True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 132



Azhar melihat keluarga nya yg saat ini sedang makan malam bersama, mereka tampak sangat bahagia apa lagi dengan kehadiran Nasha yg sedang hamil di antara mereka.


Mengingat Nasha yg menangis hanya karna Azhar masuk rumah sakit, Azhar tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa Nasha jika tahu kondisi nya sekarang. Azhar tidak bisa membayangkan bagaimana Nasha tanpa nya, karena selama ini Nasha begitu manja pada Azhar dan seolah tak bisa hidup tanpa nya.


"Papa..."


"Pa..." Nasha mencolek pipi Azhar karena yg malah hanya diam Melamun dan tak menanggapi nya.


"Papa mikirin apa sih? kok melamun?" tanya Nasha.


"Bukan apa apa, Sayang" jawab Azhar lembut sembari menatap Nasha dengan sayu.


"Azhar, kamu harus makan yg banyak" tukas Abi Fadlan "Kamu tahu engga betapa panik nya kami saat mendapatkan kabar kamu pingsan dan masuk rumah sakit? Abi bahkan hampir pingsan, nak"


Azhar kembali bersedih, Abi nya memang sangat mencintai nya apa lagi Azhar adalah satu satu nya putra nya. Azhar teringat dengan masa kecil nya saat ia bermain dan belajar bersama Abi nya. Abi nya adalah sosok pria yg tegas namun tak pernah kasar sedikitpun, Abi nya sosok pria yg bertanggung dan Azhar selalu berusaha agar ia menjadi seperti Abi nya.


Azhar teringat saat dulu kedua orang tua nya pernah cekcok, Azhar hanya memandangi mereka di tangga sambil memangku dagu dengan tangan nya. Dan yg Azhar ingat, Abi nya selalu mengalah pada Ummi nya, membiarkan Ummi nya mengeluarkan unek unek nya, mengomeli nya. Dan setelah itu Abi nya mengatakan pada Azhar, terkadang untuk membuat perempuan diam maka laki laki hanya perlu diam dan mengalah, mengaku salah maka perempuan akan luluh dengan sendiri nya. Azhar tersenyum saat mengingat masa masa itu.


"Azhar, kamu kenapa sih? Melamun terus dari tadi, masih sakit ya, Nak? Kita kerumah sakit lagi ya? cek kondisi mu" ujar Ummi Rifa. Wanita terhebat dalam hidup Azhar, paling berharga dan sangat berarti. Wanita yg tiada dua nya di hati Azhar.


Wanita yg selalu dengan senantiasa menyayangi Azhar tapi juga cerewet dan sering mengomeli Azhar. Wanita yg dengan begitu sabar nya mengajari Azhar berbagai hal, dan sekali lagi, masih sering mengomeli Azhar meskipun kesalahan Azhar hanya terlambat pulang.


"Tidak apa apa, Ummi. hanya sedikit pusing" Bohong nya.


"harus nya Papa tuh dengerin kata Mama tadi, Pa. Jangan bekerja dulu, istirahat dulu. Kalau Mama ngidam lagi, siapa yg carikan makanan kalau Papa sakit" rengek Nasha.


"Iya, Sayang. Mulai sekarang aku akan mengurangi waktu kerja ku dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama mu dan juga Abi dan ummi" ucap Azhar yg tentu saja membuat Nasha memekik senang.


...


Azhar menuliskan sebuah ungkapan cinta nya di sana, untuk Nasha dan kedua orang tua nya. Tentu juga untuk calon bayi mereka.


Azhar bahkan sampai meneteskan air mata dan membasahi lembaran yg tercoret tinta itu.


Saat terdengar suara langkah kaki mendekat, Azhar langsung menutup buku itu dan menyimpan nya di laci. Ia juga menghapus air mata nya dan mencoba tegar.


Nasha muncul dari balik pintu dengan pisang di tangan nya.


"Papa, mau pisang?" tanya Nasha dan Azhar mengangguk. Nasha pun menyuapi Azhar makan pisang, dan selama makan, Azhar tak sedikitpun mengalihkan tatapan nya dari istri nya itu.


"Mama..." lirih Azhar dan Nasha langsung menatap nya dengan senyum "Mama jadi Mama yg baik ya buat anak kita nanti, ajari dia sholat, mengaji. Sekolahan di pesantren juga ya, terus dia tidak boleh pacaran. Mama harus bisa mengatur nya tapi bukan mengendalikan nya. Dan kalau anak kita perempuan, ajari menutup aurat sejak usia dini ya" tukas Azhar dan Nasha malah tertawa kecil.


"Kalau soal mengatur, itu urusan Papa. Papa saja nanti yg bilang kalau dia tidak boleh pacaran, kalau soal menutup aurat, Insya Allah Mama bisa mengajari nya" jawab Nasha.


"Inysa Allah, Sayang" lirih Azhar dan suara nya seperti tercekat di tenggorokan nya. Ia pun mengharapkan hal yg sama, menyaksikan pertumbuhan anak nya hingga dewasa dan menemukan cinta sejati nya seperti diri nya sekarang.


"Oh ya, papa ingin anak kita laki laki atau perempuan?" tanya Nasha antusias dan kini ia sudah menghabiskan pisang nya.


"Aku ingin anak kita laki laki, Mama. Dan semoga nanti dia bisa jagain Mama" ucap Azhar lagi.


"Kan yg jagain Mama sudah ada Papa, nanti biar dia jagain istri nya. Hehe" kata Nasha sambil tertawa.


Azhar semakin merasa sedih, karena ia tidak tahu sampai kapan diri nya bisa menjaga Nasha, bisa ada di samping Nasha.


Azhar hanya berharap bisa ada keajaiban untuk nya.


"Inysa Allah, Sayang. Inysa Allah"