True Love Never Ends

True Love Never Ends
Part 30



Azhar meringis sembari memijit pelipis nya, tentu hal itu membuat perasaan Nasha menjadi berkecamuk.


"Apa yg sudah ku lakukan, ya Allah? Apa yg akan Azhar fikirkan tentang ku sekarang? Kenapa aku benar benar gila dan agresif? Setan apa yg merasuki ku? Setan yg lagi kasmaran? " Nasha menunduk dengan begitu dalam, ia bahkan menahan nafas menunggu tanggapan Azhar.


"Nasha..." seru Azhar dan Nasha langsung mendongak.


"Ya?"


"Siapa nama lengkap mu?" tanya Azhar dan hal itu membuat Nasha menjadi bingung


"Nasha...Laura" jawab nya ragu.


"Nama ku Azhar Ubaidillah" ujar Azhar dan Nasha mengangguk anggukan kepala nya "Kamu tahu usia ku baru saja menginjak 24 tahun, dan kamu tahu latar belakang keluarga ku. Kami hidup di kelas menengah, Nasha. Aku bahkan belum punya pekerjaan... "


"Ya aku tahu..." jawab Nasha dengan cepat "Tapi kamu pintar, berpendidikan tunggi. Mudah saja bagi mu mendapatkan pekerjaan, tapi kenapa malah membahas pekerjaan? Aku membahas taaruf" tutur Nasha yg membuat Azhar kembali tersenyum geli.


"Begini..." Azhar menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan "Jujur saja aku pulang lebih cepat dari Cairo karena aku ingin mengatakan seperti yg kamu katakan, aku ingin mengungkapkan perasaan seperti perasaan yg kamu ungkapan, aku ingin menjalani taaruf dengan mu tapi..."


"Tapi????" tanya Nasha tak sabar.


"Jujur, Nasha... Aku sangat malu dan tidak percaya diri, aku belum mendapatkan pekerjaan yg tetap, aku belum mandiri. Dan aku sangat malu jika harus meminang seorang wanita sementara aku belum berdiri dengan kaki ku sendiri, karena itulah aku ingin mendapatkan pekerjaan lebih dulu baru aku akan meminang mu"


"Aku mencintaimu..." ujar Nasha yg langsung membuat Azhar melotot sempurna dan jantung nya semakin berdebar hebat, ternyata Nasha jauh lebih gila dari apa yg ia bayangkan.


"Apapun pekerjaan mu atau status sosial mu, aku masih mencintaimu" tutur Nasha malu malu, dan tanpa Nasha sadari Azhar jauh lebih malu. Nasha mendahului nya dalam segala hal dan itu membuat Azhar benar benar tak berkutik.


"Aku melamar menjadi dosen di kampus mu, menggantikan Yunus..."


"Benarkah?" pekik Nasha girang dan Azhar mengangguk sambil menahan senyum "Oh Tuhan, aku semakin mencintai mu. Kita bisa bertemu setiap hari" ujar nya lagi lagi spontan, dan menyadari kegilaan itu, Nasha langsung membekap mulut nya sendiri. Sementara Azhar hanya terkekeh geli.


"Tapi kamu tahu kan kalau gaji dosen itu engga seberapa?" Nasha langsung menatap Azhar, kali ini dengan tatapan yg serius, sangat serius.


"Apa kamu mencintai ku, Azhar?" pertanyaan itu benar benar membuat Azhar mempertanyakan kejantanan diri nya, ia tak tahu harus menjawab apa walaupun hati nya sudah memberontak ingin menyatakan cinta yg sama.


"Jawab, Azhar...!" Azhar dan Nasha menoleh pada suara Ummi Rifa yg tiba tiba terdengar itu.


"Ummi..." lirih Azhar.


"Yg gantle dong, Azhar. Kamu itu laki laki, masak kalah sama Nasha" ujar Ummi Rifa lagi yg membuat Nasha tersipu malu.


"Iya, aku mencintai Nasha" jawab Azhar sambil menundukkan kepala nya.


"Itu sudah lebih dari cukup, Azhar" jawab Nasha dengan bijak.


