True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 136



Azhar di rumah sakit selama beberapa hari, dan selama itu juga keluarga nya selalu ada sisi nya, saling menguatkan satu sama lain. Dan mereka juga selalu mendoakan Azhar tanpa henti dan tanpa lelah.


Namun sayang nya, kabar sakit nya sang suami membuat Nasha begitu shock dan sedih. Setiap kali menatap mata suami nya, Nasha takkan mampu berbicara dan hanya air mata nya yg mewakili perasaan nya.


Semua orang menghibur Nasha, keluarga angkat nya, keluarga kandung nya, adik adik nya. Namun ketakutan dan kecemasan dalam hari Nasha membuat Nasha tak bisa mendengarkan mereka.


"Sayang..." Azhar menarik tangan Nasha yg hendak menyuapi nya.


"Mata kamu benar benar sembab, kalau kamu terus saja menangis, nanti bayi kita juga menangis" ucap Azhar lembut.


Hidung Nasha sudah memerah kembang kempis mendengar hal itu, bibir nya kembali bergetar namun ia coba tahan tangis nya.


"Sayang, kamu jangan begini. Allah itu hanya sedang menguji kita, jangan terpuruk begini ya" kata Azhar lagi.


"Kenapa ujian nya harus seberat ini?" tanya Nasha tiba tiba. Azhar memaksakan bibir nya tersenyum, memasukan makanan yg Nasha suapkan ke mulut nya, mengunyahnya dan menelan nya.


"Karena Allah sayang sama kita, Insya Allah" jawab Azhar kemudian.


"Apa kamu akan sembuh?" tanya Nasha lagi dengan suara tercekat.


"Inysa Allah, kesembuhan itu hanya milik Allah, Sayang. Kamu doain aku ya" pinta Azhar.


"Selalu" jawab Nasha masih dengan suara yg tercekat.


"Nasha..." Azhar menarik pinggang Nasha supaya istri nya itu lebih dekat, kemudian Azhar mengecup perut istri nya yg semakin hari semakin membuncit, dimana anak nya sedang tumbuh di sana.


"Kamu harus kuat, Sayang. Untuk ku, dan untuk anak kita..." lirih Azhar sambil mendongak, menatap mata istri nya yg kembali berkaca kaca sementara tangan Azhar masih memegang pinggang istri nya itu.


"Apapun yg terjadi, kamu harus tetap kuat, tegar, sabar, ikhlas, demi anak kita. Anak kita butuh ibu nya, untuk tumbuh" kata Azhar lagi "Kamu mau janji akan melakukan itu ya?" tanya Azhar lagi, Nasha tak bisa menajawab nya, ia hanya bisa menggigit bibir nya.


"Nasha..." lirih Azhar lagi dan akhir nya Nasha mengangguk.


"Iya, aku janji" jawab nya yg membuat Azhar tersenyum.


"Pintar sekali..." ujar Azhar kemudian dan ia kembali membuka mulut nya lebar lebar, dan Nasha kembali menyuapi nya.


Tak lama kemudian Mera dan dan kedua orang tua nya datang untuk menjenguk Azhar, hal itu di sambut hangat oleh Azhar dan Nasha.


"Bagaiamana keadaan mu, kakak ipar?" tanya Mera.


"Alhamdulillah, aku merasa lebih baik, Mera" jawab Azhar.


"Papa..." panggil Nasha dan Azhar menoleh, namun teranyata yg Nasha panggil adalah ayah kandung nya karena Nasha menatap nya.


Pak Niranjan yg menyadari itu malah tercengang, karena ini pertama kalinya Nasha memanggil nya Papa, dan ia begitu bahagia sampai sampai tak bisa berkata apa apa dan hanya bisa tercengang.


"Papa, apa Papa bisa membantu Azhar seperti yg Papa janjikan?" tanya Nasha kemudian.


