True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 59



Azhar menarik Nasha kedalam pelukan nya dan mendekap nya dengan erat, menarik selimuti guna menutupi tubuh kedua nya yg bermandikan keringat. Nafas yg tersengal dan tubuh yg bergematar itu bersatu, saling menenangkan dan menyalurkan kenyamanan.


Suasana begitu damai dan sepi, cuaca di luar pun di pastikan sangat dingin. Namun kedua insan itu masih merasa kepanasan setelah ritual kewajiban yg mereka jalani bersama. Indah, berkesan, dan penuh kejutan. Keduanya saling memandang, seolah tak ingin berhenti dan tak ingin malam berlalu. Masih dengan berusaha mengatur nafas masing masing, tatapan itu masih begitu sendu, seperti masih belum terpuaskan akan kenikmatan yg begitu nikmat tak terbayangkan. Itu terlalu indah untuk di sudahi...


Azhar mengecup kening sang bidadari, merapikan rambutnya yg berantakan di sekitar wajahnya. Lengket karena keringat yg masih mengucur, dan aneh nya, bidadari nya itu malah semakin terlihat cantik apa lagi dengan bibir mereka dan dada yg bergemuruh. Mencoba mengatur nafas yg masih terasa berat.


"Capek?" pertanyaan itu membuat wajahnya semakin memerah, ia tersipu malu, merona, dan semakin mendesakan tubuhnya ke tubuh sang pujaan. Mencari kenyamanan dan kehangatan yg lebih dan lebih "Tidur lah..." seru Azhar lembut. Apa lagi tatapan Nasha begitu sayu, ia pasti kelelahan dan butuh istirahat. Ia juga pasti sangat mengantuk, apa lagi waktu terus berjalan, malam ini terasa begitu panjang dan luar biasa.


"Azhar..." Nasha bersuara dengan lirih, melingkarkan tangan mungil nya di pinggang sang suami. Merasakan basah karena keringat di kulit suami nya itu, Nasha menggerakkan jari jari nya di sana. Membuat pola abstrak yg berhasil membuat Azhar kembali menggeram tertahan.


"Apa, Sayang? Belum mau tidur?" tanya Azhar menahan erangan nya.


"Aku sangat mengantuk" lirih Nasha yg membuat Azhar terkekeh. Jika dia mengantuk, lalu apa arti sentuhan jari lentik nya itu?


"Ini baru jam 2, tidurlah. Satu jam lagi aku akan membangunkan mu" ujar Azhar. Ia membelai kepala Nasha dengan begitu lembut. Menghujani pucuk kepalanya dengan kecupan mesra.


"Satu jam lagi?" tanya Nasha setengah menggumam.


"Ya, pagi masih lama, Sayang. Kita masih bisa melanjutkan jika kau kuat" goda Azhar sambil terkekeh. Nasha kembali tersipu malu, ia menyeruakan wajahnya di dada polos sang suami. Menghirup aroma yg membuat Nasha merinding hebat, Nasha mengecup nya. Terdengar Azhar yg menahan geraman nya, membuat Nasha tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil menggoda sang suami hanya dengan entuhan seringan ini...


"Azhar..." lirih nya lagi, bahkan Nasha terus mengecup nya, kecupan itu naik, melewati leher, hinggap di dagu dan berhenti di bibir.


Azhar tak bisa lagi menahan diri, ia menyambut sentuhan lembut itu. Membalas nya dengan sedikit lebih agresif dan dalam, menggoda dan akhirnya membuat sang istri juga tak bisa menahan diri.


"Aku rasa tidak perlu tidur, kita lanjutkan saja" ucap Azhar dan ia sudah bergerak hendak memulai ritual selanjutnya.


Sebelum nya ia perduli dengan keadaan sang istri yg masih bermandikan keringat dengan nafas tersengal dan tubuh bergetar, ia perduli jika sang istri butuh istirahat sejenak. Tapi wanita nya itu tak mengerti perjuangan Azhar yg mencoba perduli, wanita nya itu malah menggoda nya "Jangan salahkan aku kalau besok kamu harus beristirahat di kamar seharian, Sayang"


Nasha tersenyum simpul, ia membelai rahang tegas sang suami "Memang apa salah ku?" tanya Nasha masih menjalankan jari lentik nya di rahang Azhar.