"Aku akan segera menemui orang tua mu bersama Abi dan Ummi" ujar Azhar kemudian dan ekspresi Nasha langsung berubah kaku.


Orang tua?


Nasha lupa bahwa orang tua nya selalu mengatur dan mengekang Nasha dalan segala hal, bagaimana jika mereka tak setuju? Apa lagi orang tua angkat Nasha itu selalu memandangi orang dari status sosial nya.


"Nasha..." Ummi Rifa menepuk pelan pundak Nasha karena ia terlihat melamun "Bagaiamana, Nak?" tanya Ummi Rifa.


"Apakah keluarga Ummi akan setuju dan menerima Nasha?" tanya Nasha dengan suara rendah.


"Pasti, Sayang. Bahkan sebelum bocah ini menerima mu, kami sudah menerima mu" jawab Ummi Rifa sambil duduk di samping Nasha.


"Maksud nya?" tanya Nasha tak mengerti.


"Kalau begitu, apa boleh kalau Nasha menceritakan siapa Nasha sebenarnya?" tanya Nasha sambil menatap Ummi Rifa dan Azhar bergantian.


"Maksud mu?" tanya Azhar sedikit tak mengerti walaupun ia memang belum tahu banyak tentang Nasha.


"Nama asli ku Nasha, hanya Nasha, Azhar" jawab Nasha dan ia tampak menguatkan dirinya untuk berbicara "Aku engga tahu siapa wanita yg melahirkan ku atau siapa ayah kandung ku"


"Jadi kamu..."


"Aku anak adopsi" ucap Nasha tertunduk sedih.


"Hey, Sayang...." Ummi Rifa mengelus pundak Nasha dengan lembut "Engga ada beda nya anak adopsi atau anak kandung, yg namanya anak tetap anak. Jangan sedih begitu, Ummi bahkan sudah menganggap mu anak Ummi" tutur nya yg tentu saja membuat Nasha sangat terharu.


Bahkan orang yg selama ini mengadopsi Nasha tak pernah mengatakan hal seperti itu "Terima kasih" ujar Nasha penuh haru, ia menatap sendu Ummi Rifa seolah ingin mengatakan sesuatu yg lain. Seolah ia ingin mengadu, dan Ummi Rifa mengerti arti tatapan itu.


"Ada apa, Nasha? Ada yang ingin kamu katakan lagi? Engga apa apa, Nak. Katakan saja" ucap nya lembut. Nasha menggenggam tangan Ummi Rifa dengan erat.


"Saat itu usia ku 8 tahun, saat pertama kali aku menginginkan sebuah keluarga. Saat itu aku bermain di taman dan melihat anak se usia ku yg bermain bersama kedua orang tua nya, mereka tampak sangat bahagia dan aku juga menginginkan kebahagiaan seperti itu. Aku terus berdoa dan berharap aku bisa memiliki keluarga, dua tahun setelah itu. Tepat saat usia ku 10 tahun, ada sepasang suami istri kaya raya yg mengadopsi ku dan menjadikan ku bagian dari keluarga mereka... " tutur Nasha dan tanpa terasa air mata nya menyelinap dari sudut mata nya, ingatan Nasha berputar kembali pada masa itu, Nasha segera menyeka air mata nya. Sementara Azhar dan Ummi Rifa yg melihat itu sedikit bingung namun mereka masih dengan setia menunggu cerita Nasha" Aku fikir aku sudah mendapatkan apa yg aku inginkan, aku fikir aku akan punya orang tua yg akan sangat menyayangi ku. Tapi ternyata aku salah, mereka mengadopsi ku hanya untuk menggantikan putri mereka yg meninggal, nama nya Laura. Bahkan aku harus menyandang nama nya di belakang nama ku. Mereka mengambil seluruh hidup ku, kebebasan ku, perasaan ku, hak ku. Aku harus menuruti apapun yg mereka mau meskipun itu sangat tidak aku suka, dalam segala hal" Nasha kembali menyeka air mata nya dan ia menarik nafas dalam.