"Iya, Sayang. Tentu Papa akan membantu suami mu, Nak" jawab Pak Niranjan kemudian "Papa akan membawa Azhar ke Singapore, secepatnya. Dia akan di tangani oleh Dokter terbaik di sana" tukas Pak Niranjan yg membuat Nasha sedikit menyunggingkan senyum nya.


"Terima kasih" ucap Azhar pada mertua nya itu.


"Besok" jawab Nasha senang.


"Alhamdulillah kalau begitu, aku akan mengurus keberangkatan mu ke Singapore secepatnya, Azhar. Aku sudah membuat janji dengan Dokter Elyara yg aja menangani mu"


"Apa aku boleh ikut?" tanya Nasha dengan cepat.


"Tidak, Sayang" Azhar segera menjawab nya, karena Azhar sudah sangat mengkhawatirkan kondisi Nasha yg sedang hamil.


"Aku mau kamu istirahat, menjaga kesehatan mu dan bayi kita, ya?" ujar Azhar "Kamu sudah janji, Sayang" tukas Azhar dan mau tak mau Nasha mengangguk patuh.


...... ...


Setelah Azhar di bawa pulang ke rumah, semua nya merawat Azhar dengan sangat baik, Abi Fadlan juga meminta Azhar mengundurkan diri menjadi dosen namun Azhar mencintai pekerjaan nya itu.


Sementara Pak Niranjan sudah mengurus keberangkatan Azhar dan juga sudah membuat janji dengan seorang Dokter yg bernama Dokter Elyara. Pak Niranjan dan Abi Fadlan yg akan menemani Azhar selama menjalani pengobatan nya di Singapore.


"Sayang, nanti selalu hubungi aku pas kamu di sana ya" pinta Nasha lirih.


Azhar memperhatikan istri nya itu yg semenjak Nasha tahu ia sakit, Nasha sangat jarang tersenyum. Ia lebih banyak menangis dan merenung.


"Nasha..." Azhar membelai pipi istri nya dengan lembut.


"Senyum ya, aku butuh senyum kamu" goda Azhar yg sangat rindu dengan kemanjaan istri nya itu, rindu senyum nya, tawa nya dan sifat jahil nya.


"Aku benar benar takut, Azhar..." lirih Nasha kemudian.


"Aku tahu, aku pun takut. Tapi kita harus menerima takdir ini dengan ikhlas, Sayang. Aku yakin, Allah punya rencana yg sangat indah di balik semua ini, ya"


"Seperti biasa, kamu selalu bijak. Itulah yg membuat ku takut kehilangan mu, Papa..." lirih Nasha "Bagi ku, kamu itu cahaya dalam hidup ku. Semangat ku, tempat bersandar ku" lanjut nya.


"Dan sekarang, kamu harus menjadi cahaya nya..." Azhar mengusap perut Nasha "Menjadi semangat nya, dan tempat nya bersandar" tukas Azhar yg membuat Nasha merasa terharu.


"Kamu juga guru pertama ku, dia membutuhkan mu untuk menjadi guru nya" ucap Nasha kemudian.


"Dan kamu yg akan menjadi guru pertama nya" ujar Azhar lagi.


"Bagaiamana kalau aku tidak mampu?" tanya Nasha sedih.


"Karena itu lah aku menyekolahkan mu, Sayang" ucap nya yg membuat Nasha tersenyum samar.


Azhar punya jawaban untuk segala nya, dan semua nya terlalu bijak untuk Nasha tolak.


"Baiklah, jika itu mau mu" ucap Nasha kemudian yg membuat Azhar tersenyum.


"Percaya lah, Sayang. Apapun yg terjadi dalam hidup ini, tetap lah bersabar dan terima dengan ikhlas. Karena apa pun itu, itu hanya ujian sementara. Dan Allah menguji kita karena Allah sayang sekali sama kita dan ingin menaikan derajat kita, yaa?"


Nasha mengangguk dan ia memeluk suami nya itu, ia berusaha menahan tangis nya kali ini dan berusaha lebih tegar.