, begitu juga dengan Azhar. Ia merasa bahagia dan juga lega untuk istrinya, meskipun Nasha sampai saat ini belum mengatakan sepatah kata pun namun Azhar tahu, istri tercinta nya itu mau membuka hati dan pintu maaf untuk kedua orang tua kandung nya.