
"Nasha..." gumam Azhar yg tak sengaja melihat Nasha sedang di gendong oleh seorang pria...
Azhar pun segera berlari mengikuti mereka yg ternyata masuk ke ruang UKS. Azhar ikut masuk dan ia melihat Nasha yg sudah di baringkan di ranjang kecil itu.
"Kamu siapa? Perawat?" tanya Dilan yg terkejut karena tiba tiba ada pria yg masuk kesana.
"Aku Azhar..." jawab Azhar dan seketika Dilan mengingat desas desus mahasiswi yg membicarakan dosen Bahasa Arab yg kata nya sangat tampan "Ada apa dengan Nasha?" tanya Azhar panik apa lagi ia melihat Nasha yg tampak pucat.
"Dia pingsan tadi, biar aku coba periksa.." ujar Dilan dan ia memeriksa denyut nadi Nasha, hati Azhar merasa tak suka melihat ada pria lain yg menyentuh Nasha nya.
"Begini saja..." seru Azhar sambar mengambil minyak kayu putih dan meletakkan nya di depan hidung Nasha.
Sepertinya itu bereaksi, Nasha perlahan membuka matanya dan hal pertama yg ia lihat adalah sang pujaan hati. Seperti biasa, Nasha menjadi tenang hanya karena keberadaan Azhar.
Padahal tadi ia benar benar tertekan dan kata kata ayahnya yg meminta Nasha menerima Ramos terus terngiang di benak Nasha, membuat ia semakin merasa tertekan.
Tapi saat melihat Azhar, tekanan itu sedikit berkurang. Rasa sedih itu sedikit pudar...
"Nasha, kamu kenapa? Kamu sakit, hm?" tanya Azhar dengan lembut. Nasha berusaha didukung, mata Nasha berkaca kaca. Bagaimana caranya ia memberi tahu Azhar bahwa tak ada yg mendukung hubungan mereka, tidak ayahnya apa lagi ibu nya.
"Nasha, jangan bikin aku khawatir. Ada apa?" tanya Azhar lagi yg melihat Nasha hanya menatap nya dengan mata yg memerah. Tampak sekali ke khawatiran di mata Azhar
"Aku..."
"Kamu sakit, Sha?" tanya Dilan yg juga khawatir.
"Aku...aku lapar..." lirih Nasha sambil menatap Azhar sendu.
"Astagfirullah, Nasha..." gumam Azhar antara kesal dan gemas, padahal dia sudah sangat khawatir dengan keadaan kekasih hati nya itu. Namun jawaban Nasha itu berhasil membuat Azhar dan Dilan bernafas lega.
"Aku belikan makanan ya" ujar Dilan.
"Tidak usah..." seru Azhar dengan cepat "Tunggu sebentar, aku ambilkan makanan" ucap nya dan ia pun segera pergi dari sana.
"Sha, dia..."
"Azhar yg Elin ceritain itu" jawab Nasha cepat dan Dilan tampak patah semangat mendengar jawaban Nasha itu.
"Memangnya kamu serius sama dia?" tanya Dilan penasaran.
"Sangat!" jawab Nasha dengan pasti dan Dilan hanya bisa menunduk lesu.
Azhar kembali dengan membawa kotak makan di tangan nya "Ini, Ummi bawain bekal buat aku. Sebaik nya kamu makan ya..." Azhar menyerahkan kotak makan itu pada Nasha.
"Dilan, memang nya kamu engga ke kelas?" tanya Nasha, mengusir Dilan dengan halus.
Setelah Dilan pergi, Nasha langsung menatap satu Azhar "Aku lemes, tangan ku gemetaran saking lapar nya..." rengek Nasha.
"Ya makanya makan, Nasha. Memang nya kamu engga makan tadi?" tanya Azhar yg tak peka dengan keinginan Nasha.
"Engga..." jawab Nasha.
"Ya sudah, ini..." Azhar kembali menyodorkan kotak makan itu.
"Kan sudah aku bilang, tangan ku gemetaran... Tuh, lihat..." Nasha mengangkat tangan nya dan ia sengaja menggerakkan tangan nya seolah ia sedang gemetaran.
Akhir nya Azhar mengerti kemana jalan fikiran gadis ini "Sha, masak aku harus suapi?" tanya Azhar sambil meringis. Nasha tak menjawab, ia hanya menatap Azhar sambil cengengesan.
"Engga enak kalau ada yg liat, Nasha..." seru Azhar berharap Nasha mau mengerti. Nasha menghela nafas kasar dan ia mengambil kotak makan itu dari tangan Azhar.
"Ya udah, aku bisa makan sendiri kalau kamu takut ketahuan sedang menyuapi mahasiswi di kampus ini. Kamu takut gelar Dosen mu tercemar ya..." tuduh Nasha yg membuat Azhar malah terkekeh.
"Bukan status Dosen dan mahasiswi, Nasha. Tapi status kita yg belum pantas untuk suap suapan" seru Azhar mencoba menjelaskan.
"Okey okey..." seru Nasha tak acuh kemudian ia menyantap menu makan siang Azhar itu.
"Berdoa dulu sebelum makan, Nasha" ujar Azhar.
"Sudah tadi, dalam hati..." jawab Nasha dan ia kembali menyantap makanan itu dengan lahap. Nasha memang merasa lapar, karena ia tak sempat sarapan. Makan satu apel pun tadi tak sampai habis karena ia keburu sakit hati dengan apa yg di katakan ayahnya.
"Azhar..." lirih Nasha kemudian.
"Nasha, kamu engga apa apa kan sendirian di sini? Aku harus ke kelas ku sekarang" tutur Azhar dan Nasha pun mengangguk mempersilahkan, padahal tadi ia ingin memberi tahu Azhar apa yg terjadi.
....... ...
Elin mengikuti kelas dengan fikiran yg melayang entah kemana. Tadi ia sudah mencari Dilan dan Nasha, tapi Elin tak bisa menemukan nya.
Bahkan Dilan juga tidak ada di kelasnya dan disana Elin malah bertemu dengan teman teman Dilan saat mereka membicarakan Dilan dan Nasha. Mereka mengatakan Dilan menyukai Nasha, memberikan cokelat pada Nasha dan tidak memberikan nya pada Elin.
"Ayolah, Lin... Nasha itu sahabat mu, engga mungkin dia nusuk kamu dari belakang. Dan dia juga tergila gila sama Azhar, jadi engga mungkin dia merebut Dilan..." batin Elin terus mengucapkan hal itu.
Elin menenggelengkan kepala nya, mengusir segala fikiran buruk yg berkelebat di sana dan ia mencoba fokus pada materi yg di berikan dosen nya.
▫️▫️▫️
Tbc...