Azhar dan Ummi Rifa yg mendengarkan cerita itu mulai mengerti dan memahami apa yg di maksud Nasha dan apa yg di rasakan Nasha "Mereka selalu mengungkit bahwa aku hanya anak angkat, setiap kali aku mencoba menyuarakan suara hati ku, aku hanya mendapatkan tamparan dan kemarahan"


"Apa???" lirih Azhar tak percaya, ia tak menyangka, Nasha yg terlihat gila, ceria, bar bar, ternyata hidup dalam tekanan batin.


"Tapi aku masih mencintai mereka, Azhar. Aku mencintai orang tua angkat ku, cinta tanpa syarat walaupun mereka mencintai ku dengan segala syarat, yaitu aku harus menjadi seperti putri mereka. Aku juga di paksa kuliah ke Dokteran walaupun mereka tahu aku tidak mampu di bidang itu, dan demi cinta ku pada orang tau ku, aku melakukan nya"


"Nasha..." Ummi Rifa menghapus air mata Nasha yg mengalir tiada henti dan hal itu malah membuat Nasha semakin terisak.


"Aku menceritakan semua ini karena aku ingin kamu tahu, Azhar. Orang tua ku engga akan menyetujui hubungan kita" lirih Nasha dengan suara yg tercekat, ia sangat meyakini hal itu dan itu membuat nya sangat takut. Azhar dan Ummi Rifa pun sangat terkejut mendengar hal itu "Mereka sangat keras, Azhar. Aku takut..." lirih Nasha bahkan dengan suara yg hampir hilang "Aku menginginkan banyak hal dalam hidup ku, tapi aku engga pernah mendapatkan nya. Dan sekali saja, aku ingin menjalani hidup ku seperti yg aku mau, aku ingin mendapatkan apa yg aku mau. Yaitu kamu...." Nasha menatap Azhar dengan begitu sendu, penuh harap, dan air mata masih terus mengalir dengan bebas.


Mendengarkan cerita Nasha dan melihat air mata nya mengalir tiada henti membuat hati Azhar terasa tercabik cabik, rasanya sangat sakit dan perih.


"Aku akan memperjuangkan mu, Nasha..." lirih Azhar dan ia menatap Nasha dengan meyakinkan kan, Azhar bahkan mengelus kepala Nasha yg masih terbungkus hijab dan hal itu entah bagaimana memberikan ketenangan dan kehangatan di hati Nasha.


"Kamu janji?" tanya Nasha ingin memastikan.


"Aku janji, kita akan berjuang bersama. Okey?" lirih Azhar dan Nasha mengangguk sambil kembali mengusap air matanya.


"Terima kasih, Azhar. Terima kasih banyak, tolong jangan biarkan aku kehilangan hak ku lagi" pinta nya.


"Insya Allah, Nak. Kami akan berusaha" ucap Ummi Rifa sambil menarik Nasha kedalam pelukan nya, Nasha menangis haru di pelukan Ummi Rifa.


Sementara Azhar, ia merasa ini benar benar taaruf. Dimana arti taaruf sendiri adalah perkenalan atau saling mengenal. Dan ia baru mengenal sisi Nasha yg satu ini, Nasha yg tertekan dan tak bahagia. Nasha yg kehilangan jati diri nya dan harus menjadi orang lain.


Azhar tak habis fikir, bagaimana bisa seorang ibu melakukan hal seperti itu pada anak nya sendiri walaupun itu anak angkat?


Bagaiamana bisa seseorang memaksa orang lain untuk menjadi orang yg lain dan menghilangkan jati dirinya dengan paksa?


Azhar tak bisa mengerti, atau mungkin itu sebuah obsesi orang tau kepada anak nya?


Entahlah, yg sekarang harus Azhar fikirkan adalah bagaimana mendapatkan restu orang tua Nasha, apa lagi Azhar sama sekali belum mengenal mereka sedikitpun.


Azhar memperhatikan Nasha yg masih berada dalam pelukan ibu nya, Azhar menyunggingkan senyum samar "Aku bukan hanya akan memperjuangkan cinta kita, Nasha. Tapi aku juga akan berusaha memperjuangkan hak mu. Inysa Allah"


▫️▫️▫️


Tbc...