"Kamu menggoda ku, Nasha... Padahal sebelumnya aku khawatir kamu masih merasa sakit dan merasa kelelahan" lirih Azhar dan ia mengecup ujung hidung istrinya.


"Aku memang merasa begitu, jadi sekarang aku harus tidur" jawab Nasha menahan senyum, ia kembali menyeruakan tubuhnya ke tubuh Azhar. Memeluk dengan begitu erat "Selamat malam, Azhar. Semoga mimpi indah..." ucap Nasha yg membuat Azhar melongo.


"Engga, Sayang. Aku mau kenyataan yg lebih indah..." ucap Azhar sambil memutar tubuhnya hingga mengurung tubuh Nasha di bawah nya. Nasha tersentak kaget, ia hendak protes tapi Azhar segera membungkam mulutnya dengan bibir Azhar. Nasha menerima nya dengan senang hati, ia menyambut nya dengan suka cita.


Sekali lagi penyatuan terjadi, suasana yg begitu hening menambah keindahan pada ritual itu. Cuaca yg dingin membuat kedua nya semakin menggila dalam mencari kehangatan hingga merasakan kepanasan, berkeringat dan bersuara dengan begitu indah. Bak melodi yg menjadi penyemangat satu sama lain, dan kedua nya terus berpacu guna meraup kenikmatan bersama.


Seperti kata Azhar, pagi masih lama...


"Kamu engga ke sekolah?" tanya Surya pada Harry yg masih belum mandi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah 7.


"Engga, Pa. Harry mau kerumah sakit, mau jagain Mama.." jawab Harry.


"Semalaman kamu sudah di rumah sakti, Har. Kalau kamu memang engga mau sekolah, sebaik nya kamu istirahat di rumah"


"Tapi, Pa..."


"Papa mau menemui Nasha, Papa akan membawa dia pulang demi Mama mu" ujar Surya kemudian. Harry terdiam, kedua orang tuanya masih belum tahu tentang pernikahan Nasha.


Dan Mama nya? Dia menyayat pergelangan tangan nya, merasa tak lagi ada arti nya hidup nya jika tanpa putri nya. Namun syukurlah Raya baik baik saja setelah Surya meyakinkan akan membawa Nasha kembali pulang.


"Pa..." seru Harry saat Surya hendak pergi "Kak Nasha sudah menikah sama Azhar"


"Apa?" pekik Surya terkejut. Pupil mata nya membesar, ia seolah tak percaya pada pendengaran nya "Apa maksud mu, Harry?"


"Tadi malam mereka menikah, Harry datang ke pernikahan mereka. Tadi malam Harry tidak pergi ke rumah teman..."


Plakkk


Tamparan Surya mendarat dengan begitu sempurna di pipi Harry, membuat mata Harry memerah dan berkaca kaca. Tamparan itu terasa panas dan perih, tapi hati nya jauh lebih terasa perih.


"Kenapa kamu biarkan dia menikah, Harry? Dan kamu engga kasih tahu Papa?" teriak Surya marah.


"Kenapa Harry di tampar?" tanya Harry dingin.


"Karena kamu sudah membiarkan kakak mu menikah tanpa sepengetahuan kami" bentak Surya. Harry tertawa sinis...


"Papa lupa? Mama yg membuang Kak Nasha, Mama yg mengusir Kak Nasha, Mama mengatakan Kak Nasha sudah tidak punya orang tua. Dan apa yg Papa lakukan saat Mama memperlakukan Kak Nasha seperti itu? Papa cuma diam, pengecut. Sementara Azhar dan keluarga nya membela Kak Nasha, mereka juga membela Harry dan menghentikan Mama saat mau menampar Harry. Mereka merengkuh Kak Nasha saat Mama membuang nya seperti itu" seru Harry penuh emosi.


Kemudian ia bergegas pergi dari rumah nya bahkan dengan hanya mengenakan celana boxer, kaos oblong dan sandal jepit.


Harry muak dengan keluarga nya...


▫️▫️▫️


Tbc....